Jumat, 29 Mei 2020

Biografi Hairul Anwar Masa Kecil (Bagian 2 dari 8 Tulisan)

Hairul Anwar, owner Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy

Hairul Anwar lahir pada, 18 Agustus 1980, di Dusun Benteng Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Ia menjalani masa kecilnya seperti anak-anak lazimnya. Ia dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal perekonomian. Anak bungsu dari tiga bersaudara berdarah Madura, Arab dan Cina ini memiliki kecerdasan lumayan baik, terbukti ia selalu masuk tiga besar sebagai murid terbaik di sekolahnya. Ia cukup menonjol dalam hal kecerdasannya.

Lingkungan pesisir tempat tinggal Hairul Anwar telah memupuk jiwanya menjadi anak bermental baja, pantang menyerah dalam banyak hal. Lingkungan nelayan padat penduduk tempat tinggalnya mengajarkan banyak hal tentang arti perjuangan hidup yang sesungguhnya. Tidak cengeng karena satu wujud rintangan menghantui pikirannya. Tidak surut meski tantangan menghadang di hadapannya. Baginya tantangan harus ditaklukkan jika sukses menjadi cita-citanya.

Ia teringat cerita ayahnya, bahwa seorang nelayan jika ingin mendapatkan ikan banyak maka ia harus pergi ke tengah laut. Mempertaruhkan nyawa melawan ombak dan angin serta hujan. Begitu pula jika seseorang ingin mendapatkan mutiara berkualitas bagus dan berharga mahal, ia harus pergi ke laut lepas dan menyelam teramat dalam ke dasar laut.

Umumnya masyarakat tempat tinggal Hairul Anwar menggantungkan hidupnya menjadi nelayan. Satu-satunya mata pencaharian masyarakat pesisir Desa Panaongan dan Pasongsongan lantaran tidak ada areal persawahan di kedua desa ini. Ada pepatah beraroma heroik di kalangan mereka: Abantal omba’ asapo’ angin, alako barra’ apello koneng. Terjemahan bebas dari pepatah berbahasa Madura ini bermakna: Berbantalkan ombak berselimutkan angin, bekerja keras berpeluh semangat membara.

Maksudnya, untuk menjadi manusia sukses di dunia dan akhirat, seseorang harus berupaya sekuat tenaga, tidak mudah menyerah begitu saja karena sebuah kegagalan. Berjuang sampai titik darah penghabisan untuk urusan dunia-akhirat, tapi untuk kesenangan takarannya sekecil mungkin, ala kadarnya. Demikian salah satu pesan dari ibunda Hairul Anwar ketika ada hiburan di daerahnya.

Hairul Anwar kecil sudah bisa memahami petuah ibunya. Biasanya di masyarakat pesisir kalau ada perayaan pernikahan, mereka mengadakan pertunjukan kesenian topeng dalang Madura atau ludruk Madura semalam suntuk.

Belakangan ini tercetus satu celoteh dari nelayan Kecamatan Pasongsongan; “seorang nelayan itu lebih takut lapar dari pada mati”. Memang terdengar sadis kalimat ini. Namun kenyataan di lapangan berbicara demikian. Demi sesuap nasi agar anak-istri tidak kelaparan, seorang nelayan itu bertaruh nyawa pergi ke tengah laut, mengarungi ombak dan badai, tak peduli meski nyawa jadi taruhan.

Kerasnya perjuangan dalam meraih kesejahteraan hidup memang dialami semua orang di banyak bidang pekerjaan. Tak terkecuali seorang nelayan. Kerja jadi nelayan lebih banyak peluang risiko kematian karena berada di tengah lautan, jauh dari daratan. Gelombang besar, angin kencang, petir menyambar merupakan elemen pencabut nyawa yang setiap waktu bisa mengancam seisi awak perahu. Tapi mereka tetap tidak gentar menghadapinya. Baginya hidup dan mati ada dalam genggaman Tuhan.

Tempaan keras lingkungan nelayan terhadap Hairul Anwar kecil menjadikan pribadinya sebagai insan mandiri sudah tidak diragukan lagi. Ia meniscaya menatap hari esok cerah bahagia dengan segala keterbatasannya. Ia yakin pada waktunya nanti akan bisa merengkuh impiannya untuk tidak berkutat di tanah kelahirannya. Ia mesti hijrah apa pun alasannya. Seperti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah untuk suatu kemenangan bagi kaum muslimin.

Maka ketika Hairul Anwar memasuki gerbang pendidikan Sekolah Dasar, ia tegar dan penuh keyakinan dalam jiwanya kalau ia akan sanggup menjalaninya. Ketekunan belajar menjadi modal utama Hairul Anwar sebagai murid teladan di bangku SDN Panaongan I. Ia sangat gigih, telaten, ulet dan disiplin dalam banyak hal, terutama yang menyangkut dunia pendidikan. Menomer satukan menimba ilmu sebaik mungkin sebagai bekal kelak setelah dewasa, menyadarkan jiwanya untuk bisa bertransformasi dari lingkungan nelayan ke suasana lain yang lebih menjanjikan.

Dalam hal bergaul dengan teman-temannya, Hairul Anwar kecil menghabiskan waktu bermainnya di pinggir pantai. Bahkan sesekali ia membantu tetangganya menurunkan ikan dari perahu, diangkut ke darat. Dari kegiatan ini, ia mendapatkan imbalan uang jajan dari mereka. Maka tatkala Hairul Anwar pergi ke sekolah, ia tidak meminta uang jajan lagi pada orang tuanya.

Aktivitas membantu mengangkut ikan ini boleh dilakukan siapa saja. Upahnya berupa beberapa ekor ikan. Setelah terkumpul banyak, ikan hasil imbalan itu dijual kepada pedagang. Pekerjaan semacam ini nelayan Pasongsongan menyebutnya dengan “ngojur”.

Tentang kesetiakawanan Hairul Anwar menjadi sikap mendasar dalam bergaul. Ia tak pernah membeda-bedakan teman. Walau dalam garis keturunan, ayah Hairul Anwar berasal dari trah alim ulama dan tokoh Islam terkemuka di Kecamatan Pasongsongan. Sedangkan Ibu Hairul Anwar berasal dari keturunan Cina muslim. Namun egosentris Hairul Anwar akan trah dalam bersosial budaya tidak terlihat sama sekali. Meskipun dalam segi penampilan Hairul Anwar punya nilai lain dari mereka. Kulitnya yang kuning mirip orang Cina.

Satu kebiasaan Hairul Anwar sehabis shalat subuh ia langsung mempersiapkan diri berangkat sekolah. Sore harinya bersekolah lagi di MI An-Najah Pasongsongan. Malam harinya mengaji Al-Qur’an pada Kiai Mustamar yang tak lain paman Hairul Anwar. Kemudian dia mengikuti kajian Kitab Sullamut Taufiq dan Safinatun Naja di musholla tempatnya mengaji.

Semangat belajar Hairul Anwar sebelum masuk SD telah terlihat jelas dengan selalu bertanya kepada kedua kakaknya. Sikap baik ini mendapat apresiasi luar biasa dari keluarga besarnya.

Pulang mengaji Hairul Anwar makan malam dulu. Setelah itu ia mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan guru sembari mempersiapkan semua peralatan sekolah untuk dibawa besok. Sering pula kakak-kakaknya memberikan bimbingan kepadanya dengan menyodorkan soal-soal sebagai pengembangan mata pelajaran. Begitulah kegiatannya setiap hari tanpa mengenal lelah. Karena hidup mesti dijalani dengan langkah pasti dan tidak boleh berhenti sebab tantangan baru akan bergulir ke hadapan setiap insan. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin buat kepentingan dirinya sendiri akan sangat membantu seseorang keluar dari kemelut hidup.

Ia teringat kata–kata seorang guru di sekolahnya, tidak ada ruginya bagi seseorang terlalu pintar. Seseorang yang pintar dalam hal pelajaran sekolah memudahkan dirinya mencapai cita-cita. Maka dengan selalu memaksakan diri mengasah otak, melatih mengerjakan soal-soal pelajaran, memperbanyak membaca buku apa saja justru akan membuat seseorang menjadi lebih cerdas, lebih mempunyai wawasan. Dan ia akan mempunyai power nalar handal yang menguntungkan bagi kepribadiannya.

Hanya dengan modal belajar dan terus belajar maka ilmu apa pun akan sangat mudah diserapnya. Dari haus membaca buku-buku pelajaran tentang agama Islam dan pernak-pernik hukumnya, ilmu pengetahuan Hairul Anwar semakin meniscaya. Kesenangannya membaca dan mempelajari berbagai dasar ilmu Islam memupuk keimanannya begitu kokoh. Plus arahan syariat agama yang benar dari para ustadz di madrasah dan musolla. Tertanam dan mengakar kuat di hatinya. Tidak mudah diombang-ambingkan situasi dan kondisi apa pun. Tidak gampang terjebak pada suatu paham keliru dan menyesatkan, karena memiliki banyak kajian keilmuan sebagai pembanding.

Orang tua Haitul Anwar seringkali mensupport untuk mengutamakan belajar setiap malam. Sedangkan kedua kakaknya menuntun Hairul Anwar apabila ada soal-soal mata pelajaran yang tidak mengerti. Sinergitas mereka menyulapnya menjadi murid yang membanggakan bagi keluarganya.

Dimasa liburan sekolah, biasanya Hairul Anwar lebih banyak di rumah membaca buku penunjang pelajaran, warisan kedua kakaknya. Hanya sebentar kalaupun ia bermain lantaran harus menyegerakan shalat berjamaah di masjid yang tidak jauh dari rumahnya.

Menurut cerita saudaranya, Hairul Anwar sangat suka kebersihan. Ia mencuci sendiri semua pakaiannya dan menyetrikanya. Ia sering menyapu dan mengumpulkan sampah pada tempatnya. Dalam berpakaian juga Hairul Anwar sangat menjaga kerapian. Berpenampilan simpel adalah ciri khasnya.

Hairul Anwar kecil adalah anak penurut. Berbakti kepada kedua orang tuanya dalam banyak hal. Tidak pernah berbuat macam-macam yang membuat orang tuanya kecewa. Prinsipnya tak mau membuat orang lain terbebani oleh tingkah lakunya dan keinginannya semata. Ia sangat menjaga nama baik keluarganya. Ia juga tak pernah meminta sesuatu apa pun yang tidak begitu penting. Terlebih lagi jika orang tuanya tidak sanggup membelikannya karena ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Meskipun ia tidak memintanya, orang tuanya tetap memperhatikan segala keperluan Hairul Anwar. Kesederhanaan dan kedisiplinan ini terus tertanam di kalbunya sehingga membuat bangga keluarga.

Sikap mandiri Hairul Anwar menjadikan teman-teman sekolahnya mengagumi kepribadiannya yang tulus. Sudah cerdas masih senang berbagi ilmu pelajaran, membuatnya mendapat banyak pujian. Seringkali ada teman sekolahnya yang tidak mengerti pelajaran dari guru, maka Hairul Anwar mengadakan kelompok belajar bersama di rumahnya. Karena dia sudah paham, dia yang mengajari mereka (teman-temannya) mengerjakan soal-soal pelajaran sampai bisa.

Sikapnya yang tidak sombong, suka mengalah, dan selalu menghormati siapa pun adalah akhlak mulia yang melekat pada sifatnya. Yang tak kalah menarik dari semua itu, Hairul Anwar adalah pemaaf dan tidak pendendam kepada siapa saja. Ia tidak mudah hanyut atau ikut-ikutan temannya yang bertingkah laku tidak baik.

Terkait dengan ilmu pengetahuan, Hairul Anwar menyadari kalau dirinya tidak akan bisa menaklukkan dunia kalau tidak pintar. Dengan berotak pintar orang bisa menginjakkan kakinya di bulan. Dengan berotak cerdas orang bisa membuat pesawat terbang. Inilah dorongan semangat dari kedua kakaknya, membuat Hairul Anwar kian tekun dalam belajar.

Apalah artinya harta berlimpah kalau otaknya bodoh, begitu kata-kata orang tuanya yang senantiasa terngiang di telinga Hairul Anwar. Orang tua Hairul Anwar juga menganjurkan untuk mendalami ilmu-ilmu Islam yang berkaitan dengan akhlak. Otak pintar harus seiring sejalan dengan akhlak yang baik. Kalau sudah demikian, maka akan banyak memberi maslahah bagi orang lain secara luas. Jikalau seseorang akhlaknya rusak jangan harap orang lain mendapat manfaat dan kebajikan darinya. Justru sebaliknya, orang lain akan mendapat mudarat.

Hal ini mahfum, sudah tertulis dalam beberapa kisah lama tentang orang pintar yang akhirnya kufur kepada Tuhannya. Ingkar terhadap nikmat-nikmat yang diberikan Allah terhadapnya. Bahkan pada akhirnya ada yang menganggap dirinya Tuhan karena merasa bahwa ia telah memiliki kuasa terhadap alam semesta dan isinya. Naudzubillahi min dzalik.


Bercermin dari kisah-kisah lama inilah kedua orang tua Hairul Anwar sangat care dengan pendidikan akhlak anaknya-anaknya. Orang tua mana yang menghendaki anaknya menjadi manusia tak bermoral. Tentu semua orang tua menginginkan anak-anaknya bisa membalas amal baik dari orang-orang yang pernah membantunya. 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Pembelajaran Agama pada Murid SD


Opini: Yant Kaiy
Di akun sosial yang saya miliki akhir-akhir ini dijejali oleh foto dan teks tentang keluh-kesah para wali murid. Kebetulan anak saya kelas 4 di SDN Pasongsongan V Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Saya dan mereka selalu menanyakan kapan akan dimulainya kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Para wali murid ada yang khawatir kalau dampak Covid-19 bisa merubah karakter mental anaknya. Walau para guru menerapkan pembelajaran daring, namun tetap itu tak membuat tenang kami sebagai wali murid.

Sebab tentu berbeda belajar daring dengan belajar berhadapan langsung sama gurunya. Belajar secara langsung melahirkan kesan mendalam lewat sentuhan rasa kebersamaan sehingga tercipta nuansa kemanusiaan yang menumbuhkan jalinan psikologis antara guru dan murid.

Beruntunglah anak kami masih bisa belajar mengaji secara langsung pada ustadznya. Saya tidak bisa membayangkan kalau musholla tempat anak saya mengaji ditutup juga.

Kami berkeyakinan bahwa pendidikan agama akan memupuk moral mereka menjadi manusia tangguh dalam menghadapi situasi apa pun. Dalam agama ada hukum fardu ain, fardu kifayah, sunnah, mubah, halal, makruh, haram. Ini menjadi penting karena anak akan menapaki estafet kehidupan yang lebih kompleks dengan permasalahan lebih luas.

Dalam agama juga diajarkan tentang akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak kepada alam selain manusia.

Semoga pandemi Covid-19 segera berlalu dari bumi nusantara!


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com. 

Pelaku Wisata di Sumenep Mengajukan Protes

Goa Soekarno Pasongsongan Sumenep

Opini: Yant Kaiy
Pandemi Covid-19 menjadi babak baru “pelemahan” sebagian para pengusaha di Sumenep, terutama di sektor pariwisata. Karena total destinasi wisata di Kota Keris ini menghentikan aktivitasnya. Otomatis karyawan tempat wisata dirumahkan dan menjadi orang miskin baru. Sungguh miris memang, tapi itulah realita yang terjadi.

Para pengusaha pariwisata ternyata agak keberatan dengan pemberlakuan kebijakan ini. Nyatanya pusat-pusat perbelanjaan modern, kafe dan pabrik rokok nasional  masih saja terus beroperasi. Pasar tempat berkumpulnya orang dari berbagai pelosok juga dibiarkan beraktivitas seperti biasanya.

Suasana tidak “adil” ini menyebabkan para pelaku usaha wisata di Sumenep yang tergabung dalam “Paguyuban Pelaku Usaha Pariwisata Sumenep” melayangkan nota keberatan kepada pemerintah, dalam hal ini Pemda Sumenep.

Berikut petikan lengkap nota keberatan itu:

Press Rilis “Paguyuban Pelaku Usaha Pariwisata Sumenep”
02/PPUPS/V/2020
Hak Jawab Pernyataan Pemda di Media Terkait Pelibatan Pelaku
Usaha Pariwisata dalam Rapat Koordinasi Disparbudpora Sumenep Terkait Penutupan Tempat Wisata.

Sumenep, Jumat 29 Mei 2020

“Setiap pengusaha pariwisata berhak: mendapatkan perlindungan hukum dalam berusaha; dan mendapatkan fasilitas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” Pasal 22 UU No.10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.

Dalam media online dan Instagram dari Kominfo Kabupaten Sumenep dinyatakan pada hari Kamis, 28 Mei 2020 bahwa telah dilakukan rapat koordinasi yang dilakukan oleh Disparbudpora Sumenep dengan mengundang seluruh Forkopimda, Forkopimka, Kepala Desa dan Pemilik destinasi wisata.
Faktanya, pemilik destinasi wisata yang digarap oleh swasta tidak pernah dan tidak ada yang dilibatkan atau diundang dalam rapat koordinasi bersama. Fakta tersebut mempertegas kondisi dipemerintahan Kabupaten Sumenep yang penuh konflik kepentingan satu sama lain
dan hanya Asal Bupati Senang (ABS) saja.

Beberapa pemilik wisata seperti : Goa Soekarno, Pantai 9, Tectona, Boekit Tinggi, Pantai E Kasoghi memastikan bahwa tidak mendapatkan pemberitahuan, baik melalui surat edaran ataupun sejenisnya. Apalagi diajak duduk bersama dengan pemerintah daerah dalam hal ini
Disparbudpora. Kalau toh misal yang dilibatkan hanya pengelola destinasi wisata milik Pemda maka tentu hal ini sangat tidak mewakili kami selaku pengelola destinasi wisata swasta.

Kejadian semacam ini menjadi preseden buruk Bupati Sumenep A. Busyro Karim dan Kepala Disparbudpora Bambang Irianto dan sudah tentu melanggar UU no 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Selain itu pemerintah Kabupaten Sumenep dianggap juga melanggar dalam
Pasal 28A Undang-Undang Dasar 1945 (“UUD 1945”) yang berbunyi: “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.” Dan juga UU Undang-Undang No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik karena jelas berupaya
menutup pintu sepihak kepada para pelaku usaha pariwisata di Kabupaten Sumenep.

Dalam keterangan pers yang berbeda, Kepala Disparbudpora Kabupaten Sumenep juga menyatakan: “Semua kafe dan tempat wisata tutup semua selama pandemi covid-19 dan akan diperbolehkan beroperasi jika Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dinyatakan benar-
benar bebas dari Covid-19”. Fakta berbeda juga terjadi, kafe di tengah kota masih ramai lancar dan banyak orang berkerumun serta berkumpul. Menjadi dasar dan bukti bahwa Kepala Disparbudpora tidak bekerja selama masa pandemi covid-19.

Kami berharap pemerintah tegas dan tidak tebang pilih satu sama lain, tidak pula menampilkan kebodohannya kepada publik sumenep dalam berkomunikasi sehingga mengesankan “Pemda tidak bekerja, hanya memakan gaji buta”.

Sumenep, 29 Mei 2020
Paguyuban Pelaku Usaha Pariwisata Sumenep

1. Fery saputra (Warung Jati)
2. Yusuf ismail (Hotel Garuda)
3. Ryan (Hotel Kangen)
4. Ali (Jawara Travel)
5. Hairul (Madura Trip)
6. Edward Billy (Lumugada Premium Travel)
7. Faiqul Khair Al-Kudus (Tabularasa)
8. Syaiful Anwar (Goa Soekarno)
9. Fadel (Pantai E Kasoghi)
10. Fredy (Tectona)

Demikian petikan asli nota protes dari Paguyuban Pelaku Usaha Pariwisata Sumenep yang notabene bertujuan untuk memberikan kesejahteraan bagi para karyawannya. (Yant Kaiy)


Kamis, 28 Mei 2020

Puisi: Akhmad Jasimul Ahyak






















Dialog Laut Pasang
Pada laut,
Terangkai pulau jejak
Dari hati ke hati
Di sana memekik senja yang bersemedi,
Dalam lintasan semesta
Ombak pun berteriak berpesta-pora kata
Terombang-ambing di pelataran laut menjingga

Pada laut,
Mataku bicara, tentang syair yang menenggelamkan kata
Sedang kalimat menciumi aksara di bibir pantai,
Karena tidak ada lagi pelukan para si nelayan
Yang kini lidahnya terpasung lautan pasang
Di sini pantai menyendiri
Berselendangkan syair di pucuk pasir
Yang lagi menggigil.


2020


Tangis Siul Sang Betina
Aku menjalar di setiap sudut jalan gelap
Gemuruh langit pun meregang
Mengikuti ke mana laju kakiku melangkah
Sedikit ada rasa yang menakutkan
Karena hujan...
Sebentar lagi datang
Tiba-tiba
Hujan pun membasahi tubuhku
Aku gemetar...
Takut oleh getaran kilat menyambar
Laksana blitz kamera menyinari wajahku
Aku keburu mencari keteduhan
Menuju rumah lokasi gang buntu

Suara hujan begitu riuh bergemuruh
Dinding rumahnya semakin melukiskan embun
Aku pandang titik ke arah langit rumah
Hanya kesunyian semakin menuju hampa
Kini aku terjebak dan tenggelam
Ke dalam palung tanpa cahaya

Seketika...
Aku melihat sepasang mata mengintip di balik rumahnya
Rasa takutku semakin menjadi
Bersarang di daging, meresap ketulang-tulang
Mulutku berdoa komat-kamit sambil baca mantra
Bismillahirrohmanirrohim
Wahai roh jahat penunggu rumah
Kuminta tinggalkan aku
Kuminta jangan ganggu aku
Pergilah...pergilah
Kokoh Allah, teguh Nabi Muhammad
Dengan bibir penuh kaku
Doa mantraku tak henti kubaca

Akhirnya sepasang mata tak terlihat lagi
Berganti siul tangis seorang perempuan
Perlahan dan sangat lembut
Ia berkata, tolong aku?
Kudengar suara isak tangis
Penuh hening di balik pintu rumahnya
Dengan rasa gemetar
Aku lihat dari celah jendela yang agak menganga
Mataku berkaca-kaca rasanya tidak percaya
Dalam remang lampu temaram
Aku melihat sosok manusia betina
Berkerudung, berkacamata
Pipinya merah merona tertumpah air mata

Pas jam 12 malam
Aku tak takut lagi membuka pintu dan mendorongnya
Penghuni rumah menoleh kepadaku
“Dia sudah tahu”, aku masuk kamarnya
Permisi”, kataku
Dengan rasa takut dia pun tidak menjawab
Bungkam membisu
“Maaf mengganggu”, kataku lagi
Dengan mulut tersungging, hanya suara penuh sesak
“Aku ingin menikmati keheningan malam
Bersama ibu”, jawabnya
“kamu hanya berdua
Tidak ada siapa- siapa
Sedangkan ibunya Sekarat dan kaku
Bawa dan periksa ke dokter”
“Aku tidak punya apa-apa”, jawabnya

Jam 4 subuh
Suara adzan berkumandang
Aku hanya diam tanpa sapa
Isak tangis sang betina terus mengeratkan air mata
Meratapi ibunya yang terbujur kaku
Kedua genggaman jemaripun tak mau lepas
Aku hanya bisa menatap perempuan tua di pembaringan
Anaknya hanya membasuh debu
Yang masih melekat di sela-sela keriput kulitnya

Sehabis subuh
Suasana menyeru resah
Karena sang ibu si betina
Kini tanpa nafsu tanpa nafas
Seketika dia menjerit, menangis
Atas ajal ibu yang sudah tiada
Tuhan, kau boleh ambil nyawa ibuku
Tuhan, kau boleh cabut nafas ibuku
Asal engkau semai benih kasihnya
Ibunya telah pergi
Si betina kini redup dan rapuh
Cahaya wajahnya mulai lumpuh

Pagi sepi menatap waktu
Hari kematianpun sudah berlalu
Air mata terus berlinang
Membasahi kacamata yang ia pakai
Dan menetes pada pipinya
“Sekarang aku harus kemana ibu”
“Kepergianmu kau ciptakan sendu
Untukku”, kata mereka
Lara kini berhuyung-huyung di dalam rumahnya
Hanya sang betina dalam kesendirian
Dengan mata sembab meratap pilu
Tinggalkan luka dihatinya
Wahai “Sang betina”
“Apa yang terjadi tak kan bisa kembali
Sekarang cukup satu yang harus kau cari”
“Saya tidak mengerti
Sedangkan aku belum kenal kamu”, jawabnya
“Aku adalah penyair”
“Aku adalah penolongmu”
Ya, “Tapi kamu bukan siapa-siapa aku
Juga bukan saudara aku”
Kini si betina hidup kesendirian
Hanya mendiami rindu
Tak lagi terdengar suara ibunya
Yang kerap menziarahi tubuhnya

Aku adalah penyair sengsara
Sekarang aku ingin pergi bersama waktu
Wahai sang betina!
Sekarang aku juga butuh sepi
Ingin mencari mimpi yang sedang menepi
“Sementara aku sendiri,
“Tidak punya siapa-siapa”, kata sang betina
Tapi kamu punya Tuhan
Yang selalu menemanimu disepanjang hari
“Ya, tapi aku butuh orang bukan Tuhan
Aku butuh teman pengganti ibu”, jawabnya
Sisa hari telah berduka
Sejumput jiwa yang dipanggil
Kini masih menyisakan tangis yang menggigil
“Wahai sang betina”
Perjalananmu hampir sampai
Tetesan kedukaanmu akan berakhir
Lelahmu akan terbalaskan
Dengan air telaga kebahagiaan
“aku tidak mengerti tuan”, jawab sang betina ketakutan
“Maukah kamu ikut bersamaku?
“Tidak”, aku takut dosa, aku takut Tuhan!
Engkau adalah betina cantik, tapi tidak tau apa-apa
Engkau akan kubawa berjalan bersama Tuhan
Pada petapaan rindu di taman surga
“Aku tidak tau apa yang tuan katakan”
Wahai si betina!d
Dengan wajah cantik melekat ditubuhnya
Kan kujadikan engkau permata
Di pelaminan menuju Tuhan
Engkau akan kugelar istri
Dan kukalungkan rindu pada Sang Ilahi

Mendengarnya sang betina kaget
Sambil menghela nafas lebih dalam
Kini siul tangis sang betina
Menjadi siul tawa gembira
“Akulah sang betina yang lagi sengsara
Juga tidak punya apa-apa”
Kni lemah tak berdaya
Oleh cinta sang penyair lara.

2020

Pasongsongan Miliki Tempat Wisata Potensial

Mohammad Ali Al Humaidy (kanan)
bersama Yant Kaiy dari apoymadura.com.


Apoy Madura, Sumenep – Wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura yang terkenal dengan penganan “petis pancitan” mempunyai tiga destinasi wisata yang berprospek cerah mendatangkan banyak pengunjung.

Imbas dari banyaknya pengunjung tentu akan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Karena mereka akan membelanjakan uangnya di tempat pariwisata tersebut.

Ketiga tempat itu adalah:

Yang pertama Astah Buju’ Panaongan, berlokasi di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep yang keberadaannya ditemukan dalam timbunan pasir setinggi kurang lebih 17,5 meter pada 13 september 1999. Di nisan makam para arifbillah ini tertulis Syekh Al-Arif Abu Said (wafat 1292) dan Syekh Abu Suhri (wafat 1281).

Yang kedua Astah Syekh Ali Akbar, terletak di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep. Tokoh penyebar agama Islam ini wafat 14 Jumadil Akhir 1000 H dan merupakan paman dari Raja Sumenep ke-29, yakni Raja Bindara Saod.

Yang ketiga Goa Soekarno, berlokasi di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep. Obyek wisata ini berada di bawah batu cadas. Di dalamnya ada stalaktit dan stalakmit yang eksotis.
 
Goa Soekarno
“Tapi selama ini hanya Goa Soekarno yang gencar berpromosi lewat media massa. Sehingga tak ayal obyek wisata ini banyak pengunjungnya setiap hari. Padahal Goa Soekarno adalah tempat wisata baru ketimbang Astah Buju’ Panaongan dan Astah Syekh Ali Akbar,” komentar Mohammad Ali Al Humaidy kepada apoymadura.com. Kamis (28/5/2020).

Lewat sambungan telepon, Dosen IAIN Madura ini mengingatkan, kalau sarana promosi adalah ujung tombak mendatangkan banyak penikmat pariwisata.

“Jadi jangan anggap sepele soal pariwara ini. Selanjutnya adalah tempat parkir, toilet, musholla, kuliner menjadi nilai tambah agar para wisatawan merekomendasikan kepada temannya kalau tempat itu enak dan nyaman dikunjungi,” pungkasnya. (Yant Kaiy)


Rabu, 27 Mei 2020

Kebijakan atau Kebajikan

Ilustrasi

Opini: Yant Kaiy
Menurut kamus, kebijakan merupakan rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Istilah ini dapat diterapkan pada pemerintahan, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum.

Sedangkan kebajikan bermakna perilaku yang memenuhi kebaikan moral yang mendatangkan keberuntungan, keselamatan, dan lain sebagainya.

Nah, ketika kebijakan dibenturkan pada hal-hal berbau politik yang mendiskreditkan atau mengorbankan kepentingan masyarakat tentu akan merugikan banyak pihak. Terutama apabila kebijakan itu menguntungkan bagi kelompoknya saja dengan mengesampingkan nilai moral kemanusiaan.

Yang namanya kebijakan tentu memiliki argumentasi logis untuk mengcounter rival yang memiliki opini berseberangan. Si pembuat kebijakan kalau perlu membuat konspirasi dengan kelompoknya agar orang-orang percaya kalau produk kebijakannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai etika, norma sosial-budaya, dan lain-lain.

Tapi kalau kebijakan disandingkan dengan kebajikan tentu efeknya akan menatalkan maslahah bagi seluruh umat manusia. Si penghasil produk kebijakan akan dikenang selama-lamanya kalau ia seorang pemimpin. Bahkan sampai tubuhnya terkubur berkalang tanah, ia akan dikirimi doa oleh pengikutnya agar diampuni dosa-dosanya dan ditempatkan di surga.

Jadi benar kata teman saya, seorang kuli bangunan di Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep bilang; manusia di dunia ada dua, yakni manusia baik dan manusia jahat.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com.

Pasongsongan Memasuki Musim Tanam Tembakau

Ibu Sundari (Foto Dok. Pribadi)

Apoy Madura, Sumenep – Sebagian masyarakat petani tembakau di wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep mulai melakukan penanaman bibit tembakau bulan ini. Menurut mereka akhir Mei 2020 merupakan saat yang tepat karena masih ada hujan turun.

Banyak diantara mereka yang memprediksi bahwa musim tanam tahun ini akan lebih baik ketimbang tahun kemarin.

“Tahun lalu petani tembakau banyak merugi akibat cuaca kurang baik. Saat para petani sedang menanam, hujan tidak turun. Faktor kekeringan menjadi pemicu tidak maksimalnya hasil panen tembakau,” terang Ibu Sundari warga Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep kepada apoymadura.com, Rabu (27/5/2020).

Ibu dua anak ini juga berharap agar cuaca bersahabat. Sebab cuaca yang baik faktor penentu hasil panen tembakau.

“Lebih penting lagi soal harga. Walaupun kualitas tembakau baik tapi tidak diiringi dengan harga bagus, ujung-ujungnya petani yang rugi,” imbuh Ibu Sundari dengan senyum. (Yant Kaiy)


Selasa, 26 Mei 2020

Fenomena OMGB di Sumenep


Opini: Yant Kaiy
Orang Madura, khususnya orang Sumenep adalah pekerja ulet dan tekun. Pantang menyerah sebelum sukses dalam genggaman. Sesuai dengan falsafahnya: Abantal omba’ asapo’ angin, alako barra’ apello koneng. (berbantalkan ombak berselimut angin, bekerja keras berkeringat kuning). Artinya, mereka kalau sudah bekerja akan selalu fokus pada pencapaian diri.

Di perantauan mereka mampu lebih baik dalam kesejahteraan ketimbang berada di tanah kelahirannya. Di rantau mereka berperilaku hidup cukup sederhana, mengebiri kesenangan sesaat demi cita-cita mulia.  Terbukti ikhtiar ini bisa mengantarkannya pada raihan sukses tak terelakkan.

Tapi berbanding terbalik di tanah asalnya. Mayoritas kalangan sarjana baru lulus lebih memilih jadi tenaga kerja sukwan di kantor pemerintah dan beberapa di lembaga pendidikan, baik negeri atau swasta. Seolah tidak ada pilihan baginya bekerja di bidang lain agar taraf hidupnya bisa lebih baik.

Padahal mereka tahu kalau bayaran tenaga sukwan itu tidak manusiawi. Sekali masuk kerja mereka dibayar berkisar Rp 10.000,- sampai Rp 15.000,-. Banyak kerja tapi hasil tiada. Kira-kira begitu realita yang saat ini terjadi.

Memang tidak mudah bagi mereka dalam mencari alternatif kerja lain. Terbatasnya lapangan kerja, para pemilik modal seolah tidak punya ide dalam menciptakan lapangan kerja, regulasi dari pemerintah tidak pro rakyat  membuat para lulusan perguruan tinggi banyak menganggur. 

Akhirnya tenaga kerja profesional bergelar sarjana itu umumnya menjadi OMGB (Orang Miskin Gaya Baru). Kasihan mereka. Sudah sekolah tinggi-tinggi tapi akhirnya jadi orang sengsara.

Sementara pemerintah hingga detik ini lebih menggalakkan bantuan sosial, bukan lapangan kerja. Aneh. Apakah mereka memiliki nurani. Ini menjadi pertanyaan yang akhir-akhir ini viral di tengah pandemi Covid-19.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Minggu, 24 Mei 2020

Biografi Hairul Anwar Masa Kecil (Bagian 1 dari 8 Tulisan)


Hairul Anwar, owner Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy

Tulisan ini sebagian besar diambil dari beberapa artikel dan opini di website www.apoymadura.com tentang biografi Hairul Anwar, cerita suka-duka ketika di bangku sekolah, latar belakang keluarga, lingkungannya dimana ia lahir dan beranjak dewasa, dan pernak-pernik kisah perjalanan yang tak terkuak ke ranah publik tentang Hairul Anwar dimasa kecil. Semua akan tersaji sangat detail berdasar wawancara penulis terhadap beberapa teman sekolah, kawan bermain, kerabat, dan keluarga besar Hairul Anwar.

Selama ini sebagian besar media massa hanya membidik biografi kehidupan dia saat berada di puncak kesuksesannya sebagai pengusaha di Kota Keris Sumenep. Perhatian masyarakat tercurah padanya lantaran dedikasi Hairul Anwar terhadap kaum lemah tidak setengah hati. Sensitivitas empati dia sungguh luar biasa. Potret kepeduliannya sudah termuat di banyak media massa.

Tidak bijak rasanya dalam mengupas sosok Hairul Anwar tanpa mau menoleh ke belakang. Masih banyak lembaran catatan dan sisi lain sangat mempengaruhi kehidupannya di masa silam. Dengan mengetahui masa kecil akan memberi teladan berarti kepada generasi penerus. Dalam rekam hidupnya tentu terkandung berjuta untaian hikmah dari perjalanan masa kanak-kanak Hairul Anwar yang bisa dipetik untuk dijadikan bahan renungan. Semua penuh liku dalam menggapai puncak sukses yang membuat namanya populer di beragam strata kehidupan.

Kadang banyak orang menganggap remeh, bahwa biografi diri sendiri itu tidak begitu penting “diabadikan” dalam sebuah album keluarga. Lebih-lebih dalam mencari asal-usul, takkan mungkin mendatangkan keuntungan materi. Padahal itu semua sangat bermakna bagi banyak orang, terlebih lagi buat anak-cucu. Paling tidak ada goresan tersisa setelah tubuh membujur terkubur berkalang tanah.

Ada beberapa orang menyesal tidak mengetahui silsilah dirinya karena mereka tidak tahu kerabatnya. Betapa indahnya ketika kita saat sakaratul maut banyak famili kita ada di samping pembaringan seraya melantunkan doa agar perpisahan begitu bermakna. Dengan mengetahui silsilah, tujuan mereka itu bukan untuk mendapatkan legitimasi atau semacam pengakuan, bahwa dirinya adalah keturunan orang  punya sejarah baik. Tapi mereka ingin menyambung ikatan kekeluargaan yang terputus sekian lama karena sesuatu dan lain hal. Betapa bahagianya ternyata famili kita adalah orang-orang sukses dan punya prestasi besar sehingga namanya menjadi masyhur.

Semua orang tahu siapa Hairul Anwar. Tentang kedermawanannya yang sangat kental dengan kepribadiannya. Perhatiannya terhadap kesejahteraan kaum tidak punya tanpa pandang bulu. Ikhlas memberi sebagian hartanya sesuai tuntunan syariat Islam. Juga tentang keberhasilannya memimpin beraneka organisasi penting di Kabupaten Sumenep.

Tinta sejarah telah tertulis di lubuk hati masyarakat luas di kabupaten ujung timur Pulau Garam Madura, siapa figur publik Hairul Anwar sebenarnya. Maka dipandang perlu adanya literatur berupa karya tulis dalam bentuk buku sebagai implementasi dari dedikasi dia bagi kemaslahatan umat di bawah garis kemiskinan.

Hairul Anwar dikenal sebagai pengusaha sukses, pemilik destinasi wisata Goa Soekarno di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Dia pemilik imperium PT Madura Energy Infrastruktur, bergerak dalam bidang pekerjaan instalasi jaringan listrik tegangan menengah 20 Kv, gardu distribusi, tegangan rendah 380 volt dan pembangkit energi baru terbarukan (2014-sekarang).

Hairul Anwar juga menjadi Ketua Aklindo (Asosiasi Kontraktor Ketenagalistrikan Indonesia, 2010 – sekarang). Ketua KADIN Kabupaten Sumenep. Ketua Aksindo (Asosiasi Kontraktor Konstruksi) Kabupaten Sumenep. Wakil Ketua I BPP Jawa Timur (2015 – sekarang). Wakil Ketua HIPMI Bidang Energi Sumber Daya Mineral (2015 – sekarang). Ketua PSSI Sumenep.

Itulah beberapa poin utama tentang nilai plus yang melekat pada sosok Hairul Anwar. Pengusaha yang senang berbagi dalam situasi dan kondisi apa pun. Tak peduli orang lain menilainya apa. Target dia dalam bersosial budaya dengan lingkungan yakni membuat orang lain tersenyum bahagia. Bukankah bentuk syukur adalah menikmati hidup itu dengan sikap lapang dada. Sedangkan orang-orang yang tidak menikmati hidupnya di alam fana ini adalah mereka yang tergolong umat kufur. Mereka itu orang-orang yang hanya menggerutu, mengeluh, tidak terima terhadap cobaan dan takdir-Nya.

Sebagian besar banyak orang terkesan akan karakter Hairul Anwar yang cenderung peduli terhadap nasib sesama; mereka yang hidupnya berada di bawah garis kemiskinan. Suatu sikap berbagi yang erat kaitannya dengan karier dia sebagai pengusaha kaya. Satu pembawaan masa kecil Hairul Anwar ini tidak pernah berubah hingga sekarang.

Begitulah beberapa komentar teman-teman masa kecilnya yang penulis dapatkan dalam beberapa kesempatan dalam rentang waktu 2019 - 2020.

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Sabtu, 23 Mei 2020

Shalat Idul Fitri di Masjid Jamik Al-Akbar

Suasana pelaksanaan shalat Idul Fitri di Masjid Jamik Al-Akbar
Desa Pasongsongan.



Apoy Madura, Sumenep – Pelaksanaan shalat Idul Fitri 1441 Hijriah di Masjid Jamik Al-Akbar, Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, dimulai jam 07.00 WIB. Bertindak selaku khotib Kiai Haji Ahmad Rifa’i, Lc, imam shalat Kiai Haji Ahmad Subaidi, dan bilal Kiai Muhammad Mas’ad.

Dalam khutbah Idul Fitri, Kiai Haji Ahmad Rifa’i, Lc menekankan pentingnya takwa kepada Allah dalam situasi dan kondisi apa pun. Apalagi saat ini bangsa Indonesia sedang dalam pandemi Covid-19. Penting bagi masyarakat untuk mengindahkan semua anjuran pemerintah tentang hal pencegahan dan penularan virus corona.


“Memang semua makhluk akan meninggal dunia. Semua itu adalah ketentuan dari Allah. Namun ikhtiar juga merupakan kewajiban bagi umat manusia agar selamat dari musibah ini,” tegasnya di hadapan ratusan jemaah shalat.


Dalam pantauan apoymadura.com, shalat Idul Fitri di masjid tertua di wilayah Kecamatan Pasongsongan ini berlangsung khidmat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jemaah shalat Idul Fitri meluber sampai ke halaman masjid sehingga panitia menggelar alas cadangan. (Yant Kaiy)

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...