Jumat, 19 Desember 2025

Therapy Banyu Urip Kian Berkembang, Jumlah Pasien di Pasuruan Terus Meningkat

cabang therapy banyu urip berkembang di pasuruan
MS Arifin (2 dari kanan) bersama pasien dari Hongkong (3 dari kiri). [Foto: sh]

YOGYAKARTA -- Pengobatan tradisional Therapy Banyu Urip terus menunjukkan eksistensinya dengan berdirinya sejumlah cabang baru di berbagai daerah, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Perkembangan ini jadi bukti nyata bahwa Therapy Banyu Urip makin diterima masyarakat luas dan dinilai cocok untuk berbagai kalangan.

Salah satu faktor yang membuat Therapy Banyu Urip diminati adalah tarifnya relatif terjangkau, sehingga mudah diakses masyarakat dari berbagai latar belakang.

Selain itu, banyak pula pasien yang merasakan manfaat nyata dari terapi ini dan melaporkan kondisi kesehatan mereka yang kian membaik setelah menjalani perawatan secara rutin.

CEO Therapy Banyu Urip International, MS Arifin, dalam siaran persnya mengungkapkan bahwa pertumbuhan cabang baru terjadi cukup pesat, khususnya di wilayah Jawa Timur. Ia menyampaikan bahwa Kota Pasuruan jadi salah satu daerah dengan peningkatan jumlah pasien yang sangat signifikan dari waktu ke waktu.

Hal ini, menurutnya, jadi indikator tingginya kepercayaan masyarakat terhadap metode pengobatan tradisional yang diterapkan oleh Therapy Banyu Urip.

“Peningkatan jumlah pasien di berbagai cabang, terutama di Kota Pasuruan, menunjukkan bahwa terapi ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar MS Arifin di kantornya, Jalan Selokan Mataram, Sleman,Yogyakarta.

Selain menjabat sebagai CEO, MS Arifin juga merupakan Ketua PAP3I (Perkumpulan Antar Para Pemijat Penyehatan Indonesia) Jawa Timur.

Dalam perannya tersebut, ia terus mendorong para terapis Therapy Banyu Urip untuk memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien tanpa pandang bulu.

“Seluruh terapis yang tergabung dengan Therapy Banyu Urip telah mengantongi sertifikat resmi sebagai bentuk profesionalisme dan jaminan kualitas layanan,” imbuh MS Arifin.

Dengan terus bertambahnya cabang dan meningkatnya kepercayaan masyarakat, Therapy Banyu Urip diharapkan bisa terus berkontribusi dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan pengobatan tradisional yang aman, terjangkau, dan berorientasi pada pelayanan maksimal. [sh]

KP3L Rencanakan Revitalisasi Sumber Agung di Dusun Pakotan Sumenep

sumber agung pasongsongan
Ryan Naga [sh]

SUMENEP — Ada banyak pemuda di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, membentuk KP3L (Komunitas Pemuda Pakotan Pencinta Lingkungan) sebagai wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. 

Dalam waktu dekat, KP3L merencanakan program revitalisasi Sumber Agung yang saat ini kondisinya memerlukan perhatian serius.

Sumber Agung merupakan fasilitas umum yang selama ini dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai sarana pemandian dan tempat mencuci pakaian. 

Tapi, keberadaannya kini mengalami penurunan kualitas akibat masuknya lumpur dan sampah yang terbawa aliran air hujan ke area sumber, sehingga menyebabkan air jadi keruh dan kurang layak digunakan.

Rencana revitalisasi tersebut mendapat dukungan dari masyarakat setempat, salah satunya Ryan Naga. 

Ketika dijumpai di rumahnya, Ia menyampaikan bahwa Sumber Agung memiliki nilai penting bagi kehidupan warga di masa lalu, tapi sayang kondisinya saat ini membuat masyarakat enggan memanfaatkannya kembali.

“Dulu saya sering mandi dan mencuci baju di Sumber Agung, tapi kini saya enggan ke sana karena kondisi airnya sudah tidak bersih,” ungkap Ryan Naga. Jumat (19/12/2025). 

Dukungan penuh yang diberikan Ryan Naga mendapat apresiasi dari pengurus KP3L.

Mereka menilai partisipasi tokoh pemuda sangat penting dalam mendorong keberhasilan program pelestarian lingkungan yang digagas komunitas tersebut.

Ryan Naga dikenal sebagai tokoh pemuda yang aktif membina peserta didik di bidang seni bela diri. 

Ia merupakan pimpinan Pepsi Naga, sebuah perguruan silat yang berkembang di Desa/Kecamatan Pasongsongan.

Melalui program revitalisasi Sumber Agung, KP3L berharap fasilitas umum tersebut bisa kembali berfungsi secara optimal serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. [sh]

Rabu, 17 Desember 2025

Peduli Warisan Desa, Pemuda Pakotan Inisiasi KP3L untuk Revitalisasi Sumber Agung

Sumber agung pasongsongan
Ang Juang dengan latar Sumber Agung. [sh]

SUMENEP – Kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan mulai tumbuh subur di kalangan generasi muda di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan. Kamis (18/12/2015). 

Sekelompok pemuda secara resmi membentuk Komunitas Pemuda Pakotan Pencinta Lingkungan (KP3L) sebagai wadah aksi nyata menjaga ekosistem desa.

Fokus utama gerakan KP3L saat ini adalah penyelamatan Sumber Agung, sebuah mata air peninggalan yang jadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar untuk kebutuhan mandi dan mencuci.

Revitalisasi Sumber Agung

Kondisi yang Memprihatinkan

Meski sebelumnya sempat mendapatkan perhatian dan renovasi hingga menuai apresiasi dari berbagai pihak, kondisi Sumber Agung kini kian mengkhawatirkan. 

Endapan material menjadi masalah utama yang mengancam fungsi pemandian umum tersebut.

Ang Juang, salah satu pengurus KP3L, mengungkapkan bahwa tanpa perawatan yang berkelanjutan, sarana publik ini terancam tidak bisa digunakan secara maksimal oleh warga.

"Sumber Agung sempat dibangun dan sudah mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak. Tapi keberadaannya kini mulai memburuk, banyaknya lumpur yang dibawa air hujan masuk ke area Sumber Agung," ujar Ang Juang saat dikonfirmasi.

KP3L untuk Revitalisasi Sumber Agung

Fokus Gerakan KP3L

Pembentukan KP3L bukan sekadar perkumpulan biasa. Komunitas ini lahir dari keresahan melihat aset Desa Pasongsongan yang terbengkalai. 

Program kerja awal mereka difokuskan pada:

1. Pembersihan Lumpur: Mengangkat sedimen tanah yang terbawa arus hujan ke dalam kolam pemandian.

2. Revitalisasi Area: Memperbaiki sarana pendukung di sekitar mata air agar kembali layak digunakan.

3. Edukasi Kebersihan: Mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan sumber air demi keberlangsungan jangka panjang.

Revitalisasi Sumber Agung

Harapan Masa Depan

Melalui aksi ini, para pemuda di Dusun Pakotan berharap bisa mengembalikan kejayaan Sumber Agung sebagai tempat yang bersih dan asri. 

Gerakan ini juga diharapkan jadi pemantik bagi pemuda di dusun lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Hingga saat ini, KP3L terus melakukan koordinasi secara swadaya untuk melakukan aksi pembersihan berkala, sembari berharap adanya dukungan berkelanjutan supaya Sumber Agung tetap terjaga fungsinya sebagai warisan lingkungan di Desa Pasongsongan. [sh]

Senin, 15 Desember 2025

Sempat Direvitalisasi, Kondisi Sumber Agung Pasongsongan Kembali Memprihatinkan

Sumber Agung Pasongsongan
Ang Juang. [sh]

SUMENEP – Keberadaan mata air Sumber Agung di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, kembali adi sorotan berbagai kalangan. 

Sumber mata air yang dikenal unik karena tidak pernah kering meskipun dilanda kemarau panjang ini, kini kondisinya dinilai kembali memburuk.

Selama bertahun-tahun, Sumber Agung telah jadi nadi kehidupan warga setempat untuk keperluan mandi dan mencuci, serta menjadi arena bermain favorit bagi anak-anak. 

Tapi, situasi saat ini berubah. Anak-anak tak lagi antusias bermain di area tersebut karena kondisi air dan lingkungan yang kotor.

Ang Juang, seorang pegiat lingkungan yang tinggal tidak jauh dari lokasi, membenarkan penurunan kualitas tersebut. 

Menurutnya, kondisi ini sangat disayangkan mengingat tahun lalu sempat ada upaya perbaikan yang signifikan.

“Tahun lalu Sumber Agung sempat dibersihkan dan dibangun. Masyarakat mulai berdatangan lagi ke Sumber Agung. Ada yang mencuci baju, anak-anak banyak yang bermain,” ungkap Ang Juang mengenang kondisi tahun sebelumnya.

Akan tetapi, inisiatif tersebut tampaknya tidak bertahan lama. Ang Juang menggambarkan kondisi Sumber Agung saat ini kembali "merana karena sudah kotor lagi," yang menyebabkan hilangnya aktivitas ceria anak-anak di lokasi tersebut. 

Warga berharap ada solusi jangka panjang agar aset desa ini tidak terus mengalami siklus bersih-kotor yang berulang. [sh]

Pudarnya Keceriaan Anak-Anak di Sumber Agung Pasongsongan Akibat Masalah Kebersihan

Sumber Agung Pasongsongan
Ang Juang [sh]

SUMENEP – Tawa riang anak-anak yang biasanya menghiasi area Sumber Agung di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, kini makin jarang terdengar. 

Mata air legendaris yang tak pernah takluk oleh kemarau panjang ini tengah kehilangan pesonanya bagi generasi muda desa tersebut.

Dulu hingga kini, Sumber Agung bukan sekadar tempat warga mencuci atau mandi, melainkan ruang sosial yang vital, terutama sebagai tempat bermain anak-anak. 

Namun, realitas saat ini berkata lain. Anak-anak di Dusun Pakotan kini enggan bermain air di sana. Alasannya sederhana namun mendasar: tempat itu sudah tidak bersih lagi.

Kondisi ini memancing keprihatinan dari Ang Juang, pegiat lingkungan setempat. 

Ia menjadi saksi bagaimana Sumber Agung sempat hidup kembali tahun lalu setelah dilakukan pembersihan dan pembangunan fasilitas.

“Tahun lalu Sumber Agung sempat dibersihkan dan dibangun. Masyarakat mulai berdatangan lagi ke Sumber Agung. Ada yang mencuci baju, anak-anak banyak yang bermain,” tutur Ang Juang.

Ia menyayangkan bahwa masa-masa itu berlangsung singkat. 

Kini, menurutnya, Sumber Agung kembali "merana" dan kotor. 

Kembalinya kondisi kumuh ini tak pelak merenggut ruang bermain aman bagi anak-anak desa dan mengurangi kenyamanan warga yang bergantung pada mata air tersebut.

Perhatian dari berbagai kalangan kini dinantikan untuk mengembalikan kejayaan kecil di Dusun Pakotan ini. [sh]

Kotor Lagi, Mata Air Sumber Agung Pasongsongan Ditinggalkan Anak-Anak

Sumber Agung duaun Pakotan desa pasongaonga
Ang Juang. [sh]

SUMENEP – Sumber Agung, mata air yang tak pernah kering di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, terus mendapat perhatian publik. 

Sayangnya, perhatian kali ini disebabkan oleh kondisinya yang kembali memburuk setelah sempat diperbaiki tahun lalu.

Mata air yang vital untuk aktivitas mandi dan mencuci warga ini sekarang dijauhi oleh anak-anak yang biasanya ramai bermain di sana, akibat faktor kebersihan yang tidak terjaga.

Pegiat lingkungan setempat, Ang Juang, mengungkapkan kekecewaannya. 

“Tahun lalu Sumber Agung sempat dibersihkan dan dibangun. Masyarakat mulai berdatangan lagi ke Sumber Agung. Ada yang mencuci baju, anak-anak banyak yang bermain,” jelasnya ketika dijumpai di kediamannya. Selasa (16/12/2025). 

Namun, Ang Juang menegaskan bahwa kondisi saat ini berbalik. Sumber Agung kini dinilai "merana karena sudah kotor lagi," membuat upaya pembersihan tahun sebelumnya seolah sia-sia dan memerlukan penanganan berkelanjutan. [sh]

Minggu, 14 Desember 2025

Menguak Sejarah dan Jejak Dakwah Kiai Ali Akbar di Pasongsongan

Kiai Ali Akbar di Pasongsongan

Makam Kiai Ali Akbar yang terletak di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, bukanlah sekadar tempat peristirahatan terakhir. 

Situs ini merupakan penanda sejarah penting penyebaran agama Islam di wilayah pesisir utara Pulau Madura dan jadi fokus perhatian serta rasa hormat yang mendalam dari berbagai kalangan, khususnya masyarakat Sumenep.

Kiai Ali Akbar dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki peran signifikan dalam menyebarkan ajaran Islam di sepanjang jalur pantai utara Madura. 

Keberadaan dan eksistensinya sebagai tokoh berpengaruh diperkuat oleh dua peninggalan situs yang sangat berharga: surat tanah kerajaan dan daun pintu astah (makam).

Bukti Sejarah dari Keraton Sumenep

Salah satu bukti utama yang mengungkapkan eksistensi dan jasa besar Kiai Ali Akbar adalah sebuah surat tanah yang dikeluarkan oleh Raja Sumenep kala itu.

Surat tersebut menerangkan bahwa tanah yang kini jadi Dusun Pakotan adalah hadiah langsung dari Raja Sumenep. 

Pemberian ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas jasa besar Kiai Ali Akbar dalam menyebarkan ajaran Islam. 

Hadiah ini menunjukkan betapa pentingnya peran beliau bagi kerajaan dan masyarakat.

Surat tanah ini menegaskan hubungan erat antara Kiai Ali Akbar dengan pusat kekuasaan, sekaligus menggarisbawahi kontribusi tak ternilai beliau dalam pembentukan karakter spiritual masyarakat pesisir.

Daun Pintu Astah: Gelar dan Informasi Wafat

Situs kedua yang memberikan informasi krusial adalah daun pintu astah atau pintu makam Kiai Ali Akbar. Daun pintu kuno ini memuat inskripsi atau tulisan yang menjelaskan tentang:

- Gelar Kehormatan: Gelar khusus yang disematkan kepada Kiai Ali Akbar, yang juga diberikan langsung oleh Raja Sumenep sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Gelar ini mencerminkan kedudukan beliau di mata kerajaan dan masyarakat.

- Informasi Wafat: Tulisan pada daun pintu ini juga mencantumkan keterangan mengenai wafatnya beliau, yang menjadi penanda kronologis penting dalam sejarah Islam lokal.

Warisan dan Keistimewaan Kiai Ali Akbar

Penghargaan berupa tanah dan gelar dari Raja Sumenep merupakan hal yang luar biasa, menunjukkan bahwa Kiai Ali Akbar bukan hanya seorang ulama, tapi juga seorang tokoh strategis yang dihormati oleh penguasa. 

Beliau berhasil menanamkan nilai-nilai Islam di wilayah yang sulit dijangkau pada masanya, menjadikannya salah satu pionir dakwah di kawasan pantai utara.

Hingga kini, Makam Kiai Ali Akbar terus menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat Sumenep dan sekitarnya. 

Hal ini membuktikan bahwa semangat dakwah, keteladanan, dan jasa beliau terus dikenang lintas generasi, menjadikan situs ini sebagai warisan budaya dan spiritual yang tak ternilai harganya bagi Kabupaten Sumenep. [sh]

Mengukir Warisan Kiai Ali Akbar: Ketika Masyarakat Jadi Garda Terdepan

Dusun pakotan desa/kecamatan Pasongsongan

Situs makam ulama besar, Astah Kiai Ali Akbar yang berlokasi di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, adalah harta spiritual dan sejarah yang tak ternilai.

Sayangnya, perhatian terhadap fasilitas dan infrastruktur di banyak situs ziarah kerap didominasi oleh harapan agar Pemerintah Daerah (Pemda) mengambil alih seluruh beban pemeliharaan.

Padahal, untuk memastikan keberlanjutan, transparansi, dan kemajuan yang berkelanjutan, peran aktif masyarakat dan komunitas lokal harus jadi tulang punggung utama pengelolaan situs warisan.

Masyarakat setempat dan komunitas pegiat sejarah/religi memiliki kepentingan historis dan emosional yang jauh lebih besar.

Mereka adalah penjaga daya hidup situs tersebut. Oleh karena itu, inisiatif kolektif yang terstruktur adalah kunci utama untuk mentransformasi makam dari situs yang kurang terawat jadi pusat keagamaan dan sejarah yang memadai dan membanggakan.

Tiga Pilar Keterlibatan Masyarakat untuk Keberlanjutan

Keberlanjutan dan pengelolaan harian Astah Kiai Ali Akbar dapat ditegakkan melalui tiga pilar peran aktif masyarakat dan komunitas:

1. Pembentukan Badan Pengelola Mandiri (BUMMas)

Pengelolaan situs ziarah harus diubah dari sistem sukarela menjadi sistem yang dikelola secara profesional dan transparan. Langkah konkretnya adalah Membentuk Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMMas) atau Yayasan Pengelola Astah yang terdiri dari tokoh agama, pemuda, dan perangkat desa.

Badan pengelola ini memiliki fokus utama untuk menciptakan good governance di tingkat lokal. BUMMas bertugas mengelola parkir, retribusi kebersihan toilet, dan mengorganisir kegiatan ziarah.

Yang terpenting, dana yang terkumpul harus dikelola secara akuntabel dan transparan untuk pemeliharaan harian fasilitas serta penggajian juru kunci/petugas kebersihan yang bekerja secara penuh waktu. Profesionalisme ini akan menjamin kebersihan dan kerapian situs setiap saat.

2. Gerakan Donasi dan Swadaya Berbasis Solidaritas

Anggaran pemerintah seringkali terbatas dan terbagi ke banyak sektor. Oleh karena itu, sumber pendanaan swadaya adalah urat nadi pembangunan fasilitas tambahan.

Perlu diluncurkan Gerakan "Satu Bata untuk Kiai" atau kampanye donasi online yang melibatkan diaspora Sumenep dan alumni pesantren yang terinspirasi oleh jasa beliau di seluruh Nusantara.

Dana swadaya ini dapat difokuskan untuk hal-hal yang meningkatkan kekhusyukan dan estetika, seperti pengadaan karpet mushola berkualitas, perbaikan sound system, atau penghijauan/penataan taman di area makam.

Partisipasi donasi, sekecil apapun, menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif terhadap situs tersebut.

3. Promosi Wisata Religi Berbasis Edukasi

Promosi Makam Kiai Ali Akbar tidak boleh hanya dibebankan pada dinas pariwisata. Masyarakat bersama komunitas pariwisata lokal harus aktif mempromosikan situs ini sebagai destinasi utama wisata religi Sumenep.

Fokus promosi harus bergeser: tidak hanya menjual aspek ziarah (kunjungan makam), tapi juga nilai edukasi sejarah. Dengan menyajikan informasi yang kuat mengenai Surat Tanah Keraton dan gelar kehormatan dari Raja Sumenep, peziarah datang dengan kesadaran penuh akan kontribusi ulama tersebut terhadap peradaban Islam di Madura. Ini akan mengubah ziarah menjadi perjalanan spiritual dan sejarah yang mendalam.

Wujud Penghormatan Terbaik

Implementasi langkah-langkah konkret ini secara terpadu membuktikan satu hal: kesejahteraan dan keagungan makam Kiai Ali Akbar berada di tangan masyarakatnya sendiri.

Pengelolaan mandiri yang transparan, didukung oleh semangat swadaya, adalah wujud penghormatan terbaik kita terhadap ulama yang telah berjasa besar bagi spiritualitas dan kebudayaan Sumenep.

Masyarakat adalah penjaga kunci peradaban, dan saatnya mereka mengambil alih kemudi untuk memastikan warisan Kiai Ali Akbar abadi. [sh]

Astah Kiai Ali Akbar: Ironi Kurangnya Perhatian dan Harapan Pembenahan

astah kiai ali akbar

Meskipun Kiai Ali Akbar memiliki peran sejarah yang begitu monumental, diperkuat dengan bukti otentik berupa surat tanah dari kerajaan dan gelar kehormatan dari Raja Sumenep, terdapat ironi yang memprihatinkan di lokasi makam beliau.

Keberadaan Astah Kiai Ali Akbar justru terkesan kurang mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan di Kabupaten Sumenep, terutama dalam aspek infrastruktur penunjang ziarah.

Sebagai situs sejarah dakwah yang menjadi tujuan utama para peziarah, kondisi fasilitas Makam Kiai Ali Akbar saat ini jauh dari kata representatif.

Kurangnya pemeliharaan dan pembangunan yang memadai seolah bertolak belakang dengan besarnya jasa beliau di masa lampau.

Kebutuhan Infrastruktur Mendesak

Sudah seharusnya makam seorang ulama besar dan penerima anugerah dari Raja Sumenep memiliki fasilitas yang mampu menampung animo peziarah dan memberikan kenyamanan dalam beribadah.

Ada beberapa aspek mendesak yang membutuhkan pembenahan:

1. Bangunan Peribadatan yang Representatif

Peziarah datang bukan hanya untuk menghormati makam, tapi juga untuk memanjatkan doa dan melakukan shalat. Oleh karena itu, pembangunan mushola atau mushola yang layak menjadi kebutuhan fundamental.

Mushola tersebut harus dilengkapi dengan fasilitas vital seperti toilet dan tempat wudhu yang bersih dan memadai.

Kondisi sanitasi yang baik adalah cerminan penghormatan kita terhadap tempat suci dan kenyamanan tamu Allah.

2. Aksesibilitas dan Keamanan Parkir

Lokasi makam yang banyak dikunjungi peziarah, baik lokal maupun luar daerah, memerlukan akses jalan menuju lokasi yang baik dan terawat.

Selain itu, ketiadaan tempat parkir yang aman dan tertata seringkali menimbulkan kesulitan dan kerawanan, khususnya saat terjadi lonjakan pengunjung.

Fasilitas parkir yang dikelola dengan baik juga dapat menjadi potensi pemasukan bagi masyarakat sekitar.

3. Konservasi dan Informasi Situs

Selain fasilitas fisik, perhatian juga harus diarahkan pada aspek konservasi. Dua bukti sejarah penting—surat tanah dan daun pintu astah—seharusnya dilindungi dan dipamerkan dengan cara yang edukatif, mungkin melalui pembangunan pusat informasi atau museum mini di area makam, sehingga nilai sejarah Kiai Ali Akbar tidak hanya jadi mitos, tapi terinternalisasi melalui bukti fisik.

Ajakan untuk Peduli

Makam Kiai Ali Akbar bukan hanya milik masyarakat Pasongsongan, tapi merupakan aset sejarah dan spiritual milik seluruh masyarakat Kabupaten Sumenep.

Oleh karena itu, perhatian dan aksi nyata tidak boleh hanya jadi tanggung jawab Pemerintah Daerah semata. Diperlukan sinergi antara: Pemerintah Daerah, Tokoh Agama dan Budaya, Masyarakat dan Swasta

Mengurus dan merawat astah para pendahulu adalah bentuk terima kasih kita terhadap warisan keimanan yang telah mereka tinggalkan. Sudah saatnya makam Kiai Ali Akbar mendapatkan kehormatan infrastruktur yang setara dengan besarnya jasa beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di bumi Madura. [sh]

Lagu sebagai Jejak Sejarah: Ikhtiar MS Arifin Merawat Warisan Syekh Ali Akbar

Therapy banyu urip
MS Arifin. [sh]

Di tengah arus modernisasi yang terus menggempur keberadaan budaya kita, upaya merawat sejarah dan menghormati jasa para leluhur seringkali terabaikan. 

Tapi, langkah yang dilakukan MS Arifin, CEO PT Bintang Banyu Urip, patut diapresiasi sebagai bentuk kesadaran kultural dan spiritual yang mendalam. 

Melalui penciptaan sebuah lagu berjudul "Syekh Ali Akbar", MS Arifin tidak sekadar berkarya di area seni, melainkan juga melukiskan ikhtiar guna menghidupkan kembali jejak sejarah Islam di pesisir utara Pulau Madura.

Leluhur MS Arifin

Bagi MS Arifin, lagu tersebut memiliki makna yang cukup personal. 

Syekh Ali Akbar bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan leluhur dari MS Arifin. 

Ia merupakan keturunan ketujuh dari ulama besar tersebut. 

Ikatan darah ini menjadikan lagu "Syekh Ali Akbar"  sebagai ungkapan rasa hormat, cinta, dan tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai perjuangan sang pendahulu.

Ulama Terkemuka

Syekh Ali Akbar dikenal sebagai salah satu tokoh penting penyebar agama Islam di pantai utara Pulau Madura pada abad ke-15 Masehi. 

Dakwahnya diyakini berperan besar dalam membentuk fondasi keislaman masyarakat pesisir Madura. 

Pada saat ini, keberadaan makam ulama terkemuka tersebut berada di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, dan jadi salah satu situs religius yang masih diziarahi masyarakat.

Pengusaha

Menariknya, MS Arifin yang selama ini dikenal sebagai pelaku usaha melalui PT Bintang Banyu Urip—perusahaan yang memproduksi ramuan tradisional—memilih jalur seni sebagai medium pelestarian sejarah. 

Lagu jadi sarana yang relatif dekat dengan masyarakat lintas generasi. Melalui lirik dan nada, nilai-nilai dakwah, keteladanan, serta semangat perjuangan Syekh Ali Akbar diharapkan bisa lebih mudah diterima dan diingat, khususnya di kalangan generasi muda.

Pijakan ini juga menunjukkan bahwa dunia usaha dan budaya tidak harus berjalan sendiri-sendiri. 

Justru, ketika seorang pengusaha memiliki kesadaran sejarah dan identitas, karya yang dihasilkan bisa melampaui kepentingan ekonomi semata. 

Lagu "Syekh Ali Akbar" jadi contoh bahwa kreativitas bisa berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Media Dakwah

Selanjutnya, karya MS Arifin ini layak dikaji sebagai ajakan reflektif: bahwa merawat sejarah tidak selalu harus melalui buku tebal atau monumen megah. 

Lagu pun bisa jadi penanda zaman, pengingat asal-usul, dan media dakwah yang halus tapi mengena. 

Dalam nada yang mengalun, tersimpan pesan bahwa warisan para ulama bukan untuk dilupakan, melainkan untuk terus dihidupkan dalam berbagai bentuk yang relevan dengan zaman. [sh]

Sabtu, 13 Desember 2025

Hari Terakhir Sekolah, SDN Padangdangan 2 Gelar Rekreasi dan Makan Bersama di Pantai

Sdn padangdangan 2
Murid SDN Padangdangan 2. [sh

SUMENEP  – Mengisi hari terakhir sekolah sekaligus pembagian rapor, SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan menggelar kegiatan rekreasi dan makan bersama di pantai Desa Padangdangan. 

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa dan dewan guru dengan penuh keceriaan. Sabtu (13/12/2025).

Pasongsongan

Sejak pagi, para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan di pantai. Selain menikmati suasana alam dan bermain bersama, acara makan bersama jadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antara guru dan peserta didik.

Salah seorang guru SDN Padangdangan 2, Yeni Alfi Laeliy, S.Pd, mengatakan bahwa kegiatan makan bersama sudah jadi tradisi di sekolah tersebut setiap kali pembagian rapor. Biasanya, kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan sekolah.

“Sudah jadi tradisi kami setiap pembagian rapor, murid dan guru makan bersama di sekolah. Namun, untuk mengubah suasana dan memberikan pengalaman berbeda kepada anak-anak, kali ini kami memilih makan bersama di pantai terdekat,” ujarnya.

Sependapat dengan Siti Endang JA, S.Pd, kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk bersenang-senang, tapi juga sebagai sarana mempererat kebersamaan, kekeluargaan, serta menciptakan kenangan indah bagi para siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar selama satu semester.

“Para siswa kami mengaku senang dengan kegiatan ini. Mereka bisa bermain, bercengkerama dengan semua temannya dan guru, serta menikmati makan bersama dengan suasana pantai yang menyenangkan,” terang Siti Endang.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan menumbuhkan semangat kebersamaan dan kekompakan antara siswa dan guru SDN Padangdangan 2 terus terjaga, sekaligus menjadi penutup yang manis sebelum memasuki masa libur sekolah. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...