Contoh Jurnal PPG Modul Pembelajaran Sosial Emosional, Topik Peran Guru Sebagai Teladan
JURNAL PEMBELAJARAN
Modul
1: Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
Topik:
Peran Guru sebagai Teladan
1. Uraian Materi
Modul 1 mengenai Pembelajaran Sosial
Emosional membahas pentingnya peran guru dalam membangun lingkungan belajar
yang mendukung perkembangan sosial serta emosional peserta didik. Pembelajaran
Sosial Emosional tidak hanya berupa strategi pembelajaran, namun juga mencakup
nilai, sikap, dan perilaku yang ditunjukkan guru dalam kesehariannya. Guru
dilihat sebagai role model, yakni teladan yang memberikan contoh nyata
dalam hal pengelolaan emosi, komunikasi yang empatik, penyelesaian konflik yang
sehat, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Peserta didik belajar tidak hanya
dari instruksi atau penjelasan, tetapi juga dari apa yang Guru tunjukkan: nada
bicara, ekspresi, cara menghadapi tekanan, serta bagaimana Guru merespons
situasi yang sulit. Oleh karena itu, guru memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan
suasana kelas yang aman, suportif, dan inklusif. Dalam modul ini juga
ditegaskan bahwa karakter emosional guru—ketenangan, kesabaran, dan
konsistensi—akan sangat mempengaruhi suasana belajar di kelas.
Modul ini menekankan penguatan lima
kompetensi dasar PSE: (1) Kesadaran diri, (2) Pengelolaan diri, (3) Kesadaran
sosial, (4) Keterampilan berelasi, dan (5) Pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab. Guru perlu menginternalisasi kelima kompetensi ini sebelum
menularkannya kepada peserta didik. Proses internalisasi inilah yang membuat
keteladanan guru menjadi lebih autentik. Beberapa contoh perilaku keteladanan
yang dibahas dalam modul termasuk: mendengarkan dengan penuh perhatian,
mengendalikan emosi saat menghadapi perilaku menantang, memberi apresiasi
dengan tulus, adil dalam mengambil keputusan, dan mau mengakui kesalahan.
Pada akhirnya, modul ini menegaskan
bahwa guru adalah sumber inspirasi bagi murid. Ketika guru mampu menghadirkan
diri sebagai sosok yang empatik, reflektif, dan bertanggung jawab, murid akan
meniru nilai-nilai itu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di
sekolah maupun di luar sekolah.
2. Rancangan Aksi Nyata
Judul
Aksi Nyata:
Membangun Keteladanan Guru dalam
Penguatan Pembelajaran Sosial Emosional melalui Komunikasi Empatik dan
Pengelolaan Emosi di Kelas
Latar
Belakang
Hasil pembelajaran pada Modul 1
menunjukkan bahwa keteladanan guru merupakan kunci dalam pembentukan karakter
sosial emosional peserta didik. Masih sering dijumpai situasi di mana murid
sulit mengelola emosi, kurang menghargai pendapat teman, atau bereaksi impulsif
ketika menghadapi masalah. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan perilaku
teladan di lingkungan kelas. Aksi nyata ini dirancang untuk menerapkan sikap
dan perilaku PSE secara langsung dalam interaksi sehari-hari dengan murid.
Tujuan
Aksi Nyata
- Menunjukkan komunikasi empatik sebagai bentuk
keteladanan kepada murid.
- Melatih pengelolaan emosi pribadi saat menghadapi
situasi kelas yang menantang.
- Membangun lingkungan kelas yang aman, suportif, dan
inklusif.
- Menanamkan nilai PSE secara alami melalui contoh, bukan
hanya instruksi.
A.
Bentuk Kegiatan Aksi Nyata
1.
Ritual Awal Kelas – “Cek Emosi Harian”
Setiap awal pertemuan, guru mengajak
murid untuk melakukan check-in emosi. Murid memilih ikon emosi yang
sesuai: senang, sedih, cemas, lelah, atau marah. Guru juga ikut melakukan check-in
untuk menunjukkan bahwa guru pun manusia yang memiliki emosi. Dengan ini, murid
melihat model keterbukaan dan kejujuran emosional yang sehat.
2.
Keteladanan Komunikasi Empatik
Dalam diskusi kelas, guru secara
konsisten menggunakan bahasa yang menghargai, memberikan kesempatan pada semua
murid, serta menghindari nada tinggi ketika ada kesalahan. Guru menunjukkan
cara menyampaikan pendapat dengan sopan, memberi klarifikasi dengan tenang, dan
mendengarkan murid tanpa menginterupsi. Sikap ini menjadi contoh langsung bagi
murid dalam membangun hubungan sosial yang positif.
3.
Pengelolaan Emosi dalam Situasi Menantang
Saat ada murid yang berperilaku
mengganggu, guru menerapkan teknik “pause–bernapas–respons”. Guru berhenti
sejenak, mengambil napas panjang, lalu memberikan arahan dengan suara tenang.
Teknik ini menunjukkan pada murid bahwa emosi bisa dikelola secara sadar, bukan
diluapkan secara spontan.
4.
Pembelajaran Kolaboratif yang Menghargai Peran Setiap Murid
Dalam kegiatan kelompok, guru
mencontohkan bagaimana menghargai pendapat setiap murid. Guru memberi contoh
kalimat afirmasi seperti “Terima kasih idenya, kita pertimbangkan bersama,”
atau “Pendapatmu menarik, bisa dijelaskan lagi?” Pembiasaan ini membuat murid
memahami model dialog yang sehat.
5.
Refleksi Akhir Kelas
Di akhir pelajaran, guru memandu
refleksi dua menit. Guru bertanya: “Bagian mana dari hari ini yang membuatmu
bangga?” dan “Apa satu hal kecil yang bisa kamu perbaiki besok?” Guru juga
menjawab pertanyaan yang sama agar murid belajar bahwa refleksi adalah proses
dewasa yang diperlukan semua orang.
B.
Langkah Pelaksanaan
- Menyiapkan media cek emosi seperti kartu, poster, atau
papan magnetik.
- Menentukan kalimat-kalimat empatik yang akan digunakan.
- Melatih teknik pengelolaan emosi melalui latihan
pernapasan.
- Merancang kegiatan kolaboratif yang melibatkan seluruh
murid.
- Menyusun format refleksi sederhana di akhir kelas.
C.
Indikator Keberhasilan
- Murid mampu mengidentifikasi dan mengekspresikan
emosinya dengan lebih baik.
- Kelas menjadi lebih tenang dan kondusif.
- Meningkatnya sikap saling menghargai antar murid.
- Guru dapat mengelola emosi dengan stabil dalam berbagai
situasi.
- Murid mulai meniru cara guru berkomunikasi dan
menyelesaikan masalah.
3. Dokumentasi Kegiatan
(Silakan ganti dengan dokumentasi
asli Anda. Berikut contoh narasi yang bisa ditempel pada halaman dokumentasi.)
Dokumentasi kegiatan aksi nyata
meliputi:
- Foto kegiatan check-in emosi di awal kelas.
- Foto kegiatan diskusi kelompok saat guru memodelkan
komunikasi empatik.
- Foto papan refleksi akhir kelas yang berisi ungkapan
murid mengenai perasaan dan pembelajaran hari itu.
- Foto interaksi guru dengan murid dalam kegiatan
kolaboratif.
Dokumentasi ini menunjukkan proses
penerapan keteladanan guru mulai dari awal sampai akhir pembelajaran. Setiap
foto dilengkapi dengan tanggal dan penjelasan singkat terkait relevansinya
dengan penerapan PSE.
4. Umpan Balik dari Aksi Nyata
Guru
1 (Ibu Sundari, S.Pd)
Menurut saya, kegiatan cek emosi
yang dilakukan setiap pagi sangat membantu murid menjadi lebih sadar diri. Saya
melihat kelas menjadi lebih tenang dan murid tampak lebih berani menyampaikan
apa yang mereka rasakan. Keteladanan bahasa dan sikap yang ditunjukkan sangat
efektif—saya pun merasa terinspirasi untuk lebih konsisten menggunakan
komunikasi empatik di kelas saya sendiri.
Guru
2 (Bapak Suriyanto, S.Pd.)
Aksi nyata ini menurut saya sangat
relevan dengan kebutuhan anak-anak saat ini yang sering kesulitan mengelola
emosi. Teknik pause–bernapas–respons yang diterapkan guru sangat bagus
dan layak dicontoh. Saya juga melihat bahwa murid lebih menghargai pendapat
teman saat berdiskusi. Keteladanan yang diberikan guru tampak jelas berdampak
signifikan terhadap suasana kelas.
5. Refleksi
Belajar dari Modul 1 tentang
Pembelajaran Sosial Emosional memberi saya pemahaman baru tentang betapa
pentingnya peran guru sebagai teladan. Selama ini saya selalu berusaha menjadi
guru yang baik, tetapi setelah mengikuti modul ini, saya menyadari bahwa keteladanan
bukan hanya sikap baik secara umum, melainkan proses sadar dan terstruktur
dalam menunjukkan kompetensi sosial emosional kepada murid. Saya memahami bahwa
murid tidak hanya mendengarkan apa yang saya katakan, tetapi mereka juga
memperhatikan bagaimana saya bersikap dan bereaksi dalam setiap situasi.
Selama menerapkan aksi nyata, saya
menyadari bahwa kehadiran guru sangat memengaruhi suasana emosional kelas.
Ketika saya memulai pembelajaran dengan cek emosi, hubungan antara saya dan
murid terasa lebih dekat. Murid tampak lebih nyaman dan tidak ragu
mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Mereka mulai belajar bahwa emosi bukan
sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi dapat dikenali dan diolah dengan baik.
Dari momen-momen sederhana tersebut, saya melihat bahwa keteladanan tidak harus
dalam bentuk tindakan besar—justru melalui konsistensi dalam hal kecil efeknya
menjadi kuat.
Saya juga belajar mengelola emosi
saya sendiri. Ada beberapa saat ketika murid membuat gaduh atau menunjukkan
perilaku menantang. Biasanya saya langsung menegur, tetapi kali ini saya
mencoba menerapkan teknik pause–bernapas–respons. Ternyata cara ini
membuat saya lebih tenang dan lebih mampu mengendalikan situasi tanpa
memperkeruh suasana. Murid pun melihat bagaimana saya menahan diri dan memberi
respons yang terukur. Mereka belajar bahwa kemarahan tidak harus diluapkan
secara spontan, tetapi dapat dikelola.
Dalam hal komunikasi empatik, saya
merasa perkembangan yang cukup besar terjadi. Ketika saya mencontohkan
bagaimana mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, bagaimana merespons dengan
kalimat yang menghargai, murid mulai meniru pola tersebut. Saat diskusi
kelompok, beberapa murid tiba-tiba menggunakan kalimat seperti “Aku menghargai
pendapatmu, tetapi aku punya pandangan lain.” Bagian ini membuat saya
benar-benar tersentuh, karena saya melihat bukti nyata bahwa keteladanan
berpengaruh langsung.
Refleksi akhir kelas juga menjadi
pembelajaran penting bagi saya. Saat murid menuliskan hal yang membuat mereka
bangga atau hal yang ingin mereka perbaiki, saya melihat bahwa proses reflektif
ternyata sangat membantu mereka berkembang. Saya sendiri juga melakukan
refleksi bersama mereka. Dengan begitu, saya bukan hanya memberi instruksi,
tetapi juga menunjukkan bahwa saya sebagai orang dewasa pun perlu terus
belajar.
Dari keseluruhan proses, saya
menyadari bahwa menjadi teladan bukan berarti menjadi guru yang sempurna,
tetapi menjadi guru yang autentik—guru yang mau belajar, mau memperbaiki diri,
dan mau menunjukkan kemanusiaannya. Modul ini telah mengubah cara pandang saya
terhadap peran guru dalam PSE. Saya merasa lebih siap dan lebih kuat untuk
melanjutkan pembiasaan ini, sehingga pembelajaran sosial emosional dapat
terintegrasi secara alami dalam setiap aktivitas pembelajaran.[]

