Mengukir Warisan Kiai Ali Akbar: Ketika Masyarakat Jadi Garda Terdepan

Situs makam ulama besar, Astah Kiai Ali Akbar yang berlokasi di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, adalah harta spiritual
Dusun pakotan desa/kecamatan Pasongsongan

Situs makam ulama besar, Astah Kiai Ali Akbar yang berlokasi di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, adalah harta spiritual dan sejarah yang tak ternilai.

Sayangnya, perhatian terhadap fasilitas dan infrastruktur di banyak situs ziarah kerap didominasi oleh harapan agar Pemerintah Daerah (Pemda) mengambil alih seluruh beban pemeliharaan.

Padahal, untuk memastikan keberlanjutan, transparansi, dan kemajuan yang berkelanjutan, peran aktif masyarakat dan komunitas lokal harus jadi tulang punggung utama pengelolaan situs warisan.

Masyarakat setempat dan komunitas pegiat sejarah/religi memiliki kepentingan historis dan emosional yang jauh lebih besar.

Mereka adalah penjaga daya hidup situs tersebut. Oleh karena itu, inisiatif kolektif yang terstruktur adalah kunci utama untuk mentransformasi makam dari situs yang kurang terawat jadi pusat keagamaan dan sejarah yang memadai dan membanggakan.

Tiga Pilar Keterlibatan Masyarakat untuk Keberlanjutan

Keberlanjutan dan pengelolaan harian Astah Kiai Ali Akbar dapat ditegakkan melalui tiga pilar peran aktif masyarakat dan komunitas:

1. Pembentukan Badan Pengelola Mandiri (BUMMas)

Pengelolaan situs ziarah harus diubah dari sistem sukarela menjadi sistem yang dikelola secara profesional dan transparan. Langkah konkretnya adalah Membentuk Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMMas) atau Yayasan Pengelola Astah yang terdiri dari tokoh agama, pemuda, dan perangkat desa.

Badan pengelola ini memiliki fokus utama untuk menciptakan good governance di tingkat lokal. BUMMas bertugas mengelola parkir, retribusi kebersihan toilet, dan mengorganisir kegiatan ziarah.

Yang terpenting, dana yang terkumpul harus dikelola secara akuntabel dan transparan untuk pemeliharaan harian fasilitas serta penggajian juru kunci/petugas kebersihan yang bekerja secara penuh waktu. Profesionalisme ini akan menjamin kebersihan dan kerapian situs setiap saat.

2. Gerakan Donasi dan Swadaya Berbasis Solidaritas

Anggaran pemerintah seringkali terbatas dan terbagi ke banyak sektor. Oleh karena itu, sumber pendanaan swadaya adalah urat nadi pembangunan fasilitas tambahan.

Perlu diluncurkan Gerakan "Satu Bata untuk Kiai" atau kampanye donasi online yang melibatkan diaspora Sumenep dan alumni pesantren yang terinspirasi oleh jasa beliau di seluruh Nusantara.

Dana swadaya ini dapat difokuskan untuk hal-hal yang meningkatkan kekhusyukan dan estetika, seperti pengadaan karpet mushola berkualitas, perbaikan sound system, atau penghijauan/penataan taman di area makam.

Partisipasi donasi, sekecil apapun, menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif terhadap situs tersebut.

3. Promosi Wisata Religi Berbasis Edukasi

Promosi Makam Kiai Ali Akbar tidak boleh hanya dibebankan pada dinas pariwisata. Masyarakat bersama komunitas pariwisata lokal harus aktif mempromosikan situs ini sebagai destinasi utama wisata religi Sumenep.

Fokus promosi harus bergeser: tidak hanya menjual aspek ziarah (kunjungan makam), tapi juga nilai edukasi sejarah. Dengan menyajikan informasi yang kuat mengenai Surat Tanah Keraton dan gelar kehormatan dari Raja Sumenep, peziarah datang dengan kesadaran penuh akan kontribusi ulama tersebut terhadap peradaban Islam di Madura. Ini akan mengubah ziarah menjadi perjalanan spiritual dan sejarah yang mendalam.

Wujud Penghormatan Terbaik

Implementasi langkah-langkah konkret ini secara terpadu membuktikan satu hal: kesejahteraan dan keagungan makam Kiai Ali Akbar berada di tangan masyarakatnya sendiri.

Pengelolaan mandiri yang transparan, didukung oleh semangat swadaya, adalah wujud penghormatan terbaik kita terhadap ulama yang telah berjasa besar bagi spiritualitas dan kebudayaan Sumenep.

Masyarakat adalah penjaga kunci peradaban, dan saatnya mereka mengambil alih kemudi untuk memastikan warisan Kiai Ali Akbar abadi. [sh]

LihatTutupKomentar