Jumat, 16 April 2021

Pertemuan Malam



Pentigraf: Yant Kaiy

 

Pada seminar tentang cinta lingkungan hidup, disalah sebuah kampus ternama di kota kecil, aku dipertemukan lagi dengan seorang penyaji materi muda yang sama. Ia cukup cerdas. Tampan. Meniscaya setiap melontarkan kalimat-kalimatnya. Dalam menyampaikan materi sangat tenang. Pendengar cepat mengerti karena kata-kata yang digunakan tidak rumit,

 

Usut punya usut, ia dan istrinya memiliki yayasan gerakan cinta lingkungan. Perkenalanku kian dekat karena sering menjadi pemateri seminar di beberapa kota. Acapkali juga makan bersama. Selera humornya lumayan bagus sehingga aku tak canggung di dekatnya.

 

Suatu ketika aku jatuh sakit sepulang dari seminar. Dia menuntunku menuju kamar hotel. Aku tiba-tiba tak berdaya. Lemas seluruh tubuh tatkala dia menciumku. Aku memeluknya seperti ketika aku memeluk anakku.[]

 

Pasongsongan, 17/4/2021

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (16)



Penulis: Yant Kaiy

Temuan Terbaru

Belakangan ini ada opini terbaru dari para ahli spiritual yang menerangkan, bahwa seseorang yang tinggal di dalam gua dalam beberapa menit saja, maka orang tersebut kesehatannya akan mengalami peningkatan yang cukup baik.

Seperti tinggal di dalam Goa Soekarno. Hal itu disebabkan oleh pancaran unsur fosfat ke tubuh manusia yang ada di seluruh dinding Goa Soekarno. Dan menurut beberapa kalangan, hal tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Juga dari langit-langit Goa Soekarno menetes air sejuk yang dipercaya oleh beberapa kalangan sebagai air yang bisa membuat seseorang awet muda.

Sugiman (orang yang terlibat dalam pembangunan Goa Soekarno) memberikan tips: Caranya tetesan air itu diusapkan ke wajah, maka akan terpancar aura awet mudanya.

Masih menurut Sugiman, di dalam Goa Soekarno  terdapat sumur. Air dalam sumur itu berkhasiat untuk kesehatan karena airnya masih alami dan mengandung mineral sangat tinggi. Alasannya, karena air tidak tercemar serta dinding sumur dari atas sampai ke bawah adalah batu fosfat.

Memang sampai saat ini belum ada riset medis yang komprehensif tentang pengaruh kesehatan bagi seseorang yang berada di dalam gua.[]

 

Ucapan terima kasih kepada:

1. Drs. K.H. Mas Ula Ahmad (pengasuh Pondok Pesantren Assyafi’iyah Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep).

2. K.H. Ismail Tembang Pamungkas, (da’i, sejarawan, pengasuh thoriqoh Desa Paberasan-Sumenep).

 3. Ustadz Abdul Karim Mastura (keturunan Syekh Ali Akbar tinggal di Desa Pasongsongan-Sumenep).

4. Madun, S.Pd. (Kepala SDN Padangdangan II Kecamatan Pasongsongan-Sumenep).

5. Ustadz Komarudin Nasir (da’i, keturunan Syekh Ali Akbar tinggal di Bengkulu).

6. K. Muhammad Ersyad (peranakan China tinggal di Desa Pasongsongan-Sumenep).

7. Ibnu Suaidi (peranakan China tinggal di Desa Pasongsongan-Sumenep).

8. Tri Bambang DS. (pemerhati sejarah, pegawai Kantor Kecamatan Pasongsongan-Sumenep).

9. Agus Sugianto, S.Pd. (pengamat sejarah, guru SDN Pasongsongan I Kecamatan Pasongsongan-Sumenep).

12. Kiai Hasbullah (juru kunci Astah Syekh Ali Akbar Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep).

10. Akhmad Jasimul Ahyak, S.Pd.I. (Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan).

11. Kiai Syamsuri, tokoh masyarakat berdomisili di Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep.

12.Sri Sundari (pengamat sejarah Islam tinggal di Desa Panaongan-Sumenep). (Tamat)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (15)



Penulis: Yant Kaiy

Sekarang Goa Soekarno sudah disulap menjadi tempat alternatif bagi kunjungan wisatawan dalam berlibur. Sebagai tempat obyek wisata, Goa Soekarno memberikan sensasi tersendiri bagi siapa saja yang memasukinya.  Pengunjung akan diajak untuk menikmati peninggalan masa lampau yang sungguh menakjubkan karena keindahan dinding dan langit-langit gua.

 

Ayat-ayat Al-Qur’an

Allah SWT  telah memberikan keindahan alam ini untuk menjadi edukasi bagi manusia. Mengaji dan menjaga alam hasil ciptaan-Nya dalam Islam sangat dianjurkan karena semua itu untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Perenungan tentang alam semesta beserta isinya akan menggiring manusia kepada kehebatan Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.

Diantara ayat-ayat  Al-Qur’an yang menyuruh atau memerintahkan untuk melestarikan lingkungan hidup adalah firman Allah SWT :

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41-42).

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam  buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.  Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan ijin Tuhan, dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”  (Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 56-58)

Perintah Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an di atas sangatlah jelas, bahwa manusia sewajibnya dan sebisa mungkin untuk melestarikan alam dan lingkungannya dari kerusakan oleh tangan-tangan jahil manusia.

Juga Allah memerintahkan kepada manusia untuk mempelajari kisah umat-umat terdahulu (sejarah) yang dilaknat dengan bencana karena mereka tidak menghiraukan perintah Allah untuk senantiasa bersyukur  terhadap  pemberian Allah, bukan malah seenak perutnya berbuat kerusakan di muka bumi.

Seperti kita menjaga dan memelihara Goa Soekarno untuk kita nikmati keindahannya. Kita gali ilmu dari Goa Soekarno sebagai peninggalan sejarah yang amat menawan. (Bersambung)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (14)



Penulis: Yant Kaiy

Macam-macam Gua

Menurut IUS (International Union of Speleology), cave atau gua yaitu setiap ruang bawah tanah yang berbentuk lorong-lorong yang dapat ditelusuri atau dimasuki manusia.

Ada pula pengertian gua yang lain, bahwa gua  adalah suatu lorong bentukan alamiah di bawah tanah yang dapat dilalui oleh manusia, sementara yang hanya bisa dilalui hewan saja disebut gua mini.

Dalam hal ini  yang dimaksud  gua alam, namun ada juga gua buatan manusia seperti tempat  perlindungan perang dan lain-lain. Gua alam terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan letak dan jenis batuan pembentuknya, antara lain :

a. Gua litoral

Gua ini terletak di daerah pantai, palung laut ataupun di tebing muara sungai. Terbentuknya gua litoral  karena diakibatkan oleh terjangan air laut (abrasi).

b. Gua lava

Terbentuknya gua lava diakibatkan oleh adanya pergeseran permukaan tanah dikarenakan gejala keaktifan vulkanologi, biasanya sangat rapuh karena terbentuk dari batuan muda (endapan lahar) dan tidak memiliki ornamen batuan yang khas.

c. Gua batu gamping (karst)

Terbentuknya gua ini diakibatkan terjadinya peristiwa karst (pelarutan batuan kapur akibat aktifitas air) sehingga tercipta lorong-lorong dan bentukan batuan yang sangat menarik akibat proses kristalisasi dan pelarutan gamping.

Diperkirakan oleh para pakar arkeologi wilayah sebaran karst yang paling besar di seluruh dunia adalah Inodnesia. Jadi Goa Soekarno tergolong dalam kelompok gua karst.

d. Gua pasir, gua batu halit, gua es dan sebagainya, adalah proses pembentukan gua yang sangat jarang dijumpai di seluruh dunia, hanya meliputi 5% dari keseluruhan jumlah gua yang ada di dunia.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kata karst masih terdengar asing di telinga. Karst sendiri memiliki pengertian yaitu suatu bentang alam yang terbentuk pada batuan mudah larut seperti formasi batuan karbonat yang mengalami pelarutan. Di kawasan karst itulah fenomena pembentukan gua  seringkali terjadi.

 

Fungsi Gua

Para ahli arkeologi (ilmu yang mempelajari kebudayaan/manusia masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan)  mengelompokkan fungsi gua berdasarkan pemanfaatannya sebagai berikut:

1. Pada jaman pra sejarah (primitif), gua dijadikan sebagai tempat berlindung satu-satunya oleh manusia dari serangan binatang buas. Juga sebagai tempat berlindung dari suaca panas dan hujan.

2. Sebagai tempat penambangan  mineral (kalsit/gamping, guano). Juga sebagai tempat perburuan  (wallet, sriti, kelelawar).

3. Sebagai tempat obyek wisata alam (rekreasi) bebas atau hobi yang pada ujungnya manusia akan lebih dekat dengan Yang Maha Pencipta.

4. Sebagai obyek sosial budaya (legenda, mistik). Orang-orang jaman dahulu salah satunya memanfaatkan gua sebagai tempat menyatukan diri dengan Sang Khalik.

5. Sebagai lokasi  air tanah potensial sepanjang tahun. Gua pada dataran rendah bisa menampung/menyerap air hujan lebih banyak ketimbang gua yang ada pada dataran tinggi.

6. Sebagai penyangga mikro ekosistem yang sangat peka dan vital bagi kehidupan makro ekosistem di luar gua. (Bersambung)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (13)



Penulis: Yant Kaiy

Kita tentu memahami, banyak orang-orang sakti jaman dahulu yang memanfaatkan gua sebagai tempat olah batin (riyadah). Tapi sebenarnya mereka bukan mencari kesaktian intinya. Tetapi mereka semata-mata ingin menyatukan diri kepada Tuhannya.

Sebab gua  lebih bisa menjamin seseorang terlindung dari berbagai gangguan dalam hal mencapai sebuah bentuk niat dan kesuksesan. Alam pikiran menjadi fokus, tidak terpecah dengan pikiran lain.

Menurut Ceng Rasyidi, Goa Soekarno sebenarnya pernah menjadi tempat para tokoh alim masyhur menjalankan riyadah. Mereka itu adalah tokoh ulama memiliki magnet pengaruh di Pasongsongan, karena kebanyakan dari mereka tergolong dalam penyebar Islam yang mempunyai banyak pengikut.

Pernyataan ini Ceng Rasyidi dapatkan dari kakeknya dulu ketika dirinya masih kecil. Berikutnya pernyataan tersebut diperkuat lagi dengan Sukardi yang menjalankan tirakat di gua itu. Sukardi meyatakan dengan tegas kalau ada beberapa tokoh alim datang secara gaib pada Sukardi. 

Ia sempat berdialog dengan mereka. Jadi Ceng Rasyidi sekarang tambah yakin, kalau Goa Soekarno adalah tempat orang-orang yang menjalankan olah batin/riyadah. Dan kebanyakan dari mereka menjadi orang hebat yang diperhitungkan sepak-terjangnya setelah menjalankan laku batin di Goa Soekarno.

Memang tidak ada bukti yang memperkuat pendapat tentang ini. Tapi sebelum Goa Soekarno dibangun menjadi wahana destinasi wisata, penulis pernah berkunjung ke lokasi gua ini. Penulis melihat sebuah plang dari seng yang ada tulisan nama beberapa tokoh dari Pasongsongan dan dari Pulau Jawa.

Ketika penulis menanyakan kepada Ceng Rasyidi bahwa tulisan di plang itu ditulis oleh Sukardi.  Menurutnya, Sukardi memiliki ilmu yang bisa menerawang hal-hal gaib dan bisa berbicara dengan orang yang sudah meninggal dunia. Itulah kelebihan Sukardi.

Maka tidak mengherankan kalau selama berada di Goa Soekarno, ia setiap hari kedatangan banyak tamu yang meminta petunjuk apa saja menyangkut persoalan hidup. Ada pula tamu yang minta didoakan agar cita-citanya terkabul.

Ada juga komentar yang menyatakan kalau Goa Soekarno jaman dahulu merupakan tempat tinggal nenek-moyang Ceng Rasyidi. Ia tidak menampik anggapan tersebut. Karena kebiasaan hidup orang jaman dahulu lebih mementingkan rasa ‘aman’ ketimbang ‘nyaman’. Bukankah nyaman itu relatif, tetapi aman adalah dambaan setiap individu.

Kita maklum bersama, menurut para tokoh masyarakat  yang tinggal di sekitar Goa Soekarno, sebenarnya orang-orang yang tinggal di gua pada jaman dahulu, baginya sebagai tempat berlindung dari gangguan binatang buas. Karena mereka  belum bisa membuat rumah sebagai tempat tinggal.

Juga gua berfungsi sebagai tempat berlindung dari hujan dan panas matahari menyengat.

Setelah manusia bisa membangun rumah, barulah gua bergeser fungsinya dari tempat tirakat beralih fungsi menjadi  tempat wisata yang dikelola sedemikian rupa untuk memperoleh  keuntungan dari sisi ekonomi. (Bersambung)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (12)



Penulis: Yant Kaiy

Wangsit Sukardi

Sukardi berasal dari Jember dan menempati Goa Soekarno pada tahun 2001. Ia menikahi perempuan bernama Puhana yang tak lain adalah anak tercinta dari Ceng Rasyidi. Selanjutnya pasangan ini menempati Goa Soekarno sampai akhirnya mempunyai satu anak laki-laki tampan bernama Joko Satrio Nurcahyo.

Sebelum menempati gua tersebut, menurut pengakuan Sukardi kepada Ceng Rasyidi, ia mendapatkan wangsit  (petunjuk) ketika dirinya berada di Jember. Wangsit itu datang ketika dirinya sedang menjalani riyadah di sebuah tempat keramat di Kabupaten Jember.

Sukardi sebelumnya tidak pernah ke Desa Panaongan. Ia berangkat  dari Jember menuju gua tersebut seorang diri.  Ia mengikuti petunjuk yang ada dalam wangsit tersebut.

Sebelum Sukardi menempati Goa Soekarno, Ceng Rasyidi menyarankan agar di sekitar gua dibersihkan dulu dari semak belukar. Sebab banyak ular yang bersembunyi di balik batu cadas. Kalau tidak dibabat maka bahaya ular akan senantiasa mengancam keselamatan jiwanya sewaktu-waktu.

Ceng Rasyidi dengan beberapa orang tetangganya turut bahu-membahu membersihkan tumbuhan liar di sekitar gua. Ternyata memang benar, banyak ular yang mematikan ditemukan di situ. Lantas ular-ular itu dimusnahkan oleh Ceng Rasyidi.

Selama berada di dalam gua yang Sukardi kerjakan adalah bertirakat/laku batin. Keluar gua hanya sewaktu-waktu. Itu pun sangat jarang. Tidak beberapa lama kemudian Sukardi mulai dikenal masyarakat luas. Banyak orang yang bertamu dengan maksud meminta petunjuk kepadanya dari sekian banyak masalah atau himpitan hidup.

Sukardi adalah seorang pengembara dan suka bertapa di tempat-tempat angker. Dia juga punya ilmu tembus pandang, bisa berdialog dengan makhluk gaib. Bisa menerawang orang lain walau berada di luar negeri dengan ilmu mata batinnya. Itulah beberapa kelebihan yang dimiliki Sukardi, demikian cerita Ceng Rasyidi.

Dulu sebelum masuk lampu PLN, Sukardi menggunakan talpek (sebangsa pelita) sebagai alat penerangan di gua. Sedangkan jarak rumah Ceng Rasyidi  dengan Goa Soekarno sekitar  500 meter dan Sukardi jarang ke rumah mertuanya. 

Walaupun serba terbatas dengan fasilitas layaknya orang yang tinggal di sebuah rumah, Puhana tidak pernah mengeluh atau menuntut kepada suaminya untuk sekadar mendapatkan perabot rumah tangga. Puhana tetap setia mendampingi suaminya.

Kendati Puhana dan Sukardi menjalani hidup prihatin dalam gua, namun mereka tetap bahagia, membesarkan anaknya penuh kasih-sayang. Mereka menempatkan wujud syukur dalam setiap detak jantungnya. Tidak pernah mengeluh. Sukardi yakin kalau Tuhan akan menyayangi umat-Nya apabila manusia itu sendiri dekat kalbunya kepada Sang Khalik.

 

Tempat Tirakat

Sebenarnya kenapa banyak orang jaman dahulu yang tinggal di gua dalam menjalankan tirakat. Menurut Kiai Haji Ismail Tembang Pamungkas, tentu hal itu disebabkan agar  tidak terganggu konsentrasi mereka dalam menyatukan alam pikirannya  dengan Sang Pencipta. (Bersambung)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (11)



Penulis: Yant Kaiy

Di areal ini juga tersedia tempat untuk berselvi (swa foto), mengabadikan diri menggunakan kamera digital atau kamera telepon. Tempatnya sangat bagus dengan pintu kayu jati. Di situ juga ada ruangan dengan pernak-pernik yang terkesan glamour. Membebaskan pengunjung untuk mendapatkan memori kalau dirinya sudah ke Goa Soekarno.

Kemudian penulis melewati lorong yang di dindingnya ada lukisan presiden RI pertama dan kereta kuda. Naik ke atas undakan masih ada aula yang lebih luas lagi. Di areal ini juga ada lubang gua tidak terlalu lebar.  Dan hawa yang sejuk terasa di sekujur tubuh, sungguh menentramkan.

Di ujung barat daya ternyata ada pintu keluar lebih lebar ketimbang pintu yang pertama ketika penulis masuk. Di ruang ini juga terdapat kamar tempat peristirahatan Sukardi beserta anak-istrinya. Kamar tidur tersebut naik ke atas melewati undakan batu. Luas kamar berukuran 3x4 meter. Barangkali memang sengaja Sukardi meninggikan kamarnya agar dia terbebas dari bahaya ular atau semacamnya.

Seperti dilansir dari beberpa berita online, Hairul Anwar  sebagai investor Goa Soekarno menyatakan, bahwa kedepannya di areal ini akan dibangun perpustakaan. Tujuannya adalah sebagai sarana/media edukasi (sarana pembelajaran) bagi pengunjung, baik dewasa maupun anak-anak.

Hairul Anwar  juga sangat care bagi kemajuan sumber daya manusia. Intinya selain berlibur kita bisa menyempatkan diri  untuk belajar banyak hal terutama tentang alam ini.

Dalam sebuah kesempatan, penulis pernah mewawancarai Hairul Anwar: “Tuhan telah memberikan alam ini kepada kita, sepantasnya kalau kita merawat dan menjaganya,” tandasnya setengah berfilsafat.

Hairul Anwar asli putra Desa Panaongan juga mempunyai harapan besar, kalau keberadaan Goa Soekarno akan menyajikan manfaat bagi warga Pasongsongan dan sekitarnya. Masyarakat lokal bisa berniaga apa saja di situ.

Paling tidak, bisa meningkatkan taraf perekonomian masyarakat lebih baik. Sebuah kesejahteraan hidup dalam meretas jurang pemisah yang kaya dan yang miskin, itulah impian Hairul Anwar ke depannya. Goa Soekarno bisa memberikan kontribusi berarti, bukan sebuah impian isapan jempol belaka.

Dirinya akan membangun banyak kios makanan dan cindera mata sehingga perekonomian mereka sedikit lebih baik dan lebih sejahtera lagi kedepannya.

Areal kios makanan, minuman, souvenir, toilet, musalla, parkir, dan lain-lain ada di luar gua. Sedangkan di dalam gua hanya menyediakan minuman spesial dengan harga terjangkau.

Memang tak berlebihan kiranya kalau semua pengunjung gua akan berdecak kagum melihat hasil kreatifitas seniman-seniman Madura yang dituangkan lewat karya artistik, totalitas maha karya yang sungguh menakjubkan. Kita akan terperangah dibuatnya.

Lampu wana-warni semakin menambah daya magis namun tidak menyeramkan. Kebersihan di setiap ruang gua begitu terjaga karena pengunjung tidak diperkenankan untuk membuang sampah sembarangan. (Bersambung)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (10)



Penulis: Yant Kaiy

Sosok Sukardi sangat mengidolakan presiden RI pertama Sukarno, Sang Proklamator. Sebagai bentuk kekagumannya, dia meletakkan beberapa lembar gambar presiden Sukarno di dinding gua.  

Sebagian besar orang yang pernah bertamu ke Sukardi lantas menamakan gua tempat tinggal Sukardi itu dengan nama Goa Soekarno. Karena gua ini tidak mempunyai nama sebelumnya.

Sepasang suami-istri itu sekarang sudah meninggal dunia. Sedangkan gua yang didiaminya beberapa tahun itu dibiarkan terbengkalai  sekian lama, sampai pada akhirnya datang Hairul Anwar sebagai penggagas ide besar untuk gua ini.

Goa Soekarno lewat idenya sekarang disulap menjadi lebih cantik dan unik dengan tidak meninggalkan kesan artistik dan natural. Kesan yang sungguh menakjubkan sebagai sebuah gua.

Jalan masuk ke Goa Soekarno tidak terlalu lebar. Setelah jalan agak turun beberapa langkah kemudian akan terlihat pemandangan dinding gua yang mempesona dengan stalaktit dan stalagmit. Hawa di dalam gua sangat sejuk dengan sirkulasi udara yang cukup dan tidak pengap. Karena di ruang pertama ini ada lubang di atasnya sehingga cahaya matahari menerangi ke sebagian ruang gua.

Di sisi timur ada patung kelelawar besar pas di tengah aula ada onggokan batu dengan hiasan pagar terbuat dari batu. Konon patung kelelawar dan hiasan batu di tengah gua itu Sukardi yang membuatnya.

Berjalan ke samping kiri kita akan meniti jembatan yang di bawahnya ada penampungan air. Air tersebut berasal dari atas gua, menetes tanpa henti. Sampan kecil di bawah jembatan juga telah disiapkan untuk bisa dinaiki oleh pengunjung.

Di ruang kedua sudah ada kursi-kursi cantik berbahan kayu jati. Di situ juga ada cafeteria tempat memanjakan wisatawan dalam menikmati keelokan Goa Soekarno. Di ruangan ini juga ada lubang menganga di atasnya. Hanya di ruangan ini lubang di atas gua yang paling lebar. Sinar matahari menerobos bebas di ruangan ini. Luar biasa mempesona, sungguh menakjubkan bagi mata siapa saja yang melihatnya.

Di areal kedua ini ada sumur yang dalamnya sekitar 41 meter dari dasar gua yang sengaja ditutup untuk menanggulangi kotoran hewan dan semacamnya agar tidak masuk ke sumur.

Sumur ini ditutup atasnya saja tetapi airnya yang alami tetap dimanfaatkan sebagai air minum.  

Menurut keterangan Ceng Rasyidi, sumur itu dibuat sendiri oleh Sukardi karena ia sangat membutuhkan air sebagai keperluan memasak dan mandi.  

Belakangan ini ada seorang ahli geologi yang menyatakan, bahwa air di sumur yang ada dalam gua itu kandungan mineralnya sangat tinggi, terang Ceng Rasyidi bersemangat. Wajar saja karena sumur ini tidak tercemar. Dan sumur tersebut tidak pernah habis kendati musim kemarau panjang. (Bersambung) 

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (9)



Penulis: Yant Kaiy

Gua Alami

Goa Soekarno terletak di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura. Lokasi Goa Soekarno berada di bawah bebatuan gersang dan tandus serta berbatu. Hanya semak berduri yang tumbuh liar di atas gua.

Gua eksotis yang ramai diperbincangkan, terutama di sosial media, mulai dilirik keberadaannya oleh banyak orang. Lahan parkir dengan pengelola sudah selesai digarap seluas kurang lebih 2000 meter persegi.

Akses masuk jalan beraspal sudah bagus. Rencananya di pinggir lahan parkir ini akan dibangun beberapa kios tempat berjualan bagi masyarakat sekitarnya.

Menurut Ceng Rasyidi, keberadaan Goa Soekarno sudah ada ratusan tahun yang lalu. Luas gua tersebut sekitar 3000 meter persegi. Lumayan luas untuk ukuran sebuah gua, bisa menampung ribuan orang di dalamnya.

Destinasi wisata baru yang sangat direkomendasikan ini adalah gua alami. Memang ada bekas galian yang diambil batunya untuk dijual, begitu keterangan Ceng Rasyidi ketika penulis menjumpainya.

Batu-batu tersebut yang ada kadar posfatnya dijual ke perusahaan-perusahaan besar di Pulau Jawa. Namun tidak beberapa lama kemudian, gua tersebut tidak digali lagi karena kadar batu fosfat sudah tidak memenuhi standar seperti yang ditetapkan perusahaan. Akhirnya gua tersebut dibiarkan terbengkalai begitu saja.

Kedalaman Goa Soekarno bervariatif antara 12-17 meter. Ada dua akses jalan ke luar-masuk gua. Ceng Rasyidi sebagai pemilik lahan Goa Soekarno, menjelaskan bahwa gua tersebut memang sudah ada sebelum kakeknya.

Kakek Ceng Rasyidi juga tidak tahu siapa yang dulu membuat/menggali gua cantik itu. Jadi sangatlah meyakinkan jikalau gua itu sudah ada ratusan tahun yang lalu. Hal ini memang terbukti adanya stalaktit dan stalagmit di dalam gua yang sangat mempesona.

Stalaktit adalah jenis speleothem yang menggantung dari langit-langit gua kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes. Stalaktit terbentuk  dari pengendapan  kalsium karbonat dan mineral lainnya, yang terendapkan pada larutan air bermineral.

Sedangkan stalagmit adalah pembentukan gua secara vertikal. Stalagmit terbentuk dari kumpulan kalsit yang berasal dari air yang menetes. Stalagmit ditemukan di lantai gua, biasanya langsung ditemukan di bawah stalaktit. Mineral yang dominan dalam pembentukan stalagmit adalah kalsit.

Kenapa gua itu dinamakan Goa Soekarno? Dulu gua tersebut pernah menjadi rumah sepasang suami-istri, yaitu Sukardi dan Puhana. Sukardi beragama Islam kejawen dan ada beberapa orang sebagai pengikut ajarannya.  

Bahkan keberadaan Sukardi pernah menjadi sorotan negatif oleh beberapa kalangan muslim di Pasongsongan karena agama yang dianutnya berbeda paham dengan Islam yang dianut masyarakat Pasongsongan umumnya.

Perbedaan paham ini pula yang membuat Sukardi sering dipanggil oleh aparatur pemerintah Kecamatan Pasongsongan untuk tidak memperkeruh suasana masyarakat sekitarnya. Sukardi pun menyepakatinya demi sebuah kondisi masyarakat di Desa Panaongan dan sekitarnya. (Bersambung)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (8)



Penulis: Yant Kaiy

Ada pula kalangan awam yang menganggap, bahwa bertapa adalah pekerjaan orang-orang yang menganut ajaran hitam dan sesat adanya. Jadi seolah ada nilai ketidakpatutan berlaku di tengah-tengah masyarakat saat sekarang. Atau bahkan seolah syirik, bagi seorang tokoh ulama besar seperti para tokoh alim di Pasongsongan mencari ilham di gua.

Tetapi perlu diingat, Baginda Nabi Muhammad SAW juga pernah berada di Gua Hira. Semua kaum muslim tahu, kalau Gua Hira merupakan salah satu situs yang sangat penting bagi sejarah Islam.

Pasalnya di gua ini Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama yaitu  Surat Al-Alaq dari ayat 1 sampai 5. Tepatnya, pada Senin 17 Ramadhan, ketika Nabi Muhammad tengah khusyuk bertafakur. Wahyu itu disampaikan oleh Malaikat Jibril.

Saat itu juga Nabi Muhammad resmi dilantik sebagai  nabi dan rasul dalam usia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut kalender Qamariah.

Nabi Muhammad berdiam diri di Gua Hira sepanjang Ramadhan. Beliau menghabiskan waktu untuk berkontemplasi dan memikirkan fenomena alam yang terjadi di sekelilingnya.

Demikian pula dengan Raden Said atau banyak orang mengenalnya dengan nama Sunan Kalijaga, ia juga pernah bertapa di Gua Langsih di Bukit Surowiti, Desa Surowiti, Kecamatan Panceng, Gresik. Kini tempat pertapaan Sunan Kalijaga tersebut masih tetap terjaga dan menjadi tempat destinasi wisata religi yang sangat banyak dikunjungi wisatawan.

Di Kabupaten Sumenep ada deretan gua yang pernah dijadikan sebagai tempat untuk menjalani riyadah (laku batin) bagi tokoh penting dan berpengaruh di jamannya:

1. Di Kecamatan Guluk-guluk ada Gua Payudan yang dijadikan tempat bertapa Raden Ayu Potre Koneng. Kita tahu Potre Koneng adalah ibunda dari Pangeran Jokotole (Raja Sumenep yang ke-13).

Pangeran Jokotole adalah seorang raja yang sakti ketika mendirikan pintu gerbang raksasa Kerajaan Majapahit atas kehendak Raja Brawijaya VII.

2. Gua Kahuripan yang terletak di Pulau Giligenting Kabupaten Sumenep merupakan tempat bertapa bagi Ario Danurwendo (Raja Sumenep ketiga).

Sampai sekarang Gua Kahuripan ini dipercaya masih dijaga oleh kedua piaraan/pengawal Raja Ario Danurwendo, yakni macan putih dan ular putih.

3. Gua Jeruk yang terletak di dataran tinggi di luar Asta Tinggi di Desa Kebun Agung Kabupaten Sumenep merupakan tempat Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raja Sumenep ke-32) menjalani riyadah.

Sultan Abdurrahman bernama asli Notonegoro Putra Raja Sumenep yaitu Panembahan Notokusumo I. Beliau mendapat gelar Doktor Kesusasteraan dari pemerintah Inggris karena ia pernah membantu Letnan Gubernur Jenderal Rafles untuk menerjemahkan tulisan-tulisan kuno di batu kedalam bahasa Melayu.

Barangkali dengan melakukan tirakat atau riyadah di mana saja boleh dikerjakan. Asal tidak menyimpang dari syariat Islam itu sendiri. Akan tetapi kalau sekiranya bisa membahayakan bagi keselamatan jiwanya, lebih baik mengerjakan riyadah di mesjid saja.

Jadi tidak salah mengerjakan ritual (bertafakkur) di sebuah gua untuk mencapai bentuk ketenangan jiwa menyatu dengan Sang Khalik. (Bersambung)

Amazing Goa Soekarno Pasongsongan (7)



Penulis: Yant Kaiy

Goa Soekarno sebenarnya memiliki arti penting yang tidak bisa lepas dari sejarah Pasongsongan itu sendiri. Eksistensi gua ini oleh beberapa kalangan dinilai mempunyai keterkaitan dengan para tokoh berpengaruh di Pasongsongan, yakni  ulama yang memiliki magnet massa di jaman dahulu.

Menurut beberapa kalangan, Sukardi cukup meyakini jikalau para tokoh alim jaman dulu banyak yang melakukan riyadah di gua alami tersebut. Pendapat ini pertama kali digulirkan Sukardi kepada para pengikutnya. Kebetulan Sukardi memiliki banyak pengikut. Mereka banyak belajar tentang penyatuan diri kepada Sang Pencipta.

Ia selalu bercerita kepada beberapa orang, termasuk kepada beberapa tamunya (karena Sukardi sebagai orang pintar yang memiliki ilmu tembus pandang),  tentang siapa saja yang pernah berdialog dengannya secara gaib. Bahwa mereka pernah menjalani laku batin di Goa Soekarno.

Sebagian orang memang ada yang menilai Sukardi berbohong dan dianggapnya mengada-ada (takhayul). Bagi Sukardi tidak ada untungnya orang-orang percaya atau tidak. Yang penting dirinya sudah menyampaikan apa yang menjadi pengalaman dirinya di alam gaib.

Tetapi pendapat Sukardi ini bagi Ceng Rasyidi (pemilik lahan Goa Soekarno) ditanggapinya dengan serius kala itu. Sebab kakek Ceng Rasyidi dulu pernah juga bercerita kalau gua tersebut adalah tempat  dimana beberapa tokoh alim menjalani semedi/laku batin.

Cerita kakeknya tersebut ia dengar ketika dirinya masih belum menikah, yakni sekitar tahun1965. Usia Ceng Rasyidi sekarang 71 tahun per tahun 2021.

Sementara Sukardi menempati Goa Soekarno pada tahun 2001. Ini berarti ada rentang waktu 36 tahun dari pertama kali Ceng Rasyidi mendengar dari kakeknya. Ceng Rasyidi tak menggubris cerita kakeknya itu, karena baginya cerita kakeknya hanya fiksi semata.

Pada saat Sukardi yang mendeklarasikan kalau Goa Soekarno adalah salah satu tempat para tokoh alim menjalani tirakat, barulah ia teringat kembali akan cerita kakeknya tersebut.

Setelah itu Ceng Rasyidi semakin yakin kalau pendapat Sukardi yang ahli menjalani tirakat di tempat-tempat sunyi tersebut benar adanya. Kendati demikian, Ceng Rasyidi hingga gua tersebut menjadi detinasi wisata pun tidak gembar-gembor kepada banyak orang jikalau Goa Soekarno seringkali dijadikan tempat tirakat alim ulama jaman dalu.

Karena ia tak mau pendapatnya itu bisa melahirkan cibiran miring dari beberapa kalangan di wilayahnya. Ia tak ingin nantinya pendapat tersebut menjadi pemicu kontroversi diantara beberapa orang di Pasongsongan yang meruncing pada cemooh.

Kalaupun ada sebagian orang yang menganggap semua itu adalah cerita bombastis, bagi Ceng Rasyidi hal itu tidak akan mengurangi daya tarik bagi banyak orang untuk tetap mengunjungi Goa Soekarno.

Memang pada jaman sekarang bertapa di gua sudah tidak lazim. Bahkan ada pandangan yang cukup ekstrem dari sebagian orang, kalau orang yang bersemedi itu adalah pekerjaan orang tidak waras. Karena bagi beberapa gelintir orang bersemedi atau tirakat adalah pekerjaan para dukun semata. (Bersambung) 

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...