Rabu, 18 Agustus 2021

Surat Terbuka untuk Gubernur Jawa Timur : Pulau Masalembu Tak Miliki Lampu dan Jalan Rusak Parah

Beberapa ruas jalan yang rusak di Pulau Masalembu. (Foto: Yant Kaiy)


Sumenep – Watik, seorang ibu rumah tangga berasal dari Desa Masalima Kecamatan Masalembu Kabupaten Sumenep melayangkan rekaman suara (voice note) via sosial media kepada apoymadura.com. (Rabu, 17/8/2021).

 

Wanita kelahiran 1981 ini begitu prihatin dengan keberadaan Pulau Masalembu sejak era kepemimpinan Achmad Fauzi (Bupati Sumenep saat ini). Pulau KMP Tampomas II ini berada dalam jurang menyedihkan.

 

Berikut ini luapan aspirasi Watik:

 

Assalamu’alaikum warahmatullahhi wabarkatuh.

Ibu Khofifah Indar Parawansa yang saya hormati. Perkenalkan saya Watik dari Pulau Masalembu. Niat hati paling dalam akan menyampaikan penderitaan kami yang tak mendapatkan aliran lampu dan jalan rusak parah dikeseluruhan Pulau Masalembu.

 

Pada mulanya saya tidak tahu harus menyampaikan permasalahan ini kepada siapa. Jiwa terguncang. Batin menjerit sejadi-jadinya demi melihat realita getir di pulau kecil kami. Berbulan-bulan kami tidak menikmati mimpi yang pernah dihembuskan pemerintah dikala berkampanye.

 

Nurani berbicara di depan cermin; apakah ini takdir sebagai masyarakat kecil? Saya pikir tidak. Penderitaan kami semata-mata disebabkan kebijakan dan perhatian pemerintah yang mengering seperti embun pagi.

 

Saya yakin Ibu Khofifah Indarparawansa akan memberikan atensi kepada kami. Pemimpin berjiwa besar adalah pemimpin yang mau mendengar dan merasakan penderitaan rakyatnya.

 

Dari hati paling kudus, saya mohon maaf kalau ada kata-kata kurang berkenan.-

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh.

 

Demikian surat terbuka dari Watik Masalembu yang ditujukan pada Gubernur Jawa Timur. (Yant Kaiy)



Sabtu, 14 Agustus 2021

Aronjai Tembakau Sumenep Madura

Kegiatan aronjai tembakau Sumenep Madura. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Panen tembakau Madura 2021 disebagian besar wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep telah dimulai. Kendati harga tembakau tidak sesuai harapan dan impian mereka, namun petani tetap memetik tanamannya hingga bisa terjual.

 

Ada salah satu tahapan dari panen tembakau setelah daun dirajang, bernama aronjai. Kegiatan ini sangat berarti bagi kualitas dan kuantitas dari bahan pokok rokok itu sendiri. Aronjai adalah penyusunan tembakau rajang pada sebuah bilik bambu. Kemudian barulah tembakau rajang dijemur.

 

Dalam aronjai sebenarnya terkandung nilai kebersamaan penuh kekeluargaan. Meski seringkali petani merugi dalam penjualan tembakau karena biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pada pendapatan.

 

Kalau kita telisik lebih dalam, pada aronjai terkandung wahana komunikatif lewat canda-tawa yang menatalkan nilai sosial cukup luas di tengah masyarakat setempat. Didalamnya juga terdapat nilai-nilai tradisi luhur mengagumkan. Menjunjung adat-istiadat. Sejatinya budaya ini patut terus dijaga kelestariannya sampai kapanpun. Semoga!...[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Senin, 09 Agustus 2021

Teknik Memetik Daun Tembakau Madura

Teknik memetik daun tembakau cepat. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Bulan Agustus 2021 kali ini adalah masa panen tembakau besar-besaran di sebagian wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Walau tanaman bahan pokok untuk rokok saat ini seharga Rp 20.000,- sampai Rp 30.000,- per kilogram. Petani tetap semangat. Mau bagaimana lagi, daun tembakau sudah menua.

 

Ada dua teknik memetik daun tembakau. Pertama dipetik satu demi satu. Cara seperti ini biasanya diterapkan kalau daun tembakau dipanen bagian bawahnya saja.

 

Sedangkan cara kedua yaitu tidak dengan dipetik. Melainkan kedua tangan diletakkan di puncak daun tembakau dan didorongnya kebawah. Otomatis lebih cepat selesai. Teknik seperti ini diterapkan kalau tanaman tembakau mau dipanen keseluruhan.

 

Umumnya panen tembakau dilakukan pada pagi hari setelah embun mengering. Kalau ada embun yang menempel di daun tembakau, maka daun itu akan membusuk. Sebab daun berharga ini harus didiamkan satu malam atau lebih sebelum dirajang.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Sabtu, 07 Agustus 2021

Tahap Penjemuran Tembakau Sumenep Madura

Proses penjemuran tembakau Sumenep-Madura. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Ditahap penjemuran tembakau yang habis dirajang bergantung panas matahari. Pada tahapan ini tergolong krusial. Biarpun sebelum dipetik daun tembakau terlihat super berkualitas, tapi kalau tembakau rajang tidak kering sehari, otomatis harganya akan anjlok. Aroma tembakau tidak standar dan warnanya jadi coklat kehitam-hitaman.

 

Tidak berhenti di situ penanganannya, tembakau rajang yang telah kering sebelum dibungkus tikar daun lontar harus dilemaskan. Proses pelemasan tembakau menanti embun. Ditahapan ini juga butuh penanganan ekstra hati-hati. Maka tak ayal kadang pembungkusan tembakau rajang sampai pukul 21.00 WIB.

 

Begitulah dua rangkaian terakhir dari tembakau rajang. Semuanya membutuhkan keahlian dari seorang petani tembakau. Kejelian itu tentu berdasar pada pengalaman sebelumnya.

 

Semoga kidung petani tembakau Sumenep Madura 2021, tidak terdengar menyayat hati lagi.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com 





Kamis, 05 Agustus 2021

Kemarau dan Pembakaran Rumput di Desa Pasongsongan

Lahan rumput pakan ternak masyarakat yang dilalap si jago merah. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Sudah menjadi langganan tiap tahun, di Dusun Sempong Barat dan Timur selalu ada pembakaran rumput. Tangan-tangan jahil itu menyebabkan kian gundul tanah kering yang rata-rata berbatu disitu. Bahkan pepohonan banyak mati dilalap si jago merah.

 

Ulah tak terpuji dari oknum tak bertanggung jawab menyebabkan keprihatinan banyak pihak. Terspecial bagi pemilik lahan. Sejatinya lahan tandus itu ditanami pohon supaya  tanah tidak gersang kala kemarau menerjang.

 

Masyarakat pemilik ternak sapi dan kambing tentu kesulitan mencari pakan saat ini. Mereka pasrah dan penuh harap. Semoga tahun depan tidak terulang lagi.

 

Tadi pagi, Kamis (5/8/2021), saya menyempatkan diri mengambil gambar dilokasi. Bekas rumput dan pohon kecil terbakar masih terlihat jelas.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Tambang Batu Bata Putih di Pasongsongan

Lokasi bekas penambangan batu bata putih di Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Di Dusun Sempong Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ada bekas penambangan batu bata putih. Penambangan bawah tanah ini membentuk jurang sangat dalam, kurang lebih 50 meter. Di sisi barat berjarak  7 meter dari jurang ada jalan beraspal. Ada beberapa pohon tumbuh sebagai pengaman bagi kendaraan melintas.

 

Dihentikannya penambangan batu bata putih itu karena sang pemilik lahan menjual kepada salah seorang pengusaha. Kabarnya akan dijadikan tempat wisata.

 

Sedangkan penambangan batu bata putih lainnya yang masih produktif ada di sebelah timurnya. Biasanya pada malam hari mereka bekerja. Menggunakan mesin diesel untuk menjalankan alat-alat kerjanya.

 

Menurut seorang pekerja yang saya temui, permintaan batu bata putih mulai 2020 terus menurun. Batu bata ringan yang beredar di toko-toko bahan bangunan sebagai penyebabnya. Lantaran bata ringan hanya membutuhkan lem sebagai perekat. Tentu dalam pengerjaan bangunan lebih praktis.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

 

Baca juga: Pasir di Pesisir Pantai Pasongsongan Habis



Rabu, 04 Agustus 2021

Arti Tembang Artate di Macapat Sumenep



Catatan: Yant Kaiy

Dari sekian banyak tembang Macapat, ada satu tembang yang sering dikidungkan pada pagelaran Macapat di Sumenep, yakni Artate (Dandanggula). Menurut Kiai Haji Ismail Tembang Pamungkas, bahwa tembang Artate bermakna: Arte’e sampe’ ngarte (artikan sampai paham betul).

 

Kiai Haji Ismail merupakan seorang pakar Macapat Madura sekaligus da’i kondang berasal dari Kota Keris Sumenep. Ia menambahkan kalau yang menciptakan tembang Artate adalah Sunan Kalijaga.

 

Kita tahu kalau syair-syair yang terdapat dalam Macapat banyak mengajarkan kebajikan dalam hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitar, dan bakti manusia kepada Sang Khalik.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

 

Baca juga: “Rokat Pandhebeh” Macapat Sumenep



Harga Tembakau Madura 2021



Catatan: Yant Kaiy

Tidak ada pemangku kebijakan ambil peduli terhadap nasib hidup petani tembakau di Sumenep. Petani tetap merugi karena harga tembakau tahun ini tetap sama seperti tahun kemarin.

 

Memang gudang besar pabrikan rokok masih belum buka. Jadi yang membeli tembakau petani adalah pedagang. Sedangkan pedagang tak ingin berspekulasi membeli tembakau dengan harga tinggi. Tentu dirinya tak mau merugi.

 

Kita tahu, proses mulai  menanam tembakau hingga panen amatlah panjang. Tidak sedikit biaya yang mereka keluarkan. Kalau dikalkulasi, biaya pengeluaran lebih besar ketimbang pendapatan. Plus tenaga petani dan keluarganya yang tidak dihitung selama bekerja.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang www.apoymadura.com



Senin, 02 Agustus 2021

Orang Tua Merantau, Anak Ditinggal



Catatan: Yant Kaiy

Faktor ekonomi yang menyebabkan orang tua merantau.  Mencari sesuap nasi. Di tanah kelahirannya tak menjanjikan hidup layak. Walau bekerja membanting tulang, tetap saja miskin. Terpaksa tinggalkan anak-anak mereka, cucurkan air mata. Kidung kerinduan pun tak terbendung. Sangat menyedihkan terdengar.

 

Bertahan mereka akan tergilas oleh kebutuhan: Sandang, pangan, melayat orang meninggal dunia, menghadiri undangan pernikahan, membesuk orang sakit, datang kerumah tetangga yang melahirkan. Semua itu memerlukan uang. Karena kita datang wajib hukumnya membawa buah tangan.

 

Belum lagi keperluan pulsa, token listrik, bahan bakar minyak sepeda motor, LPG untuk dapur. Semua tak bisa dihindari. Plus rumah yang mungkin segera diperbaiki karena usianya tua.

 

Itulah kondisi riil masyarakat disebagian besar wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Diantara para orang tua itu ada yang jadi penjaga toko di Jakarta, membuat batu bata di Kalimantan, tukang ojek di Bali, kuli bangunan di Malaysia, pembantu rumah tangga dan sopir di Timur tengah.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



“Rokat Pandhebeh” Macapat Sumenep

Pagelaran "Rokat Pandhebeh" Macapat Sumenep Madura. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Macapat merupakan seni tradisi warisan nenek moyang orang Madura. Warisan budaya ini kadang masih tetap terdengar mengalun lewat loudspeaker. Tapi tidak seperti ketika saya masih kecil. Ya, tidak seperti diera 1980-an.

 

Kemarin malam di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep (Senin, 2/8/2021), suara tembang macapat terdengar hingga menjelang subuh. Masyarakat luas tahu kalau hal itu acara “rokat pandhebeh”.

 

Pagelaran “rokat pandhebeh” biasanya dilaksanakan setelah acara perkawinan. Kadang pula terselenggara diacara penting lainnya. Misalnya seperti “petik laut”. Sebagian diantara warga masyarakat masih ada yang percaya, bahwa “rokat pandhebeh” sebagai media menatalkan barokah.

 

Wujud cinta terhadap macapat Madura sebagai bagian sikap bijak, bahwa kita masih menjunjung nilai-nilai budaya warisan para leluhur.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Minggu, 01 Agustus 2021

Pasir di Pesisir Pantai Pasongsongan Habis

Kondisi pantai Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Ketika 1990-an bukit pasir sepanjang pesisir pantai Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep masih terlihat menjulang. Seseorang yang berkendara mobil atau sepeda motor yang melintas disepanjang pesisir Pasongsongan tidak akan melihat laut. Pandangan mereka terhalang bukit pasir.

 

Tapi kini bukit pasir itu telah habis. Abrasi pun tak bisa dihindari. Air laut tak terbendung mengikis tanah di sepanjang pesisir pantai Pasongsongan. Maka tatkala air laut lagi surut, batu karang tampak menghampar luas.

 

Bertahun-tahun masyarakat pemilik lahan pesisir menjual pasir. Truk-truk pengangkut pasir saban malam berseliweran di jalan raya Kecamatan Pasongsongan. Seolah tidak ada yang ambil peduli. Padahal perbuatan tersebut melanggar hukum; baik hukum agama maupun hukum negara.

 

Semoga kedepan kita tidak  tergolong sebagai orang-orang perusak alam ciptaan Tuhan. Sebagai manusia beradab, kita tentu tidak ingin mewariskan bencana kepada anak-cucu.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...