Lagu sebagai Jejak Sejarah: Ikhtiar MS Arifin Merawat Warisan Syekh Ali Akbar
![]() |
| MS Arifin. [sh] |
Di tengah arus modernisasi yang terus menggempur keberadaan budaya kita, upaya merawat sejarah dan menghormati jasa para leluhur seringkali terabaikan.
Tapi, langkah yang dilakukan MS Arifin, CEO PT Bintang Banyu Urip, patut diapresiasi sebagai bentuk kesadaran kultural dan spiritual yang mendalam.
Melalui penciptaan sebuah lagu berjudul "Syekh Ali Akbar", MS Arifin tidak sekadar berkarya di area seni, melainkan juga melukiskan ikhtiar guna menghidupkan kembali jejak sejarah Islam di pesisir utara Pulau Madura.
Leluhur MS Arifin
Bagi MS Arifin, lagu tersebut memiliki makna yang cukup personal.
Syekh Ali Akbar bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan leluhur dari MS Arifin.
Ia merupakan keturunan ketujuh dari ulama besar tersebut.
Ikatan darah ini menjadikan lagu "Syekh Ali Akbar" sebagai ungkapan rasa hormat, cinta, dan tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai perjuangan sang pendahulu.
Ulama Terkemuka
Syekh Ali Akbar dikenal sebagai salah satu tokoh penting penyebar agama Islam di pantai utara Pulau Madura pada abad ke-15 Masehi.
Dakwahnya diyakini berperan besar dalam membentuk fondasi keislaman masyarakat pesisir Madura.
Pada saat ini, keberadaan makam ulama terkemuka tersebut berada di Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, dan jadi salah satu situs religius yang masih diziarahi masyarakat.
Pengusaha
Menariknya, MS Arifin yang selama ini dikenal sebagai pelaku usaha melalui PT Bintang Banyu Urip—perusahaan yang memproduksi ramuan tradisional—memilih jalur seni sebagai medium pelestarian sejarah.
Lagu jadi sarana yang relatif dekat dengan masyarakat lintas generasi. Melalui lirik dan nada, nilai-nilai dakwah, keteladanan, serta semangat perjuangan Syekh Ali Akbar diharapkan bisa lebih mudah diterima dan diingat, khususnya di kalangan generasi muda.
Pijakan ini juga menunjukkan bahwa dunia usaha dan budaya tidak harus berjalan sendiri-sendiri.
Justru, ketika seorang pengusaha memiliki kesadaran sejarah dan identitas, karya yang dihasilkan bisa melampaui kepentingan ekonomi semata.
Lagu "Syekh Ali Akbar" jadi contoh bahwa kreativitas bisa berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Media Dakwah
Selanjutnya, karya MS Arifin ini layak dikaji sebagai ajakan reflektif: bahwa merawat sejarah tidak selalu harus melalui buku tebal atau monumen megah.
Lagu pun bisa jadi penanda zaman, pengingat asal-usul, dan media dakwah yang halus tapi mengena.
Dalam nada yang mengalun, tersimpan pesan bahwa warisan para ulama bukan untuk dilupakan, melainkan untuk terus dihidupkan dalam berbagai bentuk yang relevan dengan zaman. [sh]

