Postingan

Keren! Siswa Kelas 2 SDN Padangdangan 2 Sudah Jago Tadarus Al-Quran

Gambar
Tadarus Al-Quran kelas 2 SDN Padangdangan 2 Pasongsongan. [Foto: Kay] SUMENEP – Mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan positif, SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, menggelar program Pondok Ramadhan.  Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat karakter religius siswa melalui pendalaman ilmu agama dan interaksi langsung dengan kitab suci Al-Quran. Kamis (12/3/2026) Salah satu agenda utama dalam program ini adalah kegiatan tadarus Al-Quran secara berjamaah. Seluruh siswa dari berbagai tingkatan kelas tampak antusias mengikuti lantunan ayat-ayat suci yang menggema di lingkungan sekolah. Apresiasi untuk Kemampuan Siswa Zainal Arifin, Guru Kelas II SDN Padangdangan 2, menjelaskan bahwa fokus utama tahun ini adalah membiasakan siswa untuk akrab dengan Al-Quran sejak dini. "Di program Pondok Ramadhan ini, seluruh siswa melaksanakan kegiatan tadarus Al-Quran sebagai bentuk penghambaan dan pembelajaran literasi religi," terang Zainal saat ditemui di sela-sela keg...

Menyedihkan! Rahasia Sukses Pemerintah Indonesia Bikin Guru Honorer "Kenyang" Pahala

Gambar
Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk pemerintah kita.  Bangga, sedih, prihatin campur aduk terhadap kenyataan guru yang harus menelan kegetiran. Di saat negara-negara membosankan seperti Jepang sangat terobsesi pada kesejahteraan guru, Indonesia justru sedang melakukan eksperimen sosial paling berani di abad ini.  Eksperimen itu melihat seberapa lama seorang manusia bisa bertahan hidup hanya dengan asupan "pengabdian" dan "pahala". Belajar dari Kesalahan Kaisar Hirohito Ingat cerita legendaris saat Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak di tahun 1945? Kaisar Hirohito, dalam "kebingungannya", justru bertanya: "Berapa jumlah guru yang tersisa?"  Betapa naifnya beliau. Bukannya menghitung sisa hulu ledak atau jumlah jenderal yang masih gagah, beliau malah sibuk memikirkan tukang kapur. Hasilnya? Jepang memang jadi negara maju, tapi mereka kehilangan seni "senam jantung" setiap tanggal muda karena saldo ATM yang tidak pernah bertam...

Drama SPPG Berhenti: Gizi Gratis atau Sekadar "Petak Umpet" BGN?

Gambar
Mari kita beri tepuk tangan berdiri untuk Badan Gizi Nasional (BGN).  Sungguh sebuah langkah visioner yang sangat "peduli" pada perut rakyat.  Bayangkan, di tengah semangat menggebu-gebu memberikan Makan Bergizi Gratis (MBG), mereka dengan gagah berani menghentikan operasional 1.512 Satuan Pelayanan Gizi (SPPG) di Wilayah II.  Termasuk, tentu saja, sepuluh pahlawan dapur di Kabupaten Sumenep yang kini dipaksa "istirahat" sejenak. Alasannya? Evaluasi standar operasional dan kelengkapan sarana. Luar biasa. Sangat perfeksionis!  Sepertinya BGN ingin memastikan bahwa sendok yang digunakan harus memiliki kemiringan presisi 45 derajat.  Atau uap nasi yang keluar harus memenuhi standar estetika kementerian sebelum boleh menyentuh lidah siswa. Drama "Petak Umpet" yang Sangat Menghibur Masyarakat kita memang hobi berprasangka buruk.  Ada yang bilang ini cuma permainan "petak umpet".  Mereka curiga kalau penghentian ini hanyalah panggung sandiwara agar BGN...

Kembalikan Serdadu ke Barak: Menakar Profesionalisme TNI di Tengah Tugas Non-Militer

Gambar
Pernyataan pakar hukum tata negara, Prof. Zainal Arifin Mochtar, dalam podcast PARES Indonesia baru-baru ini memicu diskusi hangat. Dengan gaya bicaranya yang lugas, ia menyentil keterlibatan TNI dalam urusan domestik seperti ketahanan pangan (menanam jagung) hingga urusan gizi. Pesan intinya jelas: Tentara adalah alat pertahanan negara, bukan penyuluh pertanian. Esensi Profesionalisme Militer Secara teoritis, dalam sebuah negara demokrasi, militer harus memiliki spesialisasi yang tajam. Fokus utama mereka adalah kekerasan yang sah untuk mempertahankan kedaulatan ( management of violence ). Ketika personel militer dikerahkan untuk mengurus kebun jagung atau program stunting, ada kekhawatiran terjadinya degradasi fungsi utama. Mengapa ini berbahaya? Karena sumber daya—baik waktu, personel, maupun anggaran—adalah sesuatu yang terbatas. Setiap jam yang dihabiskan seorang prajurit di ladang adalah satu jam yang hilang dari latihan tempur atau pengawasan strategis. Reali...

Polisi Warisi Tradisi Kolonial? Prof. Zainal Arifin Mochtar Bicara Blak-blakan!

Gambar
Pernyataan pakar hukum tata negara, Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar, dalam kanal YouTube PARES Indonesia baru-baru ini memicu diskusi krusial mengenai jati diri Kepolisian Republik Indonesia (Polri).  Prof. Uceng—sapaan akrabnya—menyebut bahwa kepolisian kita seolah masih mewarisi "gen" kolonial.  Di masa penjajahan, polisi dibentuk bukan untuk melindungi rakyat, melainkan untuk memadamkan perlawanan terhadap penguasa.  Pertanyaannya, setelah 80 tahun merdeka, benarkah paradigma itu sudah bergeser? Beban Administrasi yang Menghambat Kinerja Salah satu poin menarik yang dilemparkan adalah mengenai spesialisasi tugas.  Polisi saat ini memikul beban administratif yang sangat besar, salah satunya adalah pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM).  Jika kita mau jujur dan objektif, urusan registrasi dan identifikasi kendaraan serta pengemudi sebenarnya lebih bersifat administratif sipil. Peralihan wewenang pengurusan SIM ke Pemerintah Daerah (Pemda) bisa menjadi l...

Meriahnya Khotmil Quran di Sempong Barat, Warga Antusias Simak Ceramah Kiai Kholil Pasongsongan

Gambar
KH Kholilurrahman, Pengasuh Ponpes Al-Istikmal Pasongsongan.  SUMENEP – Warga Dusun Sempong Barat, Desa/Kecamatan Pasongsongan, berkumpul di Langgar Barokah untuk merayakan Khotmil Quran sekaligus menjalin silaturahmi lewat pengajian umum. Selasa (10/3/2026).  Acara ini menghadirkan KH Kholilurrahman, sosok ulama muda dari Desa Pasongsongan. Dalam penyampaiannya yang menyejukkan, KH Kholilurrahman mengupas tuntas tentang keutamaan membaca Al-Quran, khususnya pahala berlipat ganda saat tadarus di bulan Ramadhan.  Ia memotivasi warga agar tidak hanya mengejar khatam secara kuantitas, tapi juga meresapi makna di setiap ayatnya. "Orang yang lidahnya basah dengan ayat Al-Quran adalah mereka yang dirindukan surga," pesannya di sela-sela ceramahnya.  Acara ditutup dengan doa khotmil Quran bersama untuk keberkahan warga Dusun Sempong Barat dan sekitarnya. Kegiatan Khotmil Quran di Langgar Barokah ini jadi pengingat berharga bahwa keberkahan sebuah kampung dimulai dari lantun...

Rahasia Manusia yang Dirindukan Surga dan Pahala Tadarus Ramadhan

Gambar
KH Kholilurrahman SUMENEP – Langgar Barokah, Dusun Sempong Barat, Desa/Kecamatan Pasongsongan, sukses menyelenggarakan perayaan Khotmil Quran yang dihadiri ratusan warga setempat. Selasa (10/3/2026).  Kehadiran tokoh ulama kharismatik, KH Kholilurrahman, Pengasuh Ponpes Al-Istikmal Pasongsongan, memberikan warna tersendiri lewat siraman rohani yang mendalam. Kiai Kholil, sapaan akrabnya, mengajak jamaah merefleksikan diri melalui tema "Manusia yang Dirindukan Surga".  Ia menjelaskan bahwa surga bukan sekadar tempat yang dicita-citakan manusia, namun surga juga aktif merindukan hamba-hamba Allah yang gemar bersedekah, menjaga lisan, dan istikamah membaca Al-Quran. Terkait momentum Ramadhan, ia mengingatkan pentingnya tadarus.  "Perlu diketahui, bahwa Al-Quran adalah syafaat di hari kiamat kelak, terutama bagi mereka yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan lantunan ayat suci di surau dan langgar,' ucapnya. [kay]

Peringati Khotmil Quran, Langgar Barokah Hadirkan Pengasuh Ponpes Al-Istikmal

Gambar
KH Kholilurrahman SUMENEP – Suasana khidmat menyelimuti Langgar Barokah di Dusun Sempong Barat, Desa/Kecamatan Pasongsongan, dalam acara Khotmil Quran. Selasa (10/3/2026).  Acara ini menjadi spesial dengan kehadiran KH Kholilurrahman, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Istikmal, Pakotan, Pasongsongan, sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, KH Kholilurrahman memaparkan kriteria manusia yang dirindukan oleh surga.  Ia menekankan bahwa menjaga lisan dan kedekatan dengan Al-Quran adalah kunci utama bagi seorang mukmin untuk mendapatkan tempat mulia tersebut. "Ada golongan manusia yang justru surga sendiri yang rindu untuk dimasuki oleh mereka, salah satunya adalah para pembaca Al-Quran," ujarnya di hadapan para jamaah. Selain itu, ia juga menguraikan besarnya pahala tadarus selama bulan Ramadhan.  Menurutnya, setiap huruf yang dibaca di bulan suci ini dilipatgandakan pahalanya, sehingga jadi momentum emas bagi warga Dusun Sempong Barat untuk mempertebal amal ibadah. [kay]

Ironi Makan Gratis: Gizi Terpenuhi atau Cuma Konten Sosmed?

Gambar
Akhirnya, negara menemukan solusi paling mutakhir untuk mengatasi stunting: algoritma Instagram. Dengan titah agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rajin memamerkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke media sosial, kita kini memasuki era dimana kualitas protein diukur dari jumlah like dan kecerahan filter foto. Tak perlu risau soal urusan dapur yang sebenarnya; selama piring terlihat estetik dan penuh warna di layar ponsel, maka secara otomatis seluruh anak bangsa dianggap telah terpenuhi gizinya oleh netizen yang budiman. Masyarakat pun diberi panggung untuk ikut "melapor" dengan mengunggah foto makanan yang mereka terima. Sebuah demokrasi digital yang sangat menghibur, dimana rakyat bisa berkompetisi memamerkan perbedaan antara ayam goreng di poster promosi dengan realita sepotong tempe yang sedang "diet" di dalam kotak makan. Kita diajak jadi detektif gizi amatir, mengomentari kadar lemak lewat kolom komentar, seolah-olah tombol share memiliki ...

Logika Aneh di Negeri Ini: Harta Milik Negara, Ganja Milik Kita?

Gambar
Hukum kita terasa punya standar ganda bagi rakyat kecil.  Saat aparat menemukan ganja di pekaranganmu, barang itu otomatis dianggap milikmu dan kamu dipenjara.  Tapi, ceritanya mendadak berubah saat yang ditemukan adalah emas atau minyak bumi.  Kekayaan alam itu tiba-tiba diklaim milik negara, sementara pemilik lahan seringkali hanya jadi penonton. Ketidakadilan juga sangat terasa dalam urusan ekonomi dan penghidupan.  Pemerintah sering absen saat warga kesulitan mencari lapangan kerja untuk menyambung hidup.  Tapi, begitu seseorang berhasil mendapat penghasilan secara mandiri, negara hadir paling depan untuk memotong pajak.  Rakyat seolah dipaksa mandiri saat susah, tapi wajib berbagi saat sudah berhasil. Layanan publik pun tidak luput dari logika yang membingungkan ini.  Saat listrik padam berjam-jam, masyarakat dipaksa maklum tanpa ada kompensasi yang berarti.  Sebaliknya, giliran rakyat telat membayar tagihan, negara melalui perusahaan listrik...

Dilema Guru dan Makan Bergizi Gratis: Antara Mubazir atau Risiko?

Gambar
Fenomena guru membawa pulang paket Makan Bergizi Gratis (MBG) kini jadi sorotan.  Hal ini biasanya terjadi karena ada murid yang tidak hadir sekolah.  Selain itu, beberapa murid enggan makan karena menu yang disajikan tidak sesuai selera mereka.  Daripada mubazir dan dibuang, para guru akhirnya memilih untuk membawa pulang paket makanan tersebut. Aturan resminya menyatakan bahwa MBG harus dikonsumsi di lingkungan sekolah.  Tapi, guru tidak mau mengambil risiko dengan mengantar makanan tersebut ke rumah murid.  Ada kekhawatiran besar mengenai aspek higienitas selama perjalanan.  Guru takut murid justru mengalami keracunan jika makanan dikonsumsi di luar pengawasan sekolah. Situasi ini menunjukkan perlunya evaluasi pada sistem distribusi dan variasi menu.  Kebijakan yang kaku membuat guru berada dalam posisi sulit secara etis.  Penanganan sisa makanan harus diatur lebih jelas agar tetap aman dan tepat sasaran.  Sinkronisasi antara data kehadira...