Sabtu, 10 Juli 2021

Antologi Puisi Fragmen Nasib (36)



Karya: Yant Kaiy

Merokok dalam Sunyi

halimun acapkali mengembarakan ilusi

mengurung asa di bilik bambu sempit

membawa gairah hidup lebih jauh

terkulai, tumpah emosi meniti wajah malam

kesunyian mendera tanpa iba pada gelap

kusulut sebatang rokok di pengembaraan jiwa

 

berkobarlah inspirasi menentang dingin suasana

kutak berkutik diantara gersang puisi

terbakar bulu-bulu jati diri di lumpur tak bertepi

memandang sekitar menelanjangi susut amarah

bintang pun berkidung menyusuri tebing jiwa

menara kebebasanku gemakan nuraní cucurkan luka

begitu lamban jalan menuju puncak sukses

 

kubuang jauh segala nista

kendati meronta diantara tangis

melebar malam dalam genggaman mimpi

asap nikotin terus menembus resah

kuberanjak memahat lorong gulita

mengaburkan tatapan semua mata insan

tak peduli hati atas derita mendera

tiap detak jantung mengalir air mata tak darah

polusi diri mencengkeram benak

tak terelakkan oleh riang suara alam

 

sekali-kali terbang ilusiku menikam raga terpatri

berdesing penggalianku tinggalkan kemunafikan

peluru dirí tak mampu menangkis sengketa

terpapar makhluk bernyawa bergelimpangan

bergetar keinsyafan atas kotak-kotak kesombongan

berderai peluh basahi bumiku kian gersang saja

 

adalah bola mata menatap letih

menelanjangi luruh embun

kujatuhkan raga berjejalkan angan

tak menentu langkah diri di ujung penantian

berjatuhan; menggumpal kemerdekaan menyusuri kegagalan

bergelora iba pedulikan mereka jadi korban kebiadaban

mengunyah sepiring puisi di meja makan tanpa garam

 

berdiri bulu-bulu jiwa menampar bebatuan

kusarungkan niat semula  kendati kecewa

merobek kulit tanah tak bersahabat

hingga ternatal harapan baru

tentang hari esok lebih gemilang.

Sumenep, 20/08/1988



Jumat, 09 Juli 2021

Antologi Puisi Fragmen Nasib (35)



Karya: Yant Kaiy

Elegi Perjuangan

ikhtiar selamanya harus ada di muka bumi fana ini

berlomba menggunduli keserakahan membacok hati

deraslah impian menelanjangi segalanya

dendangkan kemarahan meletup sekuat otot

meletus kebencian melanda hidup tak sejahtera

penderitaan mendera tanpa sisa lagi

 

satu demi satu menghembuskan napasnya

kematian akibat kecongkakan kekuasaan

suasana mengenaskan dari kaum pinggiran

sketsa hidup nyata di pelosok kampung

 

seolah percuma memohon

doa linangkan air mata jatuh berceceran

disepanjang jalan tak beraspal, berdebu…

keinsyafannya jauh terbang tanpa nakhoda

di riak matanya hanya ada makan-minum

dan seterusnya harus kenyang

 

mulutnya seperti harimau

sikapnya malu-malu kucing

berteriak-teriak di persimpangan jalan

bahwa dirinyalah paling bijaksana

diantara seluruh pemimpin alam semesta

kemudian meletakkan poster-poster besar

tentang kemurahan hatinya

seakan-akan melampaui malaikat

 

dibalik itu semua bohong belaka

maklumlah anak tukang jamu

jadi pintar berbicara di mimbar

selebihnya adalah kebusukan siasat

otaknya menindas kaum jelata

 

perjuangan menetes dari lembah-lembah sengsara

bergerak hati nurani diantara hidup atau mati

ketakutan begitu membelenggu angan amat kuat

barangkali takkan pernah bisa lepas bebas

dari kuku-kuku kebiadaban perkasa

lantaran topan siap menantang jalan dan gerakku

 

memang hati percaya sepenuh telaga

bahwa Tuhan pencipta alam semesta

yakin diri, ternyata ada yang lebih kuasa

atas segala kebebasan kami berbuat kebajikan.

Sumenep, 20/08/1988



Antologi Puisi Fragmen Nasib (34)



Karya: Yant Kaiy

Setetes Kebencian di Gunung Keresahan

hati mulai tak peduli

ikhtiarku bukan lagi bermakna perjuangan

pengorbanan begitu panjang tertulis

bergunung prasangka diakhir cerita

deras, membanjiri ladangku

kutakkuasa bertahan di muara adab

menentang beragam keserakahan

menyiksa raga tanpa iba

 

keresahan pekat warnanya

kuterdepak menyesali ulah angkara murka

yang melekat di batok kepala batunya

hanyalah penyesalan menggantung di dada

punah kesabaran mengeram tererosi benci

 

semua emosi tercurah

terbelenggu petir kekuasaan

kubasuh peluh dengan sapu tangan

berkolam-kolam air mata

senantiasa berkobar api kebencian

terjungkal tubuh tak berdosa

di lembah lumpur duka tak berpantai

 

adalah kenistaan menyiksa sesama

walau Tuhan pasti mendengar

segala keresahan umat manusia

hanya keimanan melumuri hati

orang-orang mulia

 

aku percaya Tuhan melihat

semua tindak-tanduk insan di bumi

biarlah kuserahkan semuanya.

Sumenep, 19/09/1988



Antologi Puisi Fragmen Nasib (33)



Karya: Yant Kaiy

Naluri Seorang Seniman

tak jera meski beribu hinaan mengancam raga berpeluh

perjuangan mati-matian membelah mega berarak

ternatal suatu harapan dan impian menangkis fitnah

dan cemooh menyimbolkan kehinaan

mengalirkan sampah busuk di tiap sudut hati

 

kotor kata-katanya melemparkan aku ke jurang nista

sebuah dunia begitu asing di tanah kelahiran

tinggallah kesendirian bertemankan kesunyian menggulita

kutegarkan sejuta goncangan menanti kepastian

naluriku sahih menyusun beraneka tamparan yang hadir

terpotret oleh bola mata segumpal rahasia bebatuan

terjebak kebencian, kulukis lewat beraneka himpitan

melantunkan nyanyian diri tentang penyiksaan

bergema naluri ke pelosok hutan menghijau

gugur jua dedaunan itu, terkulai tanpa makna sekerat pun

hanyalah nasib menggantung yang kian labil saja

menggelinding kemiskinanku menguasai jilatan mata api

hancur-leburlah kebulatan asa dari sekian angan-angan

 

tak tentu rimba halusinasi melayang dibalik kayangan

berdebur ombak di dada merenungi asa

terkatung-katung tiada tongkat jadi pegangan

kurentangkan tanganku menghalau hari-hari melelahkan

disisi pancaroba diri, timbul telaga harapan biru

apakah semua ini hanya fatamorgana…

akankah nanti setegar batu karang di pantai

atau hanya lamunanku semata?

 

kulukiskan kegersangan inspirasi yang tersaji

kusulamkan ekspresi diatas melebarnya luka

mengutuki kebodohan diri saban hari seolah tiada arti

hanya membuang keringat yang telah membanjir

menegang, membuncah, berkobar tertiup angin

benang-benang kesombongan di kulkas

terus membeku tak berdebu

mengapuri luapan emosi karena terasing

 

kisah diri teronggok di halaman rumah

semua jadi belenggu kebebasan kreativitasku

sebagai seorang seniman miskin

berdosakah diri mengoreksi mereka.

Sumenep, 19/08/1988



Realita Covid-19



Catatan: Yant Kaiy

Vaksin Covid-19 menjadi momok sebagian besar masyarakat di pedesaan. Selentingan kisah sedih tanpa data mencuat seiring realita di tingkat akar rumput. Tidak heran kalau akhirnya beberapa individu mencari penangkalnya supaya vaksin tidak bereaksi. Sebut saja air kelapa dan susu kaleng yang laris manis di pasaran.

 

Dari banyak cerita pilu itu terpublikasi via sosial media, sebagian terdapat fragmen janggal; bertolak belakang dengan data dan fakta. Rakyat pun hanya bisa bersuara di dunia maya. Aspirasi mereka bagai berada di ruang hampa.

 

Dari kalangan medis dan lembaga pemerintah selama ini tetap bergeming melihat realita tersebut. Mereka tetap melaksanakan tugas sesuai aturan yang berlaku. Tak ada nilai tawar lagi.

 

Bagi pemerintah, Protokol Kesehatan (Prokes) yang dilanjutkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) menjadi solusi efektif menanggulangi kian melonjaknya angka kematian akibat Covid-19.

 

Pro-kontra pun ternatal di tengah perekonomian warga terus memburuk akhir-akhir ini. Regulasi pemerintah menyikat habis bagi mereka yang tidak taat Prokes dan PPKM.

 

Pertanyaannya sekarang: Lalu apa garansi pemerintah bagi rakyatnya yang kelaparan karena tidak punya penghasilan lantaran lapangan kerja mereka ditutup? Bukankah undang-undang telah mengamanatkan, bahwa pemerintah fardu ain melindungi rakyatnya. []

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com





Kamis, 08 Juli 2021

Antologi Puisi Fragmen Nasib (32)



Karya: Yant Kaiy

Menyapu Pagi

pagi berkabut adalah aku

menyapu halaman penuh keasrian

sinarkan kepastian dari kebimbangan

rindang menyejukkan jiwa terluka

 

pagi berkabut adalah aku

yang menetaskan gairah hidup

menuntun halusinasi berkaribkan suara-suara alam

kurenggangkan kebencian menyala tiada henti

sebait kidung tentang elegi hati

merawat gamang langkah tuju sukses

tersusun dalam pikiran seonggok masalah

mengombang-ambing jiwa merana karena cinta

sepenuhnya berserah diri setelah ikhtiar

kulawan segala bentuk keserakahan mereka

mungkin tidurku yang bertemankan mimpi itu?

 

terhalang jaring-jaring penghasut

menjerumuskan diri ke lembah nista

mengundang aubade sengketa dan petaka dunia

memang pagi tak berhenti mengalirkan keceriaan

kadang memuai harapan untuk berubah

kutenangkan jalan darah membasahi rumput halaman

terciptalah nuansa harapan jelang masa depan

membasuh peluh-peluh bumiku nan merekah

bersemilah dedaunan hati

nurani berbinar tanpa serakah.

          Sumenep, 18/08/1988



Antologi Puisi Fragmen Nasib (31)



Karya: Yant Kaiy

Diam Bukan Berarti Kalah

merenung bagian kebebasanku menyelesaikan problema

adalah kebodohan merendahkan martabat seseorang

kutentang beragam kesombongan menampar wajah

lumuri debu-debu kepedihan pada kediamanku

seribu kegulauan menyiksa alam pikiran

kususun lukisan diri menanti arti kekalahan

yang menghilang dalam genggaman minggu lalu

 

ganjalan hidup selalu menyertai langkah kaki

sandiwara di alam fana berselimut kemunafikan

kugali wajah senja merona bermega riang terpatri

menyembul dari gunung ilusi terdiam merajut mimpi

merajuk diantara genting kebebasan diri

sekali lagi kutumpahkan bait-bait penyesalan

terus mengalirkan halusinasi, lepaslah diamku saat itu

mengundang kesunyian menusuk angan mengembara

tak tentu rimba kudapat menemukan pula kehangatan

tempat saunaku menelanjangi kegamangan

menggempur jiwa tanpa ampun

 

kuimla jejak terlewati atas langkah kepastian

terkandung kesejukan menyirami peluh alirkan darah

kadang kedamaian menenteng keraguan

merenda keletihan menguliti semangat pagi

akhirnya kupasrahkan jua pada takdir

menanti hujan semalam turun kembali

biar kekalahan tak jadi bahan omongan orang

 

kutulis satu pengalaman diatas pembaringan lamunan

duri sebuah kegagalan lecut bunga gairah

tanpa basa-basi diatas tanah tandus

sebagai bakti untuk bumi tempatku dibesarkan.

        Sumenep, 17/08/1988 



Hari-hari Kematian di Pasongsongan



Catatan: Yant Kaiy

Awal Juni 2021 saat ini, di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep setiap hari selalu ada orang meninggal dunia. Pengeras suara dibeberapa masjid acapkali menyiarkan pengumuman kematian. Diawali kalimat “innalillahi wainnailaihi rojiun” yang diteruskan penyebutan nama dan tempat tinggalnya.

 

Masyarakat pun terus berdamai menghadiri acara pemakaman dan tahlil di rumah duka. Tradisi Islami tersebut begitu terawat baik. Mereka meluangkan waktu sebagai tanda penghormatan terakhir bagi si mayat.

 

Beberapa tokoh berpengaruh setempat menilai, bahwa hari-hari kematian di wilayah Pasongsongan dilatarbelakangi oleh perubahan ekstrem suhu udara. Memang di daerah penghasil ‘petis pancitan’ ini dan sekitarnya seringkali turun hujan. Jika siang kadang panas menyengat dan pada malam hari suasana amat dingin. Otomatis kondisi tubuh seseorang yang tidak prima mudah terserang penyakit.

 

Plus mental masyarakat belakangan ini rawan down, ketar-ketir akan serangan Covid-19. Sudah barang tentu persoalan ini menambah kian memperburuk kondisi kesehatan seseorang.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Antologi Puisi Fragmen Nasib (30)



Karya: Yant Kaiy

Lautan Puisi

tiap detak jantung mengalir puisi

menumpuk diantara kian tersiksanya raga

keberadaan diri serba pas-pasan berbunga duka

sekerat derita bermandikan air mata darah

 

sampanku diombang-ambingkan puisi

menghalau tenggelam kosa kata

sepotong rembulan menghias langit

mengkristal di lautan angan

layar pun mengumpulkan angin

dingin mendorong bahtera

riak mimpi memainkan bendera di atas tiang

ikan-ikanku adalah lukisan nelayan ulung

entah akan menepi dimana diri ini nanti

atau esok masih belum pasti?

 

aku terus terbuai angin melelapkan impian

berbantalkan keteguhan, ketabahan, kesabaran

dan entah apa lagi

bintang bertaburan merupakan kisah seniman

tertelan mega-mega penghabus panorama

ketidakmengertianku lahir dari hakikat ikhtiar

berteriak tanpa suara, jauh dari kebisingan

 

disinikah aku akan menyelesaikan,

bidang penderitaan selamanya?

hidup terasing, terlupa, tersiksa

dari beragam fitnah mendera

untuk apa lagi menyesalkan pengembaraan

justru mesti diterima dengan lapang dada

 

semuanya telah terjadi pada diri sendiri

orang-orang mengatakan begitu

karunia Tuhan tak terelakkan

simbol manusia sukses di alam fana.

        Sumenep, 17/08/1988 



Antologi Puisi Fragmen Nasib (29)



Karya: Yant Kaiy

Senja Teduh

keperkasaan senja ditunjukkannya padaku

di ufuk barat menjingga nasibku seorang diri

menggantung tanpa selera, resahlah…

berbaring tanpa kemampuan menantang kodrat

membuiku serentang kebebasan bernyanyi riang

 

keramahan senja serta kelembutannya

mengingatkanku pada masa kanak-kanak

yang dipikirkan makan setelah bermain

tak pernah terbayangkan masa depan gemilang

lepas bebas melayang dengan satu arah

 

mengembara sesuka raga diantara tawa

sampai senja merebahkan tubuhku

bergelimangkan keletihan menggempur segala penjuru

nostalgia masa lalu menggeliat di perjalananku

merenda mimpi jadi kaya, damba tiap insan

apa memang begitu semua hidup manusia kini?

 

kududukkan segala perkara

merawat keping senja di bumiku

kepasrahan menggalau seketika itu

mencambuki amarah lepas dari kandangnya

langkah tertatih kuteruskan juga

acapkali membeku kepastianku

 

ada bias-bias kebanggaan ternatal

merdeka bersinar terang

dari kejauhan tampak sepotong senyum

sapa terdengar memanggilku

tidak, aku tak mau menoleh lagi.

Sumenep, 13/08/1988



Tanggapan Wakil Rektor INSTIKA Atas Keterlambatan Ijazah

Dr. Damanhuri, M.Ag, Wakil Rektor (WR) 1 INSTIKA. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Salah satu Perguruan Tinggi Swasta terkemuka di Kota Keris Sumenep, yaitu INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah) Guluk-Guluk Sumenep, untuk tahun ini penerbitan ijazah bagi para mahasiswanya mengalami keterlambatan. Hal ini erat kaitannya dengan situasi pandemi Covid-19.

 

“Biasanya ijazah keluar beberapa bulan setelah mahasiswa diwisuda. Tapi tahun ini sedikit ada keterlambatan. Kita tahu bersama, sekarang dalam situasi pandemi Covid-19. Kami telah berusaha semaksimal mungkin supaya para mahasiswa bisa segera mendapatkan ijazah,” terang Wakil Rektor (WR) 1 INSTIKA, Dr. Damanhuri, M.Ag. Kamis (8/7/2021).

 

Selain dari Rektor dan Dekan INSTIKA, proses pengesahan ijazah itu ditandangani juga oleh Koordinator Kopertais Wilayah IV Surabaya. Ini penting untuk diketahui oleh semua pihak.

 

“Kami kemarin secara khusus bertatap muka secara langsung dengan salah seorang mahasiswi bernama Sundari dari Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Ia pernah menulis Surat Terbuka untuk Rektor INSTIKA tentang keterlambatan penerbitan ijazahnya. Kami jelaskan sedetail mungkin agar tidak salah menilai tentang INSTIKA,” terang Damanhuri.

 

Ia menambahkan, kalau proses penerbitan ijazah tidak serta-merta selesai begitu saja. Dirinya tetap mengikuti alur prosedur yang berlaku. Kehati-hatian ini penting dikedepankan agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

 

Oleh media ini Sundari dihubungi secara terpisah, dirinya membenarkan kalau sudah mendapatkan penjelasan tentang alur pengeluaran ijazah.

 

“Alhamdulillah, ijazah S-1 saya sudah ada di tangan. Saya mengucapkan permintaan maaf kepada seluruh jajaran personalia (terspesial untuk Rektor) INSTIKA atas penayangan Surat Terbuka di www.apoymadura.com. Permintaan maaf ini dari dasar hati paling dalam,” ucap Sundari didampingi suaminya.

 

Ia berjanji akan tetap merekomendasikan siapa saja untuk melanjutkan pendidikan S-1 dan S-2 di INSTIKA yang beralamat di Jalan Bukit Lancaran Kecamatan Guluk-Guluk Sumenep Madura.

 

“Jujur saja, saya sungguh gembira sudah bisa menjadi bagian dari INSTIKA. Kenapa saya memilih INSTIKA, karena Perguruan Tinggi Swasta ini sangat terjangkau dari sisi keuangan. Walaupun begitu, lulusan INSTIKA sangat berkualitas. Terbukti alumni INSTIKA banyak menjadi tokoh penting di pelosok negeri ini,” tandas Sundari sambil tersenyum. (Yant Kaiy)



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...