Senin, 18 Agustus 2025

Lomba Sermarak Kemerdekaan RI ke-80 Bidang Seni Kecamatan Pasongsongan

Hut ri
Kunti (kanan) bersama para panitia lomba bidang seni. [Foto: sh]
SUMENEP – Dalam rangka memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, panitia pelaksana lomba seni Kecamatan Pasongsongan menggelar berbagai lomba bagi siswa. Senin (18/8/2025). 

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Pasongsongan ini meliputi lomba baca puisi, lomba pidato bahasa Madura, serta lomba nyanyi solo.

Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA. 

Lomba Sermarak Kemerdekaan RI ke-80 Bidang Seni Kecamatan Pasongsongan

Suasana lomba berlangsung meriah dengan antusiasme siswa dan dukungan para guru pendamping.

Salah seorang panitia lomba, Kunti, menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan lomba kali ini panitia memberikan kesempatan tampil lebih dulu bagi lembaga pendidikan yang letaknya agak jauh dari pendopo kecamatan.

“Keputusan bijak ini diambil karena banyaknya peserta lomba yang mendaftar, sehingga memudahkan kegiatan lomba,” terang Kunti.

Dengan adanya lomba seni ini, diharapkan siswa tidak hanya menumbuhkan rasa cinta tanah air, tapi juga menyalurkan bakat dan kreativitasnya di bidang seni. [sh]

Minggu, 17 Agustus 2025

Semarak Lomba Seni Siswa Meriahkan HUT RI ke-80 di Pasongsongan

Lomba bidang seni di Pendopo Kecamatan Pasongsongan
Agus Sugianto (paling kiri) bersama para panitia lomba seni. [Foto: sh]

SUMENEP – Dalam rangka memeriahkan Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI ke-80, Kecamatan Pasongsongan menggelar berbagai lomba seni siswa yang berlangsung semarak. Senin (18/8/2025). 

Kegiatan ini meliputi lomba baca puisi, lomba pidato bahasa Madura, dan lomba nyanyi solo.

Rencananya, lomba tersebut digelar selama tiga hari.

Lomba seni hut ri kecamatan pasongsongan

Tapi, antusiasme peserta yang begitu tinggi membuat panitia menambah durasi pelaksanaan jadi empat hari.

“Karena jumlah peserta membludak, terpaksa kami tambah waktunya jadi 4 hari,” ungkap Agus Sugianto selaku koordinator panitia lomba seni. 

Seluruh rangkaian lomba seni siswa ini dipusatkan di Pendopo Kecamatan Pasongsongan. 

Suasana penuh semangat kebersamaan dan kreativitas tampak mewarnai jalannya acara, sekaligus menjadi bentuk nyata partisipasi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. [sh]

CERPEN: Bagai Pembantu di Rumah Sendiri

Cerita singkat debur dan tona

By: Suriyanto Hasyim

Debur, seorang suami yang penuh tanggung jawab. 

Setiap bulan, gajinya sebagai ASN ia serahkan semua kepada istrinya, Tona. 

Hanya beberapa lembar uang buat transportasi ke tempat kerja. 

Baginya, kebahagiaan keluarga adalah harga mati, dan Tona adalah pusat dari semua itu.

Tapi, belakangan ini Tona kerap murung. 

Rutinitas sehari-hari membuatnya merasa terjebak. 

Pagi-pagi ia harus menyiapkan sarapan, lalu mencuci dan membersihkan rumah. 

Siang menjemur pakaian, sore kembali ke dapur menyiapkan makan malam. 

Malamnya, ia harus kembali memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.

"Mas, aku merasa hidupku hanya di dapur, sumur, dan kasur. Aku tak ubahnya pembantu di rumah sendiri," keluh Tona. 

Debur terdiam, hatinya tercekat. 

Ia tak pernah membayangkan, pengorbanan dan rasa tanggung jawab yang ia jaga ternyata membuat istrinya merasa terikat. 

Dengan suara pelan ia berkata, "Tona, aku tak pernah menganggapmu seperti itu. Kau adalah separuh jiwaku. Jika kau merasa bosan, mari kita bicarakan. Aku ingin kau bahagia, bukan terkurung."

Air mata Tona jatuh. Ia sadar, mungkin bukan Debur yang salah, melainkan dirinya yang merasa bosan. 

Sejak malam itu, mereka sepakat membuka ruang lebih luas bagi Tona untuk beraktivitas: mengikuti kursus, bergabung dengan komunitas perempuan, bahkan mencoba usaha kecil-kecilan.

Rumah tangga mereka pun kembali hangat. 

Tona mulai menemukan arti dirinya lebih dari sekadar rutinitas.[]

CERPEN: Berkubang di Lumpur Kemarau

Cerpen apoyMadura

By: Suriyanto Hasyim

Debur adalah seorang suami yang penuh tanggung jawab. 

Sejak awal menikah, ia berjanji pada dirinya, bahwa nafkah keluarganya harus terpenuhi dari hasil keringatnya. 

Setiap bulan, begitu gaji ASN-nya cair, Debur menyerahkan semuanya kepada istrinya, Tona. 

Hanya selembar uang bensin yang ia sisakan di dompet, sekadar untuk ongkosnya berangkat dan pulang kerja.

Tona sering terharu melihat kesungguhan suaminya. 

Tapi belakangan ini, kegelisahan tak bisa ia sembunyikan. 

Penyebabnya; anak sulung mereka diterima di perguruan tinggi, anak kedua bersiap masuk SMA, dan anak ketiga sudah waktunya masuk SMP. 

Biaya yang menunggu terasa bagai gunung yang menjulang.

Malam itu, di ruang tamu sederhana, Tona menunduk sambil menahan air mata. 

Debur duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya dengan hangat.

“Jangan khawatir, Ton,” ucap Debur pelan. “Selama aku masih bisa bekerja, Insya Allah anak-anak akan sekolah. Kita jalani pelan-pelan, rezeki akan datang dengan jalannya.”

Tona mengangguk, walau dadanya masih sesak. 

Baginya, Debur bukan hanya suami, melainkan sandaran hidup. 

Ia yakin, dengan kerja keras dan doa, badai kebutuhan besar itu bisa mereka atasi bersama. []

SMA Annidhamiyah Kelas X Raih Juara 3 Lomba Menghias Kelas Semarak HUT RI ke-80

Pondok Pesantren Annidhamiyah kabupaten Pamekasan
Paling kiri: Fatillah Alfi Maghfirah. [Foto: sh]

PAMEKASAN – Dalam rangka memeriahkan Semarak Lomba Dirgahayu Republik Indonesia ke-80, Lembaga Pendidikan Islam Annidhamiyah menggelar berbagai lomba, salah satunya lomba menghias kelas. Ahad (17/8/2025). 

Kelas X SMA Annidhamiyah berhasil meraih juara 3 dalam ajang tersebut. 

Ketua kelas X, Fatillah Alfi Maghfirah, menyampaikan rasa syukurnya meski hanya membawa pulang juara 3. 

“Kami merasa puas walau meraih juara 3. Kerjasama tim merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menjadi bahan evaluasi yang mahal harganya,” ungkap Fatillah.

Sebagai informasi, Lembaga Pendidikan Islam Annidhamiyah berada di Dusun Jeppon, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan. 

Lembaga ini menaungi jenjang pendidikan mulai dari RA, MI, SMP, hingga SMA, serta merupakan bagian dari Pondok Pesantren Annidhamiyah. [sh]

Sabtu, 16 Agustus 2025

Lomba Penjelajahan Pramuka Meriahkan HUT RI ke-80 di Pasongsongan

Pramuka kecamatan 8
Panitia pelaksana lomba Pramuka. [Foto: sh]

SUMENEP – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, panitia pelaksana lomba Kemerdekaan RI Kecamatan Pasongsongan menggelar kegiatan lomba penjelajahan Pramuka. Kamis (14/8/2025). 

Kegiatan yang berpusat di SMPN 1 Pasongsongan itu diikuti dengan penuh antusias oleh peserta dari kalangan pelajar tingkat SD/MI. 

Kendati cuaca cukup panas, semangat peserta tidak surut sedikit pun.

Hut kemerdekaan RI Ke 80
Salah satu peserta penjelajahan dari SDN Panaongan 3 Pasongsongan. [Foto: sh]

Agus Sugianto, selaku Sekretaris Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Pasongsongan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar perlombaan, tapi juga jadi wadah bagi generasi muda untuk produktif dan berkolaborasi.

“Lomba penjelajahan Pramuka merupakan salah satu sarana bagi peserta untuk mengasah keterampilan, melatih kerja sama tim, serta meningkatkan jiwa nasionalisme,” ungkapnya.

Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara HUT RI di Pasongsongan yang diharapkan mampu memperkuat semangat kebersamaan dan cinta tanah air di kalangan generasi muda. [sh]


Jumat, 15 Agustus 2025

CERPEN: Hubungan Terlarang

Cerita singkat apoyMadura.

By: Suriyanto Hasyim

Debur berdiri terpaku di depan cermin kamar mandi, wajahnya pucat diterpa cahaya lampu yang redup. 

Air masih menetes dari rambutnya, membasahi lantai. 

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Tona—mertuanya—masuk dengan langkah tergesa, wajahnya tampak kalut.

“Debur…” suara Tona bergetar, entah karena sedih, entah karena dorongan emosi yang tak mampu ia bendung.

Sebelum sempat berkata-kata, Tona memeluknya erat. 

Pelukan itu bukan sekadar pelukan ibu mertua pada menantunya; ada rasa sepi, ada luka lama yang meledak. 

Debur kaget, tubuhnya kaku.

“Ibu… jangan begini,” bisik Debur, tapi suaranya terdengar lemah. 

Ia tahu ini salah, tapi ada kerinduan manusiawi yang tiba-tiba membelenggunya.

Malam itu, batasan hancur. Mereka larut dalam bisu dan dosa.

Tapi, setelah semuanya terjadi, sunyi lebih mencekam daripada apa pun. 

Tona terduduk di lantai, menutup wajah dengan kedua tangannya. 

“Astaghfirullah… apa yang kita lakukan, Bur?” suaranya pecah.

Debur hanya bisa menatapnya dengan mata kosong. 

Di benaknya, wajah istrinya—anak Tona—muncul bergantian dengan bayangan yang baru saja terjadi. 

Jiwanya terkoyak tak bertepi. 

Hari-hari berikutnya, tiap kali bertemu, Debur dan Tona saling menghindar, tapi tatapan keduanya menyimpan rahasia gelap.[]

Kamis, 14 Agustus 2025

CERPEN: Sungai Air Mata Sepasang Kekasih

Ceroen suriyanto Hasyim

By: Suriyanto Hasyim

Di masa kuliah, Tona dan Debur tak terpisahkan. 

Mereka sering jadi tim dalam berbagai kegiatan kampus, dari lomba debat, organisasi kemahasiswaan, hingga proyek sosial. 

Kebersamaan itu membuat Debur yakin, suatu hari ia akan melamar Tona.

Akan tetapi, semua berubah tatkala Debur tanpa sengaja mengetahui siapa sebenarnya Tona. 

Di balik sikapnya yang sederhana, Tona adalah anak dari keluarga berpengaruh dan berharta, pemilik perusahaan besar.

Berhari-hari Debur memikirkan itu. 

Ia merasa kecil, minder, dan tak pantas. 

Rencana lamaran yang sudah ia susun rapi perlahan ia lipat dan simpan di laci pikirannya. 

Sedangkan Tona menunggu kabar yang tak kunjung datang.

Debur memilih diam, takut melangkah ke dunia yang terasa terlalu tinggi baginya.

Dulu dua sahabat berdiri sejajar, kini jarak tak terlihat mulai membentang, bukan karena Tona berubah, tapi karena Debur mundur. [sh]

CERPEN: Malam Duka dan Tangan Kosong

Cerpen suriyanto Hasyim

By: Suriyanto Hasyim

Debur duduk diam di kursi bus, menatap jendela yang dipenuhi bayangan lampu jalan. 

Di sampingnya, ibunya menahan air mata. 

Sejak kabar ayahnya dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi,  hidup mereka kelam. 

Rumah megah, mobil, tabungan di bank, bahkan uang dan perhiasan yang disembunyikan di ruang bawah tanah, semuanya disita negara.

Bus malam yang mereka tumpangi memasuki jalan sempit menuju kampung halaman. 

Tak ada koper besar, tak ada kotak kardus - hanya tas lusuh berisi pakaian seadanya. 

Begitu turun di depan gang kecil, angin malam menyapa dengan dingin yang menusuk tulang.

Lampu-lampu rumah tetangga sudah padam. 

Suara jangkrik bersahutan di kegelapan. 

Debur menggenggam tangan ibunya erat-erat, berjalan pelan di jalan tanah yang kering. 

Mereka pulang, tapi bukan sebagai keluarga yang dulu dikenal kaya, melainkan sebagai orang asing yang kembali membawa cerita pahit.

Di ujung gang, rumah kayu tua peninggalan kakeknya berdiri sendirian. 

Tanpa hiasan, tanpa kemewahan. Hanya atap bocor dan pintu berderit yang menyambut. []

CERPEN: Kemelaratan yang Tak Pernah Lulus Seleksi

Pppk

By: Suriyanto Hasyim

Debur sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar sebagai guru honorer. 

Pagi, siang, bahkan malam ia habiskan untuk mempersiapkan materi, membimbing murid, dan menghadiri rapat sekolah. 

Tidak ada gaji yang layak, hanya honor seadanya. 

Tapi Debur tetap bertahan, percaya bahwa pengabdian akan dibalas oleh negara.

Kenyataan berbicara lain. 

Ketika seleksi PPPK datang, Debur kembali gagal. 

Bukan sekali, tapi berkali-kali. 

Pemerintah, seolah buta, tak melihat keriput di wajahnya yang lahir dari lelah mendidik anak bangsa.

Ironisnya, Tona, guru honorer baru empat tahun, lulus seleksi PPPK. 

Bagi Debur, itu seperti pil pahit yang harus ditelan sambil menahan air mata. 

Bukan karena iri, tapi karena keadilan yang diimpikannya selama ini ternyata hanyalah cerita di atas kertas.

Di meja belajarnya yang reyot, Debur menatap tumpukan buku dan catatan muridnya. 

“Jika pengabdian tak dihargai, untuk apa kata ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ dipertahankan?” gumamnya. []

CERPEN: Cinta yang Tak Ternilai

Cerpen suriyanto Hasyim

By: Suriyanto Hasyim

Tona dikenal cantik, cerdas, dan memesona. 

Cinta yang Tak Ternilai

Tapi, hati Tona seolah tak tersentuh oleh semua kemewahan itu.

Di tengah persaingan sengit itu, hadir Debur; seorang pria sederhana yang hidup pas-pasan. 

Ia tak punya harta, tak punya jabatan, hanya punya keberanian dan ketulusan. 

Debur tak pernah membanjiri Tona dengan hadiah, tapi selalu hadir ketika Tona butuh sandaran. 

Ia mendengar, memahami, dan menghargai Tona bukan sebagai “hadiah” yang harus dimenangkan, melainkan sebagai jiwa yang layak dicintai.

Lama-lama, Tona merasakan sesuatu yang berbeda. 

Keberadaan Debur membuatnya merasa aman, dicintai, dan dihargai apa adanya. 

Pada akhirnya, di tengah hiruk pikuk pria-pria kaya yang berlomba memikatnya, Tona memilih Debur—pria sederhana yang berhasil menundukkan hatinya dengan ketulusan yang tak ternilai. []

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...