Ironi Makan Gratis: Gizi Terpenuhi atau Cuma Konten Sosmed?
Akhirnya,
negara menemukan solusi paling mutakhir untuk mengatasi stunting: algoritma
Instagram.
Dengan titah
agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rajin memamerkan menu Makan Bergizi
Gratis (MBG) ke media sosial, kita kini memasuki era dimana kualitas protein
diukur dari jumlah like dan
kecerahan filter foto.
Tak perlu risau
soal urusan dapur yang sebenarnya; selama piring terlihat estetik dan penuh
warna di layar ponsel, maka secara otomatis seluruh anak bangsa dianggap telah
terpenuhi gizinya oleh netizen yang budiman.
Masyarakat pun diberi panggung untuk ikut "melapor"
dengan mengunggah foto makanan yang mereka terima.
Sebuah
demokrasi digital yang sangat menghibur, dimana rakyat bisa berkompetisi
memamerkan perbedaan antara ayam goreng di poster promosi dengan realita
sepotong tempe yang sedang "diet" di dalam kotak makan.
Kita diajak jadi
detektif gizi amatir, mengomentari kadar lemak lewat kolom komentar,
seolah-olah tombol share
memiliki kekuatan magis yang bisa mengubah nasi aking menjadi nasi organik
secara instan.
Tapi, di balik hiruk-pikuk feed yang penuh warna tersebut, ada sebuah keheningan
yang sangat konsisten: nihilnya tindakan konkret.
Mau lapor
sampai jempol keriting pun, nampaknya sanksi bagi penyedia jasa yang nakal
masih jadi barang gaib yang sulit ditemukan.
Sepertinya
pemerintah percaya bahwa sanksi sosial berupa "dirujak netizen" sudah
cukup untuk mengganti kerugian gizi anak-anak kita.
Memang benar, transparansi itu penting, tapi kalau cuma sekadar tontonan tanpa adanya hukuman, program ini tak lebih dari sekadar festival fotografi makanan yang didanai pajak negara. [kay]

