Rabu, 02 November 2022

Amazing, Hanya Ramuan Banyu Urip Sembuhkan Buta Warna

MS Arifin, CEO Therapy Banyu Urip International (kiri) bersama Yant Kaiy dari apoymadura.com. (Foto: Yant Kaiy)

Sumenep – Therapy Banyu Urip merupakan sebuah pengobatan non-medis yang reputasinya tidak diragukan lagi di kancah dunia internasional. Berbagai pengakuan dari banyak orang (personal) dan organisasi atau lembaga swadaya masyarakat dari belahan bumi ini berjamaah menyatakan, bahwa hanya Therapy Banyu Urip satu-satunya penyembuhan buta warna paling dipercaya dan sangat meyakinkan pada hasil akhir pencapaiannya.

Ramuan Banyu Urip terbuat dari kandungan alam murni yang berasal dari bumi nusantara. Ramuan Banyu Urip  mampu menyembuhkan penyakit buta warna sampai ke akar-akarnya, permanen dan tidak ada efek samping dalam proses pengobatan dan penyembuhannya.

Ditelisik dari proses penyembuhan seorang pasien buta warna, Therapy Banyu Urip terbilang satu-satunya pengobatan yang relatif cepat. Kendati penyakit mata yang tidak bisa membedakan objek berwarna tersebut tergolong penyakit buta warna total.

“Sudah sejak lama banyak pernyataan atau opini meyakinkan dari personal para medis yang menegaskan, bahwa penyembuhan buta warna hingga abad ini belum ada. Penyakit buta warna belum bisa disembuhkan dengan obat-obatan apa pun. Kira-kira begitu statement yang seringkali kita dengar dan kita baca pada sebuah tulisan,” terang MS Arifin, CEO Therapy Banyu Urip International di kediamannya, Jalan Kiai Abubakar Sidik Pasongsongan Sumenep. Kamis (3/11/2022).

MS Arifin tidak menyalahkan mereka yang berpendapat demikian. Ada tiga kemungkinan mereka berkata begitu. Pertama mereka tidak tahu, kalau ada Therapy Banyu Urip yang bisa menyembuhkan buta warna. Kedua, ada beberapa pakar pengobatan medis dunia yang meluncurkan opini, bahwa buta warna itu tidak bisa disembuhkan.

Atau para ahli kedokteran mata dunia masih belum menemukan formulasi khusus dalam menciptakan obat penyembuh buta warna meniscaya seperti Ramuan Banyu Urip.

“Kami sering kedatangan tamu dari luar negeri. Rata-rata pertanyaan para bule tersebut berkisar pada penyakit buta warna. Saya jelaskan kepada mereka, tidak ada yang tidak mungkin dalam alam fana ini. Mungkin hari ini belum, tapi atas kuasa-Nya, sesuatu yang ada di luar daya nalar kita, barangkali besok akan benar-benar terjadi,” tegas MS Arifin.

Lelaki pensiunan Polisi Militer ini menambahkan, seperti Ramuan Banyu Urip yang tiba-tiba menggebrak dunia pengobatan internasional. Mata dunia terbelalak dibuatnya. Karena Ramuan Banyu Urip mampu dan bisa menyembuhkan buta warna dalam dunia pengobatan alternatif. Tentu banyak diantara para pakar kedokteran yang tidak sepaham dengan metode pengobatan Therapy Banyu Urip.

“Sah-sah saja mereka tidak sependapat dengan kami. Itu hak mereka. Namun kenyataan ini harus dibuktikan di tempat kami. Yang Pasti saya juga tidak memaksa mereka untuk percaya. Sedangkan di tempat kami, pasien buta warna terus ada. Umumnya mereka menjalani rawat inap di asrama yang telah kami sediakan,” papar MS Arifin lebih jauh.

Dirinya juga mempersilakan kepada siapa saja yang ingin bukti, kalau buta warna bisa disembuhkan lewat pengobatan metode Therapy Banyu Urip.

“Kami punya data para pasien buta warna yang telah sembuh berobat di tempat kami. Diantara mereka sebagian besar telah sukses di dunia karier sesuai cita-citanya,” tegas MS Arifin.

Hebatnya lagi, ramuan ini ternyata bisa menyembuhkan segala macam penyakit tidak hanya pada manusia, bahkan pada makhluk bernyawa lainnya.

“Ketika kemarin ramai Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di bumi nusantara, Ramuan Banyu Urip telah berbicara banyak dalam membantu para petani menyelamatkan hewan-hewan peliharaannya,” ujar MS Arifin dalam wawancara dengan jurnalis apoymadura.com, Yant Kaiy.

Ada tambahan sedikit, MS Arifin lahir dan besar di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Ketika berada di Pasongsongan ia dikunjungi wartawan apoymadura.com.

Sedangkan di Yogyakarta adalah tempat tinggal sekaligus tempat klinik Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. [Kay]

Sumenep, Korupsi dan Islam Sontoloyo

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq

HARI Jadi Sumenep ke-753 tanggal 31 Oktober 2022 menyisakan "sesak nafas".

Penyebabnya: tindakan pengurus takmir Masjid Jamik Sumenep dan remaja masjid yang secara heroik dan sekonyong-konyong membubarkan Road Race Bupati Cup pada Ahad (30/10/2022). 

Peristiwa ini menarik dan viral, paling tidak karena beberapa hal:

_Pertama_, dilakukan oleh pengurus ta'mir masjid Jamik dan remaja mesjid.

_Kedua,_ dilakukan tidak dengan cara Islami, melainkan dengan cara vandal: menuangkan bensin di lokasi _road race_ dan mau dibakar jika tidak berhenti, diikuti pekikan *Allahu Akbar.* 

Landasannya, kitab fiqh: kesombongan di lawan dengan kesombongan. 

Akhirnya, _road race_ dipaksa berhenti, meski legal dan atas izin pemerintah. 

Alasan pemaksa: tidak berhenti menjelang shalat dzuhur. Atau dalam makna lain, tidak menghormati waktu shalat dzuhur.

_Ketiga,_ secara dramatis, pada dimensi berbeda, dengan nada penuh emosi, ta'mir masjid menyatakan, anggaran road race 1,1 M dari APBD, uang rakyat untuk hura-hura. 

Yang harus diberi atensi adalah pernyataan-pernyataan berikutnya, yaitu:

_"...kalau bicara Pemda itu, masjid jami' icon, icon, icon. Saya mau tanya, apakah pernah membantu cat satu gelas ini? Tidak ada. Cuma mesjid jami' dibuat topeng mencari dana..."_

_"...katanya masjid jami masuk cagar budaya. Cagar budaya yang bagaimana. Mana SK nya. Kita tidak pernah mengajukan cagar budaya. Kemana larinya anggaran cagar budaya?.."_

_"...bukan sedikit, saya dapat tembusan dari Jakarta itu. M M-an angaran perawatan masjid Jamik itu. Tapi masjid Jamik satu senpun dak terima. Silahkanlah orang, Pemerintah Daerah korupsi korupsi, tapi masjid Jamik tolong jangan dikorupsi."_

Melihat kenyataan itu, Sumenep nampak surplus dinamika, tapi defisit dialektika.

Peristiwa itu adalah cermin, bahwa Sumenep miskin dialog. Soal anggaran perawatan masjid, harus diorasikan dengan emosional dan dengan aksi sumir karena bercampur dengan urusan shalat. 

Memaksa muslim lainnya menghormati waktu shalat dzuhur dengan menyiram bensin. Wajah agama menjadi seram.

Saya jadi ingat buku _Muslim Tanpa Masjid_ karya Kuntowijoyo. Semestinya, sebelum bertindak, takmir masjid menyadari bahwa tempat lahir penonton atau penikmat _road race_, pedagang, dan pesertanya berasal dari berbagai daerah berbeda, sehingga sikap dan tata cara ber-Islamnya bisa jadi berbeda pula. 

Banyak generasi Islam yang tidak dibesarkan dengan nuansa masjid, bahkan terasing dari umat. Tapi mereka muslim.

Banyak generasi umat muslim yang bahkan belajar Islam secara terbatas, pengetahuan agama tidak diperoleh dari Pesantren, masjid, madrasah, dan sejenisnya. 

Generasi baru muslim banyak juga yang belajar Islam dari internet, YouTube, radio, televisi, dan lain-lain. 

Tugas kita semestinya, berdakwah dengan penuh sikap bijaksana _(bilhikmah)_ dan dengan kalimat-kalimat yang lembut _(mau'idzah hasanah)_, yang dapat dijadikan pedoman dalam menapaki hidup, agar mereka tertarik ke masjid dan selamat dunia-akhirat.

Jangan sampai menilai mereka yang tidak menghormati waktu shalat dzuhur lebih rendah derajat ke-Islamannya, apalagi menganggapnya bukan muslim. 

Menarik minat generasi Muslim Tanpa Masjid agar lebih dekat dengan masjid termasuk tugas pengurus masjid dan tugas kita bersama. Jangan biarkan mereka semakin sengsara karena krisis identitas, menghindari masjid karena wajah pengurus masjid garang. Zaman ini sudah berubah, kita harus lebih bijaksana.

Saya rasa, tanpa harus menyiram bensin dan tanpa ancaman kekerasan akan membakar sudah cukup menegur panitia dan menghentikan sementara kegiatan road race. Ajak mereka ke masjid.  Jangan memaksa dihentikan sepenuhnya, karena tindakan itu merugikan. Perbuatan yang merugikan pihak lain jelas bertentangan dengan ajaran agama. Apalagi kegiatan tersebut legal dan ta'mir masjid bukan pihak berwenang untuk menghentikan. Tidak proporsional. Kurang elok.

Karena itulah, saya nilai Sumenep defisit dialektika dan miskin dialog. 

Padahal, para pendahulu kita telah memberi contoh. Jika berbeda pendapat, sampaikan pendapatnya, tapi jangan dipaksakan. 

Bung Karno, pernah menyempatkan diri mengkritik situasi yang mirip peristiwa ini. Judulnya: *Islam Sontoloyo.*

Soekarno mengkritik seorang "sayid" yang pengetahuannya mati hidup dengan kitab-fiqh, bukan _Kalam Ilahi_ sendiri. Sehingga menurut Bung Karno, Al-Qur'an dan Api Islam seakan-akan mati, tenggelam di alam kitab-fiqh. Tidak terbang seperti burung Garuda di atas udara-udaranya _Levend Geloof_, yakni udara-udaranya Agama Yang Hidup. 

Karena tindakan ta'mir masjid menjadikan kitab fiqh sebagai landasan gerakannya, dan bukan Al-Qur'an yang mengajarkan hikmah dan _mau'idzah hasanah._ Maka, sah-sah saja kita mengajukan pertanyaan: jangan-jangan ini yang dimaksud Bung Karno dengan Islam Sontoloyo.

Pada bagian akhir tulisannya itu Bung Karno akhirnya berpesan:

 _"janganlah kita kira diri kita sudah mukmin tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam sontoloyo!"_

Jangan lupa, tulisan Bung Karno itu secara dialektis dan penuh polemik tahun 1934-1940 ditanggapi secara serius oleh Mohammad Natsir melalui tulisannya, _"Islam dan Akal Merdeka, Kritik atas Pemikiran Soekarno tentang "Islam Sontoloyo" dan Seputar Pembaruan Pemikiran Islam."_

Tak ada kekerasan. Dialektika dan dialog berlangsung secara serius, keras tanpa kekerasan. Dua tokoh itu tetap baik, saling menghormati, meski berbeda  cara pandang. 

Kembali pada peristiwa penghentian paksa road race. Saya justru mencurigai motif yang melatarbelakangi tindakan salah satu pengurus ta'mir dan remaja masjid Jamik Sumenep bukan semata-semata karena panitia road race tidak menghormati waktu shalat dzuhur. Bisa saja langkah itu dilakukan karena ta'mir masjid jamik tidak diajak bicara sebelum kegiatan itu dilaksanakan.

Selain itu, dapat saja karena curiga Pemda korupsi anggaran perawatan masjid jamik sebagai cagar budaya.

Apalagi, Pemerintah Daerah dinilai tidak memberi kontribusi untuk perawatan masjid Jami dan hanya menjadikannya sebagai icon.

Akhirnya, tujuan baik ta'mir dan remaja masjid Jamik Sumenep menuai kontroversi, karena dilakukan dengan cara yang tidak Islami.

Menurut saya, tiga motif di atas seolah-olah memberi sinyal, agar Pemerintah Daerah sensitif dan responsif. Berilah mereka atensi.

_Ro'yuna showab wayahtamilul khoto', wa ro'yu ghairina khoto' wayahtamiluasshowab_(*)

Sabtu, 29 Oktober 2022

Bisakah Buta Warna Disembuhkan? Ini Kata MS Arifin

MS Arifin, CEO Therapy Banyu Urip International dengan hasil produk ramuan herbalnya. (Foto: Yant Kaiy)

Sumenep – Hampir semua dokter spesialis mata di seluruh dunia sepakat atau satu suara menyatakan dengan tegas, bahwa penyakit mata bernama buta warna tidak dapat disembuhkan. Baik itu buta warna parsial, apalagi buta warna total.

Pernyataan dokter spesialis mata di seluruh dunia hingga saat ini tetap tidak bergeser, tidak berubah sama sekali. Seolah-olah pernyataan itu berupa sabda yang tidak boleh ditawar-tawar. Sabda yang sudah jadi prasasti.

“Buta warna parsial adalah suatu kondisi mata seseorang yang tak bisa membedakan corak warna. Sedangkan buta warna total adalah suatu kondisi mata seseorang yang tidak bisa mengenali warna sama sekali, kecuali hitam dan putih. Di klinik pengobatan kami, Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta penyakit buta warna bisa disembuhkan,” tegas MS Arifin di kediamannya, Jalan Kiai Abubakar Sidik Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep.

Hanya Therapy Banyu Urip satu-satunya di dunia yang tidak sependapat dengan hal itu.

Kalimat “buta warna tidak dapat disembuhkan” bagi MS Arifin, hal itu menunjukkan bahwa Tuhan tidak adil. Kalau Tuhan tidak adil, itu sama saja artinya bukan Tuhan. MS Arifin sebagai CEO Therapy Banyu Urip International, Pimpinan Therapy Banyu Urip Dunia, berulangkali dalam setiap wawancara dengan siapa pun menyatakan dengan tegas, bahwa buta warna bisa disembuhkan dengan metode penyembuhan Therapy Banyu Urip.

“Saya muslim. Sebagai seorang muslim, saya percaya kitab suci Al-Quran. Dalam kitab suci agama saya, Allah SWT berfirmah: “Apabila kamu sakit, Dia-lah yang menyembuhkan.” (Al-Quran, surat Asy-Syu’ara’ ayat 80). Masih banyak ayat suci Al-Quran yang menyatakan, bahwa segala macam penyakit ada obatnya. Bahkan dalam hadist Nabi Muhammad SAW juga ada pernyataan, bahwa Allah menurunkan penyakit dengan obatnya,” tegas MS Arifin bersemangat sekali.

MS Arifin mempersilakan siapa saja yang mau bukti untuk datang ke tempat kliniknya, di Jalan Selokan Mataram, Karanganyar RT.10/RW.29 No.197-A Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.

“Anda bertanya langsung ke admin saya. Disana anda akan mengetahui informasi tentang daftar nama pasien buta warna yang sudah kami tangani dengan metode pengobatan Therapy Banyu Urip. Sudah ratusan pasien buta warna yang sembuh permanen dengan cara penyembuhan kami. Bahkan banyak diantara mereka yang lolos masuk pendidikan di TNI/Polri atau bekerja di bidang karier yang mewajibkan karyawannya tidak buta warna,” ucap MS Arifin meniscaya.

Kepulangan MS Arifin ke kampung halamannya, di Pasongsongan-Sumenep karena ada acara santunan anak yatim. Sudah sejak lama ia menyalurkan sebagian hartanya ke yayasan anak yatim tersebut. (Kay) 

Rabu, 26 Oktober 2022

Ajaib, Ramuan Banyu Urip Sembuhkan Bermacam Penyakit

Inilah produk Ramuan Banyu Urip. (Foto: Yant Kaiy)
 

Yogyakarta - Bakti sosial atau pengobatan gratis Therapy Banyu Urip acapkali digelar di beberapa pelosok negeri ini. Masyarakat selalu antusias ketika digelar pengobatan cuma-cuma tersebut. Kamis (27/10/2022). 

Dari bakti sosial ini juga telah mendatangkan pasien baru yang asalnya tidak tertarik menjadi terpikat. Yang asalnya tidak percaya menjadi cinta mati terhadap Ramuan Banyu Urip. 

Berikut ini akan dijabarkan sebagian pasien yang sukses sembuh dari metode pengobatan Ramuan Banyu Uri: 

1. Markas Pria
Sipilis atau penyakit raja singa pernah singgah beberapa bulan yang lalu. Sakitnya sungguh dahsyat seperti diiris-iris rasanya kemaluan ini. Saya mengerang sejadi-jadinya. Nafas seakan mau lepas dari raga. 

Ini pengalaman memalukan yang sejatinya tidak patut saya publikasikan.

Tapi itu bagi saya bukan aib karena saya tidak ke tempat pelacuran. Semua ini saya jadikan sebagai cermin bagi kita untuk selalu memeriksakan kesehatan istri kita. 

Saya tidak melakukan hubungan badan dengan kupu-kupu malam. Saya hanya berhubungan intim dengan istri sendiri. Pada saat itu istri saya sedang dalam kondisi sakit. 

Dalam keadaan sakit yang luar biasa itu, saya segera minum Ramuan Banyu Urip. Lantas istri Mengambilkan kapas yang dibasahi dengan ramuan herbal Banyu Urip.

Kemudian, kapas tersebut saya selimutkan pada zakar termasuk pada testis. 

Hanya dalam tempo lima menit, Ramuan Banyu Urip mampu menyembuhkan sipilis saya. 

Beruntung saya selalu sedia Ramuan Banyu di rumah sehingga penyakit kelamin itu tidak jadi berita konsumsi publik.


2. Dewi Arimbi
Ada tiga bisul di leher tumbuh bersamaan. Kian lama semakin besar. Bahkan muncul lagi dua bisul di kiri leher.

Ada yang berpendapat bahwa bisul tersebut adalah pembengkakan kelenjar getah bening. Ada juga yang mengatakan kalau bisul tersebut adalah pembesaran kelenjar tiroid. Ada pula yang menegaskan bahwa bisul tersebut adalah lipoma atau kista. 

Bahkan ada yang mengatakan, bahwa bisul saya tersebut sangat sulit disembuhkan. Bahkan bisul itu penyakit merupakan penyakit ganas. 

Sebelum didiagnosa medis, saya mulai terpapar ketakutan. 

Segera saya berangkat ke Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta untuk melakukan pengobatan langganan orang tua. Karena saya tahu, pengobatan herbal di tempat ini dapat diandalkan. 

Saya langsung dilayani sangat baik oleh terapis. Agar proses penyembuhan bisul saya lebih cepat, saya mendaftarkan diri untuk rawat inap saja. 

Dalam tiga hari perawatan di Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta bisul saya sembuh. 

Alhamdulillah. Therapy Banyu Urip memang sangat luar bisa.


3. Sofyan Lima
Atas saran dokter yang menangani penyakit saya, bahwa penyakit luka di jempol kaki akibat kecing manis itu harus diamputasi.

Lalu dokter mengalkulasi dana yang harus saya persiapkan. Saya agak kaget karena angkanya sangat besar. 

Tentu, dana amat besar itu bagi kami tidak akan mampu. Sebab saya hanya bekerja sebagai cleaning service di sebuah perkantoran swasta. 

Cari hutang sana-sini tidak dapat. Maka saya pun pilih pengobatan alternatif. Pilihan saya Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. 

Setelah menjalani perawatan 4 hari, luka dijempol menutup dengan sendirinya. 

Saya pulang dengan senang hati lantaran saya dinyatakan sembuh oleh CEO Therapy Banyu Urip International, Bapak MS Arifin


4. Wiwik Safitri
Bakti sosial yang dilakukan Therapy Banyu Urip 2022 beberapa hari yang lalu di Jember telah menyembuhkan ratusan orang dengan keluhan penyakit beraneka macam. Termasuk saya yang menderita penyakit gangguan penglihatan. 

Kini penglihatan mata saya sudah membaik. Saya terus melakukan perawatan mata di Therapy Banyu Urip Cabang Jember. 

Semoga bakti sosial atau pengobatan gratis ada kembali di Jember agar banyak warga masyarakat tertolong dari penderitaan. 

Salam sehat kepada seluruh terapis dan pimpinan Therapy Banyu Urip Dunia, Bapak MS Arifin.


5. Rifa'i Zainal
Di Jember-Jawa Timur, di lingkungan daerah kami, Therapy Banyu Urip mulai dikenal luas oleh masyarakat. Itu berkat bakti sosial Banyu Urip yang pernah dilakukannya. 

Saya pribadi menilai, bakti sosial merupakan sebuah media agar produk milik kita bisa dikenal luas.

Lantas kapan lagi Therapy Banyu Urip bisa hadir di tengah-tengah kami?

Begitulah suara masyarakat dan tanggapannya yang disampaikan lewat sosial media edisi Oktober 2022. [Kay]



Selasa, 25 Oktober 2022

Pengalaman Pasien Therapy Banyu Urip

MS Arifin (nomor tiga dari kiri) bersama para pasien dari Medan. (Foto: Yant Kaiy) 


Yogyakarta - Berikut ini kita akan menyimak beberapa pengalaman pengguna Ramuan Banyu Urip yang diambil dari GMaps Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. Rabu (26/10/2022). 

1. Fatim Semakerrong
Semua pola hidup sehat banyak orang yang sudah tahu. Olah raga pagi, istirahat cukup, tidur tidak terlalu larut malam, jauhi minuman keras; itu sebagian pola hidup sehat yang salah satunya penting diaplikasikan dalam kehidupan ini

Tapi sedikit sekali manusia di zaman ini yang setia dan mau menerapkannya. Padahal mereka tahu betapa mahalnya arti sehat itu sendiri.

Maka jangan salahkan tubuh ini bila kemudian sakit datang menghampiri. Atau menyalahkan orang lain sebagai penyebab dirinya sakit. Naudzubillah.

Saya mencoba bersikap bijak dalam menyiasati penyakit yang menyerang keluarga kami. Selalu saya sedia Ramuan Banyu Urip di rumah. Sedia payung sebelum hujan.

Saya membeli Ramuan Banyu Urip lewat online langsung pada cabang resmi. Ya, maksudnya agar tidak dapat barang palsu.[]


2. Nahrawi Sale
Saya punya pengalaman sakit gigi yang sembuh dengan Ramuan Banyu Urip. Mungkin pengalaman sakit gigi ini agak sepele, tapi tetap saja sakit gigi sangat mengganggu semua aktifitas kita seharian.

Ketika saya masuk kerja sebagai guru honorer SD Negeri di Sumenep, tiba-tiba sakit gigi itu menyerang saya tanpa pamit. Kepala rasanya mau pecah. Ingin rasanya menangis di depan para murid. Tapi itu tak mungkin aku lakukan.

Jam istirahat, saya ke kantor tidak banyak bicara. Selalu saya pegang pipi kanan menahan sakit menusuk ke seluruh wajah.

Tatkala ada seorang guru bertanya, saya hanya bisa memberi isyarat, bahwa saya lagi sakit gigi. Tiba-tiba seorang guru memberi  botol kecil  bertuliskan Ramuan Banyu Urip. Saya disuruh mengusapkannya di pipi kanan, tempat dimana gigi sakit.

Teman kerja itu mengambil kapas yang dibasahi Ramuan Banyu Urip dan diletakkan pada gigi yang sakit.

Tiba-tiba sakit bercampur nyeri itu perlahan hilang sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya sembuh.[]


3. Nur Aminah
Infeksi lambung membuat aku harus hati-hati mengonsumsi makanan. Kalau salah bisa fatal dan bisa masuk rumah sakit.

Atas saran terapis Sugiono dari Komunitas Therapy Banyu Urip Pusat Madura, saya menggunakan Ramuan Banyu Urip sesuai petunjuk dia. Saya melakukan pengobatan secara mandiri di rumah.

Pelan tapi pasti akhirnya saya sembuh  dari penyakit  infeksi lambung. Ramuan Banyu Urip  memang luar biasa dahsyat.[]


4. Yusuf Pakotan
Penyakit gatal-gatal seluruh tubuh sejak menikah tidak pernah hilang. Membuat kulit tubuh menebal dan kering.

Kalau makan ikan laut semalam suntuk gatal-gatal tersebut menyiksa. Sungguh suatu penderitaan teramat menyiksa.

Obat dan suntik dari dokter tidak menurunkan tingkat gatal tersebut. Begitu  juga ramuan rebus tiga kali sehari saya minum, masih lumayan hanya menekan tingkat gatal saja. Tak ada tanda-tanda akan sembuh.

Kalau keluar rumah saya seringkali mengenakan baju lengan panjang. Malu kadang rasanya.

Suatu ketika istri mengajak untuk berobat ke Therapy Banyu Urip, saya sedikit malas karena saya sering berobat ke klinik semacam itu, tapi tidak hasilnya.

Mau tak mau saya pun menuruti ajakannya agar tidak membuatnya kecewa.

Sampai di tempat klinik Therapy Banyu Urip, saya ditangani langsung CEO Therapy Banyu Urip, Bapak MS Arifin.

Awal mula saya disuruh minum ramuan dan gurah dibawah lidah. Setelah itu Ramuan Banyu Urip dibalurkan ke sekujur tubuh. Rasanya segar dan agak perih.

Hanya sepekan pengobatan yang saya lakukan, tapi penyakit gatal saya sembuh.[]


5. Hidayati Lita
Penyakit yang saya derita adalah adalah kanker hidung. Itu gara-gara mencabut tahi lalat yang tumbuh di hidung. Luka itu terus membesar sampai menghabiskan hidung saya.

Darah dan nanah pelan tapi pasti mengucur dari seluruh luka.

Harapan hidup terus menipis. Walau beragam motivasi datang dari orang-orang terdekat, tetap saja gelisah membanjiri segenap ruang nafas di dada.

Beraneka petunjuk pengobatan alternatif terus saya jalani. Akhirnya saya jatuh miskin. Beruntung istri dan anak tetap setia tanpa jijik membersihkan luka setiap hari.

Mau apalagi. Detik-detik kematian terus menghampiri.

Hingga suatu ketika saya diantarkan adik istri (ipar) berobat ke Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta.

Di pengobatan herbal inilah harapan hidup kembali lahir.

Selama 11 hari saya menjalani rawat inap di tempat ini. Saya pun diperbolehkan pulang karena sudah sembuh.

Ajaib. Hidung saya mulai tumbuh, walau tidak sempurna. Karena daging di bekas luka tumbuh dengan sendirinya.

Inilah kelebihan dan kehebatan Ramuan Banyu Urip.[]

Demikian lima ulasan terbaik dari pasien Therapy Banyu Urip. Dari kelima ulasan tersebut bisa ditarik kesimpulan tentang kemanjuran Ramuan Banyu Urip. (Kay) 

Minggu, 23 Oktober 2022

Penyakit Mata, Sembuh oleh Ramuan Banyu Urip

MS Arifin, CEO Therapy Banyu Urip International (kiri) bersama pasien dari Medan. (Foto: Yant Kaiy) 

Yogyakarta - Akibat meningkatnya pemakaian alat-alat elektronik seperti hand-phone dan televisi, hal itu mendorong dampak negatif pada kesehatan mata.  

"Faktor genetika dan kurangnya asupan vitamin A dari buah-buahan menjadi nilai tambah bagi buruknya daya penglihatan mata itu sendiri," jelas MS Arifin di klinik Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. Senin (24/10/2022). 

Maka untuk mendapatkan kesembuhan seperti yang diharapkan, biasanya pasien harus menjalani rawat inap. 

"Sinergi antara ramuan herbal kami dengan pola makan yang benar akan mempercepat tempo penyembuhan," tandas MS Arifin. 

Berikut beberapa pasien penyakit mata menuangkan pengalamannya berobat ke Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. 

1. Dela Puspita
Anak saya menderita penyakit buta warna total. Saya memaklumi itu semua karena anak saya tidak suka makan sayur sejak kecil.

Apalagi setelah masuk sekolah, ia terus menerus  bermain game online lantaran di rumah ada sarana wi-fi. Apalagi setelah duduk di bangku SMA, tiap malam ia seringkali berselancar di dunia maya. 

Wajar kalau akhirnya anak saya divonis punya penyakit buta warna total. Karena template pada buku tes ishihara anak saya hanya bisa baca 5 template dari 150 template.

Puji Tuhan...
Anak saya setelah dibawa ke Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta sembuh total. Ia menjalani rawat inap selama 28 hari di asrama khusus buta warna.

2. Santi Putri
Awalnya saya tidak percaya dengan metode pengobatan non-medis. Saya sempat berdebat dengan teman kerja, bahwa penyakit buta tidak bisa disembuhkan. Saya berdasar pada pendapat dokter spesialis yang mengobati anak saya. 

Tapi teman saya tetap pada pendapatnya, bahwa Ramuan Banyu Urip bisa menyembuhkan buta warna. Terbukti anaknya lolos tes masuk TNI. 

Karena anak saya juga buta warna dan sudah diobati ke dokter spesialis mata tapi tak kunjung lebih baik, apalagi sembuh, akhirnya saya mengikuti rekomendasi teman itu. 

Selama 28 hari anak saya menjalani rawat inap di klinik Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta, akhirnya anak saya sembuh dari buta warna. 

Sujud syukur pun saya lakukan atas kesembuhan tersebut. Lantaran saya tahu, kalau buta warna susah disembuhkan oleh pengobatan manapun. 

Ternyata Therapy Banyu Urip yang bisa mengobati dan menyembuhkan segala macam penyakit, juga sangat ampuh menyembuhkan buta warna. 

Terima kasih Therapy Banyu Urip. Selama ini saya telah dibukakan mata hati, bahwa ramuan nusantara ini telah mengubah persepsi kalau buta warna susah disembuhkan. 

Hanya dengan Ramuan Banyu Urip segala penyakit bisa teratasi dengan baik dan sempurna.

3. Adi Hidayat
Saya akan menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada CEO Therapy Banyu Urip International, Bapak MS Arifin dan para terapis yang tergabung di Komunitas Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta yang telah memberikan pelayanan terbaik bagi anak saya dan rekan-rekannya sesama pasien buta warna.

Anak saya dan puluhan pasien buta warna yang datang dari penjuru negeri ini, menggantungkan impiannya kepada Ramuan Banyu Urip untuk bisa lolos seleksi pendidikan sesuai karier mimpinya untuk menjadi abdi negara.

Memang ada segelintir orang yang belum percaya akan kemanjuran Ramuan Banyu Urip, bahwa ramuan ini sangat rekomended bagi mereka yang mengidap penyakit buta warna.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pertimbangan bagi mereka yang mempunyai penyakit buta warna
Terutama bagi kedua orang tua yang anaknya mempunyai gangguam penglihatan.

Adi Hidayat, 
Sumenep-Jawa Timur

4. Lola Ramlah
Karena tingginya kadar gula akibat kencing manis, ujung-ujungnya menyebabkan penyakit komplikasi.

Saya mulai merawat diri dengan metode pengobatan alternatif. Sungguh, aku tak ingin mati muda. 

Memang di bagian tubuh ini tak ada luka. Tapi mata saya kian hari daya melihatnya kian buruk dan hampir buta. 

Saya dibawa suami untuk berobat ke Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. Hanya setengah bulan saya dirawat disana dan ditunggui suami. 

Kini kencing manis saya normal dan sembuh. Makanya, sekarang saya bisa menuliskan pengalaman saya ini kepada semua pemirsa. Semoga pengalaman ini menjadikan orang yang menderita penyakit sama dengan penyakit saya bisa mengikuti apa yang saya lakukan. Yakni melakulan pengobatan di Therapy Banyu Urip yang cabangnya ada di seluruh kota di Indonesia. 

Terima kasih Therapy Banyu Urip. Salam sukses selalu...

5. Andi Lain
Akibat ada hewan terbang kecil masuk ke mata ketika naik sepeda motor, mata saya bengkak dan gatal serta berair. Obat tetes mata merek apa pun tak mampu menyembuhkannya. Penderitaan ini saya alami selama 4 hari.

Ketika saya menceritakan pada adik saya di Jember, bahwa mata saya lagi sakit karena kemasukan hewan kecil. Lalu ia menginformasikan via telepon, bahwa ada Ramuan Banyu Urip yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit mata.

Tanpa pikir panjang lagi saya langsung membeli di klinik Therapy Banyu Urip Pusat Madura, Jalan Kiai Abubakar Sidik Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep. Tepatnya di depan Bank Jatim. 

Ketika Ramuan Banyu Urip diteteskan pada kedua mata, awalnya agak perih. Butuh waktu 25 menit, mata saya langsung membaik. Dan keesokan harinya sembuh total. 

Demikian lima pengalaman pasien dengan keluhan penyakit mata yang terbaru dari Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. (Kay) 

Sabtu, 22 Oktober 2022

Therapy Banyu Urip dan Kesaksian Pasien

Suasana pengobatan di Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. (Foto: Yant Kaiy) 

Yogyakarta - Akhir-akhir ini pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan herbal sedang digandrungi oleh masyarakat luas di tanah air. Bahkan pengobatan tradisional menjadi pilihan terbijak bagi mereka yang menghendaki kesembuhan tanpa ada efek samping. Ahad (23/10/2022). 

Seperti pengobatan Therapy Banyu Urip yang bahan-bahan ramuannya berasal dari bumi nusantara. 

Berikut pengalaman dari lima pasien yang pernah merasakan keampuhan Ramuan Banyu Urip. 

1. Rinda Lesta
Saya tidak menyangka kalau keponakan saya bisa sembuh dari buta warna. Padahal segala cara telah diupayakan semaksimal mungkin lewat pengobatan medis dan pengobatan alternatif.  Tapi keponakan saya tidak sembuh.

Dua kali ikut tes masuk tentara, tetap saya ia gagal. Cita-citanya kandas di tengah jalan.

Sampai suatu waktu kedua orang tuanya membawa anaknya ke Yogyakarta. Ia menjalani rawat inap. Setelah 24 hari keponakan saya pulang dan langsung ikut tes.

Alhamdulilah, kini keponakan saya sudah masuk pendidikan untuk jadi TNI.

Benar-benar tidak menyangka keponakan saya bisa sembuh.


2. Sadik Lober
Saya sekarang bisa tersenyum melihat istri sehat kembali. Tak percaya tapi nyata. Awalnya istri saya menderita kanker payudara. 

Sebelum dilakukan tindakan operasi pengangkatan? Kakak ipar mengambil tindakan tegas membawa istri  saya ke Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta.

Luka payudara istri saya sekarang sudah sembuh total  berkat Ramuan  Banyu Urip

Sadik Lober,
Sampang-Madura


3. Rasyid Bluto
MS Arifin selain sebagai terapis berkaliber internasional yang sering mengobati orang-orang penting diluar negeri, ternyata sikapnya tidak tetap rendah hati. Kesuksesannya membawa Ramuan Banyu Urip ke pentas dunia membuat dirinya sering dibutuhkan orang-orang penting di Eropa dan Amerika.

Saya tahu semua itu karena saya sempat menginap di asrama Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta, mengantarkan anak saya yang berobat karena penyakit buta warna. 

Pelayanannya terhadap pasien tidak dibeda-bedakan, bahkan jiwa sosialnya sangat tinggi. Terbukti ketika saya hendak pulang, saya disedekahi Ramuan Banyu Urip dan Husada Pamungkas.

Terima kasih Bapak MS Arifin. Saya bersaksi dengan nama Tuhan, Bapak MS Arifin adalah orang baik dan berjiwa sosial.


4. Sutri Lina
Salam hormat,
Therapy Banyu Urip menjadi andalan saya dalam mengobati segala macam penyakit. Kenapa ramuan herbal ini menjadi andalan? Hal itu karena saya punya penyakit berat yang sembuh karena meminum ramuan ini.

Dulu saya mengidap penyakit asam lambung dan kolesterol serta hipertensi. Ketiga penyakit berat itu tidak pernah sembuh meski telah diobati dengan resep dari dokter.

Ketika saya menyelami informasi dari website www.apoymadura.com dan kanal video sosial media lainnya. Saya lalu tertarik ke Therapy Banyu Urip. Singkat cerita, saya langsung berkomunikasi dengan CEO Therapy Banyu Urip International, Bapak MS Arifin.

Lantas saya pesan Ramuan Banyu Urip dan mengikuti arahan beliau.

Sepekan kemudian, penyakit saya sembuh total berkat Therapy Banyu Urip.


5. Zein Tamara
Sembuh dari penyakit adalah dambaan tiap manusia. Saat dimana penyakit saya tidak dapat sembuh lewat berbagai cara pengobatan, hal itu menimbulkan beban pikiran kian tidak menentu. Saya berada di persimpangan, antara keraguan menyesakkan dada. 

Akibat kencing manis tinggi, mata jadi buram. Sungguh amat mengkhawatirkan. 

Lalu saya melakulan pengobatan herbal di Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. 

Alhamdulillah penyakit berat ini sekarang telah sembuh. Hanya sepekan saya di Yogyakarta.

Begitulah pengalaman mereka yang pernah merasakan kemanjuran Ramuan Banyu Urip yang tidak sekadar mengobati, melainkan bisa menyembuhkan penyakit apa pun hingga ke akarnya. (Kay) 

Jumat, 21 Oktober 2022

Hari Santri 2022 di SDN Padangdangan ll Pasongsongan

Kepala SDN Padangdangan ll, Madun, S.Pd.SD ketika memberikan kata sambutan didepan para siswa-siswinya. (Foto: Yant Kaiy) 

Yogyakarta -
Perayaan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2022 serentak digelar di tiap-tiap sekolah di wilayah Kabupaten Sumenep. Tidak ketinggalan SDN Padangdangan ll Kecamatan Pasongsongan Sumenep juga ikut andil merayakannya. Sabtu (22/10/2022).

Kepala SDN Padangdangan ll, Madun,S.Pd.SD dalam kata sambutannya menegaskan, bahwa kali ini Hari Santri Nasional 2022 serentak digelar disetiap sekolah, baik negeri ataupun swasta di Kabupaten Sumenep. 

"Sebagai pelajar kita wajib meneladani akhlakul karimah seperti para santri yang tunduk dan patuh terhadap para gurunya," ucap Madun.

Kali ini para murid SDN Padangdangan ll mengenakan busana muslim serba putih. (Kay) 

Terbukti: Ramuan Banyu Urip Ampuh Sembuhkan Segala Penyakit

MS Arifin, CEO Therapy Banyu Urip International (kiri) bersama Sugiono, terapis dari Therapy Banyu Urip Pusat Madura. (Foto: Yant Kaiy) 

Yogyakarta - Kali ini kita akan membongkar lima ulasan terbaik dari para pengguna Ramuan Banyu Urip yang tersebar dari pelosok negeri ini. Redaksi apoymadura.com akan mengambil ulasan tersebut di GMaps dari Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. Sabtu (22/10/2022). 

1. Dedy Korbuser
Bayang-bayang kematian selalu menghantui lamunanku. Vonis dokter melebur gunung asaku jadi debu. Aku ambruk tanpa bisa bangkit lagi.

Begitulah pengalaman duka yang menyelimuti alam pikiranku.

Secara akal, penyakit kanker darah yang kuidap memang terbilang parah. Aku sudah keluar-masuk rumah sakit. Pengobatan medis masih belum berpihak padaku. Penyakit leukemia tetap bercokol di tubuhku. Hari demi hari kian berkurang berat badanku.

Ketika jalan buntu itu menghadang, aku menggali informasi dari berbagai sosial media. Dalam pencarian pengobatan alternatif, aku mendapat informasi dari mitra kerja di kantor, bahwa saudara ipar temanku sembuh dari leukemia setelah menjalani pengobatan di Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta.

Segera aku berangkat ke Yogyakarta pada Agustus 2022 kemarin, bertemu langsung dengan Bapak MS Arifin. Beliau sebagai CEO Therapy Banyu Urip International, pimpinan Therapy Banyu Urip Dunia.

Dalam perawatan selama 14 hari, aku dinyatakan sudah sembuh dari leukemia.

Dalam pengobatan yang kujalani, sifat Bapak MS Arifin selalu memotivasi untuk tetap semangat menghadapi cobaan dari Tuhan. Setiap hari selama di asrama saya juga mendapatkan menu makanan yang bersifat sebagai penyembuh penyakit.

Yang pasti, Ramuan Banyu Urip menjadi penyembuh dominan pada leukemiaku.

Sekarang aku sudah terbebas dari leukemia. Terima kasih kepada Bapak MS Arifin dan para terapis dari tim Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta yang sangat santun melayani setiap pasien tanpa tebang pilih. Mereka sungguh memanusiakan manusia dalam  metode pengobatannya.

Salam hormat,
Dedy Bangkalan


2. Feni Sukma
Suami saya menderita stroke ringan selama 3 tahun. Hanya dirawat 2 pekan dengan metode pengobatan Ramuan Banyu Urip, stroke suami saya sembuh. Metode pengobatan itu tentunya telah mengikuti instruksi dari CEO Therapy Banyu Urip International, Bapak MS Arifin.

Saya seringkali berkonsultasi dengan beliau via telepon. Arah bicaranya simpel dan mudah untuk dipahami.

Lantaran ada sisa Ramuan Banyu Urip di rumah, saya coba-coba meminumnya. Barangkali batuk menahun saya sembuh. Lalu saya melakukan metode gurah mulut selama 25 menit.

Belum sampai 25 menit, tiba-tiba saya muntah. Ada banyak lendir berwarna kecoklat-coklatan keluar dari mulut dan hidung. Semua jadi terasa ringan. Batuk saya pun sembuh. Sungguh luar biasa.

Ramuan Banyu Urip memang sangat saya rekomendasikan kepada keluarga dan teman-teman saya.


3. Muliha Nurleli
Ketika pertama kali minum Ramuan Banyu Urip rasanya segar. Nafas jadi lega. Selanjutnya saya menjalani tahapan gurah mulut. Kemudian kepala saya dibasahi ramuan herbal tersebut sembari dipijat di area titik tertentu ala kadarnya.

Saya memiliki penyakit migrain dan insomnia. Saban malam saya tersiksa karena kedua penyakit tersebut. Akhirnya saya mengikuti acara bakti sosial yang terselenggara berkat kerjasama denga  sebuah organisasi kemasyarakatan.

Setelah pulang dari bakti sosial, ada perubahan mencolok terhadap kondisi kesehatan saya.Tubuh terasa lebih baik dan lebih nyaman.

Lalu saya kembali lagi untuk membeli Ramuan Banyu Urip, tapi stoknya hanya untuk terapi saja. Kata sang terapis, ramuan tidak dijual ditempat, saya disarankan untuk membeli ke cabang-cabang Therapy Banyu Urip.

Keesokan harinya saya membeli 1 paket Ramuan Banyu Urip. Semua saya lakukan untuk berjaga-jaga.


4. Sanhaji Abdul
Assalamualaikum wr. wb.
Sebelumnya saya menghaturkan ucapan terima kasih kepada Bapak MS Arifin yang telah memberikan bantuan Ramuan Banyu Urip kepada saya pada awal 2022.

Bantuan ramuan tersebut diperuntukkan istri saya yang lagi mengidap penyakit kanker payudara. Semoga Allah SWT membalas segala amal kebaikan Bapak MS Arifin.

Perlu saya sampaikan kepada Bapak MS Arifin, bahwa penyakit kanker istri saya sudah sembuh. Pernyataan sembuh itu datang dari pihak rumah sakit, bahwa istri saya sudah bersih dari penyakit yang hampir merenggut nyawa istri saya.

Kendati begitu istri saya tetap mengonsumsi Ramuan Banyu Urip satu sendok setiap mau tidur. Hal itu dilakukan untuk berjaga-jaga terserang kanker kembali.

Wassalamualaikum wr. wb.


5. Warda Wilda
Salam hormat buat Bapak MS Arifin.
Saya hanya ingin menyampaikan kabar baik, bahwa anak saya lolos dalam rekrutmen pendidikan Tentara Nasional Indonesia (TNI) beberapa bulan yang lalu.

Tak terpikirkan sebelumnya kalau anak saya bakal lolos dalam seleksi pendidikan TNI tersebut. Karena anak saya penyandang buta warna parsial. Alasan saya putus asa lantaran sudah dua kali ikut seleksi tidak lolos.

Rasa putus asa itu didorong oleh penyataan para medis, bahwa buta warna tidak dapat disembuhkan. Ditambah dua kali pula anak saya menjalani terapi buta warna di Pulau Jawa hanya sebatas menghafal buku tes ishihara. Akhirnya setelah menjalani terapi buta warna di Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta, buta warna anak saya benar-benar sembuh permanen.

Saya bersaksi, demi nama Tuhan, bahwa Therapy Banyu Urip bukan sekadar mengobati, melainkan ramuan herbal ini bisa menyembuhkan buta warna. Jaminannya kalau tidak sembuh, pasti uang bakal kembali lagi.

Walau kabar bahagia ini lambat saya sampaikan kepada Bapak MS Arifin karena itu semua kesibukan kami dalam bidang pekerjaan.

Insya Allah, kalau nanti anak saya sudah ditempat-tugaskan, saya punya nazar, saya akan ke Yogyakarta lagi bersama anak saya.

Hormat kami,
Warda Wilda Kalimantan


Demikian beberapa ulasan para pengguna Ramuan Banyu Urip. Rata-rata mereka sukses sembuh dari penyakit yang dideritanya. (Kay) 

Kamis, 20 Oktober 2022

Panggilan Jiwa

 

Cerpen: Yant Kaiy

Kakekku seorang ustadz. Ia mengajarkan cara membaca Al-Quran yang benar pada para santrinya. Beliau juga mendidik mereka jadi insan beriman kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Sedang ayahku seorang kiai. Beliau sudah memiliki pondok pesantren. Sebenarnya, ia melanjutkan warisan kakek. Karena satu kebutuhan dan tuntutan, ayahku mendirikan lembaga pendidikan swasta mulai dari RA, MI, MTs, dan MA. Para peserta didiknya lumayan banyak.

Ketika ada rekrutmen guru SD Negeri, aku ikut tes. Ternyata aku lolos dan ditugaskan di sebuah pulau terpencil. Pulau ini berjarak tempuh sehari perjalanan dari kota kelahiranku.

Rupanya aku masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Aku begitu tersiksa dan menderita. Rasanya ingin terbang saja ke rumah. Tapi apa kata dunia. Nasi sudah jadi bubur.  Penderitaan itu harus dipendam sedalam mungkin. Aku tak mungkin mencucurkan air mata di depan murid-muridku.

Disaat hati gundah-gulana tak keruan, satu solusi terbaik menanggulangi itu semua, aku menyibukkan diri dengan berbagai organisasi dan komunitas seni budaya setempat. Aku ikut perkumpulan seni hadrah, shalawatan, tahlilan, istighasah…

Aku juga berkecimpung dalam kegiatan apa saja di balai desa pulau tersebut. Sedangkan di organisasi kepemudaan, aku turut pula mewarnai. Jadi hari-hariku selepas mengajar terus penuh kegiatan positif.

Disaat aku mulai menyatu hati dengan masyarakat setempat, dan bisa menetralisir tidak kerasan itu, tiba-tiba ada surat keputusan pindah ke daratan. Ya, aku harus tunduk pada keputusan.

Tanpa terasa, ternyata aku sudah tujuh tahun mengajar di pulau tersebut. Dikala ikatan cintaku mulai tumbuh subur, aku mesti hengkang. Duh, Gusti…

Di lingkungan baru walau diantara mereka banyak yang kukenal, tanggung jawab sebagai pendidik masih tetap ada. []

Pasongsongan, 2022

Kilas Balik Guru Penggerak

Cerpen: Yant Kaiy

Mengikuti Program Guru Penggerak merupakan sisi penting bagi karier seorang guru. Pelaksanaan tersebut hampir bersamaan dengan Diklat Calon Kepala Sekolah 2002. Ternyata selama ikut diklat, saya dinyatakan lulus dari Guru Penggerak. Dari sinilah ternatal berjuta tanya mengapuri jiwa, menyesakkan dada.

Menurut para pakar pendidikan, sesunguhnya Guru Penggerak dipersiapkan untuk Kepala Sekolah. Akan tetapi ketika itu saya sudah jadi Kepala Sekolah. Dan saya berpikir kalau pengorbanan waktu, tenaga dan pemikiran adalah perilaku mubazir. Karena apa, saya ikut Program Guru Penggerak disaat diri ini sudah jadi Kepala Sekolah.

Dari rasa penasaran dan galau berkecamuk, akhirnya saya menelisik dan membongkar ketidaknyamanan itu. Ada apa sebenarnya dengan Guru Penggerak. Saya mencoba memahami, mungkinkah ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Mengapa pemerintah menjalankan Program Guru Penggerak?

Solusinya, saya mengambil sikap bijaksana. Saya tidak berhenti mengikuti Program Guru Penggerak, walau saya lulus jadi Kepala Sekolah yang hanya tinggal menghitung hari dalam penempatan tugas.

Selama dalam penantian penempatan saya tetap mengikuti Program Guru Penggerak. Rasa capek dan lelah jadi tantangan tersendiri. Karena seorang Guru Penggerak digembleng dengan disiplin tinggi dalam banyak hal.

Dalam Program Guru Penggerak, ternyata banyak tugas yang wajib diselesaikan sebaik mungkin. Dari sini pula saya mendapatkan banyak ilmu anyar tentang arah pendidikan ke depan agar lebih baik.[]

Pasongsongan, 2022

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...