Selasa, 10 Februari 2026

Podcast Rhoma Irama–Islah Bahrawi Bongkar Peran Orang Yaman di Balik Strategi Belanda

Mengulik keberadaan Imigran Yaman di Indonesia
Podcast Bisikan Rhoma.

Dari sebuah podcast. Rhoma Irama duduk berdiskusi dengan Islah Bahrawi. Topiknya serius, tapi rasanya seperti membuka lemari tua sejarah. 

Orang-orang Yaman, kata mereka, bukan sekadar datang. Mereka didatangkan. Ada tujuan. Ada misi. Bukan wisata religi.

Belanda rupanya cerdik. Perlawanan pribumi dianggap terlalu berisik. Maka dicarilah peredam.

Datanglah figur-figur agama dari Yaman. Diberi panggung. Diberi sorban. 

Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Jabatan suci, tapi stempelnya kolonial.

Ilustrasinya, penjajahan tak selalu pakai senapan. Kadang cukup fatwa. Tak perlu meriam, asal umat tenang. Perlawanan jadi makruh. Tunduk dianggap berkah. 

Podcast ini seperti alarm. Bahwa sejarah bisa dibungkus agama. Dan kita, seringkali, tepuk tangan tanpa baca catatan kaki. [kay]

Senin, 09 Februari 2026

Gelar Habib Tapi Minim Adab? Fenomena Klaim Nasab vs Ulama Lokal

Habib Bukan Keturunan Nabi Muhammad Rasulullah SAW, Mereka Hanya Penumpang Gelap di Islam Nusantara Indonesia

Konon, di urat nadi habib mengalir darah suci. Langsung nyambung ke langit. 

Tiket surgawi yang membuat mereka merasa tak butuh lagi paspor kesopanan di bumi nusantara. 

Menjual nasab demi posisi, tapi lupa bahwa kehormatan itu dijemput dengan adab, bukan sekadar sertifikat silsilah. 

Ulama pribumi yang sudah ratusan tahun menjaga kedamaian negeri ini, tiba-tiba dianggap butiran debu. 

Di mata mereka, kiai-kiai lokal hanyalah kasta kelas dua yang tidak punya jalur "orang dalam" menuju surga. 

Mengerdilkan ilmu orang lain sambil meninggikan ego sendiri tampaknya sudah jadi hobi. 

Kini, kegelisahan imigran Yaman mulai menghantui, saat cermin realitas mulai retak. 

Masyarakat sudah mulai cerdas. Bisa bedakan mana emas murni dan mana loyang yang cuma disepuh gelar. 

Ternyata, tiket VIP ke surga tidak otomatis didapat hanya karena nama belakang yang kearab-araban jika kelakuan masih jauh dari teladan. 

Kalau terus begini, jangan salahkan publik jika akhirnya menganggap klaim nasab mereka tak lebih dari sekadar strategi pemasaran. [kay]


Minggu, 08 Februari 2026

Negeri Kaya, Rakyat Merantau: Hidup Pahit Tentang Indonesia yang Katanya Makmur

Saking kayanya Indonesia, rakyatnya miskin, pejabatnya makan enak

Indonesia dikenal sebagai negeri yang katanya makmur. Tanahnya subur. Lautnya luas. Gunungnya kaya. 

Tapi rakyatnya akrab dengan kata “pas-pasan”. 

Kekayaan alam seperti etalase toko. Bisa dilihat. Sulit dibeli.

Lapangan kerja katanya ada. Tapi sering hanya di spanduk. Di pidato. Di baliho besar. 

Di dunia nyata, lowongannya sempit. Antrenya panjang. Upahnya pendek. 

Maka banyak rakyat memilih jalan jauh. Ke negeri orang. Mengirim rindu bersama devisa.

Ironisnya, mereka masih diminta cinta tanah air. Diminta setia. Diminta bangga. 

Padahal perut tidak bisa hidup dari slogan. Cinta tanah air itu soal rasa aman dan sejahtera. Bukan hafalan. 

Jadi jangan heran, jika yang paling patriotik justru yang terpaksa pergi. [kay]

Lapangan Kerja Lebih Dibutuhkan Rakyat daripada MBG Makan Gratis

Rakyat tidak usah diajari gizi, yang dibutuhkan lapangan kerja bukan mbg

Masyarakat Indonesia sebenarnya lebih menyukai program lapangan kerja ketimbang MBG. 

Bukan karena menolak makan gratis. Tapi karena mereka lebih suka bekerja daripada disuapi. 

Lapangan kerja memberi penghasilan. MBG hanya memberi piring. Yang satu berkelanjutan. Yang lain cepat habis.

Masyarakat sebenarnya tidak minta disuapi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan. 

Dengan bekerja, ada penghasilan. Dengan penghasilan, ada pilihan. 

Dan dengan pilihan, keluarga bisa makan bergizi tanpa harus antre program. 

Lucunya lagi, rakyat dianggap tak paham gizi. Seolah tanpa program, mereka lupa cara memasak sayur. 

Padahal sejak dulu, mereka tahu apa yang sehat untuk keluarganya. 

Yang kurang bukan pengetahuan. Tapi akses kerja. 

Karena gizi terbaik tetap lahir dari keringat sendiri. [kay]

Sabtu, 07 Februari 2026

MBG Pasongsongan: Antara Makan Gratis, Cemas Orang Tua, dan Usulan UMB

MBG Pasongsongan Sumenep melahirkan kecemasan orang tua

MBG akhirnya datang juga. Pekan ini. Hampir merata. Masuk ke sekolah-sekolah di Kecamatan Pasongsongan-Sumenep.

Anak-anak menyambutnya dengan sorak kecil dan perut kosong. 

Bagi mereka, gratis itu selalu terdengar lezat. Soal gizi, nanti belakangan. Yang penting bisa makan bareng teman.

Di luar pagar sekolah, cerita jadi lain. Sebagian orang tua gelisah. Ada kabar keracunan di daerah lain. 

Pesan berantai lebih cepat dari sendok makan. MBG pun berubah wujud. 

Dari Makan Bergizi Gratis jadi Makan Bikin Galau. Anak disuruh hati-hati, tapi tetap lapar.

Lalu muncul ide brilian. Mengapa tidak uang saja? Lebih fleksibel, katanya. 

Anak bisa beli sesuai selera. Usulan ini jujur dan kreatif. 

Tapi kalau begitu, namanya jangan MBG. Ganti saja UMB (Uang Makan Bergizi). 

Soal bergizinya? Itu urusan nanti. Hehehe. [kay]

MBG, Makan Berani Setelah Giliran Teman Duluan

Mbg datang hati riang bukan kepalang

Berita baik pekan ini bersama kotak makan bernama MBG. 

Ia tiba di sekolah-sekolah Kecamatan Pasongsongan Sumenep dengan wajah rapi dan janji gizi. 

Tapi, tidak semua siswa menyambutnya dengan senyum. 

Sebagian justru menatapnya curiga, teringat pesan orang tua di rumah: jangan dimakan dulu, takut keracunan. 

MBG pun mendadak berubah dari menu makan siang jadi bahan uji nyali.

Di kelas, drama kecil pun terjadi. Ada siswa yang memilih menunggu, menahan lapar sambil mengamati. 

Temannya membuka kotak lebih dulu, lalu makan dengan tenang. 

Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Tak ada pingsan, tak ada teriakan, apalagi sirene. Hanya sendawa kecil dan wajah kenyang.

Baru setelah itu, rasa takut berubah jadi rasa lapar. MBG akhirnya disantap, tanpa upacara. 

Kisah ini sederhana. Di negeri ini, makanan sering harus lulus “uji teman sebangku”. 

Kepercayaan publik, rupanya, masih perlu bumbu utama: contoh nyata, bukan sekadar sosialisasi. [kay]

NU Terlalu Sibuk ke Atas, Warga Ribut ke Bawah: Retaknya Harmoni Organisasi

Kepemimpinan nu semakin suram di awal 2026

NU adalah organisasi besar. Begitu besar sampai pengurus di atas dan warga di bawah tampak hidup di dua alam berbeda.

Yang satu di ruang rapat ber-AC, yang lain di lapangan penuh perdebatan. Keduanya sama-sama NU, tapi rasanya seperti sedang tidak satu grup WhatsApp.

Para pengurus terlihat sibuk. Sibuk rapat, sibuk manuver, sibuk lobi. Saking sibuknya, suara warga kecil terdengar seperti notifikasi yang disenyapkan.

Sementara itu, di bawah, warga NU ribut soal nasab. Debat panas. Persaudaraan memanas. Tapi tenang saja, di atas semuanya tetap adem.

Saat warga saling bersitegang, para elit tampak khusyuk jaga kepentingan pribadi. Katanya demi organisasi. Meski anehnya, yang kenyang selalu itu-itu saja.

Rakyat diminta sabar. Diminta dewasa. Diminta jangan ribut. Padahal yang paling jarang turun tangan justru para pemilik mikrofon.

NU tidak akan runtuh. Terlalu besar untuk itu. Tapi kepercayaan bisa bocor pelan-pelan. Kalau pemimpin terus sibuk mengurus perut sendiri, sementara umat disuruh menahan lapar persatuan.

Mungkin sudah saatnya para elit NU menurunkan volume negosiasi dan menaikkan empati. Sebelum warga benar-benar logout dari rasa percaya. [kay]

Kekompakan Luar Biasa: KKG Gugus 02 Pasongsongan Bahas Sekolah Ramah Anak di SDN Panaongan 3

KKG Gugus 02 Pasongsongan Sumenep Dinilai Kompak dan Disiplin dalam Hal Kehadiran Anggotanya
Sundari, S.Pd (kanan)

SUMENEP – Pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan kembali digelar dengan penuh antusias. Kamis (5/2/2026).

Kali ini giliran SDN Panaongan 3 jadi tuan rumah bagi para pendidik yang ingin memperdalam strategi pendidikan lewat tema menarik: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.”

Ada hal yang berbeda dan membanggakan dalam rapat kali ini. Tingkat kehadiran peserta menunjukkan tren yang sangat positif.

Hal ini turut diamini Sundari, S.Pd., guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dari SDN Padangdangan 1.

"Rapat KKG 02 kali ini terbilang sangat sukses. Hampir seluruh guru, kepala sekolah, hingga tenaga kependidikan hadir dengan kompak dan tepat waktu. Semangat kebersamaan seperti ini yang kita butuhkan untuk maju bersama," ungkap Sundari ketika dimintai komentarnya oleh awak media.

Menurut perempuan dari dua orang anak ini menjelaskan, bahwa rapat kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan kompetensi profesional para guru di wilayah Pasongsongan. [kay]

Sinergi Pendidik di Gugus 02 Pasongsongan: Wujudkan Sekolah Ramah Anak Melalui Inklusivitas

Rapat KKG Gugus 02 Pasongsongan Menghadirkan Sariman, S.Pd Selaku Pemateri Tentang Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak
Sariman, S.Pd (kiri).

SUMENEP   Semangat kolaborasi antar-pendidik kembali terlihat dalam pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan. Kamis (5/2/2026).

Pertemuan bulan ini diselenggarakan di SDN Panaongan 3, dengan mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika pendidikan modern: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.”

Tema ini dipilih untuk memperkuat pemahaman guru mengenai pentingnya menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan setiap anak, terlepas dari latar belakang maupun kondisi fisiknya.

Hadir sebagai pemateri utama adalah Sariman, S.Pd., yang merupakan tenaga pendidik dari SDN Soddara 1.

Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa inklusivitas bukan sekadar menerima siswa berkebutuhan khusus, melainkan tentang bagaimana kurikulum dan pola pengajaran bisa beradaptasi dengan kebutuhan unik setiap individu.

"Sekolah ramah anak dimulai dari hati seorang guru yang mampu melihat potensi di balik setiap perbedaan," ujar Sariman di hadapan para peserta KKG.

Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi kelompok, di mana para guru saling berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi di sekolah masing-masing. [kay]

Jumat, 06 Februari 2026

Pertemuan Rutin KKG Gugus 02 Pasongsongan Digelar di SDN Panaongan 3

Kkg gugus 02 walau molor akibat mbg, namun tetap semarak.

SUMENEP - Pertemuan rutin bulanan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan berlangsung di SDN Panaongan 3. Kamis (5/2/2026). 

Kegiatan ini dihadiri para guru dari sekolah-sekolah anggota gugus sebagai wadah koordinasi dan peningkatan profesionalisme pendidik.

Agus Sugianto, S.Pd, selaku perwakilan tuan rumah, menyampaikan permohonan maaf atas molornya waktu pelaksanaan pertemuan. 

Dalam undangan, kegiatan dijadwalkan mulai pukul 09.00 WIB, tapi pelaksanaannya sedikit tertunda.

“Ini bukan unsur kesengajaan, tapi karena adanya pembagian MBG (Makanan Bergizi Gratis) kepada para siswa dan guru,” ungkap Agus Sugianto. 

Ia menambahkan, pembagian MBG di SDN Panaongan 3 tersebut merupakan yang pertama kalinya dilaksanakan, sehingga membutuhkan penyesuaian dalam pelaksanaannya. [kay]

Pengawas Bina Tekankan Integritas Moral Guru pada Pertemuan KKG Gugus 02 Pasongsongan

Kkg 02 kecamatan pasongsongan gelar rapat di sdn panaongan 3 kecamatan pasongsongan Sumenep
Abu Sufyan (berdiri).

SUMENEP – Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan kembali menggelar pertemuan rutin bulanan yang bertempat di SDN Panaongan 3. Kamis (5/2/2026). 

Kegiatan ini jadi wadah koordinasi sekaligus peningkatan kompetensi bagi para pendidik di lingkungan gugus tersebut.

​Acara ini dihadiri langsung Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, M.Pd. 

Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan pengarahan terkait profesionalisme dan etika profesi guru sebagai teladan di masyarakat.

​Dalam amanat singkatnya, Abu Supyan memberikan peringatan keras bagi seluruh tenaga pendidik untuk senantiasa menjaga martabat diri dan institusi. 

Ia menekankan agar para guru menjauhi segala bentuk tindakan yang melanggar norma, termasuk perselingkuhan.

​"Sebagai pendidik, kita adalah figur yang digugu dan ditiru. Menjaga integritas moral, termasuk menghindari perselingkuhan, adalah harga mati demi marwah pendidikan dan masa depan anak didik kita," tegas Abu Supyan di hadapan para peserta KKG. [k4y]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...