NU Terlalu Sibuk ke Atas, Warga Ribut ke Bawah: Retaknya Harmoni Organisasi
NU
adalah organisasi besar. Begitu besar sampai pengurus di atas dan warga di
bawah tampak hidup di dua alam berbeda.
Yang
satu di ruang rapat ber-AC, yang lain di lapangan penuh perdebatan. Keduanya
sama-sama NU, tapi rasanya seperti sedang tidak satu grup WhatsApp.
Para
pengurus terlihat sibuk. Sibuk rapat, sibuk manuver, sibuk lobi. Saking
sibuknya, suara warga kecil terdengar seperti notifikasi yang disenyapkan.
Sementara
itu, di bawah, warga NU ribut soal nasab. Debat panas. Persaudaraan memanas.
Tapi tenang saja, di atas semuanya tetap adem.
Saat
warga saling bersitegang, para elit tampak khusyuk jaga kepentingan pribadi.
Katanya demi organisasi. Meski anehnya, yang kenyang selalu itu-itu saja.
Rakyat
diminta sabar. Diminta dewasa. Diminta jangan ribut. Padahal yang paling jarang
turun tangan justru para pemilik mikrofon.
NU
tidak akan runtuh. Terlalu besar untuk itu. Tapi kepercayaan bisa bocor
pelan-pelan. Kalau pemimpin terus sibuk mengurus perut sendiri, sementara umat
disuruh menahan lapar persatuan.
Mungkin
sudah saatnya para elit NU menurunkan volume negosiasi dan menaikkan empati.
Sebelum warga benar-benar logout dari rasa percaya. [kay]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.