Selasa, 30 September 2025

Dari Laut ke Darat: Juragan Perahu Pasongsongan Beralih ke Bisnis Toko Kelontong

Suriyanto Hasyim

Pasongsogan termasuk wilayah Kabupaten Sumenep yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pamekasan. 

Pasongsongan sejak lama dikenal sebagai kampung nelayan dengan perahu-perahu tradisional yang berjajar di pesisir. 

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, saya mengamati pemandangan sosial-ekonomi masyarakat di desa sekaligus kecamatan ini mulai berubah. 

Terdengar kalimat di telinga saya: "Tak mungkin kami bertahan. Tuntutan hidup memaksa kami untuk berontak."

Juragan perahu yang dahulu jadi poros utama kehidupan laut, kini banyak yang mengalihkan usahanya ke darat, yakni membuka toko kelontong atau toko sembako.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Musim angin barat selalu jadi masa suram bagi para nelayan Pasongsongan. 

Banyak perahu tidak melaut, para nelayan pun terpaksa beristirahat panjang. 

Sementara kebutuhan hidup sehari-hari terus berjalan. 

Mereka yang memiliki simpanan bisa bertahan, tapi bagi yang tidak, jalan pintas harus diambil. Biasanya berutang. 

Celakanya, utang itu kerap jatuh ke tangan rentenir dengan bunga mencekik.

Cakrawala Baru

Pengalaman pahit inilah yang membuka kesadaran baru, baik bagi nelayan maupun juragan perahu. 

Bahwa kehidupan yang hanya bergantung pada hasil laut tidak selamanya menjanjikan. 

Ada risiko besar yang tidak bisa mereka kendalikan, yakni cuaca dan musim. 

Dari situlah muncul keberanian untuk beralih profesi: meninggalkan laut, mengadu nasib dengan berdagang kelontong.

Perspektif

Pandangan mereka sederhana tapi logis: Berbisnis toko kelontong berarti bisa memegang uang setiap hari. 

Berbeda dengan melaut yang hasilnya tidak menentu, kadang melimpah, namun acapkali nihil. 

Sementara kalau berdagang sembako, aliran uang lebih pasti, kendati mungkin tidak sebesar hasil tangkapan ikan di musim baik.

Perubahan ini sejatinya adalah cermin ketahanan masyarakat Pasongsongan. 

Mereka berani mengambil keputusan berat: Merantau, meninggalkan kampung halaman, dan mencari kehidupan yang lebih stabil. 

Bukan sekadar tentang meninggalkan laut, melainkan tentang merumuskan kembali makna kesejahteraan bagi keluarga.

Kini, toko kelontong jadi simbol perlawanan terhadap ketidakpastian. 

Hal itu adalah bentuk kemandirian baru yang tumbuh dari pengalaman pahit. 

Juragan perahu dan nelayan Pasongsongan seakan memberi pesan: Kadang, meninggalkan tradisi bukan berarti melupakan identitas, melainkan cara bertahan agar hidup lebih baik.[]

Senin, 29 September 2025

SDN Padangdangan 2 Gelar Upacara Bendera Rutin, Tekankan Pentingnya Disiplin

Sdn Padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Upacara bendera SDN Padangdangan 2. [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan menggelar upacara bendera rutin sebagai bagian dari kegiatan pembiasaan positif bagi para siswa. Senin (29/9/2025). 

Pada kesempatan tersebut, Imanis Zulfa, salah seorang guru kelas yang bertindak sebagai pembina upacara, menyampaikan pentingnya upacara bendera sebagai sarana menanamkan kedisiplinan.

Sdn Padangdangan 2

“Upacara bendera bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, melainkan juga pembiasaan diri untuk disiplin dalam banyak hal. Salah satu manfaat disiplin diri bagi pelajar meliputi pembentukan karakter positif seperti pengendalian diri, kemandirian, dan tanggung jawab, yang semuanya penting untuk kesuksesan kita di masa depan,” ujar Imanis Zulfa dalam amanatnya.

Kegiatan ini diikuti seluruh guru dan siswa dengan penuh khidmat. 

Pihak sekolah berharap, melalui upacara bendera, nilai-nilai nasionalisme dan karakter positif terus tumbuh di kalangan pelajar sejak dini. [sh]

Festival Sapparan Budaya ke-4 Lesbumi PCNU Sumenep Meriah di Tastaman

Lesbumi mwc nu kecamatan Gapura
Akhmad Jasimul Ahyak (kanan).[Foto: sh]

SUMENEP – Acara puncak Festival Sapparan Budaya ke-4 berlangsung meriah di Tastaman, Kecamatan Gapura. Sabtu (27/9/2025). 

Kegiatan tahunan yang digelar Lesbumi PCNU Sumenep ini dihadiri oleh seluruh ketua Lesbumi MWC NU se-Kabupaten Sumenep, termasuk Akhmad Jasimul Ahyak, Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan, beserta sekretarisnya. 

"Beragam pertunjukan seni ditampilkan dalam festival tersebut," jelas Jasimul ketika dihubungi via sambungan telepon. 

Jasimul mengungkapkan, bahwa dirinya sangat tertarik dengan pementasan teater berjudul "Makan Makam" .

"Pertunjukan teater tersebut berhasil memikat perhatian penonton dengan alur cerita yang kuat dan simbolis," tambahnya. 

Selain itu, ada pula musikalisasi puisi “Jan Anjin” yang diiringi dengan alat musik tradisional lesung, menghadirkan suasana khas budaya lokal Madura.

Tak kalah menarik, penayangan film pendek karya Sanggar Tastaman berjudul "Elegi Tanpa Batin" turut memperkaya ragam pertunjukan dalam acara ini.

Jasimul menambahkan bahwa Festival Sapparan Budaya sendiri menjadi wadah bagi seniman, budayawan, dan masyarakat untuk merawat serta mengembangkan nilai-nilai tradisi sekaligus memperkuat identitas kebudayaan lokal. [sh]

Minggu, 28 September 2025

Festival Sapparan Budaya ke-4 Lesbumi PCNU Sumenep Berlangsung Meriah

Lesbumi pcnu Sumenep
Pentas teater Makan Malam. [Fot: sh]

SUMENEP – Acara puncak Festival Sapparan Budaya ke-4 digelar di Tastaman, Kecamatan Gapura, Sabtu malam (27/9/2025). 

Festival tahunan yang diinisiasi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Sumenep ini dihadiri oleh seluruh ketua Lesbumi MWC NU se-Kabupaten Sumenep.

Mwc nu gapura

Beragam pertunjukan seni ditampilkan, mulai dari pementasan teater hingga musikalisasi puisi berjudul Jan Anjin yang dibawakan dengan alat musik tradisional berupa lesung. 

Suasana kian semarak dengan penayangan film pendek karya Sanggar Tastaman berjudul Elegi tanpa Batin, yang mendapat apresiasi hangat dari para penonton.

Lesbumi mwc nu

Festival Sapparan Budaya ini jadi ruang ekspresi sekaligus ajang pelestarian seni tradisi lokal. 

Lesbumi PCNU Sumenep menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan wadah yang memperkuat identitas kebudayaan Madura melalui kegiatan tahunan tersebut. [sh]

K Dardiri Zubairi Sampaikan Orasi Kebudayaan di Festival Sapparan Budaya

Lesbumi pcnu Sumenep
K Dardiri Zubairi. [Foto: sh]

SUMENEP  -  K Dardiri Zubairi, Wakil Ketua PCNU Sumenep dan pengasuh Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin, Gapura Timur, Kecamatan Gapura. Sabtu malam (27/9/2025). 

Beliau menyampaikan orasi kebudayaan pada acara puncak Festival Sapparan Budaya ke-4 di Tastaman, Gapura. 

Dalam orasinya, ia membahas tentang "Nyi' konyi' gunung", sebuah spirit moralitas manusia Madura yang berarti apa adanya.

Menurut K Dardiri, budaya "Nyi' konyi' gunung" merupakan identitas orang Madura yang memiliki sifat apa adanya dan tidak suka berpura-pura. 

Orasi kebudayaan ini jadi salah satu highlight acara yang dihadiri oleh semua ketua Lesbumi MWC NU kecamatan. 

Festival Sapparan Budaya ke-4 yang diselenggarakan Lesbumi PCNU Sumenep ini merupakan acara tahunan yang bertujuan untuk melestarikan budaya Madura dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya lokal. 

Acara ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang budaya Madura. [sh]

PB Elang Waru Jalin Persahabatan dengan PB Indoras Sumenep

Pb elang waru pamekasan
Club PB Elang (kiri) dan Club PB Indoras. [Foto: sh]

PAMEKASAN – Persahabatan bulutangkis antara Club PB Elang Waru, Kabupaten Pamekasan dengan Club PB Indoras, Kota Sumenep berlangsung penuh keakraban dan suasana kekeluargaan. Ahad (28/9/2025). 

Pertemuan dua klub ini jadi ajang silaturahmi sekaligus latihan bersama bagi para atlet muda yang rata-rata berusia Sekolah Dasar. 

Pelatih PB Elang Waru, Agus Setiawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun mental anak didiknya melalui olahraga. 

“Persahabatan bulutangkis bertujuan untuk mempererat kebersamaan, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta mengembangkan keterampilan dan pengalaman dalam olahraga melalui interaksi sosial yang menyenangkan,” ungkap Agus Setiawan yang pernah jadi pelatih bulutangkis profesional di Jakarta.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan antar-klub, tapi juga jadi wadah positif bagi generasi muda untuk berkembang dalam dunia bulutangkis. 

Ada tambahan sedikit, persahbatan kedua klub itu berlangsung di PB Elang Waru. [sh]

Parkir di Eks-Kewedanan Waru Dikelola Takmir Masjid Jami’ Nurul Huda

Eks-kewedanan waru pamekasan
Petugas parkir sedang merapikan kendaraan. [Foto: sh]

PAMEKASAN — Lahan parkir di lokasi eks-Kewedanan Waru, Kabupaten Pamekasan, kini dikelola oleh takmir Masjid Jami’ Nurul Huda. Ahad (28/9/2025) 

Hasil dari retribusi parkir tersebut sepenuhnya dimanfaatkan untuk perawatan sarana dan prasarana masjid.

“Dari sejak awal pemanfaatan, uang parkir ini untuk perawatan bangunan masjid,” ujar Etto, salah seorang penjaga parkir yang dipercaya oleh pengurus takmir. 

Pengelolaan parkir tersebut telah mendapatkan rekomendasi resmi dari Camat Waru. 

Para pengguna kendaraan yang memarkir di lokasi ini dikenakan tarif sebesar Rp 3.000. 

Selain membantu keberlangsungan perawatan masjid, pengelola juga menjamin keamanan kendaraan yang diparkir. [sh]

Jumat, 26 September 2025

Hari Tani Nasional: Saatnya Pemerintah Serius Sejahterakan Petani

Hari Tani Nasional 2025

Hari Tani Nasional jatuh pada Rabu, 24 September 2025, menandai peringatan ke-62 sejak ditetapkannya hari tersebut. 

Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk merenungkan kembali nasib petani yang jadi tulang punggung ketahanan pangan negeri.

Tapi faktanya di lapangan justru menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. 

Bagaimana mungkin pemuda desa saat ini bisa tertarik menggeluti dunia pertanian, sementara banyak pekerjaan lain yang dianggap lebih cepat mendatangkan keuntungan? 

Jadi petani seringkali berarti harus siap menanggung kerugian. 

Biaya produksi terus meningkat, sementara hasil panen kerap tak sebanding.

Contoh paling nyata adalah persoalan pupuk. Pupuk bersubsidi yang seharusnya meringankan beban petani justru langka di pasaran. 

Alhasil, harga melambung tinggi dan menambah beban ongkos produksi. 

Situasi ini membuat bercocok tanam terasa seperti berjudi dengan nasib—antara rugi dan rugi lebih besar.

Pada Hari Tani Nasional ke-62 ini, sudah seharusnya pemerintah menaruh perhatian serius pada kesejahteraan petani. 

Tidak cukup hanya dengan program bantuan sesaat, tapi dengan kebijakan jangka panjang yang berpihak pada mereka. 

Lantaran tanpa petani yang sejahtera, sulit membayangkan masa depan pangan Indonesia tetap terjaga. [sh]

Hari Tani Nasional: Kesejahteraan Petani yang Masih Terabaikan

Hari Tani Nasional 2025

Hari Tani Nasional pada Rabu, 24 September 2025, menandai peringatan ke-62 sejak ditetapkannya hari bersejarah tersebut. 

Momentum ini tidak hanya mengenang lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 24 September 1960, tapi juga seharusnya jadi refleksi nyata atas kondisi petani Indonesia. 

Pada peringatan kali ini, sejatinya pemerintah dituntut memberi perhatian khusus terhadap kesejahteraan petani. 

Bagaimana mungkin pemuda desa mau menekuni dunia pertanian, jika fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat tani justru merugi? 

Biaya produksi yang terus meningkat, harga pupuk dan sarana produksi yang tak terkendali, serta harga panen yang murah membuat hasil kerja keras petani tidak sebanding dengan pengorbanan mereka.

Kondisi ini membuat pertanian tidak lagi dipandang sebagai jalan hidup yang menjanjikan. 

Orientasi pemuda desa pun beralih, meninggalkan sawah dan ladang demi pekerjaan lain yang dianggap lebih menguntungkan. 

Jika dibiarkan, bukan hanya regenerasi petani yang terancam, tapi juga kedaulatan pangan bangsa.

Oleh karena itu, Hari Tani Nasional tidak boleh berhenti sebatas seremoni. 

Ia harus jadi titik balik bagi pemerintah untuk menata ulang kebijakan, menekan biaya produksi, menjamin harga yang layak, dan mengembalikan kebanggaan jadi petani. 

Tanpa itu semua, cita-cita swasembada dan ketahanan pangan hanyalah ilusi. [sh]

Hari Tani Nasional: Antara Sejarah dan Tantangan Regenerasi Petani

Hari tani Nasional

Hari Tani Nasional yang jatuh pada Rabu, 24 September 2025, menandai peringatan ke-62 sejak ditetapkannya hari tersebut. Peringatan ini lahir dari momentum historis Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) pada 24 September 1960 yang menjadi tonggak penting reformasi agraria di Indonesia.

Tapi, enam dekade lebih telah berlalu, persoalan yang dihadapi petani Indonesia masih belum jauh berbeda: Soal kesejahteraan yang belum terpenuhi, harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang mahal, hingga harga hasil pertanian yang murah membuat para petani merugi. 

Pada momen Hari Tani Nasional kali ini, sudah sejatinya pemerintah memberi perhatian khusus dalam meningkatkan taraf hidup petani, sebab mereka adalah tulang punggung ketahanan pangan bangsa.

Tantangan lain yang tak kalah serius adalah orientasi generasi muda desa yang kian enggan menekuni dunia pertanian. 

Banyak pemuda lebih memilih bekerja di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan, sehingga regenerasi petani terancam. 

Jika kondisi dibiarkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi krisis pangan di masa depan.

Oleh karena itu, Hari Tani Nasional tidak boleh hanya sebatas seremoni. 

Ia harus jadi momentum nyata untuk memperkuat kebijakan pro-petani dan menciptakan insentif agar pemuda desa kembali melihat pertanian sebagai masa depan menjanjikan. [sh]

Hari Tani Nasional: Mengingat Akar, Menatap Tantangan

Hari Tani Nasional 2025

Hari Tani Nasional yang diperingati pada Rabu, 24 September 2025, menandai 62 tahun lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960. 

Momen ini sejatinya bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi akan cita-cita reformasi agraria yang jadi tonggak penting perjalanan bangsa. 

UUPA lahir dengan memberikan ruang yang adil bagi petani sebagai penopang utama pangan negeri.

Tapi, enam dekade lebih berlalu, nasib petani masih dipenuhi paradoks. 

Mereka yang bekerja keras menanam padi, jagung, tembakau, hingga sayur mayur, justru sering kali hidup dalam penderitaan. 

Harga pupuk terus melambung, bahkan kerap langka di pasaran. 

Sementara itu, harga hasil panen justru jatuh, seakan petani tidak memiliki kuasa atas hasil keringatnya sendiri.

Hari Tani Nasional seharusnya jadi pengingat keras bagi para pemangku kebijakan. 

Kedaulatan pangan tidak akan pernah tercapai tanpa keberpihakan nyata kepada petani. 

Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak, bukan sekadar slogan. 

Petani membutuhkan kepastian—akses pupuk yang terjangkau, jaminan harga yang adil, dan perlindungan permainan pasar.

Bahwa petani bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menentukan masa depan bangsa. 

Menyejahterakan petani berarti menjaga keberlangsungan pangan Indonesia. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...