Menghidupkan Mesin Organisasi: Catatan dari Lokakarya MWC NU Pasongsongan
Tanpa bensin, kendaraan takkan jalan. Simak opini pentingnya profit & kemandirian finansial bagi pengurus MWC NU Pasongsongan masa khidmat baru ini!
![]() |
| Penulis (kiri) bersama pengurus MWC NU Pasongsongan. |
Menghadiri Lokakarya Perencanaan Program MWC NU Pasongsongan untuk masa khidmat 2026-2031 memberikan perspektif baru bagi saya. Rabu (8/4) 2026).
Bertempat di Gedung KH Wahab Hasbullah, Jalan Ki Abubakar Sidik, Desa Panaongan, suasana diskusi terasa begitu hidup.
Seluruh pengurus berkumpul, membawa semangat dan ide-ide segar demi kemajuan organisasi selama lima tahun ke depan.
Tapi, ada satu realita menarik yang muncul ke permukaan saat kami mulai menyerap berbagai aspirasi program.
Sebagus apa pun ide yang dilempar ke meja diskusi, semuanya bermuara pada satu titik krusial: kemandirian finansial.
Filosofi Sopir, Kendaraan, dan Bensin
Dalam diskusi tersebut, muncul sebuah perumpamaan sederhana namun sangat menohok.
Mari kita ibaratkan organisasi ini seperti sebuah perjalanan:
• Sopir adalah kita semua, para pengurus NU.
• Kendaraan adalah wadah organisasi MWC NU itu sendiri.
• Bensin adalah dana atau anggaran.
Logikanya sangat simpel. Kita punya sopir yang ahli dan bersemangat.
Kita juga punya kendaraan yang tangguh dan siap tempur.
Tapi kalau tangki bensinnya kosong, apakah kendaraan itu bisa jalan? Tentu saja tidak.
Kita hanya akan duduk diam di dalam mobil sambil melihat organisasi lain atau perubahan zaman melaju kencang meninggalkan kita.
Inilah tantangan besar MWC NU Pasongsongan masa khidmat 2026-2031.
Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan program yang bersifat konsumtif tanpa memikirkan dari mana sumber energinya berasal.
Berhenti Berharap, Mulai Menciptakan
Program kerja yang muluk-muluk hanya akan menjadi tumpukan kertas jika tidak dibarengi dengan strategi pendanaan yang sehat.
Oleh karena itu, sudah saatnya jajaran pengurus dan seluruh anggota mulai berpikir sebagai kreator, bukan sekadar pelaksana.
Penting bagi kita untuk mulai menciptakan "lapangan kerja" atau unit usaha yang mampu menghasilkan keuntungan (profit).
Kemandirian ekonomi bukan berarti kita mencari untung untuk pribadi, melainkan untuk memastikan "bensin" organisasi selalu terisi penuh.
Dengan begitu, setiap program sosial, keagamaan, dan pendidikan yang sudah kita rencanakan bisa berjalan tanpa hambatan teknis soal biaya.
Kesimpulan
Lokakarya di Panaongan kemarin bukan sekadar seremoni ganti pengurus.
Ini adalah momentum untuk sadar bahwa niat baik saja tidak cukup.
MWC NU Pasongsongan harus jadi organisasi yang mandiri secara ekonomi.
Jika sopirnya sigap, kendaraannya terawat, dan bensinnya melimpah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak sampai ke tujuan mulia yang telah kita cita-citakan bersama.
Mari kita kawal masa khidmat 2026-2031 ini dengan kerja nyata dan kemandirian! [Kaiy]

