Selasa, 16 Juni 2020

Amanah


Pentigraf: Yant Kaiy

Berasal dari kampung terpencil yang mayoritas lingkungannya mengais rejeki jadi petani dan kuli bangunan, Tonah terdidik sedari kecil untuk senantiasa amanah hidup di dunia dalam banyak hal. Begitu yang selalu diajarkan oleh ustadz di sekolah Madrasah Diniyah. Sedangkan pendidikan formalnya hanya sampai di bangku SMP

Lalu Tonah pindah ke kota, bekerja jadi buruh pabrik perusahaan rokok. Diantara sekian ribu karyawati hanya ia yang tidak pegang hape android. Saat jam istirahat makan siang, teman-temannya memanfaatkan waktu untuk bersosial media. Tapi tidak dengan Tonah, sehabis makan ia langsung menunaikan kewajibannya sebagai muslim, menunaikan sholat dhuhur. Setelah itu langsung kerja lagi.

Etos kerja tinggi dan disiplin waktu, akhirnya gaji Tonah meroket naik ketimbang karyawati lainnya. Cemburu sosial mereka pun tak terkendali. Mereka kemudian merencanakan agar Tonah bisa mengalami kecelakaan saat pulang kerja naik sepeda motor. Dan itu benar-benar menimpanya.[]


Pasongsongan, 16/6/2020

Elegi Gagal


Pentigraf: Yant Kaiy

Banyak orang kagum terhadap kegigihan Debur dalam menghidupi mahligai rumah tangganya. Ia seolah tak pernah kenal waktu, bertarung meraih impian hidup sejahtera seperti kebanyakan orang.

Tapi semangat kerja luar biasa itu tak membuahkan sukses yang diidamkan. Keluarga Debur tetap berada di rangking paling bawah diantara para tetangganya. Nasibnya begitu miris. rumahnya mulai sejak kawin sampai beranak lima belum berubah dan kini hampir mau rubuh. Sedangkan pendidikan anaknya paling tinggi hanya sampai SMA.

Ketika Debur jatuh sakit sekian lama dan meninggal dunia, ternyata ia mewarisi hutang untuk biaya berobat.[]


Pasongsongan, 16/6/2020

Senin, 15 Juni 2020

Salahkah Masyarakat Tidak Percaya Covid-19


Opini: Yant Kaiy

Ada salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep direncanakan akan diregrouping oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep karena tidak ada muridnya. Semua wali murid menyekolahkan anak-anaknya pada Lembaga Pendidikan Islam (LPI) yang ada di sekitarnya. Alasannya, karena di SD itu dulu gurunya jarang masuk sehingga murid banyak terlantar.

Para orang tua percaya kalau anaknya sekolah di LPI akan memperoleh pendidikan terbaik. Akhirnya SDN tersebut muridnya tidak lebih dari 6 orang dari kelas I sampai VI. Ketidak percayaan orang tua murid jelas akibat “dosa” guru-guru sebelumnya.



Begitu pula dengan kepercayaan masyarakat  terhadap Covid-19. Sebagian besar masyarakat memiliki tendensi kuat agak tidak percaya terhadap virus corona. Alasannya simpel dan realistis. Kalau memang virus terkutuk ini ada, kenapa pabrik rokok raksasa di Kabupaten Sumenep masih mempekerjakan karyawannya di tengah pandemi Covid-19. Ini jelas tidak adil. Home industri dilarang melakukan aktivitasnya, begitu pula destinasi wisata wajib ditutup.

Bibit-bibit ketidak percayaan masyarakat pada Covid-19 ini dilatar belakangi oleh “dosa” pemerintah sebelumnya. Banyaknya pejabat publik yang melakukan tindak korupsi, iming-iming bantuan dalam meredam gejolak rakyat tidak percaya pemerintah, pembangunan tidak merata, sulitnya mendapat lowongan pekerjaan, pegawai negeri di daerah yang seringkali melakukan pungli (pungutan liar), dan berjuta ketimpangan sosial lainnya.

Mari kita membuka mata hati dan berpikir lebih bijak lagi. Ingat, Anda yang mendapat gaji dan berbaju dinas serta bersepatu mengkilat diperoleh dari tetes keringat rakyat, sudahkah Anda memahami akan kesejahteraan rakyat yang kalau tidak bekerja mereka tidak makan.

Contoh kongkrit. Di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep yang masyarakatnya sebagian besar hidup jadi nelayan. Lalu Anda yang menjadi pegawai negeri, jelas enak tidak masuk kantor tetap dapat bayaran. Tapi seorang nelayan. Walau mereka melaut bertaruh nyawa belum tentu membawa pulang hasil ikan.

Semoga kita lebih peduli terhadap nasib rakyat kecil (wong cilik), bukan hanya sekadar prihatin.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


In Memoriam: Pelda Agus Karjono



Apoy Madura, Yogyakarta – Menurut siaran pers yang diterima apoymadura.com tadi pagi, Senin (15/6/2020). Bahwa Pelda Agus Karjono telah berpulang ke Rahmatullah. Kepergiannya menyisakan banyak kenangan manis begitu berkesan di kalangan keluarga besar Therapy Banyu Urip International. Semua pimpinan cabang, baik dalam dan luar negeri sudah banyak tahu siapa sosok Pelda Agus Karjono.

Maka tak berlebihan kiranya kalau CEO Therapy Banyu Urip International, MS. Arifin merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Pelda Agus Karjono. Dalam akun sosial media MS. Arifin secara khusus menuliskan kalimatnya:

“Kita maafkan segala dosa dan khilaf semasa hidupnya. Kita doakan bersama. Kita kenang bersama akan semua kebajikannya, loyalitasnya, dedikasinya, perjuangannya dengan Therapy Banyu Urip International. Beliau sangat setia kawan. Berjuang tanpa kenal lelah. Menyebarkan dan mempromosikan Therapy Banyu Urip International hingga mendunia sampai sekarang…”


MS. Arifin mengakhiri kalimatnya, “Selamat jalan saudaraku, Pelda Agus Karjono. Selamat jalan kawanku. Selamat jalan asisten pribadi. Selamat jalan pahlawan Therapy Banyu Urip International. Semoga tumbuh generasi sesudahmu. Kami akan senantiasa berdoa untukmu setiap waktu!” (Yant Kaiy)

Minggu, 14 Juni 2020

Puisi: Akhmad Jasimul Ahyak



Terkungkung Sebuah Janji

Aku merasa sunyi di ujung pekan
Sedang matahari melamun
Ingin melepas senja yang mau teggelam
Di langit jantung nan menyala
Bulanpun tersenyum pada kupu-kupu yang menari bebas
Mengikuti nyanyian asmara mengalun sendu
Menyayat sepi hati menahan rindu

Aku tak mampu ratapi gundah diri
Karena, aku disini masih terkungkung
Oleh sebuah janji
Meski asaku kandas tiada arti

Hari ini kutulis sajak mentari
Dari tubuh bulan Juni, dan kukirim ke jantungmu
Biar nanti terukir dalam hati dan hidupmu
Agar mewujudkan indah naluri hasrat menyatu.



Luka di Bawah Kabut


Opini: Akhmad Jasimul Ahyak

Ribuan muslim Kazakhstan yang tinggal di wilayah perbatasan negaranya dan cina banyak dilaporkan menghilang. Para penyintas mengaku ditangkap saat menyeberang ke Cina dan dimasukkan ke sekolah pelatihan serta kemudian dipekerjakan secara paksa.

Awalnya Cina menyebut ini sekolah pelatihan. Dengan senang hati para muslim Kazakhstan hadir dengan sukarela. Namun para penyintas menyatakan sebaliknya bahwa muslim Kzakhstan tinggal di wilayah perbatasan Cina dan disaat itu banyak muslim yang ditangkap saat menyeberang ke Cina, kemudian mereka semua dibawa ke sekolah pelatihan, dan merekapun mengatakan, kenapa ada pelatihan seperti ini. Kamu harus belajar tentang hukum Cina, sejarah, dan bahasanya. Sehingga denagn terpaksa muslim itu melupakan bahasa Kazakhstannya.

Mereka bilang, jika saya tidak belajar lagu dan huruf Cina. Dia mengancam saya akan sulit meninggalkan tempat itu, lebih kejamnya lagi mereka memukuli saya saat pergi ke toilet, padahal hanya mau cuci tangan dan wajah. Tapi kenapa kamu minum air keran, dia balik bertanya. Saya haus, jawabnya. Lalu mereka memukul telinga saya, sehingga saya hilang keseimbangan. Mereka lalu datang lagi dan kembali memukul saya.

Cina mengklaim semua orang telah dibebaskan, tapi itu tidak berarti pulang kerumah. Tapi kenapa ribuan muslim Kazakhstan masih menghilang, Cina menyebut ia masih sekolah pelatihan dan ia langsung dapat pekerjaan. Penyitas menyebut itu kerja paksa. Semua itu adalah luka di bawah kabut yang penjarakan muslim Kazakhstan hingga hilang tanpa bekas.[]


Mitos Uang Bernomer 999



Opini: Yant Kaiy

Suatu waktu saya kedatangan teman lama yang jarang bersua karena ia bekerja di daerah Kalimantan Tengah. Ia menceritakan tentang kesuksesannya sehingga memiliki mobil pribadi dan membeli rumah berharga ratusan juta rupiah.

Ia juga memiliki usaha bergerak di bidang kuliner dan toko serba ada. Sedangkan anak-anaknya ada yang kuliah di luar negeri. Ia juga sudah menunaikan ibadah haji ke tanah suci sebagai rukun Islam kelima bersama istrinya.

Perubahan gaya hidupnya luar biasa, sebab saya tahu kalau ia dulu dari keluarga tidak mampu. Orang tuanya bekerja kuli bangunan.

Lalu saya tanyakan penyebab ia menjadi kaya. Ia membisikkan tentang uang kertas yang ada di dompetnya. Menurutnya, gara-gara  ia punya uang seratus ribu rupiah bernomer seri 999 belakangnya, rejekinya mengalir begitu deras. Saya pun jadi penasaran.

Sahabat saya bercerita kalau ada lelaki tua memberi tahu, kalau rejekinya ingin lancar, ia disuruh mencari uang bernomer seri 999. Ia mengaku sebelumnya iseng saja memesan pada karyawan SPBU, kalau ada uang kertas Rp 100.000,- akan dibelinya Rp 200.000,-. Seminggu kemudian ia mendapatkannya. Selanjutnya uang kertas itu disimpan di dompetnya. Ia memperlihatkan kepada saya.

Awalnya, sahabat saya itu menggantikan seseorang yang pulang kampung ke Jawa membuka warung kecil-kecilan menjual makanan sate kambing. Tak pernah terpikirkan olehnya dagangannya laris manis. Ia pun membuka cabang di beberapa tempat. Semakin hari kekayaannya terus bertambah besar.

Sepulang kawan saya, hati ini berbisik: “Hanya kebetulan saja. Allah Yang Maha Berkehendak.”

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?”. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (Surah Az-Zumar:38).

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


Sabtu, 13 Juni 2020

Hairul Anwar, Kader PAN Termapan













Opini: Yant Kaiy

Suhu politik di Kota Keris Sumenep Madura sekarang mulai memanas seiring tidak turunnya Surat Keputusan DPP PAN kepada Hairul Anwar. Padahal dalam rapat pleno DPD PAN Sumenep sebelumnya secara aklamasi mengusung nama Hairul Anwar sebagai kader PAN terbaik untuk maju ke putaran Pilkada Sumenep 2020.

Kini otomatis dalam tubuh partai berlambang matahari itu terpecah menjadi dua kubu. Satu kubu berkiblat terhadap SK DPP PAN, satu kubu lagi pada Hairul Anwar.

Ditelisik dari besarnya power massa terhadap kedua kubu, jelas kubu Hairul Anwar paling banyak mengantongi pendukung militan. Mereka itu adalah orang-orang yang mengerti kualitas dan kapabilitas personal dari sosok calon pemimpin terbaik. Mereka bukanlah orang-orang yang mengejar keuntungan materi belaka atau kepentingan pribadi semata.

Jungkir-balik peta politik memang biasa berlaku di setiap negara manapun, bahkan seringkali diwarnai intrik dan menatalkan surprise. Kendati begitu, sejatinya para punggawa PAN mengedepankan marwah partai. Sebab martabat partai adalah parameter brilian supaya kekuatannya tetap terpelihara dan dapat dipertaruhkan kelak dalam berbagai kontes kompetisi apa pun.

Tapi kalau metode licik (khianat), menggunting dalam lipatan, menjegal kawan sendiri, spontan akan timbul suatu kegaduhan cukup kompleks yang secara langsung akan merugikan partai itu sendiri. Sebab sebagian besar dari mereka yang setia akan berpaling menjadi lawan membahayakan pada saat kompetisi digelar.

Semoga ini menjadi pelajaran terbijak bagi partai lainnya.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


Puisi: Akhmad Jasimul Ahyak

Dzikir Telanjang

Telanjang...mata
Terpajang di malam yang pucat
Sepasang gelap menatap buta di keheningan
Tidak ada yang ku baca
Tentang alif pada daun-daun yang bersujud
Hanya tasbih yang berkedip
Mencari di setiap abjad nama-Mu

Telanjang...hati
Kini ruh mabuk terjaga di perjalanan panjang
Dari kaki hingga ke ujung kepala
Mencari terang dari gelap kehidupan
Mencari alif yang bersarang di langit
Yang ku dapat warna merah keemasan di cakrawala
Sedang tertidur menjelma menjadi kafah
Terangkai huruf-huruf tajwid
Menjadi doa...
Pada dzikir-dzikir  telanjang nafasku.


Pasongsongan, 2020

Jumat, 12 Juni 2020

Dialog Interaktif Peduli Petani



Apoy Madura, Sumenep- PMII Kecamatan Pasongsongan melaksanakan suatu kegiatan Halal bi Halal sekaligus Dialog Interaktif tadi pagi. Kamis (12/06/2020). Acara tersebut berlangsung pada pukul 08.00 WIB bertempat di Desa Lebeng Timur Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, sekaligus di buka langsung oleh Ketua MWC NU  Pasongsongan, Yus Salam dan ditutup oleh Ketua PERGUNU Pasongsongan, Akhmad Jasimul Ahyak.

Acara dialog interaktif yang bertema Peduli Petani  dihadiri Bapak Camat Pasongsongan, para tokoh masyarakat, Ketua PMII Sumenep dan seluruh Kepala Desa se-Kecamatan Pasongsongan.

Kemajuan suatu desa parameternya ada pada kaum petani. Tapi saat adanya Covid-19  sektor pertanian menjadi lesu. Otomatis berimplikasi kepada para pedagang hasil pertanian, sebab para petani sudah tidak pro-aktif lagi hingga tidak ada pemasukan penghasilan terhadap dirinya. Nah, dari sini bisa ditarik benang merah, bagaimana mengatasi masalah merosotnya harga hasil pertanian tersebut,”  papar Ketua PMII Pasongsongan kepada kedua narasumber, yakni Hairul Anwar, ST,MT dan Slamet Ariyadi, S. Psi.

Menurut  Ketua Kadin Sumenep, Hairul Anwar, Dalam suatu Desa yang dihuni dari beberapa kelompok masyarakat, seorang petani harus peka terhadap situasi dan kondisi yang terjadi.  Harus pula memiliki dedikasi atau pemikiran luas jauh ke depan.
Ujung tombak keberhasilan para petani adalah air. Sebaliknya kalau kekuranagan sumber mata air maka petani akan hancur. Masyarakat harus mencari sumber mata air besar sehingga bisa dikelola sendiri yang mampu menghasilkan hal positif kepada semua para petani. Banyak jalan menuju Roma,”  tegas Hairul Anwar.

Masyarakat juga harus punya skill dan keterampilan. Bukan hanya seorang seniman yang harus terampil,  petani pun juga begitu. Contoh, bagaimana produk beras yang ada di Desa Lebeng Barat bisa dikelola sendiri dengan cara dikemas kedalam plastik dan diberi lebel atau nama yang sekiranya menarik perhatian orang. Jadi tidak susah-susah dijual ke pedagang atau ke pabrik-pabrik,tambah Bapak Camat Pasongsongan.

Dialog interaktif  semacam ini sejatinya  para pihak terkait , khususunya pemerintah juga  bisa hadir  dan duduk bersama agar  terjalin komunikasi yang baik.

“Sehingga semua keluh kesah para petani bisa diakomodir dengan bijak. Barangkali dengan begitu ada solusi dari setiap persoalan yang  dihadapi petani,” harap Slamet Ariyadi, salah seorang anggota DPR RI. (AJA/Yant Kaiy)


Kamis, 11 Juni 2020

Power PAN, tidak Mapan Lagi

Hairul Anwar, ST,MT


Opini: Yant Kaiy

Saya beberapa hari yang lalu menghadiri jumpa pers di kantor Hairul Anwar di kawasan Jalan Basuki Rahmad bersama para jurnalis dari berbagai media massa, mengklarifikasi tentang turunnya Surat Keputusan DPP PAN No.PAN/A/Kpts/KU-SJ/030/IV/2020 tertanggal 17 April 2020 yang justru hinggap di kubu Achmad Fauzi-Dewi Khalifah.

Hairul Anwar menjelaskan di hadapan para wartawan, bahwa dirinya sudah dua kali “dikhianati” oleh oknum calo politik. Pertama ketika dirinya akan maju ke pesta demokrasi Pemilihan Legislatif (Pileg),  kedua pada Pilkada Sumenep 2020 saat ini. Hairul Anwar menanggapinya dengan sikap bijak dan legowo atas realita yang terjadi. Dia agak terkejut atas keputusan tidak masuk akal tersebut.

Menurut beberapa pengamat politik di eks-kewedanan Ambunten (basis dukungan terkuat Hairul Anwar), sesungguhnya Hairul Anwar memiliki power massa mumpuni dalam mendulang suara terbanyak dalam ajang kompetisi pemilihan apa pun, maka tidak heran kalau ada beberapa pihak (rival dia) yang dengan sengaja akan mengganjal laju Hairul Anwar.

Potensi dan kapabilitas Hairul Anwar sejatinya menjadi pemicu agar PAN bisa memanfaatkan kans terbaik dalam membesarkan dan memperkuat partai. Namun beberapa punggawa dalam tubuh partai berlambang matahari “tergoda” oleh kepentingan instan. Kepentingan pribadi untuk memperkaya diri.

Kini PAN tidak mapan lagi karena beberapa personilnya tercerai-berai. Sebagian besar dari mereka tetap megikuti arah politik Hairul Anwar kemana akan berlabuh.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...