Contoh Jurnal PPG Modul Pembelajaran Sosial Emosional, Topik Peran Guru Sebagai Teladan

Saat ada murid yang berperilaku mengganggu, guru menerapkan teknik “pause–bernapas–respons”. Guru berhenti sejenak, mengambil napas panjang, lalu memb

 

ppg guru tertentu 2025

JURNAL PEMBELAJARAN

Modul 1: Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

Topik: Peran Guru sebagai Teladan


1. Uraian Materi

Modul 1 mengenai Pembelajaran Sosial Emosional membahas pentingnya peran guru dalam membangun lingkungan belajar yang mendukung perkembangan sosial serta emosional peserta didik. Pembelajaran Sosial Emosional tidak hanya berupa strategi pembelajaran, namun juga mencakup nilai, sikap, dan perilaku yang ditunjukkan guru dalam kesehariannya. Guru dilihat sebagai role model, yakni teladan yang memberikan contoh nyata dalam hal pengelolaan emosi, komunikasi yang empatik, penyelesaian konflik yang sehat, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Peserta didik belajar tidak hanya dari instruksi atau penjelasan, tetapi juga dari apa yang Guru tunjukkan: nada bicara, ekspresi, cara menghadapi tekanan, serta bagaimana Guru merespons situasi yang sulit. Oleh karena itu, guru memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan suasana kelas yang aman, suportif, dan inklusif. Dalam modul ini juga ditegaskan bahwa karakter emosional guru—ketenangan, kesabaran, dan konsistensi—akan sangat mempengaruhi suasana belajar di kelas.

Modul ini menekankan penguatan lima kompetensi dasar PSE: (1) Kesadaran diri, (2) Pengelolaan diri, (3) Kesadaran sosial, (4) Keterampilan berelasi, dan (5) Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Guru perlu menginternalisasi kelima kompetensi ini sebelum menularkannya kepada peserta didik. Proses internalisasi inilah yang membuat keteladanan guru menjadi lebih autentik. Beberapa contoh perilaku keteladanan yang dibahas dalam modul termasuk: mendengarkan dengan penuh perhatian, mengendalikan emosi saat menghadapi perilaku menantang, memberi apresiasi dengan tulus, adil dalam mengambil keputusan, dan mau mengakui kesalahan.

Pada akhirnya, modul ini menegaskan bahwa guru adalah sumber inspirasi bagi murid. Ketika guru mampu menghadirkan diri sebagai sosok yang empatik, reflektif, dan bertanggung jawab, murid akan meniru nilai-nilai itu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah.


2. Rancangan Aksi Nyata

Judul Aksi Nyata:

Membangun Keteladanan Guru dalam Penguatan Pembelajaran Sosial Emosional melalui Komunikasi Empatik dan Pengelolaan Emosi di Kelas

Latar Belakang

Hasil pembelajaran pada Modul 1 menunjukkan bahwa keteladanan guru merupakan kunci dalam pembentukan karakter sosial emosional peserta didik. Masih sering dijumpai situasi di mana murid sulit mengelola emosi, kurang menghargai pendapat teman, atau bereaksi impulsif ketika menghadapi masalah. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan perilaku teladan di lingkungan kelas. Aksi nyata ini dirancang untuk menerapkan sikap dan perilaku PSE secara langsung dalam interaksi sehari-hari dengan murid.

Tujuan Aksi Nyata

  1. Menunjukkan komunikasi empatik sebagai bentuk keteladanan kepada murid.
  2. Melatih pengelolaan emosi pribadi saat menghadapi situasi kelas yang menantang.
  3. Membangun lingkungan kelas yang aman, suportif, dan inklusif.
  4. Menanamkan nilai PSE secara alami melalui contoh, bukan hanya instruksi.

A. Bentuk Kegiatan Aksi Nyata

1. Ritual Awal Kelas – “Cek Emosi Harian”

Setiap awal pertemuan, guru mengajak murid untuk melakukan check-in emosi. Murid memilih ikon emosi yang sesuai: senang, sedih, cemas, lelah, atau marah. Guru juga ikut melakukan check-in untuk menunjukkan bahwa guru pun manusia yang memiliki emosi. Dengan ini, murid melihat model keterbukaan dan kejujuran emosional yang sehat.

2. Keteladanan Komunikasi Empatik

Dalam diskusi kelas, guru secara konsisten menggunakan bahasa yang menghargai, memberikan kesempatan pada semua murid, serta menghindari nada tinggi ketika ada kesalahan. Guru menunjukkan cara menyampaikan pendapat dengan sopan, memberi klarifikasi dengan tenang, dan mendengarkan murid tanpa menginterupsi. Sikap ini menjadi contoh langsung bagi murid dalam membangun hubungan sosial yang positif.

3. Pengelolaan Emosi dalam Situasi Menantang

Saat ada murid yang berperilaku mengganggu, guru menerapkan teknik “pause–bernapas–respons”. Guru berhenti sejenak, mengambil napas panjang, lalu memberikan arahan dengan suara tenang. Teknik ini menunjukkan pada murid bahwa emosi bisa dikelola secara sadar, bukan diluapkan secara spontan.

4. Pembelajaran Kolaboratif yang Menghargai Peran Setiap Murid

Dalam kegiatan kelompok, guru mencontohkan bagaimana menghargai pendapat setiap murid. Guru memberi contoh kalimat afirmasi seperti “Terima kasih idenya, kita pertimbangkan bersama,” atau “Pendapatmu menarik, bisa dijelaskan lagi?” Pembiasaan ini membuat murid memahami model dialog yang sehat.

5. Refleksi Akhir Kelas

Di akhir pelajaran, guru memandu refleksi dua menit. Guru bertanya: “Bagian mana dari hari ini yang membuatmu bangga?” dan “Apa satu hal kecil yang bisa kamu perbaiki besok?” Guru juga menjawab pertanyaan yang sama agar murid belajar bahwa refleksi adalah proses dewasa yang diperlukan semua orang.


B. Langkah Pelaksanaan

  1. Menyiapkan media cek emosi seperti kartu, poster, atau papan magnetik.
  2. Menentukan kalimat-kalimat empatik yang akan digunakan.
  3. Melatih teknik pengelolaan emosi melalui latihan pernapasan.
  4. Merancang kegiatan kolaboratif yang melibatkan seluruh murid.
  5. Menyusun format refleksi sederhana di akhir kelas.

C. Indikator Keberhasilan

  • Murid mampu mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya dengan lebih baik.
  • Kelas menjadi lebih tenang dan kondusif.
  • Meningkatnya sikap saling menghargai antar murid.
  • Guru dapat mengelola emosi dengan stabil dalam berbagai situasi.
  • Murid mulai meniru cara guru berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.

3. Dokumentasi Kegiatan

(Silakan ganti dengan dokumentasi asli Anda. Berikut contoh narasi yang bisa ditempel pada halaman dokumentasi.)

Dokumentasi kegiatan aksi nyata meliputi:

  • Foto kegiatan check-in emosi di awal kelas.
  • Foto kegiatan diskusi kelompok saat guru memodelkan komunikasi empatik.
  • Foto papan refleksi akhir kelas yang berisi ungkapan murid mengenai perasaan dan pembelajaran hari itu.
  • Foto interaksi guru dengan murid dalam kegiatan kolaboratif.

Dokumentasi ini menunjukkan proses penerapan keteladanan guru mulai dari awal sampai akhir pembelajaran. Setiap foto dilengkapi dengan tanggal dan penjelasan singkat terkait relevansinya dengan penerapan PSE.


4. Umpan Balik dari Aksi Nyata

Guru 1 (Ibu Sundari, S.Pd)

Menurut saya, kegiatan cek emosi yang dilakukan setiap pagi sangat membantu murid menjadi lebih sadar diri. Saya melihat kelas menjadi lebih tenang dan murid tampak lebih berani menyampaikan apa yang mereka rasakan. Keteladanan bahasa dan sikap yang ditunjukkan sangat efektif—saya pun merasa terinspirasi untuk lebih konsisten menggunakan komunikasi empatik di kelas saya sendiri.

Guru 2 (Bapak Suriyanto, S.Pd.)

Aksi nyata ini menurut saya sangat relevan dengan kebutuhan anak-anak saat ini yang sering kesulitan mengelola emosi. Teknik pause–bernapas–respons yang diterapkan guru sangat bagus dan layak dicontoh. Saya juga melihat bahwa murid lebih menghargai pendapat teman saat berdiskusi. Keteladanan yang diberikan guru tampak jelas berdampak signifikan terhadap suasana kelas.


5. Refleksi

Belajar dari Modul 1 tentang Pembelajaran Sosial Emosional memberi saya pemahaman baru tentang betapa pentingnya peran guru sebagai teladan. Selama ini saya selalu berusaha menjadi guru yang baik, tetapi setelah mengikuti modul ini, saya menyadari bahwa keteladanan bukan hanya sikap baik secara umum, melainkan proses sadar dan terstruktur dalam menunjukkan kompetensi sosial emosional kepada murid. Saya memahami bahwa murid tidak hanya mendengarkan apa yang saya katakan, tetapi mereka juga memperhatikan bagaimana saya bersikap dan bereaksi dalam setiap situasi.

Selama menerapkan aksi nyata, saya menyadari bahwa kehadiran guru sangat memengaruhi suasana emosional kelas. Ketika saya memulai pembelajaran dengan cek emosi, hubungan antara saya dan murid terasa lebih dekat. Murid tampak lebih nyaman dan tidak ragu mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Mereka mulai belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi dapat dikenali dan diolah dengan baik. Dari momen-momen sederhana tersebut, saya melihat bahwa keteladanan tidak harus dalam bentuk tindakan besar—justru melalui konsistensi dalam hal kecil efeknya menjadi kuat.

Saya juga belajar mengelola emosi saya sendiri. Ada beberapa saat ketika murid membuat gaduh atau menunjukkan perilaku menantang. Biasanya saya langsung menegur, tetapi kali ini saya mencoba menerapkan teknik pause–bernapas–respons. Ternyata cara ini membuat saya lebih tenang dan lebih mampu mengendalikan situasi tanpa memperkeruh suasana. Murid pun melihat bagaimana saya menahan diri dan memberi respons yang terukur. Mereka belajar bahwa kemarahan tidak harus diluapkan secara spontan, tetapi dapat dikelola.

Dalam hal komunikasi empatik, saya merasa perkembangan yang cukup besar terjadi. Ketika saya mencontohkan bagaimana mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, bagaimana merespons dengan kalimat yang menghargai, murid mulai meniru pola tersebut. Saat diskusi kelompok, beberapa murid tiba-tiba menggunakan kalimat seperti “Aku menghargai pendapatmu, tetapi aku punya pandangan lain.” Bagian ini membuat saya benar-benar tersentuh, karena saya melihat bukti nyata bahwa keteladanan berpengaruh langsung.

Refleksi akhir kelas juga menjadi pembelajaran penting bagi saya. Saat murid menuliskan hal yang membuat mereka bangga atau hal yang ingin mereka perbaiki, saya melihat bahwa proses reflektif ternyata sangat membantu mereka berkembang. Saya sendiri juga melakukan refleksi bersama mereka. Dengan begitu, saya bukan hanya memberi instruksi, tetapi juga menunjukkan bahwa saya sebagai orang dewasa pun perlu terus belajar.

Dari keseluruhan proses, saya menyadari bahwa menjadi teladan bukan berarti menjadi guru yang sempurna, tetapi menjadi guru yang autentik—guru yang mau belajar, mau memperbaiki diri, dan mau menunjukkan kemanusiaannya. Modul ini telah mengubah cara pandang saya terhadap peran guru dalam PSE. Saya merasa lebih siap dan lebih kuat untuk melanjutkan pembiasaan ini, sehingga pembelajaran sosial emosional dapat terintegrasi secara alami dalam setiap aktivitas pembelajaran.[]

LihatTutupKomentar
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617
ApoyMadura_20260225_085139617