Jumat, 12 Desember 2025

Murid dan Guru SDN Padangdangan 2 Gelar Lomba Class Meeting di Pantai Padangdangan

Sdn padangdangan 2
Murid dan guru SDN Padangdangan 2. [sh]

SUMENEP — Para murid dan guru SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan memanfaatkan hari terakhir masuk sekolah dengan menggelar berbagai lomba di Pantai Padangdangan. Jumat (13/12/2025) 

Kegiatan tersebut jadi penutup rangkaian class meeting yang sebelumnya telah dilaksanakan di lingkungan sekolah.

Suasana pantai tampak meriah dengan antusiasme para peserta didik yang mengikuti lomba bersama teman-temannya. 

Salah satu lomba yang digelar adalah lomba memindahkan gelang karet secara estafet. 

Lomba ini menuntut kerja sama, kekompakan, serta ketangkasan setiap anggota tim.

Menurut salah seorang guru SDN Padangdangan 2, Imanis Zulfa, S.Pd, lomba memindahkan gelang karet secara estafet merupakan bagian dari kegiatan class meeting yang bertujuan memberikan hiburan sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan di kalangan siswa.

“Lomba ini kami pilih karena sederhana, menyenangkan, dan bisa melatih kerja sama serta sportivitas anak-anak,” ungkap Imanis Zulfa.

Ia juga menjelaskan bahwa sebelum kegiatan di pantai, pihak sekolah telah menggelar berbagai perlombaan di halaman sekolah. 

Pemindahan lokasi ke Pantai Padangdangan dilakukan agar siswa mendapatkan suasana baru sekaligus pengalaman belajar di luar kelas.

Kegiatan class meeting di hari terakhir sekolah ini diharapkan bisa jadi kenangan positif bagi para siswa sebelum memasuki masa libur, serta mempererat hubungan antara peserta didik dan guru. [sh]

Kamis, 11 Desember 2025

Hairus Samad Kenang Sosok Ustadz Patmo: Ulama Muda Berpandangan Jauh ke Depan

hairus samad dan patmo
Harus Samad (kiri) dan Patmo

SUMENEP — Warga Dusun Sempong Timur, Desa/Kecamatan Pasongsongan, dikejutkan oleh kabar duka meninggalnya Ustadz Patmo pada Kamis, 11 Desember 2025, menjelang waktu Magrib. Sosok ustadz muda yang dikenal sebagai penggerak pendidikan berbasis agama itu berpulang ketika perjuangannya untuk memajukan pendidikan di desanya masih terus berjalan.

Bagi Hairus Samad, tokoh masyarakat sekaligus sahabat dekat almarhum, kepergian Ustadz Patmo merupakan kehilangan besar yang sulit digantikan. Ia menilai Patmo adalah figur ulama muda yang memiliki pandangan jauh ke depan dan dedikasi kuat terhadap pembangunan pendidikan agama di kampung halaman.

sempong timur desa pasongsongan
Ustadz Patmo (kiri) dan hairus Samad. [sh]

“Saya sangat kehilangan dia, karena Patmo adalah partner saya dalam memajukan dusun kami dalam banyak hal, utamanya soal perjuangan ukhuwah Islamiyah,” ujar Hairus Samad, yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal almarhum.

Tokoh Muda dengan Visi Pendidikan

Ustadz Patmo selama ini dikenal sebagai sosok yang gigih mendorong kemajuan pendidikan Islam. Dengan keterbatasan yang ada, ia berupaya membangun lembaga pendidikan bagi generasi muda. Di Dusun Sempong Timur, ia menginisiasi berdirinya lembaga pendidikan jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), sebuah langkah yang menurut Hairus menunjukkan betapa jauhnya visi almarhum.

“Dia masih muda, tapi pikirannya jauh ke depan. Ia ingin anak-anak di dusun kami mendapat pendidikan agama yang baik dan terstruktur,” kenang Hairus.

Warisan Berharga: Masjid dan Langgar untuk Anak-Anak Mengaji

Tak hanya memperjuangkan lembaga pendidikan formal, Ustadz Patmo juga aktif membangun sarana ibadah. Masjid dan langgar yang kini berdiri menjadi tempat anak-anak belajar mengaji adalah bukti nyata dari kerja keras dan pengabdian almarhum untuk masyarakatnya.

Perjuangan yang Terhenti di Tengah Jalan

Meski banyak mimpinya telah diwujudkan, perjuangan Ustadz Patmo terhenti lebih cepat dari yang diharapkan. Ia menghembuskan napas terakhir pada sore hari sebelum Magrib, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan seluruh warga yang merasakan manfaat perjuangannya.

Bagi masyarakat Dusun Sempong Timur, karya dan dedikasi Ustadz Patmo akan terus dikenang sebagai pijakan awal menuju kemajuan pendidikan Islam di daerah tersebut. [sh]

Sdn padangfangan 2
Class meeting di SDN Padangdangan 2. [sh]

SUMENEP — SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan kembali menggelar ragam kegiatan seru dalam rangka class meeting akhir semester. Jumat (12/12/2025). 

Salah satu lomba yang paling diminati peserta didik adalah lomba memasukkan bendera ke dalam botol, yang diikuti oleh seluruh siswa dari kelas rendah hingga kelas tinggi. 

Suasana halaman sekolah tampak riuh dengan sorak semangat para siswa yang antusias mengikuti perlombaan.

Koordinator lomba, Siti Endang JA, S.Pd.I, menjelaskan bahwa lomba ini dirancang tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi nilai-nilai keagamaan.

“Untuk kelas rendah memasukkan bendera bertuliskan rukun Islam. Untuk kelas tinggi memasukkan bendera bertuliskan nama-nama malaikat Allah SWT,” terang Endang. 

Dengan demikian, peserta tidak hanya berlomba dengan cepat, tapi juga sekaligus mengingat kembali materi pembelajaran yang telah mereka pelajari di kelas.

Sementara itu, salah satu panitia lomba lainnya, Suriyanto, menambahkan bahwa aspek penilaian dalam lomba ini tidak hanya terfokus pada kecepatan.

“Peserta lomba tidak hanya dinilai kecepatannya, tapi dinilai juga dari kesesuaian urutannya,” jelasnya. Artinya, setiap siswa harus memastikan bendera yang dimasukkan ke dalam botol sesuai urutan yang benar, baik rukun Islam maupun nama-nama malaikat.

Perpaduan antara kecepatan, ketelitian, dan pengetahuan membuat lomba ini berlangsung sangat kompetitif. 

Para siswa terlihat bersemangat, tertawa, dan saling memberi dukungan satu sama lain. 

Melalui kegiatan seperti ini, SDN Padangdangan 2 berharap bisa menumbuhkan kegembiraan belajar sekaligus mempererat kebersamaan antar siswa.

Class meeting tahun ini pun jadi momen berkesan, bukan hanya sebagai penutup semester, tapi juga sebagai ajang menguatkan karakter siswa melalui kegiatan kreatif dan bernilai edukatif. [sh]

Patmo, S.Pd: Energi Muda dari Pasongsongan yang Pergi Terlalu Cepat

tokoh muda berasal dari pasongsongan sumenep

Di setiap generasi, selalu ada sosok yang hadir bukan untuk mencari panggung, tetapi untuk menyalakan harapan. Ia bekerja dalam senyap, tapi jejaknya begitu nyata dirasakan masyarakat.

Dari Dusun Sempong Timur, Desa sekaligus Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, sosok itu bernama Patmo, S.Pd—tokoh muda yang energinya seolah tak pernah padam hingga hari-hari terakhirnya.

Patmo bukan sekadar dikenal oleh warga sekampung atau sahabat dekatnya saja. Namanya akrab di telinga para tokoh alim ulama di wilayah Madura, sebuah pengakuan yang tak bisa dibeli atau diminta, melainkan hadir karena ketulusan perilaku dan pengabdiannya.

Ia juga dihormati di dunia pendidikan, bukan karena gelar yang disandangnya, tapi karena cara ia menjadikan ilmu sebagai ladang pengabdian.

Karya Besar dari Sosok yang Tidak Hidup Berkelebihan

Ironisnya, Patmo bukan orang yang bergelimang harta. Ia hidup dengan kesederhanaan yang alami, namun justru dari tangan seorang pemuda yang tidak kaya itulah tumbuh dua karya besar yang kini jadi saksi keikhlasannya.

Pertama, ia berhasil membangun sebuah masjid tepat di depan rumahnya. Bukan masjid megah dengan marmer mahal, tapi rumah ibadah yang didirikan dari tekad dan semangat gotong royong.

Masjid itu lahir dari keyakinannya bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk beribadah, belajar, dan berkumpul. Dari tempat kecil itulah aktivitas religius kian hidup, dan Patmo turut menjadi bagian penting di dalamnya.

Tak hanya di masjid, di langgar kecil miliknya ia juga jadi guru ngaji bagi anak-anak sekitar. Ia mengajar dengan kesabaran yang khas, seolah segala beban hidupnya luruh ketika berhadapan dengan anak-anak yang mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an.

Bagi Patmo, mengajar bukan mencari penghasilan tambahan; melainkan bentuk cinta dan amal jariyah yang ingin ia tinggalkan.

Karya besarnya yang kedua adalah berdirinya lembaga pendidikan TK dan MI yang tidak jauh dari rumahnya. Bagi seorang pemuda seusianya, apa yang ia lakukan bukan hanya langkah maju, tapi lompatan besar.

Ia membangun institusi yang kelak tidak hanya mencerdaskan generasi kecil, tapi juga memakmurkan masyarakatnya sendiri.

Banyak orang yang memiliki gagasan, tetapi tidak banyak yang berani mewujudkannya. Patmo termasuk sedikit yang mampu mengubah niat jadi kenyataan.

Kepergian yang Menggoreskan Luka Kolektif

Tapi usia tidak selalu sejalan dengan panjangnya pengabdian. Pada Kamis, 11 Desember 2025, menjelang Magrib, Patmo menghembuskan napas terakhirnya ketika hendak berobat ke salah satu dokter spesialis di Pamekasan.

Usianya masih muda, semangatnya masih menyala, dan mimpinya masih panjang. Kabar ini menyentak banyak orang, terutama mereka yang mengenal ketulusannya.

Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga kehilangan bagi dunia pendidikan, dunia pengabdian sosial, serta para ulama dan masyarakat yang mengenal baik hatinya.

Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Sebagian orang meninggalkan dunia dengan tangan kosong. Tapi Patmo pergi dengan membawa amal, karya, dan cinta masyarakat. Masjid yang dibangunnya akan terus mengumandangkan azan. 

Langgar kecilnya akan terus melahirkan anak-anak yang mampu membaca Al-Qur’an. TK dan MI yang dirintisnya akan terus mendidik generasi masa depan. Dan semua itu akan terus mengalir sebagai pahala tanpa putus bagi dirinya.

Dalam kesedihan ini, kita perlu ingat satu hal: Patmo telah menanam benih kebaikan yang lebih besar daripada usianya.

Selamat jalan, Patmo!...
Semoga karya besarmu jadi risalah yang menerangi perjalananmu menuju surga, dan semoga jejak kakimu jadi inspirasi bagi generasi muda Pasongsongan dan Madura pada umumnya. [sh]

Kenangan Indah Bersama Almarhum Patmo, S.Pd yang Sulit Dilupakan

Taretan Patmo, S.Pd

Kadang ada sebagian orang yang meninggalkan jejak dalam hidup kita bukan karena usia mereka panjang, bukan pula karena jabatan atau gelar yang melekat di belakang namanya, melainkan karena caranya hadir: tulus, ceria, dan apa adanya.

Bagi saya, sosok itu bernama Patmo, S.Pd, seorang pemuda yang semasa hidupnya dikenal begitu hangat, kreatif, dan berjiwa seni. Kepergiannya yang mendadak masih menyisakan ruang kosong yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata.

Sejak muda, Patmo adalah pribadi yang selalu membawa cahaya dalam lingkar pergaulan. Ia mampu membuat suasana paling hening jadi riang, bahkan tanpa usaha apa pun selain hadir dengan senyumnya yang khas.

Sikapnya ringan, tak pernah keberatan membantu siapa pun yang membutuhkan. Barangkali itulah sebabnya banyak orang merasa kehilangan: karena Patmo bukan hanya hadir di hidup mereka, ia juga menghidupkan mereka.

Multitalenta

Keceriaannya berjalan beriringan dengan bakatnya yang luar biasa dalam berkesenian. Di masa sekolah menengah atas, ia kerap mengikuti lomba karaoke dangdut yang diselenggarakan Radio Karimata di Pamekasan. Suaranya tidak hanya merdu, tapi juga memancarkan gairah yang tulus pada seni. Musik, baginya, seperti bahasa kedua yang membuatnya menyatu dengan dunia.

Namun bakat Patmo tidak berhenti di sana. Ia tumbuh jadi seorang pendidik muda yang kreatif dan inovatif, sosok guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga “menggerakkan”.

Tidak heran saat ia dipercaya IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia) Kecamatan Pasongsongan mengikuti lomba mendongeng dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke-756 yang bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Patmo memang punya keistimewaan: ia bisa membuat dongeng jadi hidup, dan kata-kata jadi jembatan kehangatan.

Hampir 2 Jam

Pertemuan terakhir kami berlangsung dengan begitu sederhana, tapi kini terasa begitu berarti. Pada Selasa, 11 November 2025, selepas shalat Subuh, Patmo datang ke rumah saya.

Kami menghabiskan waktu bersama (hamper 2 jam) untuk mengedit naskah dongeng Madura yang saya tulis—materi yang akan ia bawakan pada lomba mendongeng tersebut.

Saat itu tidak sedikit pun terlintas dalam pikiran saya bahwa pertemuan itu adalah penghabisan, bahwa obrolan ringan dan tawa kecil di sela-selanya akan jadi kenangan terakhir yang saya miliki bersamanya.

Selamat Jalan, Taretan!

Dan kemudian, kabar itu datang. Patmo menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis, 11 Desember 2025, jelang Magrib. Dunia seakan berhenti sesaat. Rasanya belum cukup waktu untuk berbincang lebih banyak, tertawa lebih lama, atau sekadar duduk diam menikmati pagi seperti hari itu. Tapi Tuhan rupanya lebih mencintainya.

Kini, Patmo pergi meninggalkan kita, tapi ia tak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup dalam kenangan orang-orang yang mencintainya, dalam karya-karya yang pernah ia tekuni, dalam senyum yang pernah ia bagikan tanpa pamrih.

Bagi saya pribadi, Patmo bukan hanya sahabat baik, tapi juga teladan tentang bagaimana seseorang bisa jadi cahaya bagi sesama dengan cara yang paling sederhana.

Selamat jalan, taretan Patmo! Saya bersaksi bahwa engkau orang baik. Semoga segala kebaikanmu menjadi penerang jalanmu menuju keabadian, dan semoga kami yang ditinggalkan mampu menjaga warisan kebaikan yang pernah engkau tanamkan. [sh]

Rabu, 10 Desember 2025

Keseruan Lomba Makan Biskuit di SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Meriahkan Class Meeting

sdn padangdangan 2 kecamatan pasongsongan hebat
Siswa SDN Padangdangan ikut class meeting. [sh]

SUMENEP – Suasana ceria dan penuh tawa mewarnai halaman SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan saat para peserta didik mengikuti lomba makan biskuit dengan cara unik. Kamis (11/12/2025).

Dalam perlombaan ini, biskuit diletakkan di dahi para peserta, kemudian mereka harus menggerakkan wajah tanpa bantuan tangan hingga biskuit berhasil masuk ke mulut. Siapa yang paling cepat bisa melakukannya, dialah pemenangnya.

Lomba seru ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan class meeting yang digelar setelah pelaksanaan ujian semester. Tujuannya untuk memberikan hiburan, mempererat kebersamaan, sekaligus melatih sportivitas para siswa.

Siti Endang JA, S.Pd.I selaku guru sekaligus panitia kegiatan menyampaikan bahwa lomba-lomba seperti ini diharapkan mampu memberikan pengalaman berkesan bagi para peserta didik.

“Anak-anak terlihat sangat antusias. Kami berharap mereka bisa menikmati perlombaan ini dan menjadikannya sebagai momen menyenangkan setelah ujian,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Sundari, S.Pd, bahwa class meeting memang dirancang agar siswa bisa bersenang-senang sambil tetap belajar mengenai kekompakan dan persaingan sehat.

“Selain menghibur, kegiatan seperti ini juga melatih keberanian dan kepercayaan diri siswa. Kami sangat senang melihat keceriaan mereka,” tuturnya.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia telah menyiapkan hadiah hiburan bagi para pemenang lomba. Meskipun sederhana, hadiah tersebut diharapkan bisa menambah semangat para peserta dan memberikan kenangan indah selama mengikuti kegiatan class meeting.

Acara berjalan meriah, penuh gelak tawa, dan menjadi pengalaman menyenangkan bagi seluruh peserta didik. Lomba makan biskuit ini pun menjadi salah satu momen yang akan paling diingat oleh anak-anak SDN Padangdangan 2. [sh]

Seru... SDN Padangdangan 2 Gelar Class Meeting, Lomba Makan Biskuit Jadi Hiburan Seru Siswa

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Class meeting di SDN Padangdangan 2. [sh]

SUMENEP — SDN Padangdangan 2Kecamatan Pasongsongan menggelar kegiatan class meeting sebagai penutup rangkaian kegiatan belajar setelah pelaksanaan asesmen semester ganjil. Kamis (11/12/2025). 

Kegiatan yang berlangsung meriah ini diisi dengan berbagai perlombaan yang melibatkan seluruh siswa, salah satunya lomba makan biskuit yang menjadi daya tarik utama.

Siti Endang JA, S.Pd.I, dan Sundari, S.Pd., selaku koordinator lomba, menyampaikan bahwa kegiatan class meeting tahun ini sengaja dikemas sebagai ajang hiburan bagi siswa setelah mengikuti rangkaian evaluasi pembelajaran.

“Lomba class meeting digelar sebagai sarana hiburan. Kami ingin anak-anak merasa senang dan rileks setelah belajar dan mengikuti asesmen,” ujar Siti Endang.

Lomba makan biskuit menjadi perlombaan yang paling ditunggu. 

Para peserta harus meletakkan biskuit di dahi, kemudian berusaha memindahkannya ke mulut tanpa bantuan tangan. 

Gelak tawa pecah ketika para siswa berusaha memainkan otot wajah mereka untuk membuat biskuit perlahan turun ke mulut.

Sundari, S.Pd., menambahkan bahwa lomba ini tidak hanya menghibur, tapi juga melatih kepercayaan diri serta kekompakan para peserta. 

“Siapa yang lebih dulu bisa makan biskuit, dialah pemenangnya. Anak-anak sangat antusias mengikuti lomba ini, dan suasananya benar-benar menyenangkan,” ungkap Sundari. 

Kepala sekolah mengapresiasi kerja sama guru dan semangat siswa dalam mengikuti kegiatan ini. 

Ia berharap class meeting tetap menjadi agenda rutin sekolah sebagai wadah kreativitas, kebersamaan, dan pengembangan karakter peserta didik. [sh]

Selasa, 09 Desember 2025

Sekolah Hebat: SDN Padangdangan 2 Peringati Hakordia, Kepala Sekolah Tekankan Pentingnya Kejujuran dan Disiplin

sdn padangdangan 2
Murid dan guru SDN Padangdangan 2. [sh]

SUMENEP — Dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia), Kepala SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan, Madun, S.Pd., SD, menyampaikan pesan singkat namun penuh makna kepada seluruh peserta didik pada kegiatan apel pagi. Selasa (9/12/2025). 

Dalam arahannya, Madun menekankan pentingnya membangun karakter integritas sejak dini. 

Ia menyebut bahwa pendidikan antikorupsi bukan hanya teori, tapi harus dipraktikkan secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

“Salah satu cara melatih kejujuran adalah dengan membiasakan mengoreksi sendiri tugas atau latihan kalian. Dengan demikian, kalian belajar bertanggung jawab dan tidak mengambil jalan pintas,” ujarnya di hadapan para siswa.

Selain itu, Madun juga mengajak peserta didik untuk mampu mengidentifikasi karakter jujur dalam diri masing-masing. 

Menurutnya, kemampuan mengenali nilai moral merupakan langkah awal untuk membiasakan perilaku baik.

“Kalian harus bisa mengenali mana tindakan yang benar dan mana yang tidak. Dari sana kalian bisa membangun karakter jujur yang kuat,” tambahnya.

Peringatan Hakordia di SDN Padangdangan 2 berlangsung dengan sederhana namun sarat makna. 

Kegiatan ini diharapkan bisa menumbuhkan semangat antikorupsi sejak usia sekolah, sehingga peserta didik tumbuh menjadi generasi yang jujur, berintegritas, dan bertanggung jawab. [sh]

Senin, 08 Desember 2025

Nasi Jagung dan Sayur Kelor: Warisan Rasa yang Tetap Dicintai Warga Kota Keris

Nasi Jagung dan Sayur Kelo

Di tengah kian menjamurnya kuliner modern dan cepat saji, menu tradisional seringkali dianggap mulai tersisih. 

Tapi justru di Kota Keris Sumenep menunjukkan hal sebaliknya. 

Nasi jagung dengan sayur kelor, sebuah sajian sederhana yang akrab di dapur-dapur Madura sejak dulu, ternyata masih jadi pilihan favorit bagi sebagian besar masyarakat. 

Tidak sekadar nostalgia, melainkan karena cita rasa, harga yang terjangkau, serta manfaat kesehatan yang makin diapresiasi.

Warisan Leluhur yang Tak Lekang oleh Waktu

Nasi jagung telah lama jadi identitas pangan masyarakat Sumenep. 

Tekstur sedikit kasar namun gurih dipadukan dengan sayur kelor, menjadikan menu ini bukan hanya mengenyangkan, tapi juga menghadirkan kesederhanaan yang memikat. 

Banyak warga mengaku, meski sudah mengenal beragam jenis nasi modern, tetap saja nasi jagung dan sayur kelor menghadirkan “rasa rumah” yang tak tergantikan.

Uniknya, sebagian warung tradisional di Sumenep ada menu nasi jagung.

Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan lokal bukan sekadar pelengkap kuliner, tapi benar-benar jadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Nasi Jagung dan Sayur Kelo

Didukung Para Ahli Kesehatan

Selain jadi favorit masyarakat, menu ini juga mendapat dukungan kuat dari para ahli kesehatan dan ahli gizi. 

Mereka menyarankan pola makan berbasis pangan lokal seperti nasi jagung dan sayur kelor karena memiliki kadar gizi tinggi.

Khusus bagi penderita kencing manis (diabetes), makanan ini dinilai lebih aman dan membantu mengontrol kadar gula darah. 

Jagung memiliki serat yang tinggi sehingga membantu memperlambat penyerapan gula. Sementara itu, kelor dikenal sebagai “superfood” yang kaya vitamin C, vitamin A, kalsium, serta antioksidan kuat yang baik untuk metabolisme tubuh.

Ketika disajikan bersama lauk ikan laut, kandungan gizinya jadi kian lengkap. 

Omega-3 dari ikan membantu kesehatan jantung dan memperbaiki fungsi sel, menjadikan kombinasi ini bukan hanya lezat, tetapi juga sangat menyehatkan.

Potensi Pangan Lokal yang Perlu Terus Didukung

Melihat antusiasme masyarakat dan besarnya manfaat kesehatan, sudah selayaknya pemerintah daerah, pelaku kuliner, dan masyarakat sendiri terus mendukung keberlanjutan pangan lokal ini. 

Mulai dari edukasi gizi di sekolah, promosi kuliner tradisional, hingga mendukung petani jagung dan penanam kelor agar terus berkembang.

Dalam era yang serba cepat ini, menjaga makanan tradisional bukan berarti menolak modernitas. 

Justru melalui pangan lokal, kita belajar bahwa kearifan nenek moyang seringkali menyimpan solusi sederhana untuk kesehatan dan ketahanan pangan masa kini.

Penutup

Nasi jagung dengan sayur kelor bukan hanya sekadar menu jadul yang bertahan di tengah perubahan zaman. 

Ia adalah bagian dari identitas Sumenep, paduan cita rasa, kesederhanaan, dan manfaat kesehatan yang nyata. 

Ketika masyarakat masih setia menikmatinya dan para ahli kesehatan mendukungnya, maka jelas: makanan lokal punya masa depan cerah, selama kita mau merawat dan menghargainya. [sh]

Minggu, 07 Desember 2025

Tembang Macopat Madura Lesbumi Pasongsongan Tetap Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

Lesbumi mwc nu Pasongsongan
Perkumpulan. Macopat Lesbumi Pasongsongan. [sh]

SUMENEP — Lantunan tembang-tembang Macopat Madura mengalun merdu dari kediaman Sucipto, warga Dusun Sempong Timur, Desa sekaligus Kecamatan Pasongsongan, pada sebuah malam penuh kekhidmatan. 

Nada-nada tradisi yang sarat petuah itu dibawakan oleh Perkumpulan Macopat Lesbumi Pasongsongan, satu-satunya kelompok kesenian macopat yang masih bertahan di wilayah Kecamatan Pasongsongan.

Di tengah maraknya hiburan modern, keberadaan kelompok tradisional ini jadi oase budaya yang berusaha menjaga warisan leluhur agar tidak terlupakan. 

Para anggota berkumpul dengan penuh kekompakan, melantunkan bait-bait macopat dengan syahdu, menghadirkan suasana yang membawa pendengar pada kehangatan tradisi Madura tempo dulu.

Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan, Akhmad Jasimul Akhyak, S.Pd., menegaskan bahwa keberadaan kelompok macopat ini sangat penting bagi pelestarian kesenian lokal yang kian tergerus zaman.

Macopat Lesbumi Pasongsongan

“Perkumpulan Macopat Lesbumi Pasongsongan ini adalah satu-satunya kelompok macopat yang masih bertahan di Kecamatan Pasongsongan. Kami terus berupaya menjaga, merawat, dan mengenalkan kembali kesenian ini kepada masyarakat, terutama generasi muda,” ujar Akhyak saat ditemui di lokasi kegiatan.

Menurutnya, macopat bukan sekadar tembang tradisional, tapi juga sarana pendidikan moral, spiritual, dan sosial yang telah lama jadi bagian dari kehidupan masyarakat Madura. 

Karena itu, Lesbumi Pasongsongan berkomitmen untuk terus tampil dalam berbagai kegiatan budaya maupun keagamaan.

Kehangatan yang tercipta di kediaman Sucipto malam itu jadi bukti bahwa tradisi tidak pernah benar-benar mati selama masih ada yang merawatnya. 

Perkumpulan Macopat Lesbumi Pasongsongan pun berharap dukungan dari masyarakat dan berbagai pihak agar kesenian ini tetap hidup dan berkembang di bumi Pasongsongan. [sh]

Sabtu, 06 Desember 2025

Perubahan Pola Tanam dan Pola Kerja di Pasongsongan: Sebuah Cerminan Transformasi Sosial Pedesaan

petani pasongsongan mandiri

Perubahan perilaku pertanian masyarakat di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, menjadi fenomena menarik untuk dicermati.

Jika dulu mayoritas petani yang memiliki lahan tegalan di wilayah ini menanam jagung setiap datangnya musim hujan, kini banyak diantara mereka beralih menanam padi.

Pergeseran ini bukan sekadar tren singkat semata, tapi merupakan gambaran tentang cara berpikir baru, strategi bertahan hidup, sekaligus bentuk adaptasi terhadap tantangan zaman.

Tegalan yang Disulap Menjadi Lahan Padi

Sebagian besar lahan pertanian di sisi utara Kecamatan Pasongsongan sesungguhnya merupakan tegalan, bukan sawah irigasi.

Secara alamiah, tegalan tidak dirancang untuk persawahan karena minim suplai air. Tapi, masyarakat mampu memanfaatkan teknologi sederhana—sumur bor—untuk mengatasi keterbatasan tersebut.

Ketika hujan tak kunjung turun, sumur bor jadi penyelamat. Air dipompa dan dialirkan ke lahan padi sehingga tanaman tetap tumbuh optimal.

Langkah ini mencerminkan kecerdasan kolektif petani dalam mengelola sumber daya yang ada.

Mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada cuaca, tapi mencoba “mengendalikan” lingkungan agar tetap produktif.

Inilah bentuk kemandirian pertanian yang sangat relevan dengan semangat swasembada pangan.

Swasembada Pangan dan Kearifan Lokal

Gerakan swasembada pangan tidak hanya dicanangkan oleh pemerintah pusat, tapi juga lahir dari kesadaran masyarakat akar rumput.

Ketika kebutuhan beras terus meningkat, masyarakat Pasongsongan memilih berkontribusi langsung dengan menanam padi.

Ini bukan saja keputusan ekonomi, tetapi juga keputusan sosial dan nasional—bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari desa.

Selain itu, pola pikir masyarakat yang mulai berpindah dari jagung ke padi menunjukkan kemampuan mereka membaca peluang pasar.

Harga padi lebih stabil dibanding jagung, sementara kebutuhan beras bersifat fundamental.

Para petani memahami bahwa bertani padi bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan keluarga, tapi juga peluang meningkatkan pendapatan.

Fenomena Merantau dan Berkurangnya Tenaga Petani Muda

Di sisi lain, perubahan pola tanam ini juga berkaitan erat dengan perubahan sosial yang lebih luas.

Banyak pemuda dari Pasongsongan kini memilih merantau ke berbagai kota di Indonesia. Mereka bekerja sebagai penjaga toko sembako atau toko kelontong dan banyak yang berhasil mencapai kehidupan yang lebih mapan.

Fenomena ini mencerminkan pandangan baru: Menjadi petani bukan lagi dianggap sebagai jaminan kemakmuran.

Ditambah lagi lapangan kerja di desa terbatas, sehingga merantau jadi pilihan rasional.

Namun, akibatnya jumlah tenaga petani di kampung semakin berkurang. Para orang tua masih bertani, sementara generasi mudanya mulai meninggalkan sektor pangan yang sebenarnya sangat strategis.

Perhatian bagi Pemangku Kebijakan

Situasi ini seharusnya jadi perhatian serius para pemangku kebijakan di Kabupaten Sumenep.

Transformasi pola kerja dan pola tanam masyarakat tidak boleh hanya dipandang sebagai perubahan alamiah, tapi harus dibaca sebagai sinyal penting:

  • bahwa petani butuh dukungan irigasi yang lebih baik,
  • bahwa teknologi pertanian perlu dipermudah aksesnya,
  • bahwa generasi muda memerlukan alasan untuk kembali melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan.

Pemerintah daerah perlu hadir dengan program pemberdayaan, insentif bagi petani, pelatihan budidaya modern, dan kebijakan yang mampu menarik minat pemuda agar tidak seluruhnya meninggalkan dunia pertanian.

Pola Tanam

Perubahan pola tanam dari jagung ke padi di Pasongsongan bukan sekadar perpindahan komoditas.

Ia adalah cermin ketangguhan petani, kecerdikan dalam membaca peluang, dan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi sosial ekonomi.

Namun, di balik itu terdapat tantangan besar: berkurangnya tenaga petani muda dan semakin meningkatnya kebutuhan pangan.

Karena itu, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan generasi muda jadi kunci agar Pasongsongan tidak hanya mampu bertahan, tapi juga berkembang sebagai desa yang kuat secara ekonomi dan mandiri secara pangan.[sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...