Menyedihkan! Rahasia Sukses Pemerintah Indonesia Bikin Guru Honorer "Kenyang" Pahala

Cuma di sini guru bisa hidup pakai "pengabdian"! Intip kritik pedas soal nasib guru honorer vs taktik Kaisar Hirohito. Yakin gak mau baca? Cek yuk!
guru honorerdi indonesia bagaikan sampah, tapi tidak di Jepang

Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk pemerintah kita. 

Bangga, sedih, prihatin campur aduk terhadap kenyataan guru yang harus menelan kegetiran.

Di saat negara-negara membosankan seperti Jepang sangat terobsesi pada kesejahteraan guru, Indonesia justru sedang melakukan eksperimen sosial paling berani di abad ini. 

Eksperimen itu melihat seberapa lama seorang manusia bisa bertahan hidup hanya dengan asupan "pengabdian" dan "pahala".

Belajar dari Kesalahan Kaisar Hirohito

Ingat cerita legendaris saat Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak di tahun 1945? Kaisar Hirohito, dalam "kebingungannya", justru bertanya: "Berapa jumlah guru yang tersisa?" 

Betapa naifnya beliau. Bukannya menghitung sisa hulu ledak atau jumlah jenderal yang masih gagah, beliau malah sibuk memikirkan tukang kapur.

Hasilnya? Jepang memang jadi negara maju, tapi mereka kehilangan seni "senam jantung" setiap tanggal muda karena saldo ATM yang tidak pernah bertambah. 

Indonesia jelas lebih cerdik. Kita tahu bahwa guru yang sejahtera hanya akan membuat mereka malas berinovasi mencari pekerjaan sampingan sebagai pengemudi ojek online atau jualan pulsa.

Kursus Diet Ekstrim: Rp 300 Ribu per Bulan

Guru honorer kita adalah pesulap terbaik di dunia. Bagaimana tidak? Mereka mampu menyekolahkan anak orang lain hingga jadi pejabat.

Sementara mereka sendiri harus bertahan hidup dengan gaji rata-rata Rp 300 ribu. 

Ini adalah angka yang sangat jenius dan langka dari pemerintah.

Uang Rp 300 ribu itu multifungsi: Bisa untuk bayar kosan (kalau kosannya di tahun 1980), cukup untuk makan mewah sebulan (jika mewah yang dimaksud adalah mi instan dibagi dua), melatih mental agar lebih dekat dengan Tuhan (karena satu-satunya harapan cuma mukjizat).

Pemerintah sepertinya sangat konsisten menjaga status "honorer" ini tetap abadi. 

Menjadikan mereka ASN atau PPPK hanya akan merusak ekosistem "penderitaan yang estetis" ini. 

Mengapa harus memberi status tetap jika mereka sudah terbukti mau bekerja puluhan tahun hanya dengan janji manis yang kedaluwarsanya lebih lama dari susu kotak?

Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (dan Tanpa Tanda Terima Gaji yang Layak)

Kita sering berteriak "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa!" dengan lantang. Sebenarnya, itu adalah kode halus bagi pemerintah untuk bilang: 

"Karena kamu pahlawan, kamu tidak butuh uang. Uangnya lebih baik kami gunakan untuk renovasi gedung yang catnya masih bagus atau perjalanan dinas ke luar negeri untuk studi banding tentang kemiskinan."

Logikanya sederhana: Kalau guru sudah kaya, siapa lagi yang akan kita jadikan objek konten mengharukan di media sosial? 

Siapa lagi yang akan kita jadikan contoh "ketabahan" saat upacara Hari Guru?

Penutup yang (Tidak) Manis

Jadi, mari kita teruskan tradisi ini. Biarkan Jepang dengan obsesi gurunya yang membosankan. 

Kita tetap pada jalur kita: Mencetak generasi cerdas lewat guru-guru yang perutnya keroncongan. 

Karena di Indonesia, semakin menderita seorang guru, semakin harum nama pengabdiannya di buku sejarah—meskipun nama itu tidak pernah ada di daftar gaji yang manusiawi. [kay]

LihatTutupKomentar