Jumat, 10 April 2026

Sentimen "Teror" Regulasi: Dari Warung hingga Tembakau

Warung Madura Dibatasi, Kini Pengusaha Tembakau Dipanggil KPK. Ada Apa?


Di balik proses hukum yang sedang berjalan, muncul narasi kegelisahan yang kuat di tengah masyarakat Madura. 

Ada persepsi kolektif bahwa pemanggilan para pengusaha tembakau oleh KPK bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari rentetan "teror" regulasi yang menyudutkan etos ekonomi warga Madura.

Kecurigaan ini bukan tanpa alasan. Sebelum kasus cukai ini mencuat, publik lebih dulu dihebohkan dengan wacana pembatasan jam operasional Warung Madura. 

Usaha mikro yang jadi penyelamat ekonomi perantau dan tersebar di seluruh penjuru negeri itu sempat akan "dijinakkan" lewat aturan jam buka. 

Bagi masyarakat, ini adalah pola yang terbaca: ketika ekonomi rakyat bawah mulai mandiri dan kuat, regulasi hadir bukan untuk memfasilitasi, melainkan membatasi.

Pola Penyerangan Ekonomi Rakyat?

Sentimen yang berkembang di akar rumput melihat adanya ketimpangan perlakuan. Masyarakat bertanya-tanya:

Mengapa sektor yang mandiri justru ditekan? Warung Madura dan industri rokok lokal adalah bukti nyata kemandirian ekonomi tanpa banyak campur tangan subsidi negara.

Target yang selektif? Adanya wacana pembatasan warung yang disusul dengan pemeriksaan tokoh sentral tembakau seperti Haji Her menciptakan kesan bahwa sektor-sektor strategis ekonomi Madura sedang "dibidik".

Bagi warga Madura, tembakau dan warung kelontong adalah dua pilar harga diri ekonomi. 

Jika keduanya digoyang secara bersamaan melalui instrumen regulasi dan hukum, wajar jika muncul mosi tidak percaya. 

Masyarakat khawatir bahwa narasi "pengurusan cukai" hanyalah pintu masuk untuk melemahkan dominasi industri rokok lokal agar pemain besar bisa kembali memonopoli pasar tanpa gangguan dari "raja-raja kecil" di daerah.

Negara Harus Menjawab Keraguan

Kondisi ini menuntut pemerintah dan KPK untuk bekerja ekstra transparan. 

Jika pemerintah gagal menjelaskan urgensi regulasi dan proses hukum ini secara jernih, maka persepsi bahwa negara sedang "berperang" melawan ekonomi rakyat kecil akan semakin mengkristal.

Negara tidak boleh hanya hadir dengan tangan besi regulasi yang mencekik, sementara perlindungan terhadap petani dan pedagang kecil seringkali absen dalam kebijakan nyata. 

Keadilan tidak hanya harus ditegakkan di atas kertas hukum, tapi juga harus dirasakan di atas meja makan para petani dan pedagang kelontong. [Kaiy]

Dilema Cukai dan "Pahlawan" Ekonomi: Menakar Kasus Pengusaha Rokok Madura di KPK

KPK vs Pengusaha Rokok Madura: Penegakan Hukum atau Ancaman Petani?


Dunia industri tembakau di Madura baru-baru ini dikejutkan adanya pemanggilan sejumlah pengusaha lokal oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Salah satu nama yang mencuat adalah Khairul Umam, atau yang akrab disapa Haji Her, yang diperiksa pada 9 April 2026 terkait dugaan korupsi pengurusan cukai di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Kasus ini memicu perdebatan hangat, terutama setelah advokat terkemuka Jawa Timur Sulaisi Abdurrazaq menyuarakan pembelaan melalui media sosial, menyoroti peran vital para pengusaha ini bagi kesejahteraan petani tembakau di Pulau Garam, Madura. 

Antara Penegakan Hukum dan Realitas Lapangan

Bagi KPK, pemeriksaan ini adalah bagian dari upaya "bersih-bersih" di sektor penerimaan negara. 

Cukai rokok merupakan salah satu sumber pendapatan negara terbesar, dan segala bentuk manipulasi atau gratifikasi dalam pengurusannya tentu merugikan keuangan publik. 

Secara normatif, tidak ada subjek hukum yang kebal terhadap pemeriksaan jika ditemukan indikasi penyimpangan.

Tapi, di sisi lain, ada realitas sosial-ekonomi yang sangat kuat di Madura. 

Seperti yang disampaikan Sulaisi, para pengusaha rokok lokal ini bukan sekadar entitas bisnis. 

Mereka dipandang sebagai penopang hidup ribuan petani. 

Selama bertahun-tahun, petani tembakau seringkali terjepit oleh harga tengkulak yang rendah. 

Kehadiran pabrikan lokal yang berani membeli tembakau dengan "harga manusiawi" telah mengubah peta ekonomi di pelosok desa.

Tembakau: Lebih dari Sekadar Komoditas

Bagi masyarakat Madura, tembakau adalah "daun emas". Ketika pengusaha lokal seperti Haji Her mampu mengangkat harga beli, taraf hidup masyarakat ikut terangkat. 

Anak-anak petani bisa melanjutkan sekolah, dan roda ekonomi desa berputar lebih kencang. 

Inilah yang menyebabkan munculnya resistensi psikologis di masyarakat saat tokoh-tokoh ini berurusan dengan hukum.

Ada kekhawatiran kolektif: Jika industri rokok lokal ini terganggu, bagaimana nasib ribuan petani yang bergantung padanya?

Titik Temu: Transparansi Tanpa Mematikan Industri

Opini publik dalam kasus ini tidak boleh terjebak dalam dikotomi "hitam-putih". Kita perlu melihat beberapa poin kritis:

• Hukum Harus Tetap Tegak: Jika memang terdapat praktik suap atau gratifikasi dalam pengurusan cukai, hal itu harus dibuktikan secara transparan. Korupsi di sektor cukai justru bisa merusak ekosistem persaingan usaha yang sehat.

• Perlindungan terhadap Ekosistem Lokal: Pemerintah dan penegak hukum perlu memastikan bahwa proses hukum terhadap individu tidak lantas mematikan industri rokok rakyat yang telah berjasa menyejahterakan petani.

• Evaluasi Regulasi Cukai: Kasus ini harus jadi momentum bagi Kementerian Keuangan untuk mengevaluasi sistem pengurusan cukai. Jika birokrasinya berbelit atau membuka peluang pungli, maka pengusaha seringkali terjebak dalam posisi "simalakama".

Kesimpulan

Pemanggilan pengusaha rokok Madura oleh KPK adalah ujian bagi integritas hukum kita. 

Tapi, mengabaikan kontribusi nyata mereka terhadap kesejahteraan petani juga merupakan sebuah ketidakadilan sosial.

Tantangan besarnya adalah bagaimana menciptakan iklim usaha yang bersih dari korupsi, tanpa harus mengorbankan pahlawan-pahlawan ekonomi lokal yang selama ini jadi sandaran hidup rakyat kecil. 

Hukum harus hadir untuk memperbaiki keadaan, bukan untuk menghancurkan sendi ekonomi masyarakat yang sudah berjalan dengan baik. [Kaiy]

Kamis, 09 April 2026

Menjaga Generasi di Dua Dunia: Catatan dari KKG Gugus 2 Pasongsongan

KKG Gugus 2 Pasongsongan: Guru Harus Melek Digital Parenting dan KBGO


Pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 2 Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten yang digelar di SDN Panaongan 4 terasa berbeda dari biasanya. Kamis (9/4/2026). 

Jika biasanya ruang kelas dipenuhi diskusi tentang administrasi kurikulum, kali ini atmosfernya lebih progresif. 

Fokusnya tajam, memperkuat pertahanan guru dan siswa di tengah gempuran teknologi modern.

Tema yang diangkat pun sangat relevan dengan realitas hari ini, yakni "Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan Digital Parenting."

Transformasi Ancaman di Era Digital

Workshop yang dipandu Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, membuka mata banyak pihak. 

Dalam pemaparannya yang lugas, ia mengingatkan bahwa dinding sekolah kini tidak lagi cukup untuk melindungi siswa. 

Ancaman nyata kini merambah ke ruang-ruang digital lewat cyberbullying hingga penyebaran konten pribadi tanpa izin.

"Anak-anak hidup di dua dunia: nyata dan digital. Guru wajib memahami keduanya agar bisa memberikan perlindungan dan bimbingan yang tepat," ujar Agus. 

Kalimat ini jadi tamparan sekaligus motivasi bagi para pendidik di Pasongsongan untuk tidak boleh gagap teknologi (gaptek). 

Pemahaman terhadap perilaku siswa di media sosial kini sama pentingnya dengan memahami hasil ujian mereka di kelas.

Sinergi Sekolah dan Orang Tua

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah mengenai digital parenting. 

Seringkali, ada jurang pemisah antara pengawasan di sekolah dan di rumah. 

Melalui workshop ini, guru diajak untuk memposisikan diri sebagai mitra bagi orang tua.

Tugas guru bukan lagi sekadar mengajar materi di buku, tapi juga jadi navigator bagi siswa agar bijak menggunakan gadget. 

Transformasi peran ini sangat penting agar teknologi tidak menjadi bumerang yang merusak moral dan mental anak didik kita di masa depan.

Apresiasi untuk Langkah Nyata

Penyampaian Agus Sugianto dalam workshop ini patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. 

Materi yang berat dikemas jadi sangat aplikatif dan mudah dipahami oleh rekan-rekan sejawat. 

Langkah inovatif ini menunjukkan bahwa pendidik di Pasongsongan memiliki kesadaran tinggi untuk terus bertransformasi.

Pertemuan di SDN Panaongan 4 hari ini bukan sekadar rutinitas bulanan. 

Ini adalah sebuah langkah besar untuk memastikan bahwa pendidikan di daerah kita tidak hanya mencetak anak-anak yang pintar secara akademik, tapi juga tangguh dan beretika di dunia maya.

Semoga semangat yang dibawa dari KKG hari ini bisa diimplementasikan di sekolah masing-masing, demi masa depan generasi yang lebih aman dan terarah. [Kaiy]

Perkuat Literasi Digital, KKG Gugus 2 Pasongsongan Gelar Workshop KBGO dan Digital Parenting

Guru Gaptek? No Way! KKG Pasongsongan Bedah Rahasia Digital Parenting


PASONGSONGAN – Semangat peningkatan mutu pendidikan mewarnai rapat bulanan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 2 Kecamatan Pasongsongan yang digelar di SDN Panaongan 4. Kamis (9/4/2026). 

Acara ini fokus pada penguatan kompetensi guru dalam menghadapi tantangan teknologi di era modern.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd, jajaran Kepala Sekolah, serta seluruh  guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Gugus 2.

Guru Dilarang "Gaptek"

Dalam arahannya, Abu Supyan menegaskan bahwa KKG harus menjadi wadah strategis bagi guru untuk saling berbagi ilmu dan memperkaya wawasan. 

Ia menekankan pentingnya guru bersifat adaptif terhadap kemajuan teknologi agar tidak tertinggal.

"Guru harus terus meningkatkan profesionalisme. Jangan sampai ada guru yang gagap teknologi (gaptek) di era digital ini. KKG adalah tempat kita bertukar pengalaman demi memaksimalkan capaian kinerja sekolah," tegas Abu Supyan.

Waspadai Kekerasan Digital

Agenda utama KKG kali ini adalah workshop bertema "Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan Digital Parenting" yang dipandu oleh Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3.

Dalam pemaparannya, Agus menjelaskan bahwa ancaman terhadap siswa kini merambah ke dunia maya, mulai dari perundungan siber (cyberbullying) hingga penyebaran konten pribadi tanpa izin.

"Anak-anak hidup di dua dunia: nyata dan digital. Guru wajib memahami keduanya agar bisa memberikan perlindungan dan bimbingan yang tepat," ujar Agus.

Pentingnya Pendampingan Digital

Selain membahas bahaya KBGO, workshop ini juga mengupas tuntas mengenai digital parenting. 

Para guru diajak untuk jadi mitra bagi orang tua dalam mengarahkan siswa agar bijak menggunakan perangkat gadget.

Kegiatan berlangsung interaktif saat para peserta mulai berbagi persoalan nyata terkait perilaku siswa di media sosial. 

Banyak guru mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai cara menangani dampak negatif dunia maya di lingkungan sekolah.

Pertemuan ditutup dengan harapan besar dari para peserta supaya materi-materi aktual seperti ini terus konsisten dihadirkan dalam agenda KKG bulanan guna membangun ekosistem pendidikan yang lebih maju dan relevan. [Kaiy]



kkg-gugus-2-pasongsongan-gelar-workshop-kbgo-dan-digital-parenting




Waspada Pelecehan di Media Sosial, Guru Gugus 2 Pasongsongan Perkuat Literasi Digital

Waspada Pelecehan Media Sosial! Guru Pasongsongan Perkuat Literasi Digital
Dari kiri: Abu Supyan dan Agus Sugianto. [Foto: Kaiy]


PASONGSONGAN – Maraknya ancaman Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di ruang digital jadi sorotan utama dalam pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 2 Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. 

Kegiatan yang berlangsung di SDN Panaongan 4 ini menekankan bahwa sekolah kini harus jadi benteng pertahanan utama melawan pelecehan di media sosial. Kamis (9/4/2026)

Ancaman Nyata di Balik Layar Ponsel

Dalam sesi workshop, Agus Sugianto, praktisi pendidikan sekaligus Kepala Sekolah di wilayah setempat, memaparkan secara mendalam bentuk-bentuk pelecehan yang kerap terjadi di dunia maya. 

Menurutnya, pelecehan tidak lagi hanya terjadi secara fisik, tapi telah bertransformasi ke dalam bentuk digital yang seringkali lebih sulit dideteksi.

"KBGO mencakup spektrum yang luas, mulai dari perundungan siber (cyberbullying), penyebaran konten pribadi tanpa izin, hingga pelecehan seksual di media sosial. Hal ini bukan lagi sekadar tren, melainkan ancaman nyata bagi siswa dan lingkungan pendidikan," tegas Agus.

Ia menambahkan bahwa bentuk-bentuk pelecehan ini sering kali berawal dari interaksi di media sosial yang dianggap remeh, tapi berdampak besar pada psikologis korban. 

Oleh karena itu, pemahaman guru mengenai modus operandi kekerasan digital jadi sangat krusial. 

Kolaborasi Guru dan Orang Tua

Menanggapi fenomena tersebut, Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, mendesak para pendidik untuk tidak menutup mata terhadap perkembangan teknologi. 

Ia menilai guru harus memiliki kompetensi digital yang mumpuni agar mampu melakukan pengawasan dini.

Beberapa poin penting yang ditekankan dalam forum tersebut antara lain:

• Identifikasi Dini: Kemampuan guru dalam mengenali perubahan perilaku siswa yang mungkin menjadi korban pelecehan daring.

• Digital Parenting: Mendorong orang tua untuk melakukan pendampingan penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

• Edukasi Etika: Mengajarkan siswa bahwa ruang digital memiliki konsekuensi hukum dan moral yang sama dengan dunia nyata.

Komitmen Bersama

Pertemuan yang dihadiri oleh pengawas, kepala sekolah, serta guru dan tenaga kependidikan se-Gugus 2 ini diakhiri dengan diskusi aktif mengenai tantangan mendampingi siswa di era digital.

Para peserta sepakat bahwa penanganan pelecehan di media sosial memerlukan sinergi kolektif, bukan hanya tugas guru kelas semata.

"Pendampingan teknologi oleh anak harus dilakukan secara bertanggung jawab. Kita tidak bisa melarang mereka menggunakan teknologi, tapi kita bisa membekali mereka dengan pertahanan mental dan etika yang kuat," pungkas Agus Sugianto. [Kaiy]

Menghidupkan Mesin Organisasi: Catatan dari Lokakarya MWC NU Pasongsongan

Strategi Baru MWC NU Pasongsongan 2026-2031: Mandiri Secara Ekonomi!
Penulis (kiri) bersama pengurus MWC NU Pasongsongan. 



Menghadiri Lokakarya Perencanaan Program MWC NU Pasongsongan untuk masa khidmat 2026-2031 memberikan perspektif baru bagi saya. Rabu (8/4) 2026).

Bertempat di Gedung KH Wahab Hasbullah, Jalan Ki Abubakar Sidik, Desa Panaongan, suasana diskusi terasa begitu hidup. 

Seluruh pengurus berkumpul, membawa semangat dan ide-ide segar demi kemajuan organisasi selama lima tahun ke depan.

Tapi, ada satu realita menarik yang muncul ke permukaan saat kami mulai menyerap berbagai aspirasi program. 

Sebagus apa pun ide yang dilempar ke meja diskusi, semuanya bermuara pada satu titik krusial: kemandirian finansial.

Filosofi Sopir, Kendaraan, dan Bensin
Dalam diskusi tersebut, muncul sebuah perumpamaan sederhana namun sangat menohok. 

Mari kita ibaratkan organisasi ini seperti sebuah perjalanan:

• Sopir adalah kita semua, para pengurus NU.

• Kendaraan adalah wadah organisasi MWC NU itu sendiri.

• Bensin adalah dana atau anggaran.

Logikanya sangat simpel. Kita punya sopir yang ahli dan bersemangat. 

Kita juga punya kendaraan yang tangguh dan siap tempur. 

Tapi kalau tangki bensinnya kosong, apakah kendaraan itu bisa jalan? Tentu saja tidak. 

Kita hanya akan duduk diam di dalam mobil sambil melihat organisasi lain atau perubahan zaman melaju kencang meninggalkan kita.

Inilah tantangan besar MWC NU Pasongsongan masa khidmat 2026-2031. 

Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan program yang bersifat konsumtif tanpa memikirkan dari mana sumber energinya berasal.

Berhenti Berharap, Mulai Menciptakan
Program kerja yang muluk-muluk hanya akan menjadi tumpukan kertas jika tidak dibarengi dengan strategi pendanaan yang sehat. 

Oleh karena itu, sudah saatnya jajaran pengurus dan seluruh anggota mulai berpikir sebagai kreator, bukan sekadar pelaksana.

Penting bagi kita untuk mulai menciptakan "lapangan kerja" atau unit usaha yang mampu menghasilkan keuntungan (profit). 

Kemandirian ekonomi bukan berarti kita mencari untung untuk pribadi, melainkan untuk memastikan "bensin" organisasi selalu terisi penuh. 

Dengan begitu, setiap program sosial, keagamaan, dan pendidikan yang sudah kita rencanakan bisa berjalan tanpa hambatan teknis soal biaya.

Kesimpulan
Lokakarya di Panaongan kemarin bukan sekadar seremoni ganti pengurus. 

Ini adalah momentum untuk sadar bahwa niat baik saja tidak cukup. 

MWC NU Pasongsongan harus jadi organisasi yang mandiri secara ekonomi.

Jika sopirnya sigap, kendaraannya terawat, dan bensinnya melimpah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak sampai ke tujuan mulia yang telah kita cita-citakan bersama. 

Mari kita kawal masa khidmat 2026-2031 ini dengan kerja nyata dan kemandirian! [Kaiy]

Rabu, 08 April 2026

Sinergi Membangun Organisasi, MWC NU Pasongsongan Gelar Lokakarya Perencanaan Program 2026-2031

Strategi Baru! MWC NU Pasongsongan 2026-2031 Siap Bangkitkan Kemajuan Umat


PASONGSONGAN – Mengawali masa khidmat baru dengan semangat kolektif, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pasongsongan menggelar Lokakarya Perencanaan Program Masa Khidmat 2026-2031. 

Kegiatan strategis ini berlangsung khidmat di Gedung MWC NU Pasongsongan. Rabu (8/4/2026).

Lokakarya ini jadi tonggak awal bagi para pengurus dalam merumuskan arah kebijakan dan program kerja selama lima tahun ke depan, guna memastikan kehadiran NU kian dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Pasongsongan.

Dorong Kontribusi Aktif Seluruh Ranting
Dalam sambutan pembukanya, H. Asyikurahman, S.Ag., MM, selaku pengurus MWC NU Pasongsongan, menekankan pentingnya sinergi antara pengurus di tingkat kecamatan hingga tingkat desa (ranting). 

Ia berharap periode ini jadi momentum penguatan struktural yang lebih nyata.

"Kami berharap seluruh Ranting NU di wilayah Kecamatan Pasongsongan bisa memberikan kontribusi terbaiknya. Kemajuan MWC NU Pasongsongan bukanlah kerja individu, melainkan hasil akumulasi semangat dan partisipasi aktif dari setiap ranting yang ada," ujar H. Asyikurahman.

Semangat Bahu-Membahu dalam Kemajuan
Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari jajaran Syuriyah MWC NU Pasongsongan, Drs. H. Abdul Gaffar, memberikan arahan mengenai pentingnya persatuan dan pemanfaatan potensi sumber daya manusia di internal organisasi.

Dia mengajak seluruh lapisan pengurus, mulai dari jajaran Syuriyah hingga Tanfidziyah, untuk memprioritaskan kerja sama tim di atas segalanya.

Poin Utama Arahan Drs. H. Abdul Gaffar:

• Kolaborasi: Seluruh lapisan pengurus wajib bahu-membahu dalam menjalankan roda organisasi.

• Realisasi Potensi: Membangun kemajuan NU secara keseluruhan dengan mengoptimalkan kemampuan masing-masing pengurus.

• Dedikasi: Keikhlasan dalam berkhidmat menjadi kunci keberhasilan program kerja lima tahun ke depan.

Fokus Program Masa Khidmat 2026-2031
Lokakarya ini kemudian dilanjutkan dengan sesi pemaparan dan diskusi kelompok untuk membedah program kerja di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, keagamaan, ekonomi umat, hingga pemberdayaan pemuda.

Dengan terselenggaranya acara ini, MWC NU Pasongsongan optimistis bisa menjalankan amanah organisasi dengan lebih terukur, transparan, dan berdampak luas bagi kemaslahatan warga Nahdliyin di Kecamatan Pasongsongan. [Kaiy]

Pererat Silaturahmi Pasca Lebaran, KKG PAI Pasongsongan Tekankan Pentingnya Update Data SINDARA

Pertemuan rutin kkg pai pasongsongan diselenggarakan di sdn panaongan 1 dihadiri oengawas bina sd -pasongsongan


PASONGSONGAN – Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKG PAI) Kecamatan Pasongsongan menggelar pertemuan rutin perdana setelah cuti bersama Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan di SDN Panaongan 1, Rabu (08/04).

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi para pendidik PAI di wilayah Kecamatan Pasongsongan untuk kembali menyelaraskan program kerja sekaligus memperkuat tali persaudaraan. Hadir secara langsung dalam acara tersebut, Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd.

Kehadiran Guru adalah Kunci

Dalam sambutannya, Abu Supyan memberikan apresiasi atas dedikasi para guru yang tetap semangat menjalankan tugas usai libur panjang. Beliau menekankan agar ke depannya, seluruh guru PAI tanpa terkecuali dapat menghadiri setiap pertemuan rutin KKG.

"Kami berharap semua guru PAI bisa hadir secara lengkap dalam setiap pertemuan. Forum ini bukan sekadar silaturahmi, tapi wadah utama untuk menyerap informasi penting yang berkaitan langsung dengan tugas dan tanggung jawab kita di lapangan," ujar Abu Supyan.

Menuju Guru Profesional yang Melek Teknologi

Lebih lanjut, Abu Supyan mengingatkan bahwa tuntutan menjadi guru profesional di era digital mengharuskan setiap pendidik untuk selalu update terhadap perkembangan informasi terbaru. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pengelolaan data mandiri melalui aplikasi SINDARA.

"Sebagai guru profesional, kita tidak boleh tertinggal. Aplikasi SINDARA hadir sebagai instrumen vital untuk mengelola dan memperbaharui data pribadi guru. Ketelitian dalam memperbarui data di aplikasi tersebut sangat menentukan kelancaran administrasi dan karir rekan-rekan sekalian," tambahnya.

Melalui pertemuan ini, diharapkan para guru PAI di Kecamatan Pasongsongan semakin solid dan sigap dalam mengadaptasi berbagai regulasi maupun sistem digitalisasi pendidikan demi meningkatkan kualitas pengajaran di sekolah masing-masing. [Kaiy]

Senin, 06 April 2026

Ketepatan Diagnosa Jadi Kunci Pelayanan Profesional di Klinik Ar-Rahman Pasongsongan

Klinik Ar-Rahman Pasongsongan: Diagnosa Tepat, Pasien Cepat Sembuh!


PASONGSONGAN – Klinik Pratama Rawat Inap Ar-Rahman terus memperkuat posisinya sebagai fasilitas kesehatan andalan masyarakat Kecamatan Pasongsongan. 

Bukan sekadar menyediakan layanan 24 jam, klinik ini mengedepankan akurasi medis sebagai pilar utama pelayanannya.

Pengawas Klinik Ar-Rahman, Moh. Ramli, menjelaskan bahwa standar profesionalisme tertinggi di klinik ini diukur dari kemampuan tenaga medis dalam mengidentifikasi masalah kesehatan pasien secara presisi.

Diagnosa Akurat, Kunci Kesembuhan Cepat

Moh. Ramli menekankan bahwa tahap diagnosa adalah fase paling krusial. 

Oleh karena itu, tenaga medis di Klinik Ar-Rahman dituntut untuk melakukan pemeriksaan yang komprehensif dan teliti.

"Kami sangat menjaga kualitas pada titik awal pelayanan, yaitu diagnosa. Profesionalisme kami dibuktikan dengan diagnosa penyakit yang tepat, yang kemudian diikuti dengan pemberian resep obat sesuai dengan kebutuhan medis pasien," tegas Moh. Ramli di ruang kerjanya. Selasa (7/4/2026). 

Ia menambahkan bahwa ketepatan antara diagnosa dan terapi obat adalah faktor utama yang menentukan efektivitas pengobatan. Dengan resep tepat sasaran (rasional), risiko efek samping bisa tidak ada dan proses pemulihan pasien jadi jauh lebih cepat.

Didukung Fasilitas Penunjang

Untuk mendukung akurasi diagnosa tersebut, Klinik Ar-Rahman mengintegrasikan peran tenaga medis profesional dengan fasilitas penunjang seperti:

• Layanan Farmasi: Menjamin ketersediaan obat-obatan berkualitas sesuai resep dokter.

• Laboratorium: Memberikan data pendukung medis yang akurat untuk memperkuat hasil diagnosa.

• Tenaga Medis Kompeten: Dokter dan perawat yang selalu mengedepankan prinsip patient safety.

Terletak strategis di Jalan Sawunggaling, Dusun Morasen, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, klinik ini berkomitmen agar setiap warga yang datang mendapatkan solusi kesehatan yang tuntas. 

"Tujuan akhir kami adalah kesembuhan. Pasien pulang dengan kondisi membaik karena ditangani secara tepat sejak menit pertama mereka datang," tutup Moh. Ramli. [Kaiy]

Eksistensi Umar Dhany di Industri Musik: Dari Puluhan Album hingga Guncang Panggung Sumenep

Umar Dhany: Artis Jakarta dengan Puluhan Album Guncang Sumenep!


SUMENEP – Dunia hiburan Tanah Air kembali menyoroti sosok Umar Dhany. Penyanyi senior asal Jakarta yang telah malang melintang dengan koleksi puluhan album ini membuktikan bahwa dedikasinya di industri musik tidak pernah luntur. 

Baru-baru ini, ia kembali menyapa penggemar lewat karya terbaru yang kental dengan pesan apresiasi.

Dua lagu teranyarnya, "MH Sa'id Abdullah yang Terbaik" dan "Kaisar Kiasa Kasih Said Putra", kini mulai menjadi perbincangan hangat di kalangan penikmat musik. 

Karya ini seolah mempertegas produktivitas Umar Dhany yang tetap konsisten melahirkan karya meski sudah memiliki diskografi yang sangat panjang.

Tampil Memukau di Boenkzhu Kafe

Kehadiran Umar Dhany di Kota Sumenep jadi magnet tersendiri bagi warga lokal. 

Saat dijumpai di Boenkzhu Kafe, sesaat sebelum naik ke atas panggung, Umar Dhany tampak energik dan siap memberikan penampilan terbaiknya. Ahad (5/4/2025). 

Ketertarikan publik bukan hanya pada lagu-lagunya, melainkan juga pada fleksibilitas vokal yang ia miliki. 

Ketika ditanya mengenai genre musik yang jadi ciri khasnya, Umar Dhany memberikan jawaban yang cukup diplomatis sekaligus menunjukkan kematangannya sebagai seorang penghibur.

"Bagi saya, musik adalah bahasa universal. Jika ditanya soal genre, saya merasa nyaman dan bisa menyanyikan semua genre musik," ungkapnya dengan percaya diri sebelum menghibur para pengunjung.

Penyanyi Serba Bisa

Pernyataan tersebut dibuktikan dengan kepiawaiannya membawakan berbagai jenis irama di atas panggung. 

Pengalamannya merilis puluhan album di Jakarta jadi modal kuat bagi Umar Dhany untuk beradaptasi dengan beragam selera pendengar, mulai dari pop, syahdu, hingga irama yang lebih ritmik.

Penampilan Umar Dhany di Sumenep ini diharapkan bisa jadi jembatan bagi para artis ibu kota untuk lebih sering menyapa penggemar di daerah, sekaligus memperkenalkan karya-karya terbarunya secara lebih luas. 

Bagi para penggemar, kehadiran lagu bertema tokoh seperti Said Abdullah dan Said Putra bisa memberi nuansa baru dalam perjalanan karier sang artis yang penuh warna. [Kaiy]

Minggu, 05 April 2026

Siswa SDN Padangdangan 2 Diajak Bijak Bermain Game dan Jaga Kebersihan Lingkungan

Pesan Penting Pembina Upacara SDN Padangdangan 2: Disiplin & Bijak Gadget!


PASONGSONGAN – Pelaksanaan upacara bendera di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, berlangsung dengan khidmat dan lancar. Senin (6/4/2026). 

Upacara yang diikuti seluruh siswa serta dewan guru ini jadi momentum penting untuk menanamkan kedisiplinan dan karakter bagi para peserta didik.

Bertindak sebagai Pembina Upacara, Akbar Cholik, S.Pd., yang juga merupakan guru kelas VI di sekolah tersebut. 

Dalam amanatnya, ia menyoroti beberapa poin krusial terkait kebiasaan siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Kebersihan Adalah Cermin Kualitas Belajar

Poin pertama yang ditekankan Akbar, mengenai pentingnya menjaga kebersihan. 

Ia mengimbau seluruh siswa untuk memiliki rasa memiliki terhadap ruang kelas dan lingkungan sekolah mereka.

"Kebersihan kelas dan lingkungan sekolah bukan hanya tanggung petugas kebersihan, tapi tanggung jawab kita semua. Lingkungan yang bersih akan menciptakan suasana belajar yang nyaman dan sehat," ujar Akbar di hadapan barisan siswa.

Kritik Terhadap Durasi Bermain Game

Selain masalah kebersihan, Akbar Kholik juga memberikan kritik membangun terkait gaya hidup digital para siswa saat ini. 

Ia menyoroti fenomena maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu terlalu lama untuk bermain game di rumah.

Ia menekankan bahwa meski teknologi adalah bagian dari masa depan, penggunaan yang berlebihan bisa berdampak negatif pada konsentrasi belajar dan kesehatan mata.

Pesan utama pembina upacara dalam amanatnya:

• Prioritaskan Tugas Sekolah: Pastikan kewajiban belajar sudah tuntas sebelum memegang perangkat elektronik.

• Batasi Waktu Layar: Tidak menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain game.

• Sosialisasi Nyata: Mengajak siswa untuk lebih banyak berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya dan keluarga di rumah.

Harapan Sekolah

Melalui arahan ini, pihak sekolah berharap para siswa SDN Padangdangan 2 tidak hanya unggul secara akademis, tapi juga memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi serta mampu membagi waktu dengan bijak di era digital.

Upacara diakhiri dengan doa bersama dan pembubaran barisan yang tertib, menandai dimulainya kegiatan belajar mengajar dengan semangat baru di minggu ini. [Kaiy]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...