Kamis, 10 Juni 2021

Wajah Destinasi Wisata di Pasongsongan



Catatan: Yant Kaiy

Seorang wisatawan berasal dari Yogyakarta berziarah ke Astah Syekh Ali Akbar dan Astah Buju’ Panaongan di Idul Fitri 2021 kemarin. Dia seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri. Kebetulan ikut temannya ingin tahu tempat wisata religi di Pasongsongan.

 

Pertama ia berziarah ke kuburan Syekh Ali Akbar di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Setelah selesai membaca Surah Yasin dan berdoa, dia bertanya pada saya tentang siapa Syekh Ali Akbar.

 

Beliau adalah tokoh penyebar Islam pertama di wilayah pantai utara Pulau Madura. Syekh Ali Akbar adalah paman dari Raja Sumenep, Bindara Saod. Beliau meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir 1000 Hijriah.

 

Kemudian kami melanjutkan ziarah ke Astah Buju’ Panaongan yang terletak di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep. Selesai membaca tahlil dan berdoa, dia bertanya tentang sekelumit sejarah Astah Buju’ Panaongan pada saya.

 

Astah Buju’ Panaongan adalah tempat pemakaman para arifbillah yang diperkirakan berasal dari negeri Timur Tengah. Mereka juga penyebar Islam sambil berdagang di Pelabuhan Pasongsongan. Kuburan ini ditemukan masyarakat setempat dalam timbunan bukit pasir.

 

Sang mahasiswa itu mendengarkan sangat cermat penjelasan saya sembari melontarkan komentarnya.

 

“Kedua tempat bersejarah tersebut sejatinya bisa dikelola dengan baik. Promosi sebagai tempat wisata religi harus terus digalakkan lewat sosial media. Saya yakin sekali, potensi mendatangkan wisatawan dari luar daerah sangat terbuka lebar. Ujung-ujungnya nanti kesejahteraan masyarakat sekitar akan terangkat.”

 

Saya pun tak lupa mengamini harapannya.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Rabu, 09 Juni 2021

Kumpulan Puisi “Cintai Dia Sepertiku” (4)



Karya: Yant Kaiy

Gelegak Ikhtiar

tak terhitung waktu terlampaui

tak kenal hujan dan panas

percaya diri menggunung

menumpuk di malam impian

sebab awal kegagalan

berujung bahagia

seperti banyak kisah

orang terdahulu

 

dari penerbit kelas kaki lima

hingga bergedung megah

kumasuki dari sudut ke pintu

berhari-hari bermandi asap knalpot

senyum sinis bos berkaos oblong

senyum manis penerima tamu

tawar-menawar seenak perutnya

mereka lupa derita berkarya

berdarah-darah melahap usia

 

percaya Tuhan Maha Pemurah

tak ada yang tersia-sia

dari segala pengorbanan

dan cucuran air mata

tapi sampai kapan?

dalam buku harianku

lebih besar pasak dari tiang.

Jakarta, 7/3/1996

 

Biduan Malam

kau cantik

semua mata melirik

mengimla gemulai

tubuh mulusmu

di hamparan musik

mengalun lembut

membelai sukma

membangkitkan gairah

keperkasaan mereka

 

aku pun kepincut

meski cintaku tak jatuh

hanya iba ternatal

tentang masa tuamu

rumah tanggamu

orang-orang sekitar

tidak semua semerbak

menghias langit kamarnya

 

kutak ingin kau celaka

berjudi nasib

diantara gemerlap kota

dan bising mesin

 

kau mempersembahkan

pelita pelajaran

diantara dendang

berasap nikotin

 

meski kau bukan impianku

tingkahmu tetap kuhormati

kujunjung selayaknya

tanpa pamrih

kecantikanmu hibur laraku

jauh dari kampung halaman.

Jakarta, 9/3/1996



Kumpulan Puisi “Cintai Dia Sepertiku” (3)



Karya: Yant Kaiy

Hanya Kamu

rintik hujan malam ini

mengingatkanku padamu

saat paling indah

waktu kita bersama

 

kini masih kurasakan

kehangatanmu masa lalu

cinta tak pernah pudar

dari dalam hatimu

 

biar pun kita berjauhan

kuyakin kau selalu mengenangku

 

ketulusanmu, cinta sucimu

yang membangun semangat hidupku

berkibar di angkasa biru.

Jakarta, 21/2/1996

 

Kau Duakan

aku keliru menilaimu

kau lebih mencintai sahabatku

walau kita saling bersama

dalam suka-duka

 

nyeri itu tak membuatku terkapar

masih berjuta bunga di taman

mengharap kumbang menghampiri.

Jakarta, 27/2/1996



Kumpulan Puisi “Cintai Dia Sepertiku” (2)



Karya: Yant Kaiy

Kau Ingin Kembali

pernahkah dulu aku memaksamu

menjalin ikatan di pelaminan

kini kau ingin kembali

pada kedua orang tuamu

kau katakan inilah cobaan

padahal kisah cinta telah disulam

 

kuhanya bisa berharap

semoga kau bahagia

bersama wanita pilihan

kedua orang tuamu.

Jakarta, 9/2/1996

 

Jangan Kau Harap Lagi

tak usah kau harap lagi

bersanding hidup denganku

cukup sudah hingga disini

mahligai cinta kita lalui

 

mungkin memang harus begini

akhir kisah cinta kita

berpisah saat cintaku bersemi

kau nodai setiaku

kau hancurkan harapanku

 

siapa pun tak ingin

hatinya selalu kecewa

siapa pun tak ingin

hidupnya penuh sandiwara.

            Jakarta, 17/2/1996 



Kumpulan Puisi “Cintai Dia Sepertiku” (1)



Karya: Yant Kaiy

Pengantar Penulis

Pada Rabu (9/6/2021), tanpa disadari sebelumnya ketika membongkar kardus berisi lembar-lembar kertas, ada beberapa puisi ditulis tangan berupa oretan terselip diantara lembaran novel karya saya pada 1996. Oretan itu ditulis karena saya ke Jakarta tidak membawa mesin ketik manual, hanya membawa beberapa novel dan cerita anak yang akan ditawarkan ke penerbit buku.

 

Puisi-puisi tersebut mengingatkan kembali pada awal saya merantau di Jakarta. Banyak kenangan pahit-manis mengiringi perjalanan waktu. Tiada siapa-siapa untuk bangkit yang bisa dijadikan pegangan, kecuali lecutan motivasi dari para sahabat senasib; sesama seniman. Diantara mereka ada perupa, biduan dan musisi, hanya saya yang penulis.

 

Tidak berlebihan kalau ucapan terima kasih saya haturkan kepada: Beda Sudiman (perupa), Agus Mein (musisi), Yamaro Sitompul (musisi), Reza Toha (biduan), Arif Iskandar (arranger), Imam Mustofa (musisi), Zein Tamara (biduan), dan rekan-rekan seniman lainnya yang tak mungkin saya sebutkan satu per satu.[]

Pasongsongan-Sumenep, medio 2021

 

Cintai Dia Sepertiku

manalah mungkin kuterima cintamu

biarpun diriku sering terbalut sepi

sejujurnya, aku pun masih menyayangi

namun mana mungkin, kau tak sendiri

 

jangan pernah berharap cintaku lagi

lupakan semua masa lalu

anggap saja itu hanya mimpi

sengaja datang menghibur tidurmu

 

maafkanlah aku

yang pernah menyayangmu

bahkan berharap

mendampingi dalam hidupmu

 

lupakanlah aku

disana kekasihmu

sedang menunggu

cintailah dia seperti

cintamu terhadapku

dulu…

Jakarta, 4/2/1996

 

Kini Masih Kurasa

lusa masih kita bersama

duduk berdua berbisik mesra

bercerita tentang purnama

indah menghias rumah kita

 

hangat pelukmu masih kurasa

sepi tiada lagi satu kata

terbuai aku dalam asmara

terbang menggapai impian

 

tatkala engkau bicara

rasanya berat kuterima

kita jangan lagi berjumpa

hanya malam ini saja

Jakarta, 7/2/1996



Selasa, 08 Juni 2021

Menyingkap Desa Panaongan dan Kemajuannya



Catatan: Yant Kaiy

Menurut cerita para tokoh sepuh kelahiran Panaongan, bahwa desa ini dulu bernama Desa Padangdangan Barat. Desa Panaongan berada dalam wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Sisi timur berbatasan dengan Desa Padangdangan, sisi selatan Desa Soddara, sisi barat Desa Pasongsongan.

 

Desa yang dulu menjadi tempat bermukim para arifbillah dari negeri Timur Tengah ini memiliki dua destinasi wisata menawan, yakni Goa Soekarno dan Astah Buju’ Panaongan. Kunjungan wisatawan setiap harinya selalu ramai meskipun publikasi di sosial media kurang begitu gencar.

 

Geliat perekonomian di desa ini terus mengalami kemajuan menggembirakan. Faktor pendorong kuat lantaran beberapa kantor penting ada di lokasi ini. Sebut saja Kantor Kecamatan Pasongsongan, Puskesmas Pasongsongan, Pasar Pasongsongan, SMPN 1 Pasongsongan dan UPT Pendidikan Pasongsongan ada di Desa Panaongan.

 

Tapi sayang pemangku kebijakan desa tidak memanfaatkan nilai plus tersebut agar Desa Panaongan lebih maju satu langkah lagi. Kans itu sangat terbuka lebar.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



 

  

Senin, 07 Juni 2021

Kapan Covid-19 Berakhir?



Catatan: Yant Kaiy

Masyarakat menjadi tidak leluasa menjalankan segala aktivitasnya diluar setiap hari. Pandemi Covid-19 menatalkan kekacauan cukup masif di tengah menurunnya daya beli kebutuhan hidup sehari-hari.Terutama bagi mereka yang bekerja sehari untuk dimakan hari itu juga.

 

Penduduk Indonesia (bukan pegawai pemerintah) terus berharap dan berdoa agar Covid-19 segera pergi dari bumi nusantara. Entah bagi mereka yang mempunyai gaji tetap tiap bulan.

 

Protokol Kesehatan (Prokes) menjadi propaganda tajam pemerintah  menggertak rakyatnya sendiri. Ia tidak sadar, bahwa sebenarnya baju dan sepatunya adalah rakyat yang memberinya. Ia lupa, jikalau tugas abdi masyarakat yaitu melayani, bukan minta dilayani.

 

Potret penyekatan akses Jembatan Suramadu awal Juni 2021 ini semakin menambah keprihatinan masyarakat, walau mungkin tujuan pemerintah cukup baik; menekan lonjakan sebaran Covid-19. Tapi dampaknya sungguh amat memprihatinkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Minggu, 06 Juni 2021

Masa Keemasan Desa Pasongsongan



Catatan: Yant Kaiy

Sebelum 1980-an, nama Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan berkibar megah diantara desa-desa lain di wilayah Kabupaten Sumenep. Pasongsongan menjadi kekuatan dahsyat bagi perekonomian masyarakat di pantai utara Pulau Madura. Semua orang berdatangan ke daerah penghasil petis pancitan ini untuk berbelanja kebutuhan hidup sehari-hari. Segala kebutuhan masyarakat tersedia.

 

Saya yang asli kelahiran 1970-an di Pasongsongan masih sempat menyaksikan mega perekonomian tersebut. Setiap hari Pasongsongan ramai dengan orang berbelanja yang datang dari berbagai pelosok desa.

 

Adalah peranakan China yang memegang kendali roda perekonomian di Pasongsongan saat itu. Mereka adalah keturunan King yang berasal dari Tiongkok Tibet. King sendiri mendarat pertama kali di pelabuhan Pasongsongan pada abad ke-17.

 

Salah satu bukti kuat kalau etnis Tionghoa ini begitu berjaya jaman dulu, yaitu adanya bangunan pertokoan dan rumah megah berjejer kanan-kiri di sepanjang Jalan Kiai Abubakar Sidik. Saat ini kita pun bisa menyaksikan bangunan rumah tersebut.

 

Tapi era 90-an hingar-bingar Desa Pasongsongan mulai meredup. Seiring geliat daerah lain terus berpacu mencapai fase kemajuan berarti.

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Sabtu, 05 Juni 2021

Butuh Kepedulian, Jalan Desa di Kecamatan Pasongsongan Rusak



Catatan: Yant Kaiy

Pemkab Sumenep sudah sekian lama menjadi sorotan kuat para tokoh masyarakat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Hal itu terkait kemunduran Pasar Pasongsongan dalam sisi daya saing dengan pasar didua kecamatan yang mengapitnya, yakni Pasar Ambunten Kabupaten Sumenep dan Pasar Pasean Kabupaten Pamekasan.

 

Kurangnya atensi Pemkab Sumenep terhadap persoalan jalan desa di wilayah Kecamatan Pasongsongan menjadi salah satu potensi terdegradasinya Pasar Pasongsongan. Akses jalan rusak dan berlubang membuat masyarakat malas berbelanja di Pasar Pasongsongan.

 

Gambaran banyak orang saat sekarang; mending lebih jauh sedikit jarak tempuhnya tapi jalan mulus, tomatis akan lebih cepat sampai pada tujuan.

 

Disamping itu, kurang terakomodirnya kebutuhan masyarakat berbelanja di Pasar Pasongsongan juga menjadi keprihatinan banyak pihak. Kesadaran pengusaha lokal dalam mengupayakan tumbuh-kembang geliat bisnis di daerah penghasil petis pancitan selama ini adem-ayem saja. Mereka “tertidur pulas” dengan hasil kekayaannya tanpa mau berbagi dengan masyarakat sekitarnya.

 

Dua elemen ini sejatinya bisa menatalkan inspirasi bagi warga setempat, bagaimana Pasar Pasongsongan bisa terangkis dari keterpurukannya.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Kembali Hadir Macapat Lesbumi MWC NU Pasongsongan

Muhammad Tohari (kanan), Ketua Perkumpulan Macapat Lesbumi MWC NU Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Setelah dihentikan selama Bulan Suci Ramadhan, tadi malam (Sabtu, 5/6/2021) perkumpulan macapat Lesbumi MWC NU Pasongsongan-Sumenep hadir kembali di tengah-tengah masyarakat. Seni tradisi bertutur yang hampir punah ini digelar di kediaman Muhammad Nizan, Dusun Benteng Selatan Desa Pasongsongan Kabupaten Sumenep.

 

Ada yang unik dari perkumpulan macapat ini. Sebelum acara dimulai, terlebih dahulu semua jemaah membaca dzikir-tahlil. Ini penting, mengingat dzikir-tahlil itu merupakan warisan (kebiasaan) para muassis NU tempo dulu. Tujuannya untuk mendoakan arwah mereka agar selamat di akhirat.

 

Tadi malam juga ada dua anggota baru masuk. Kasak-kusuk terlontar cerita kalau salah satu dari orang tuanya dulu ahli macapat. Kendati mereka hanya sebagai penikmat, tapi keduanya sangat menyukainya.

 

Menurut Muhammad Tohari (Ketua Perkumpulan Macapat Lesbumi MWC NU Pasongsongan), dirinya menyambut baik hadirnya kedua anggota baru tersebut. Ia menyampaikan kalau perkumpulannya tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang mau bergabung, meskipun tidak bisa menembangkan macapat.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Klinik Pratama dr. Fajar Habibi Unggul Sisi Pelayanan

Di tengah-tengah tempat pengunjung inilah yang ada ruang bawah tanah. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Kalau dari luar Klinik Pratama dr. Fajar Habibi telihat kecil bangunannya. Tapi setelah masuk saya berdecak kagum karena didalamnya bersih, rapi dan luas.

 

Dalam sisi pelayanan klinik ini memiliki banyak keunggulan. Disamping parkir kendaraan gratis, buang air kecil dan besar juga gratis. Keramahtamahan dokter dan perawatnya terhadap para pasien dan pengunjung membikin hati puas. Ada kantin dengan menu makanan standard berharga murah. Tersedia pula mushalla di belakang bangunan utama.

 

Pada Sabtu (5/6/2021) pagi, saya membesuk kakak yang sedang dirawat di Klinik Pratama dr. Fajar Habibi, Jalan Raya Waru Desa Tlontoraja Kecamatan Pasean Pamekasan. Setelah berbincang-bincang dengan kakak menanyakan kondisi penyakitnya, saya keluar dari ruangan ber-AC duduk bercengkerama di lantai bersama keluarga besar kami.

 

Tiba-tiba saya kaget, karena di tengah-tengah bangunan ada Ruang Pertemuan bawah tanah. Menurut hemat para pengunjung, semestinya sekeliling sisi ruang bawah tanah tersebut diberi terali logam, menghindari jatuhnya korban akibat terjatuh ke lantai dasar, terutama anak kecil.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com 

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...