Sabtu, 19 November 2022

Cara Saya Mengolah Daun Kelor untuk Konsumsi Sehari-hari

Opini: Yant Kaiy

Dari kecil hingga kini, urusan makanan bagi istri saya dianggap biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Tidak pernah ia mengidolakan makanan mahal, lezat, dan berkelas. Yang penting, sehat plus mengenyangkan perut. Itu saja.

Walau hidup istri saya sudah layak, tapi gaya hidupnya tak berubah. Selalu sederhana. Ajaran kedua orang tuanya; pengaruh sosial lingkungan tempat ia lahir dan tumbuh besar, yakni Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, mengisyaratkan supaya nafsu makan jangan diumbar. 

Filosofi usang orang Sumenep yang masih relevan hingga detik ini mengatakan: "Odi' benni kaangguy ngakan, tape ngakan kaangguy odi'." (Bahasa Madura) = Hidup manusia bukan hanya untuk makan, akan tetapi makan untuk hidup manusia di dunia. 

Rupanya filosofi tersebut sekarang berkarat. Lapuk. Alasan demi kemakmuran semua jadi kebablasan. Makan pun berlebihan. Rakus. Takut dirinya tidak kebagian. Segala cara dilakukan. 

Tapi, pada Jumat istri saya membuat menu makanan sesuai keinginan selera. Entah itu rawon, sate Madura, gulai kambing, kadang juga masak nasi pecel. 

Sebagian olahan makanan itu diberikan pada tetangga rumah. Tradisi Arabba, berbagi atau bersedekah makanan pada orang lain yang pahalanya diberikan pada keluarga atau untuk kedua orang tua.

Ada sesuatu tidak pernah ketinggalan. Setiap hari pasti ada di meja makan. Tidak bosan di lidah. Istri saya senantiasa memasaknya. Apa itu? Sayur daun kelor. Saban hari ada. 

Bumbunya hanya bawang putih, kunci, dan garam secukupnya. Tapi selera makan kami tak pernah padam. Selera udik! Hehehe... []

©Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com




Kamis, 17 November 2022

Makelar Kasus

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq
(Penasehat Hukum Fauzi As)

DOSA penjahat _cyber_ yang paling dahsyat adalah fitnah berbalut jurnalisme dengan _framing_ jahat dan menyerang kehormatan. 

Celakanya, tampak seolah-olah benar meski nyatanya sesat-menyesatkan, _hoax_ dan bohong.

Korban kejahatan ini salah satunya adalah Fauzi As, aktifis-pengusaha dan _public figure_ di Sumenep, yang memilih diam dan bertahan karena lawannya tak "berkelas."

Reputasi Fauzi di- _downgrade_ sedemikian rupa oleh beberapa pihak yang saling berkolaborasi untuk "menghajar" Fauzi.

Dari Sunanto (Kepala Desa Buddi Arjasa Sumenep), H. Syafiuddin alias H. Piu, (Panitera Pengganti di salah satu Pengadilan yang sekaligus berprofesi di LSM ) sampai oknum Polisi yang potensial diberi sanksi PTDH karena "Samboistik."

Serangan kolaboratif diluncurkan melalui portal berita berikut:

1. Jurnalsekilas.com
2. ForumNusantaraNews.com
3. Persbayangkara.com
4. Chibernews.co.id
5. eljabar.com

_Framing_ jahatnya menekankan seolah-olah Fauzi Makelar Kasus. Cara yang dilakukan, membuat Laporan Polisi lalu dijadikan amunisi menyerang lewat dunia _cyber._

Peristiwanya: tak ada angin tak ada hujan. Sunanto, diantar wartawan dari salah satu perusahaan media nasional, meminta bantuan Fauzi agar dicarikan _lawyer._

Fauzi tawarkan Advokat Kurniadi. Sunanto sepakat, akhirnya bersama temui Kurniadi, terjadi akad, honor ratusan juta. Lalu tanda tangan Surat Kuasa.

Sunanto TF dan bayar _cash_ honor melalui Fauzi, meminta agar Fauzi memberikan pada Kurniadi. Honor diberikan, utuh.

Kurniadi bekerja, dengan cepat dan proporsional untuk memenuhi harapan klien. Akhirnya, masalah klien yang paling mendesak dan paling dikeluhkan, teratasi. 

Ketika Kurniadi lagi _onfire_ bekerja, tiba-tiba, Sunanto mau cabut kuasa. Mendesak Fauzi meminta uang kembali. Aneh, ada yang tak beres. Sempat curiga, karena istri H. Piu juga pengacara. Sementara yang bekerja menagih duit, H. Piu. Salah satu alasan H. Piu karena Sunanto minta tolong dan Sunanto ponaannya.

Belakangan, ada rumor, salah satu pengacara lawan Fauzi adalah istri H. Piu. Itu perlu dikonfirmasi langsung ke H. Piu, saya dapat rumor hanya lewat screenshoot WA kawan ke H. Piu langsung.

Fauzi tak respek, karena Sunanto tak pakek tatakrama. memposisikan Fauzi sebagai "tangga" dan "sapi perah". Diksi dan pilihan bahasa Sunanto terhadap Fauzi tidak sopan, Fauzi persilahkan Sunanto melapor polisi, jika merasa benar.

Sunanto minta bantu H. Syafiuddin alias H. Piu yang bersama-sama dengan orang lain mengaku Pengacara baru Sunanto temui Kurniadi. Padahal belum ada pencabutan kuasa.

Kurniadi _illfeel_, karena sudah bekerja dengan baik, malah minta honor kembali. Akhirnya, Kurniadi bertahan dan tak memberi info utuh. Karena ada yang aneh. Ibaratnya, Kurniadi sedang menggarap lahan, lalu garapannya dirampas. Tidak etis. Kata orang Madura, _ta' tao tengka._

Sunanto marah, lalu melapor polisi. Sebelum melanjutkan laporan, Sunanto koordinasi dengan salah satu Polisi "pemain", akhirnya lanjut dan keluar LP.

Atas dasar itu Fauzi dituduh makelar kasus. Tapi saya nilai, ngaur. Bagaimana bisa pihak yang membantu mencarikan pengacara dituduh makelar kasus.

Bagi saya, Fauzi itu makelar kasus kalau meminta bantuan orang agar perkaranya dihentikan. Itu baru makelar kasus. 

Supaya jelas siapa sebenarnya yang makelar, apakah Sunanto, H. Piu, oknum polisi atau Fauzi, sebaiknya kasus dibuktikan. 

Lewat kasus ini kita uji, apakah Fauzi ayam jantan atau ayam betina. Ayam tarung atau ayam potong. Kita bikin lebih terang, siapa sebenarnya makelar kasus.

Kita akan lihat, jika dilakukan upaya hukum, media-media yang mereka gunakan, yang rajin dishare oleh H. Syafiuddin, dapat bertahan atau tidak.

Rekan-rekan saya banyak yang menilai, profesi H. Syafiuddin sebagai  Panitera Pengganti seolah-olah hanya sampingan, profesi utamanya LSM. 

Cek aja google, buka media. Yang dikomplain pasti karena H. Syafiuddin "raja" bolos di Pengadilan, tapi serius di dunia LSM-nya. Berlagak aktifis. Orang begitu pasti terus di-profiling temen-temen jurnalis.

Terkait dengan dugaan "polisi pemain", terdapat beberapa data yang saya terima, termasuk _record_ testimoni dari beberapa korban. Lagi-lagi uang. Nanti kita laporkan secara etik dengan harapan keluar rekomendasi PTDH, supaya tobat nasuha.

Untuk profesi Panitera Pengganti, harus dilakukan upaya ke Bawas. Karena tindakannya menyebabkan terjadinya _conflic of interest_.

Meski absen kehadiran rapi, berdasarkan temuan wartawan, ia hanya suka absen pagi, sehabis itu pulang atau beralasan sakit. Absen sekadar nitip. Benar tidaknya, biar Bawas yang periksa.

Selanjutnya, mengenai portal berita, kita Surati dulu Sunanto, benar nggak tuduhan makelar kasus dan tuduhan penipuan berasal dari dirinya. Jika benar, dia telah menebar fitnah dan menyerang kehormatan Fauzi. Jika tidak, berarti  wartawannya ada yang men- _driving._ Allahu a'lam. (*) 

Minggu, 13 November 2022

Penyembuhan Penyakit Lewat Herbal

SITUBONDO, apoymadura.com -  Terhitung sepanjang 2022, penjualan ramuan Herbal Gondo Wangi, Herbal Gondo Kusumo, dan Herbal Gondo Netro terus mengalami peningkatan signifikan. Penjualan ramuan tersebut berdasar pada catatan yang ada di bagian admin penjualan Terapi Gondowangi Bondowoso.

Pendapatan terbesar ketiga ramuan berkhasiat nyata tersebut dihasilkan dari penjualan offline. Tentu hal itu terjadi bukan tanpa sebab. 

"Penjualan online memang rendah. Karena pembelian ramuan kami umumnya datang dari pasien yang menjalani terapi di klinik Terapi Gondowangi. Untuk 2023 nanti, kami akan senantiasa menyiapkan produk-produk herbal kami di pasaran," janji Supriyadi, owner Terapi Gondowangi Bondowoso. Senin (14/11/2022).

Beberapa toko online legal nantinya akan dibangun lewat komunitas Gondowangi. Manager komunitas toko onlinenya dari orang yang amanah tentunya. 

Dia juga memaklumi atas kekecewaan sebagian pembeli ramuannya lantaran banyak permintaan ramuan setiap hari. Hal itu terkait dengan tidak adanya beberapa bahan dasar herbal untuk ramuannya di alam. Kecuali harus membudi-dayakannya sendiri. 

"Waktu kami lebih banyak dihabiskan untuk menangani pasien yang datang ke klinik. Sedangkan alokasi waktu saya meracik ramuan tinggal sedikit sekali. Selama ini kami tidak punya asisten. Disinilah persoalan sesungguhnya," ungkap Supriyadi serius. 

Bahan-bahan ramuan produknya memang ada yang sukar didapat di alam. Kalaupun ada, namun tidak banyak. Ada tumbuhan yang sengaja ditanam dan dibudidayakan di belakang rumahnya. Supriyadi menyiasati hal itu agar khasiat ramuannya tetap tidak berubah. 

Tatkala apoymadura.com bertanya: Dapat dari mana ilmu meracik jamu? 

"Sejak kecil saya belajar pada kedua orang tua sendiri, karena mereka acapkali meracik jamu tradisional manakala diantara anak-anaknya sedang mengalami sakit. Kadang ada pula tetangga yang memintanya dibuatkan jamu tradisional. Kedua orang tua saya tak pernah menjual-belikan hasil meracik jamu pada mereka. Dari banyak melihat itulah, akhirnya saya bisa mencintai pekerjaan ini sepenuh hati," katanya. 

Diakui oleh Supriyadi, tidak hanya didapat dari kedua orang tuanya ilmu tentang meracik ramuan tersebut, dirinya banyak pula belajar pada seorang pakar pengobatan tradisional Tionghoa. Kebetulan di lingkungan rumahnya ada keluarga Tionghoa yang suka berbagi tentang khasiat tumbuhan tertentu. 

Mix (perpaduan) ramuan miliknya dan resep dari Tionghoa tersebut menambah daya dahsyat dalam menyembuhkan penyakit.

"Kehebatan dari ramuan kami yakni mampu memberantas sebuah penyakit ke akar-akarnya. Kalau hal itu bisa diibaratkan penyakit adalah sebatang pohon pisang. Jika akarnya tetap tertancap ke tanah, maka bisa dipastikan berkembang-biak dilain waktu. Sebaliknya, kalau pohon pisang dicabut dengan semua akarnya, insya Allah tidak tumbuh pohon pisang lagi," ucap Supriyadi.

Cara logis untuk sembuh dari penyakit adalah kembali ke alam. Memang Allah Maha Bijaksana, jalan kesembuhan lewat berbagai cara, tambah Supriyadi. Inilah wujud keadilan Tuhan. [Kay]

Jumat, 11 November 2022

Mengenal Ramuan Gondo Wangi yang Mendunia

Supriyadi bersama keluarga dalam sebuah acara. (Foto: Yant Kaiy)

BONDOWOSO, apoymadura.com – Ramuan tradisional kini menjadi pengobatan yang paling dicari akhir-akhir ini. Seiring pemakaian obat instan yang tak jarang menimbulkan efek samping dan gejala negatif lainnya, bahkan seringkali berakibat fatal bagi kesehatan. Saat ini masyarakat internasional pun mulai kembali pada pengobatan herbal. Pengobatan tradisional warisan nenek moyang.

Kalimat “back to nature” tersebut rupanya sudah lama dikampanyekan oleh pegiat kesehatan dunia. Kenyataannya pengobatan bersumber dari bahan-bahan alam pada zaman dulu menjadi penyembuh sangat luar biasa.

Namun setelah perang dunia ke-2, pergeseran pengobatan beralih dunia kedokteran. Seiring itu pula pendidikan ilmu kedokteran terus mengalami kemajuan cukup pesat di dunia. Bangsa-bangsa di Eropa terus mendewakan pengobatan modern dengan menciptakan alat-alat canggih sebagai sarana penyembuhan penyakit.

Pada akhirnya pengobatan tradisional kalah publikasi. Dan bangsa-bangsa Eropa memang sengaja mendiskreditkan penyembuhan dalam negeri, terutama ketika penjajah Belanda berkuasa di Indonesia.

Nah, tatkala pengobatan kedokteran itu tidak mampu menyembuhkan suatu penyakit sampai ke akar-akarnya, barulah mereka sadar, bahwa bahan-bahan herballah yang bisa memberangus sebuah penyakit.

“Pengobatan tradisional dengan bahan-bahan dari alam nusantara saat sekarang di luar negeri menjadi sesuatu yang paling dicari. Saya katakan, ini bukan berita isapan jempol belaka. Terbukti ramuan kami sering dipesan oleh para bule,” terang Supriyadi di rumahnya, Desa Mengok RT.04/RW.01 Pujer Bondowoso. Kamis (11/11/2022).

Supriyadi adalah seorang terapis. Saban hari di rumahnya sekaligus jadi kliniknya itu selalu dibanjiri pasien. Agar pasien mendapat kesembuhan optimal, ia menyarankan untuk melakukan perawatan mandiri di rumahnya masing-masing.

“Kita menyadari, kebanyakan pasien ingin cepat sembuh. Merawat diri dengan ramuan yang saya bikin menjadi faktor penting menuju sembuh sempurna. Seperti halnya orang pergi ke dokter, pasien pulang diberi obat untuk dikonsumsi. Hal itu tidak jauh beda dengan pasien yang datang pada kami,” terang Supriyadi.

Ketika ditanya tarif berobat di kliniknya.

“Anda bisa tanya kepada pasien kami. Sangat terjangkau bagi masyarakat tak berpunya. Sebab setiap pasien saya beri ramuan untuk dikonsumsi,” tegasnya.

Selama ini Supriyadi yang ahli meracik ramuan itu tidak tertarik untuk menaikkan tarif bagi para pasiennya. Kadati sebagian besar teman-temannya bilang, bahwa tarif pengobatannya terlalu murah. Tidak sebanding dengan penyakit yang disembuhkannya.

Supriyadi tetap fokus melayani pasien semaksimal mungkin tanpa membeda-bedakan si kaya dan si miskin.

“Paling tidak saya bisa beramal dalam pengobatan. Saya amat puas bila ada pasien yang sembuh dari penyakitnya setelah berobat pada kami,” ujarnya merendah.

Produk rumahan dari Supriyadi bernama Herbal Gondo Wangi ini telah teruji waktu dan ribuan orang sembuh dari penyakitnya setelah minum ramuan ini. Herbal Gondo Wangi bisa menyembuhkan hypertensi, diabetes, lambung, batu ginjal, infeksi saluran kemih, prostat, haid tidak teratur, kista pada perempuan. [Kay]


Senin, 07 November 2022

Terapi Gondowangi Sembuhkan Gagal Ginjal

Supriyadi, owner Terapi Gondowangi Situbondo. (Foto: Yant Kaiy)

BONDOWOSO, apoymadura.com – Gagal ginjal mengharuskan penderitanya cuci darah. Tak terbayangkan dana yang bakal digelontorkan. Karena cuci darah itu harus terus dilakukan secara rutin. Tentu lumayan besar biaya yang harus dikeluarkan. Apalagi bagi golongan masyarakat yang ekonominya lemah.

Lantas bagaimana solusinya dengan mereka yang tidak mampu berobat ke rumah sakit? Haruskah membiarkan diri terkapar pada nasib? Menunggu detik-detik kematiannya. Tentu hal itu merupakan tindakan konyol dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai keimanan.

Setiap persoalan pasti ada solusinya. Begitu pula dengan penyakit. Tuhan menurunkan penyakit beserta obatnya. Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Tinggal manusia itu sendiri, seberapa keras ia berikhtiar untuk sembuh.

Sebuah pengobatan alternatif dengan menggunakan ramuan sebagai media penyembuh yang sejak dulu menjadi pengobatan para leluhur kita. Barangkali inilah jalan terbaik bagi masyarakat kecil sebagai jalan menuju kesembuhan.

“Sangat disayangkan, banyak masyarakat kita yang termakan propaganda pengobatan modern. Padahal pengobatan tradisional warisan nenek moyang telah berpuluh-puluh tahun menjadi penyembuh meniscaya. Pengobatan tradisional terbilang murah namun tidak ada efek samping nilai lebihnya. Plus daya sembuh sampai ke akar-akarnya,” ucap Supriyadi, owner Terapi Gondowangi Bondowoso. Senin (7/11/2022).

Menurut lelaki kelahiran Bondowoso ini, bahwa pada Oktober 2022 kemarin di tempat terapinya tercatat ada 11 orang penderita gagal ginjal menjalankan pengobatan. Kesebelas pasien gagal ginjal tersebut mampu disembuhkan oleh metode pengobatannya.

“Penderita penyakit ginjal kronis memang mengharuskan cuci darah. Cuci darah ini dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah mengalami kerusakan. Dalam kondisi demikian perlu diambil sebuah tindakan agar penumpukan racun, limbah dan cairan dalam tubuh tidak semakin parah,” beber Supriyadi di tempat praktiknya, Desa Mengok RT.04/RW.01 Pujer Bondowoso.

Lebih jauh ini menjelaskan, bahwa Terapi Gondowangi merupakan jalan kesembuhan terbaik, yakni dengan mengembalikan fungsi ginjal sebagaimana mestinya. Terapi Gondowangi tidak sekadar mengobati pasien gagal ginjal, tapi menyembuhkannya sampai tuntas.

Tidak ada alternatif lain bagi mereka yang tidak punya dana lebih melakukan pencucian darah, selain dengan mengambil tindakan cepat berobat ke Terapi Gondowangi.

“Gagal ginjal menyerang siapa saja dan tidak mengenal usia. Pasien kami kemarin ada yang masih anak-anak. Lewat konsultasi dengan orang tua pasien, saya dapat menyimpulkan, ternyata pola makan dan minum mereka yang jadi faktor penyebabnya,” terang Supriyadi lebih jauh.

Ketika ditanya, apa yang menjadi penyebab gagal ginjal?

“Penyebabnya sebenarnya banyak. Salah satunya yang paling sering yakni hipertensi, diabetes, dehidrasi berat, serangan jantung, sering mengonsumsi obat anti inflamasi, saluran kemih yang terganggu akibat batu ginjal, minum minuman berkaleng yang mengandung bahan pengawet, terlalu sering menahan buang air kecil, kebiasaan kurang minum, diet tidak sehat, merokok yang berlebihan atau menggunakan narkoba,” terang Supriyadi rinci.

Terapi Gondowangi menggunakan metode minum Herbal Gondowangi dan Herbal Gondokusumo. Ditambah pijat refleksi pada titik-titik tertentu. [Kay]



 

Sabtu, 05 November 2022

Terapi Gondowangi Bondowoso, Pengobatan Alternatif Dikala Ekonomi Sulit

Supriyadi, owner Terapi Gondowangi Bondowoso. Prinsip pengobatannya, yakni selalu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pasiennya. (Foto: Yant Kaiy)

BONDOWOSO, apoymadura.com – Kehadiran pengobatan alternatif menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan bagi pasien saat ini. Karena kita tahu, ekonomi masyarakat tingkat bawah dalam kondisi sulit pasca kenaikan BBM. Seiring itu pula harga-harga kebutuhan pokok melonjak cukup tajam. Masyarakat akar rumput terus terjepit. Mereka tergolong menjadi Orang Miskin Baru (OMB) dalam status sosial.

Apalagi banyak pengobatan alternatif yang telah terbukti mampu menyembuhkan penyakit. Maka ketika ada pengobatan yang lebih murah tapi ampuh menyembuhkan penyakit pasien, otomatis pengobatan tradisional tersebut akan jadi pelabuhan orang sakit. Masyarakat tidak usah disuruh pun akan mencarinya, walau jaraknya sangat jauh.

Kendati ada pula pengobatan alternatif yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menipu sesama demi sebuah keuntungan dari salah seorang pasien. Mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menetapkan tarif tinggi. Kadang ada juga terapis yang sifatnya minta dilayani, bukan melayani pasien sepenuh hati. Apalagi kalau sudah tempat terapinya ramai dikunjungi pasien, ia akan berulah, sok jual mahal.

Catatan hitam ini telah mencoreng dunia pengobatan alternatif di tanah air. Walau demikian, masyarakat saat ini tidak buta informasi. Mereka pandai memilah dan memilih tempat terapi yang murah, namun banyak pasien yang sembuh setelah berobat kesitu.

Paling tidak begitulah yang dialami Terapi Gondowangi. Pengobatan yang beralamat di Desa Mengok RT.04/RW.01 Pujer Bondowoso sangat direkomendasikan oleh banyak orang di sekitarnya. Tak ayal kalau pengobatan alternatif Terapi Gondowangi setiap hari ramai dikunjungi para pasien, baik pasien dari Bondowoso dan pasien dari luar kota.

Terapi Gondowangi menjadi pilihan bijak masyarakat luas, karena pengobatan herbal ini mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Tarifnya murah. Sangat terjangkau bagi mereka berekonomi sulit.

“Terapi Gondowangi menggunakan dua metode penyembuhan, yakni dengan minum ramuan dan pijat refleksi. Dua metode ini rupanya menjadi daya penyembuh sangat ampuh. Biasanya pasien yang datang pada kami akan merasakan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya,” terang Supriyadi, owner Terapi Gondowangi pada apoymadura.com. Sabtu (5/11/2022).

Ketika ditanya tentang cara berpromosi atau mengiklankan terapinya dimana? Lelaki asli Bondowoso ini mengatakan:

“Kami mengalir begitu saja. Kami tidak pernah mengiklankan Terapi Gondowangi. Pasien baru yang datang pada kami ketika ditanya tahu dari mana tentang pengobatan kami, mereka kebanyakan dengar dari tetangganya yang pernah berobat kesini. Jadi intinya, mereka dapat informasi dari mulut ke mulut,” tandas Supriyadi.

Ia tetap fokus pada penyembuhan pasien yang berobat kepada dirinya. Tidak ada asisten yang meringankan tugasnya sebagai terapis. Seharian penuh ia tak beristirahat. Hanya saat makan siang dan shalat saja jedanya.

Apakah Terapi Gondowangi membuka cabang?

“Tidak ada cabang Terapi Gondowangi. Karena walau ramuannya sama, tapi pijat refleksi antara saya dengan orang lain tentu berbeda. Sangat riskan bagi saya membuka cabang. Sudah saya katakan bahwa Terapi Gondowangi menggabungkan ramuan dan pijat refleksi sebagai metoda penyembuhan pasien. [Kay]



Telusur: Dugaan Pungli SPPT di Desa Badur



Sumenep - Pemerintah Desa (Pemdes) Badur, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep telah mendistribukan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT) kepada masyarakat sejak bulan September 2022 lalu.

Namun sangat disayangkan, usut punya usut, dibalik pendistribuan SPPT tersebut diduga terdapat pungutan liar (pungli) yang dilakukan oleh aparat desa setempat.

Pasalnya, untuk mendapatkan SPPT, sejumlah warga desa Badur diminta membayar uang lebih sebagai syarat mendapatkan SPPT. Artinya, nominal yang dibayarkan masyarakat tidak sesuai dengan SPPT.

"Seharusnya bayar sesuai SPPT. Ini malah lebih dari nominal dalam pemberitahuan tersebut," kata salah satu warga Desa Badur inisial NJ.

NJ menegaskan, jika uang tersebut sebagai bentuk pembayaran pajak, nyatanya masyarakat tidak menerima bukti pelunasan pajak.

"Dikemanakan uangnya saat ini yang dibayarkan masyarakat Badur," tanya NJ.

Bahkan, NJ menyebut jika nominal yang dipatok oleh aparat desa setempat bahkan lebih kisaran puluhan ribu per SPPT dari nominal yang semestinya.

Hal senada juga disampaikan oleh warga Desa Badur yang lain, inisial A. Dimana A mengatakan, dugaan pungli SPPT di lumbung Pemdes Badur semakin jelas dan terkesan mau membodohi dan mempermainkan rakyat.

"Masyarakat Desa Badur diberi SPPT tanah dengan syarat bayar lunas pajak. Namun nominal tagihan pajak itu lebih dari bayaran pajak yang seharusnya,"

A melanjutkan, seharusnya tugas pemerintah desa terlebih aparat desa Badur menyampaikan SPPT tersebut secara langsung kepada masyarakat.

"Seharusnya ada anggaran transport yang diberikan kepada aparat melalui pendapatan Teransfer Dana Bagi Hasil Pajak dan retribusi daerah," kata A.

Lagi pula, lanjut A, aparat desa Badur digaji dan diberi transport untuk menyampaikan SPPT tersebut kepada masyarakat.

"Ini malah masyarakat dibuat seolah mengemis," tegas A.

Lebih lanjut, A menjelaskan, masyarakat bisa memilih pembayaran secara mandiri, bisa melalui pos atau Bank Jatim atau Bumdes yang menjadi agen.

"Sangat disayangkan kemandirian ini tidak diberitahukan atau disosialisasikan kepada masyarakat Badur," kata A.

Ia berharap, Pemdes Badur secepatnya memberikan bukti lunas pajak kepada masyarakat. Jika dicek belum lunas, A tak segan bertindak ke jalur hukum.

"Jangan salahkan, kalau nanti kami laporkan ke pihak yang berwajib karena kami memiliki banyak bukti tentang pungutan liar SPPT itu. Bukan hanya 1, 2 atau 3 orang saja," tegasnya.

Sementara, sejak berita ini ditulis dan dimuat, Kepala Desa Badur Atnawi sampai saat ini belum merespon dan memberikan jawaban. Saat dihubungi melalui nomor WhastApp-nya, tidak merespon. Bahkan, semula foto profil WhatsApp-nya tampak terlihat, kini berubah tanpa foto profil. (**)

Jumat, 04 November 2022

Ramuan Gondokusumo, Produk dari Terapi Gondowangi


Bondowoso, apoymadura.com - Salah satu produk dari Terapi Gondowangi adalah Ramuan Gondokusumo. Ramuan ini sangat efektif menyembuhkan luka dalam organ tubuh manusia. Tidak ada efek samping selama proses pengobatan seorang pasien hingga pasca sembuh. Aman dan manjur. 

"Ramuan Gondokusumo menjadi andalan pengobatan kami dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit berat. Terbukti ampuh dan relatif cepat menyembuhkan penyakit luka dalam organ tubuh," terang Supriyadi, owner Terapi Gondowangi. Sabtu (5/11/2022). 

Ramuan Gondokusumo telah teruji oleh waktu. Sudah ribuan orang tertolong sembuh dari penyakitnya. Ribuan nyawa manusia juga telah terselamatkan karenanya. 

Komposisi Ramuan Gondokusumo takarannya begitu pas. Biasanya ramuan ini sekali buat langsung minum. Tidak ada proses pemanasan dalam pembuatannya. Semua bahan dilumatkan dengan blender. Otomatis penyerapan Ramuan Gondowangi oleh tubuh relatif cukup cepat sehingga penyakit pasien akan lebih cepat pula diberangus.

"Kalau boleh saya sarankan kepada seluruh pasien kami untuk melakukan rawat inap. Karena dengan begitu saya bisa mengontrol secara optimal perkembangan kesehatan pasien. Saya hanya sebatas menyarankan. Karena dengan begitu saya nantinya bisa mengevaluasi perkembangan kondisi kesehatan si pasien. Endingnya saya bisa melakukan tindakan penyembuhan lainnya lewat pijat refleksi dan pemberian ramuan lain," tandas lelaki kelahiran Situbondo yang menikah dengan perempuan berdarah Sumenep Madura ini. 

Perlu diingat, bahwa klinik Terapi Gondowangi juga menggabungkan pijat refleksi dalam penyembuhan seorang pasien. 

"Pijat refleksi ini dimaksudkan sebagai salah satu unsur  penyembuh atau boleh dikata sebagai daya sokong penyembuh yang tidak kalah penting dari itu semua. Salah satu manfaat dari pijat refleksi ini yaitu membuka penyumbatan syaraf, melancarkan peredaran darah dan melemaskan otot-otot kaku," ucapnya. 

Herbal Gondokusumo terbuat dari bahan-bahan herbal, yakni biji-bijian, rimpang tanaman obat, buah-buahan segar, dan tumbuh-tumbuhan yang diambil dari alam sekitar. 

"Bumi nusantara kita kaya akan tanam-tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan obat. Saya meracik Herbal Gondokusumo dari para pengrajin kamu yang ada di Situbondo dan sekitarnya. Selain itu, saya juga banyak mendapatkan ilmu dari peranakan China yang berprofesi sebagai sinse. Dengan banyak belajar pada para ahli ramuan itulah, hasilnya saya padukan dengan beberapa ramuan warisan keluarga sendiri," ungkap Supriyadi. 

Maka tak berlebihan kalau nantinya perpaduan komposisi ramuan racikannya tepat guna dan dahsyat bisa menyembuhkan penyakit yang dimaksud. 

Boleh dibilang produk ramuan Terapi Gondowangi ini tanpa kenal kompromi akan menyembuhkan penyakit para pasien yang berobat ke tempatnya. 

Ketika ditanya soal tarif berobat di Terapi Gondowangi, dirinya dengan tegas mengatakan, tidak ada ketentuan tarif khusus bagi pasien di kliniknya. [Kay]

Ta'mir Masjid Jangan Saingi Tuhan

Oleh: Sulaisi Abdurrazaq

Api Islam akan terus menyala-nyala jika umat Islam teguh memegang akidah dan mampu membebaskan diri dari belenggu.

Belenggu itu adalah hawa nafsu atau keinginan diri sendiri yang mudah menyeret pada  keangkuhan, kesombongan, kepongahan, kecongkakan, fanatisme dan eksklusifisme yang menyebabkan kejumudan Islam.

Jumud, karena tidak mau menerima kebenaran yang datang dari luar dirinya. Ia selalu merasa keyakinan dirinya saja yang benar.

Mudah menilai negatif pendapat orang lain, reaktif menyikapi masalah, cenderung monolog dan dominatif, tak mau berdialog secara _fair_ dan tenang. Relatif emosional.

Sikap-sikap seperti itu sangat berbahaya, karena  cenderung menolak kebenaran _(kufr)_.

Karena itu, penekanan pertama ajaran tauhid dalam Islam adalah  meniadakan tuhan, meyakini bahwa tuhan tidak ada _(laa Ilaha)_.

Konsep ini disebut dengan negasi _(al-nafy)_. Sikap istikbar atau sombong adalah tirani yang harus dilawan, harus ditiadakan.

Sombong adalah sikap berbahaya karena rawan memaksakan keinginan diri, rawan menilai pikirannya paling benar, rawan merasa diri lebih  sempurna dari yang lain. Itulah belenggu yang menghalangi progresifitas Islam. Sikap menuhankan diri yang harus dinegasikan, harus dilenyapkan.

Keberanian diri untuk menegasikan sikap-sikap yang membelenggu itu adalah gerakan pembebasan diri _(self liberation)_ dari "tuhan-tuhan" palsu yang  merenggut martabat kemanusiaan, yang membuat manusia cenderung besar kepala dan merasa mutlak-sempurna.

Penekanan berikutnya dalam ajaran tauhid adalah penegasan, peneguhan atau konfirmasi _(al-itsbat)_. Menegaskan bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah.

Jadi, sebelum benar-benar akidah itu murni, sebelum benar-benar tahu Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa, kita harus tahu dulu tuhan-tuhan selain Allah, yang cenderung menipu diri sendiri.

Tuhan-tuhan selain Allah ini terkadang dirasa memiliki kekuatan kuasa, tapi kuasa palsu. 

Membuat diri bangga, tapi bangga yang dasarkan pada keyakinan palsu.

Itulah substansi dari ajaran tauhid. Negasi dan konfirmasi. Esensi dari kalimat _"La Ilaha illallah"_ (Tidak ada tuhan selain Allah).

Tidak ada yang pantas untuk sombong, selain Allah. 

Oleh karena itu, pada refleksi berjudul *"Sumenep, Korupsi dan Islam Sontoloyo"* saya mencoba menjadikan perspektif Bung Karno menyikapi perilaku ta'mir masjid Sumenep yang memaksa road race tidak dilanjut dengan mengajukan satu pertanyaan: _"jangan-jangan ini yang dimaksud Bung Karno dengan Islam Sontoloyo"._

Mengapa demikian? Karena menurut saya, yang pantas sombong hanya Allah. 

Kalimat takmir masjid Jami Sumenep yang menyatakan _"..kesombongan kita lawan kesombongan..."_ dengan merujuk pada kitab fiqh adalah sikap tidak benar.

Yang pantas sombong hanya Allah. Jika ta'mir masjid Jamik menggunakan langkah istikbar (sombong) untuk melawan kesombongan, maka itu namanya sikap menyaingi Tuhan. Sama dengan sikap membangkang kepada Allah.

Sikap seperti itu adalah sikap yang membelenggu diri sendiri, sikap yang menghancurkan martabat diri sendiri. Bersaing dengan Tuhan dengan sikap sombong sama dengan meludah menghadap langit. Sekeras apapun meludah, air ludah akan jatuh ke wajah sendiri.

Bukankah sikap sombong itu yang menyebabkan ta'mir masjid Jami Sumenep merasa caranya untuk menghentikan _road race_ dengan menyiram bensin dan mengancam akan membakar jika _road race_ Bupati Cup Sumenep dilanjutkan adalah cara yang beliau anggap paling benar karena merasa merujuk kepada kitab fiqh. 

Sementara ajaran Allah dalam Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 125 diabaikan. Ajaran Allah jelas: 

_"Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mau'idzah hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik."_

Itulah yang dimaksud Bung Karno dalam *Surat-Surat Islam Dari Endeh* pada buku *Islam Sontoloyo*, bahwa:

_"... kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam, banyaklah karena Hadis-Hadis lemah itu,- yang sering lebih laku dari ayat-ayat Al-Qur'an."_

Masih dalam Surat  Bung Karno: 

_"...di Endeh ada "sayid" yang sedikit terpelajar, tetapi tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari "kitab fiqh": mati hidup dengan kitab fiqh itu, dus--kolot, dependent, unfree, taqlid. Al-Qur'an dan Api-Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqh itulah yang mereka jadikan pedoman-hidup, bukan kalam Ilahi sendiri..."_

_"Fiqh pada waktu itu hanyalah "kendaraan" saja, tetapi kendaraan ini dikusiri oleh Rokhnya Ethiek Islam serta Tauhid yang hidup..."_.

Mengapa saya mengambil surat An-Nahl ayat 125 dalam menyikapi peristiwa penghentian paksa road race di Sumenep? Karena  telah nyata bahwa etika Islam adalah mengajak umat manusia ke jalan Allah dengan sikap penuh kebijaksanaan, kelembutan, kesopanan _(hikmah)_,  _mau'idzah hasanah_ dan dengan cara yang paling baik _(ahsan)._

Kemaren, tanggal 3 November 2022, rekan Supyadi dalam WAG Advokat, LSM dan Wartawan meminta saya memberi penjelasan mengenai makna Islam Sontoloyo. 

Bahkan, rekan saya itu meragukan pemahaman saya terhadap maksud Islam Sontoloyo dalam pandangan Bung Karno.

Ia bahkan meminta saya menyapa bapak google dan mengutip makna sontoloyo dari mesin pencarian itu, isi lengkap di wikipedia begini: 

_"Sontoloyo adalah sebutan bagi pemilik pekerjaan sebagai pengembala itik atau bebek atau disebut juga tukang angon bebek di Pulau Jawa..."_

_"Konon profesi mengembala beratus bebek akan menyulitkan orang lain ketika rombongan bebek tersebut menyebrangi jalan, dan terkadang bebek tersebut ada yang memakan padi yang belum dipanen, sehingga orang lain yang tidak sabar akan mengumpat "Dasar sontoloyo". Menurut KBBI, sontoloyo adalah makian dan kata cakapan yang bermakna bodoh, konyol, atau tidak beres."_

Saya tidak menanggapi grup WA, karena biasanya akan terjadi "debat kusir". Karena itu, saya respon pertanyaan rekan Advokat Supyadi itu lewat refleksi ini.

Islam Sontoloyo dalam pandangan Bung Karno itu adalah keber-Islaman atau keber-agamaan yang cenderung membebek, _taqlid_ buta, tidak mengutamakan etik Al-Qur'an dan Hadits dan cenderung mengedepankan fiqh yang dicomot untuk melegitimasi tindakan dirinya sendiri agar tindakannya dinilai berdasar ajaran agama.

Jadi, jangan dimaknai agama Islam nya yang sontoloyo.

Sikap membebek, atau taqlid buta, atau jika dianalogikan kepada pengembala ratusan bebek yang terkadang menghambat jalan atau suka memakan padi tetangga, maka sikap keber-Islaman atau keber-agamaan kita jangan sampai menjadi penghambat kemajuan Islam. 

Bebaskan diri kita dari bertuhan kepada selain Allah. Jangan sombong, karena sikap sombong adalah sikap menyaingi Tuhan, yang berakibat pada perilaku syirik. Disadari atau tidak. Sementara syirik adalah dosa besar.

Istilah-istilah seperti Islam Sontoloyo, Islam KTP, Islam Nusantara itu sudah lumrah, tapi hanya bisa dipahami secara tepat jika memahami konteksnya.

Islam KTP, jangan dimaknai Islam sama dengan KTP yang hanya semacam catatan sipil. Melainkan harus dimaknai sikap keber-Islaman seseorang yang tidak melaksanakan kewajiban sebagai muslim dan hanya mencantumkan Islam dalam KTP.

Begitu pula Islam Nusantara. Jangan memaknai Islam seolah-olah turun derajatnya karena ditarik ke ruang sempit seperti Indonesia, melainkan harus dimaknai bahwa Islam harus lentur, adaptif, mampu disampaikan dengan damai melalui nilai dan kearifan lokal Indonesia sebagaimana cara Wali Songo menyampaikan Islam. 

_Think globally, act locally_ (berpikir global, bertindak lokal).

Jika memaknai Islam Sontoloyo dengan melepaskan konteksnya sebagaimana maksud Bung Karno, pasti terperangkap dalam "jurang yang sesat."

_Ro'yunaa showaab wayahtamilul khoto', wa ro'yu ghairina khoto' wayahtamiluashowaab._ (*)
_________________________

~Penulis adalah Ketua DPW APSI Jatim, Direktur LKBH IAIN Madura dan Alumni Pasca Politik Universitas Indonesia.

Kamis, 03 November 2022

Mengenal Terapi Gondowangi Bondowoso

Supriyadi saban hari menjual seduhan Ramuan Gondowangi. Satu liter setengah Ramuan Gondowangi ia jual seharga Rp 20.000,- (Foto: Yant Kaiy)


Bondowoso, apoymadura.com – Tiap pagi dan sore hari, rumah Supriyadi ramai dengan orang-orang yang mencari kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Mereka adalah pasien Terapi Gondowangi yang datang dari berbagai daerah di sekitarnya. 

Acapkali ada juga pasien dari luar kota yang menginap. Hal itu dilakukan karena tak mungkin pasien wara-wiri. Lagi pula kalau melakukan rawat inap, kemungkinan akan lekas sembuh dari penyakit yang dideritanya.

"Kami menyiapkan kamar khusus bagi pasien yang menjalani rawat inap. Sedangkan kebutuhan makan bisa dikondisikan. Maksudnya, pasien dan keluarga yang mendampinginya bisa membeli makanan sendiri atau kami yang akan menyiapkannya," terang Supriyadi. Jumat (4/11/2022).

Tak ada tarif khusus bagi pasien ketika berobat di Terapi Gondowangi ini. Semuanya mengalir seperti biasanya. 

"Yang penting kesembuhan pasien kami nomor-satukan. Bahkan bagi pasien yang tidak mampu kami bantu dengan ramuan. Karena itulah satu-satunya yang bisa saya berikan. Dalam hal pelayanan, saya tak pernah membeda-bedakan antara pasien kaya dan miskin. Saya ibaratkan kedatangan mereka adalah tamu yang wajib saya sambut dengan hangat. Mereka sama-sama mendambakan kesembuhan," tegasnya.

Ketika ditanya soal kesembuhan orang-orang yang berobat ke tempatnya, Supriyadi menegaskan, bahwa kesembuhan seseorang itu ditentukan oleh kedisiplinan pasien itu sendiri.

"Disiplin dari mengonsumsi Ramuan Gondowangi, beristirahat yang cukup, menjauhi makanan pemicu semakin buruknya penyakit yang diidapnya. Disiplin berpikir rileks dan senantiasa husnudzan. Lebih penting lagi, selalu berkeyakinan bahwa tiap penyakit pasti ada obatnya,” tegas Supriyadi lebih jauh.

Ini memang terdengar mudah, tapi tak jarang orang tergoda hawa nafsunya terhadap hal-hal yang mengakibatkan kian menurunnya tingkat kesembuhan dirinya.

“Satu contoh. Semua orang tahu kalau berolah raga pagi itu sangat baik bagi kesehatan. Tapi sedikit orang yang meluangkan waktunya untuk berolah raga. Atau begadang itu menyebabkan menurunnya tingkat kesehatan bagi seseorang. Namun karena kesenangan dan iseng, ujung-ujungnya terus menurunkan stamina tubuhnya pada titik terendah, sehingga beraneka penyakit menyerangnya dengan cukup mudah,” jelas Supriyadi.

Lelaki yang kesehariannya fokus pada penyembuhan orang sakit ini juga mengingatkan, dengan kedisiplinan begitu maka akan menatalkan power penyembuhan dalam dirinya. Ini penting, membangun mental berpikir positif akan menghalau kekalutan dalam jiwanya.

Berbicara tentang pengobatan di Terapi Gondowongi. Ada dua metode yang Supriyadi aplikasikan terhadap para pasiennya. Yang pertama penyembuhan lewat metode minum ramuan sesuai dengan penyakitnya. Ia lalu menggabungkan dengan metode pijat refleksi, yakni memijat pakai tangan di titik-titik tubuh si pasien.

“Penggabungan dua metode pengobatan ini sangat efektif dalam menyembuhkan penyakit. Biasanya saya memijat pasien terlebih dulu. Setelah itu saya berikan seduhan ramuan hangat pada pasien untuk diminum. Saya juga berikan ramuan gratis untuk diminum di rumah,” terang lelaki lulusan SMAN Bondowoso ini jujur.

Perlu diinformasikan, tempat praktik Terapi Gondowangi yaitu di Desa Mengok RT.04/RW.01 Pujer Bondowoso. Setiap hari buka mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. [Kay]

Ramuan Banyu Urip juga Cocok bagi Orang Luar Negeri

MS Arifin (kiri) bersama salah seorang mitra kerja. (Foto: Yant Kaiy)

Yogyakarta, apoymadura.comHeboh. Dunia pengobatan alternatif di tanah air kini ramai membicarakan tentang Therapy Banyu Urip yang bisa menyembuhkan penyakit buta warna. Bahkan banyak pakar kedokteran luar negeri mulai mencermati dan melirik metode pengobatan herbal ini.

Penyakit mata yang digadang-gadang tidak bisa disembuhkan menurut para ahli kesehatan tersebut, ternyata di metode Therapy Banyu Urip buta warna dapat disembuhkan.

Tak ayal kalau akhirnya banyak pasien buta warna berdatangan ke tempat Therapy Banyu Urip Pusat Yogyakarta. Mereka menggantungkan impiannya setinggi langit pada pengobatan Therapy Banyu Urip. Terbukalah harapan yang dulu tertutup mendung tebal.

Ada pula beberapa pasien luar negeri yang telah merasakan keampuhan Therapy Banyu Urip. Pasien tersebut datang dari Malaysia, Singapura, Prancis, Hongkong dan Timor Leste pada September 2022 kemarin. Para bule tersebut sangat mengapresiasi penyembuhan ramuan herbal ini.

Sebagian besar dari mereka ada yang berprofesi di bidang kesehatan dan pengobatan. Bahkan ada diantara pasien tersebut yang spesialis pengrajin jamu di negaranya.

“Pasien bule juga mewawancarai pasien buta warna kami satu demi satu. Yang kebetulan kemarin berjumlah 21 pasien buta warna. Saya katakan kepada mereka, bahwa semua pasien buta warna yang menjalani rawat inap tersebut menunjukkan progres cukup baik,” terang MS Arifin di tempat praktiknya. Kamis (3/11/2021).

Mereka juga meminta data pasien buta warna yang telah disembuhkan oleh metode pengobatan Therapy Banyu Urip.

“Saya katakan kepada para bule tersebut kalau kami tidak punya bukti video. Sebab umumnya para pasien buta warna tidak mau melakukan testimoni karena persoalan privacy.

Umumnya pasien buta warna itu adalah para anak muda yang hendak melanjutkan pendidikannya di TNI dan Polri. Ada pula dari mereka yang hendak masuk pendidikan kedokteran, penerbangan, perkereta-apian dan lain sebagainya.

Dari sini bisa disimpulkan, bahwa pasien luar negeri semakin yakin dan percaya, bahwa penyakit gangguan penglihatan seperti buta warna bisa disembuhkan di tempat kami. Dan semua benar adanya. Bukan sekadar kabar isapan jempol belaka

MS Arifin sebagai Pimpinan Therapy Banyu Urip Dunia juga menerangkan, bahwa metode penyembuhan buta warna miliknya dapat pujian dari masyarakat dunia. Mereka menyampaikan bentuk pujiannya lewat surel (surat elektronik) atau via sosial media.

“Saya pribadi tak pernah membayangkan sebelumnya, kalau pengobatan kami akan seviral ini. Semua bagai mimpi saja,” tandas MS Arifin seraya tersenyum.

datang secara langsung ke klinik pengobatan alternatif ini. Melihat kebenaran, bahwa Therapy Banyu Urip tidak hanya sebatas mengobati, tapi lebih dari itu, ramuan alami ini dahsyat menyembuhkan segala macam penyakit.

Dirinya juga menambahkan, kalau Ramuan Banyu Urip hasil temuannya hanya menggunakan bahan-bahan herbal dari bumi nusantara. Tak ada zat kimia dan tidak pula mengandung bahan pengawet yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia dalam jangka panjang.

Tatkala MS Arifin ditanya tentang harapannya bagi peredaran Ramuan Banyu Urip dipasaran, dirinya menghimbau agar para konsumen berhati-hati dengan barang palsu. Sebaiknya konsumen memesan Ramuan Banyu Urip kepada cabang resmi yang dipercaya dan amanah. [Kay]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...