Jumat, 30 Juli 2021

Tenggelam



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku telah melewati batasan-batasan harga diri sebagai seorang perempuan. Walau dunia pendidikanku lebih tinggi dari orang-orang baru disekitar. Empat belas tahun aku ikut suami bekerja sebagai karyawan di pabrik makanan ringan. Dia orang terpelajar juga. Tapi nasib berbicara lain. Impian tak sesuai kenyataan.

 

Menikmati hidup bersama tiga orang putra banyak tantangan. Butuh kesabaran dalam suasana serba kekurangan uang belanja. Namun kami tak mau menyerah, pasrah pada himpitan cobaan. Kami terus bergerak menggapai apa yang kami bisa. Tak kenal lelah, tak mudah menyerah.

 

Kami terus tenggelam dalam baris-baris doa sepanjang malam sunyi. Sebab syukur tidak hanya lewat ucapan.[]

 

Pasongsongan, 30/7/2021



Rabu, 28 Juli 2021

Mencekam



Pentigraf: Yant Kaiy

Tonah segera menyulut sebatang rokok. Hatinya tiba-tiba ciut ketika mendengar kabar suaminya ditangkap pihak kepolisian. Kasus korupsi anggaran di kantor suaminya bekerja terbongkar. Banyak pegawai lainnya terlibat. Kejahatan berjamaah.

 

Pikirannya menerawang jauh. Tonah mencari celah. Bagaimanapun caranya, ia harus menyelamatkan suaminya. Bukankah selama ini ia menikmati hasil tindak kejahatannya. Hati nurani tidak mungkin bisa dibohongi.

 

Lalu Tonah menghubungi para istri yang suaminya ditangkap lewat handphone. Ada kesepakatan kalau mereka akan membayar pengacara mahal.[]

 

Pasongsongan, 29/7/2021



Vaksin Covid-19 dan Kepercayaan Masyarakat



Catatan: Yant Kaiy

Membangun kepercayaan penduduk di tanah air terhadap vaksin Covid-19 sungguh sulit. Tidak sedikit warga masyarakat saat ini yang menolak injeksi vaksin. Sedangkan kampanye gencar pemerintah terus digalakkan, bahwa vaksin itu aman. Vaksin membangun imun tubuh agar terhindar dari serangan virus corona.

 

Tapi ada pula beberapa pakar vaksin dan dokter yang menentang propaganda pemerintah. Mereka mengetengahkan argumen ilmiah tentang vaksin dan tetek bengeknya. Pro-kontra pun meluncur mulus diberbagai mass media, baik cetak dan elektronik. Apalagi di genggaman tangan publik ada handphone android, mereka leluasa tanpa batas bisa menyerap informasi.

 

Masyarakat luas saat sekarang bisa menilai mana yang benar dan salah, mana hoax dan fitnah. Bukankah hati nurani takkan bisa dibohongi. Tak mungkin rasa manis dibilang pahit, kecuali orang itu sedang sakit.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Selasa, 27 Juli 2021

Petani Tembakau di Ujung Harapan



Catatan: Yant Kaiy

Sebagian kecil petani tembakau di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep mulai panen. Mau tidak mau daun tembakau itu harus dipetik karena sudah menguning. Lagi pula daun bagian bawah tanaman tembakau telah mengering.

 

Hingga saat ini (Rabu, 28/7/2021) masih belum ada tanda-tanda gudang pabrikan rokok di Madura akan membuka pembelian. Kendati begitu, petani tembakau tetap optimis kalau hasil panennya akan ada yang membeli. Pijakan simple pemikiran mereka karena masih banyak orang merokok. Walau nanti mungkin harga tembakau rajang tidak seindah impian para petani.

 

Kita tahu bersama, bahwa gudang kecil perusahaan rokok lokal di Madura mulai banyak bermunculan. Serapan tembakau rajang otomatis lumayan besar. Hasil produksi dari home industri ini menyasar kebutuhan konsumen kelas menengah.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Syekh Ali Akbar: Penyebar Islam Pertama di Pantura Madura

Makam Syekh Ali Akbar (kiri) dan istri. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Syekh Ali Akbar Syamsul Arifn erat kaitannya dengan Desa Pasongsongan. Nama Pasongsongan berasal dari kata “songsong” yang berarti “sambut”. Penyambutan setiap Raja Sumenep yang datang ke daerah Syekh Ali Akbar inilah nama Pasongsongan mengemuka. Beliau dikenal sebagai sosok penyebar agama Islam di wilayah pantai utara (pantura) Pulau Garam Madura. Islam berkembang pesat berkat dakwahnya.

 

Syekh Ali Akbar wafat 14 Jumadil Akhir 1000 dan dikebumikan di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Setiap hari banyak peziarah datang dari berbagai daerah di luar kota.

 

Syekh Ali Akbar mendapat hadiah dari Bindara Saod (Raja Sumenep) berupa tanah luas di Pasongsongan. Beliau banyak membantu Kerajaan Sumenep dalam banyak hal. Salah satunya ketika putri beliau bersama pasukan Kerajaan Sumenep menang perang melawan penjajah Belanda di Aceh.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Minggu, 25 Juli 2021

Tak Sanggup



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku tak bisa lagi berpikir normal ketika tumpukan persoalan hidup meledak di otakku. Tak bisa lagi mengimla apalagi menemukan solusi. Jalan pikiran menjadi buntu. Segala keinginan sederhana hancur berkeping-keping.

 

Kalau sudah begitu, aku tidur untuk menemukan angin segar ketenangan. Beruntung aku dikarunia bisa nyenyak tidur meski himpitan hidup menyesakkan rongga dada.

 

Istri dan uang tak ubahnya musuh dalam selimut. Tak jarang merongrong keimananku. Menerjang harga diri. Haruskah kutinggalkan mereka diantara pengertian saling memberi dan menerima tak menemukan noktah bahagia. Seperti banyak impian insan di alam fana ini.[]

 

Pasongsongan, 26/7/2021



Virus Corona



Pentigraf: Yant Kaiy

Kepergiannya telah memasung sisa hidupku. Ia terpapar virus corona kata tim dokter dari pihak rumah sakit suamiku dirawat. Kami ikhlas diantara beban berat karena ada tiga anak yang harus kubesarkan. Bertambah besar tanggung jawabku karena harus melunasi cicilan di bank.

 

Tidak ada kerja. Kami tenggelam dalam telaga derita tak berpantai. Makan seadanya. Tak menerima bantuan, terlepas dari bidikan kebijakan pemerintah. Maka kujual apa saja yang bisa dijual selain keimanan di dada.

 

Bertahan pada titian kemiskinan. Kucurahkan segala kata di kalbu kepada-Nya. Karena sebagian besar manusia sulit dipercaya.[]

 

Pasongsongan, 26/7/2021



Tak Lagi di Menara Sukses



Pentigraf: Yant Kaiy

Kekhawatiran yang dulu pernah terlintas kini menjadi kenyataan. Karier sukses sekian lama terengkuh sirna ditelan persaingan. Satu demi satu kekayaanku terjual hingga tak tersisa. Bersama istri aku terus mencoba bangkit dari lembah kebangkrutan.

 

Proses panjang itu membuahkan hasil. Tapi bukan dari tanganku, melainkan dari karya istriku. Hidupku pun terdikte. Pijakan haluanku terombang-ambing. Hilang hormat istriku. Aku kalah dalam banyak hal. Keputusan rumah tangga kami ada di tangannya.

 

Puncaknya dia meninggalkan aku karena pertengkaran. Aku mempertahankan wibawa sebagai seorang suami.[]

 Pasongsongan, 26/7/2021



BPNT Desa Pasongsongan Hampir Tuntas

Hanira, pemilik Agen Salera Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Salera merupakan salah satu agen BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) dari dua agen yang ada di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Hanira pemilik Agen Salera mengakui kalau pencairan kali ini agak tersendat. Hal itu dikarenakan kurang lancarnya pengiriman dari supplier.

 

“Ini bukan faktor kelalaian dari kami sebagai pemilik Agen Salera. Kita maklum karena adanya penerapan PPKM (Pemberlakuan Pembatasab Kegiatan Masyarakat) disemua sektor sehingga pasokan kurang lancar,” terang Hanira seraya melayani penerima bantuan. Ahad (25/7/2021).

 

Wanita dua orang anak ini menambahkan, bahwa pencairan BPNT di Desa Pasongsongan secara keseluruhan sudah hampir tuntas. Jalinan komunikasi dengan penerima manfaat BPNT senantiasa ia lakukan, yakni dengan membuka layanan pengaduan dan informasi konsumen. (Yant Kaiy)



Tatapan Menghanyutkan



Pentigraf: Yant Kaiy

Beragam cerita kenakalannya telah menghias acara kumpul bersama disalah satu warung kopi di desaku. Rasa ingin tahu kebenaran itu menggelitik kalbu. Walau tak ada guna bagiku karena dia telah mempunyai dua anak dengan kehidupan lumayan mapan.

 

Pada suatu kesempatan kami dipertemukan pada sebuah kegiatan bakti sosial. Aku menghormati dia karena posisi distruktur organisasi lebih tinggi. Kewenangan ada padanya. Apa perintahnya harus kuselesaikan.

 

Benar saja, ketika kami berjabat tangan, jemari telunjuknya digerakkan ditelapak tanganku. Aku kaget. Tapi aku segera mengendalikan diri karena banyak orang. Ia menatapku dengan seutas senyum penuh makna.[]

 

Pasongsongan, 25/7/2021



Istriku di Pelukan Pria Lain



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku tak sanggup membendung luapan lahar kecewa dari sekian lama derita merenggut bahagia. Barangkali air mata tidak bisa lagi mewakilkan segenap lara menghujam jiwa. Terpatri kuat. Lantaran mereka tak percaya kalau diriku baik-baik saja; tak pernah berubah sikapku menghadapi situasi pelik ini.

 

Harga diriku ternoda. Aib itu melumat habis menara rumah tangga kami. Bukan tak sanggup aku mengangkat senjata tajam untuk menghabisinya. Tapi istriku punya jalan lain menempuh bahagia. Kedua anakku ikut mereka. Meninggalkan rumah kecil hasil jerih-payahku sebagai kuli angkut di pasar.

 

Jujur, aku tak mau jadi pembunuh. Biarlah mereka bahagia. Tuhan Maha Tahu yang benar dan gelap. Semua perilaku hamba-Nya bakal mendapat ganjaran setimpal. Mau apa lagi…[]

 

Pasongsongan, 25/7/2021



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...