Senin, 13 Oktober 2025

Di SDN Padangdangan 1 Digelar Isco Pediyah, Ajang Asah Kecerdasan dan Spiritual Siswa

Sdn padangdangan 1 kecamatan Pasongsongan
Abu Supyan (kanan). [sh]

SUMENEP — Bertempat di SDN Padangdangan 1 Kecamatan Pasongsongan kegiatan Isco Pediyah (Intelligent Student Competition Pendidikan Diniyah) digelar sebagai ikhtiar meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan di tingkat sekolah dasar. Selasa (14/10/2025). 

Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Sufyan, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Isco Pediyah merupakan kompetisi yang berfokus pada pengembangan aspek keagamaan bagi para murid SD.

“Kompetisi ini bertujuan untuk mengukur kecerdasan, keterampilan emosional, dan spiritual siswa di samping kemampuan akademis mereka,” ujar Abu Sufyan.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa peserta terbaik dari kegiatan ini akan diikutsertakan pada Isco Pediyah tingkat kabupaten sebagai perwakilan Kecamatan Pasongsongan.

Lewat Isco Pediyah ini, diharapkan siswa bisa tumbuh jadi generasi cerdas, berkarakter, dan berakhlakul karimah. [sh]

Isco Pediyah Kecamatan Pasongsongan di Gelar di SDN Padangdangan 1, Ajang Asah Kecerdasan Diniyah Siswa SD

Sdn Padangdangan 1 kecamatan Pasongsongan
Agus Sugianto (berdiri). [sh]

SUMENEP — SDN Padangdangan 1 Kecamatan Pasongsongan ditempati kegiatan Isco Pediyah (Intelligent Student Competition Pendidikan Diniyah). 

Isco Pediyah merupakan ajang kompetisi bagi siswa-siswi sekolah dasar yang berfokus pada penguatan pendidikan keagamaan. Selasa (14/10/2025). 

Koordinator Akademik Isco Pediyah, Agus Sugianto, S.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wadah bagi siswa untuk mengasah kemampuan mereka, tidak hanya dari sisi akademik, tapi juga aspek emosional dan spiritual.

“Kompetisi ini bertujuan untuk mengukur kecerdasan, keterampilan emosional, dan spiritual siswa di samping kemampuan akademis mereka,” ujar Agus Sugianto.

Melalui Isco Pediyah, diharapkan para peserta didik dapat tumbuh jadi generasi cerdas yang berakhlak mulia serta memiliki keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan. [sh]

Jejak Kenangan dan Sebuah Surat Keterangan dari Almamater

Opini apoymadura.com

Senin, 14 Oktober 2025, jadi hari yang tak biasa bagi saya. Pagi itu, pukul 07.40 WIB, saya melangkahkan kaki ke kantor Tata Usaha (TU) SMA Negeri 1 Ambunten, Kabupaten Sumenep. 

Tujuan saya sederhana: meminta Surat Keterangan Tanggal Lahir. Hal ini diperlukan karena di ijazah lama saya, yang terbit lebih dari tiga dekade silam, tidak tercantum tanggal lahir. 

Sementara itu seluruh dokumen resmi saya seperti KTP, KK, Akta Kelahiran, hingga SIM mencantumkan tanggal lahir yang sama. 

Celah kecil ini bisa berujung besar: tanpa surat keterangan resmi dari sekolah, status saya sebagai tenaga PPPK Paruh Waktu Kabupaten Sumenep bisa terancam.

Tapi yang menarik dari perjalanan kecil itu bukan semata urusan administratif. 

Nostalgia

Saat melangkah masuk ke halaman sekolah, nuansa nostalgia menyergap begitu kuat di alam pikiran.

Seolah waktu mundur tiga puluh empat tahun ke belakang, saat saya masih berseragam putih abu-abu dan penuh cita-cita muda. 

Angin yang berembus di antara pepohonan di sepanjang jalan di luar halaman sekolah terasa sama, bahkan aroma ruang kelas pun masih membangkitkan kenangan yang dulu sempat saya lupakan.

Saya lulus SMA Negeri 1 Ambunten pada 1991, masa dimana sekolah masih sederhana, tapi semangat belajar kami luar biasa. 

Kini, bangunannya tampak lebih modern, staf TU lebih profesional, dan sistem administrasi lebih tertata. 

Tapi dibalik semua perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah — rasa hormat dan kehangatan dari dunia pendidikan terhadap alumninya. 

Staf TU yang melayani saya ramah dan tanggap, menandakan betapa lembaga ini telah menjaga nilai-nilai pelayanan publik dengan baik.

Dokumen

Kunjungan ini membuat saya merenung. Betapa pentingnya arsip dan data pendidikan dalam perjalanan hidup seseorang. 

Sebuah dokumen yang tampak sepele, seperti tanggal lahir di ijazah, ternyata bisa menentukan kelanjutan karier, pengakuan identitas, bahkan nasib pekerjaan. 

Kita sering menganggap urusan birokrasi pendidikan hanya formalitas, padahal di dalamnya tersimpan legitimasi sejarah hidup kita sendiri.

Ijazah

Lebih dari itu, kunjungan ke sekolah lama adalah pertemuan antara masa lalu dan masa kini. 

Ia bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai dan ijazah, tapi juga tempat kita menanam akar identitas. 

Sekolah membentuk kita bukan hanya melalui pelajaran, tapi juga melalui suasana, interaksi, dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya.

Ketika saya melangkah keluar dari kantor TU, membawa berkas surat keterangan yang sudah ditandatangani, saya merasa lega sekaligus haru. 

Lega karena urusan administratif terselesaikan, dan haru karena sadar: sekolah bukan hanya tempat kita menuntut ilmu, melainkan tempat kita selalu bisa pulang — kapan pun dan dalam bentuk apa pun. []

Jumat, 10 Oktober 2025

SDN Padangdangan 2 Rutin Gelar Program Bersase Tiap Sabtu

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan

SUMENEP - SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, rutin melaksanakan program Bersih Sampah Sekolah (Bersase) setiap hari Sabtu. 

Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa dan guru sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sejak dini. Sabtu (11/10/2025). 

Sundari, S.Pd, guru kelas 2 di sekolah tersebut, menjelaskan bahwa kegiatan Bersase bukan sekadar membersihkan lingkungan sekolah, tapi juga bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

“Tujuan Bersase menciptakan lingkungan bersih, nyaman, sehat, dan aman untuk belajar, serta menanamkan karakter peduli lingkungan, kedisiplinan, dan kebersamaan di kalangan peserta didik,” terang Sundari.

Melalui program rutin ini, SDN Padangdangan 2 berharap budaya menjaga kebersihan dan gotong royong bisa terus tumbuh di kalangan siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. [sh]

Kamis, 09 Oktober 2025

SDN Padangdangan 2 Gelar Kegiatan Shoyama, Tanamkan Cinta Rasul dan Tolak Bullying

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Siswa SDN Padangdangan 2 gelar baca sholawat dan Yasin bersama. [Foto: sh]

SUMENEP — SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, rutin menggelar kegiatan keagamaan setiap Jumat pagi bertajuk Shoyama (Sholawat dan Yasin Bersama). 

Kegiatan ini memadukan dzikir, doa, dan bacaan Al-Qur’an sebagai sarana memperkuat keimanan serta menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW di kalangan siswa. Jumat (10/10/2025). 

Sdn Padangdangan 2

Dalam kegiatan Shoyama kali ini, salah seorang guru, Suriyanto, menyampaikan pesan moral kepada seluruh peserta agar saling menghormati dan tidak melakukan tindakan perundungan di sekolah.

“Siapapun yang di-bullying, kalian harus melapor kepada guru kelasnya,” tegas Suriyanto di hadapan siswa.

Kegiatan Shoyama diharapkan jadi wadah pembinaan karakter dan spiritual bagi siswa SDN Padangdangan 2, sehingga selain cerdas secara akademik, mereka juga tumbuh dengan akhlak yang baik dan kepedulian terhadap sesama. [sh]

Rabu, 08 Oktober 2025

Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara: Suara Jernih Kiai Said Aqil Siradj

Ketua umum pbnu

Dalam salah satu perbincangan menarik di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kiai Said Aqil Siradj—ulama besar Nahdlatul Ulama yang dikenal dengan keluasan ilmunya dan ketenangan sikapnya—kembali menyentil kesadaran sejarah umat Islam Indonesia. 

Dalam dialog tersebut, Kiai Said menegaskan bahwa Islam di bumi Nusantara tidak dibawa oleh orang-orang Yaman sebagaimana sering diklaim oleh sebagian kelompok yang mengaku sebagai “habib”.

Pernyataan tegas tersebut bukan dimaksudkan untuk menyerang siapa pun, tapi lebih kepada meluruskan fakta sejarah agar umat Islam memahami asal-usul penyebaran Islam di Nusantara secara objektif. 

Penyebar Islam Nusantara

Menurut Kiai Said, para tokoh penyebar Islam di awal masa datangnya agama ini ke wilayah kepulauan Nusantara justru bukan berasal dari Hadramaut (Yaman), melainkan dari berbagai wilayah dunia Islam yang lebih luas—termasuk dari Mesir, Persia, dan bahkan Tiongkok.

Nama-nama seperti Fatimah binti Maimun di Gresik, yang dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar Islam pertama di Jawa; Syekh Ahmad Subakir, seorang sufi besar yang dipercaya menanamkan pondasi spiritual Islam di tanah Jawa; Syekh Kuro dari Tiongkok; serta Syekh Maulana Ishak dari perbatasan Mesir-Libya—jadi bukti nyata bahwa Islam datang melalui jalur spiritual dan intelektual yang kaya dan beragam, bukan semata-mata dari bangsa Yaman.

Orang Yaman

Kiai Said menambahkan, orang-orang Yaman baru memasuki kepulauan Indonesia pada masa penjajahan Belanda. 

Mereka datang tidak dalam konteks dakwah Islam, melainkan sebagai bagian dari arus perdagangan dan kolonial yang dibuka oleh kekuasaan Belanda. 

Di sinilah kemudian muncul fenomena sosial baru: sebagian dari mereka memamerkan status ke-“habib”-an untuk memperoleh kedudukan sosial yang lebih tinggi di tengah masyarakat kolonial dan pribumi.

Fenomena penggunaan gelar “habib” ini, menurut Kiai Said, pada akhirnya lebih bersifat politis dan sosial ketimbang spiritual. 

Gelar tersebut digunakan sebagai sarana memperoleh kehormatan dan kemudahan hidup, dengan mengaitkan nasab mereka kepada Nabi Muhammad SAW—meski kebenaran silsilah tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah dan nasab.

Tidak hanya di Indonesia habib Yaman ini sukses mengelabui masyarakat pribumi yang notabene sangat menghormati Nabi Muhammad, mereka juga berhasil membohongi masyarakat Malaysia dan Brunei Darussalam. 

Sangat luar biasa kelicikan mereka sehingga banyak dari mereka jadi mukibbin yang siap mengorbankan harta bendanya demi mendapatkan syafaat Rasullullah SAW. 

Perilaku Arogan

Lebih disayangkan lagi, belakangan ini, sebagian dari kelompok yang mengaku “habib” justru memperlihatkan perilaku yang jauh dari akhlak Rasulullah SAW. 

Sikap arogan, merasa suci sendiri, bahkan merendahkan bangsa pribumi menjadi ironi di tengah masyarakat Islam yang diajarkan untuk menjunjung tinggi tawaduk dan persaudaraan sesama umat. 

Padahal, sejarah Islam di Nusantara justru dibangun atas dasar kerendahan hati, akulturasi budaya, dan dialog kemanusiaan.

Apa yang disampaikan Kiai Said Aqil Siradj sejatinya adalah bentuk *ijtihad intelektual* untuk mengembalikan kesadaran sejarah bangsa. 

Bahwa Islam di Nusantara lahir bukan dari darah kebangsawanan atau garis nasab, melainkan dari kerja keras, kesabaran, dan cinta dakwah para ulama sejati yang hidup di tengah masyarakat. 

Islam tumbuh di bumi Nusantara karena kearifan, bukan karena silsilah.

Taqwa dan Akhlak

Dalam konteks ini, pernyataan Kiai Said hendaknya tidak dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap siapa pun, tapi sebagai upaya membangun nalar sejarah yang jernih—agar umat Islam Indonesia tidak mudah terjebak dalam kultus keturunan. 

Sebab dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh taqwa dan akhlak. 

Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa."

Pernyataan Kiai Said Aqil Siradj ini seolah jadi cermin bagi kita semua untuk meninjau kembali bagaimana seharusnya memahami sejarah keislaman di Indonesia: bukan dari siapa yang merasa paling mulia, tapi dari siapa yang benar-benar meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. [sh]

Rokat Pandhaba: Tradisi Spiritual dan Pembelajaran Moral dalam Pagelaran Macopat Madura

Macopat Sumenep Madura

Tradisi di Madura memiliki akar budaya yang sangat kuat, salah satunya adalah Rokat Pandhaba—sebuah ritual yang memadukan unsur spiritual, seni, dan moralitas masyarakat. 

Tradisi ini masih lestari di berbagai wilayah seperti di Kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan Sampang.

Hal ini jadi bagian penting dari identitas kultural masyarakat Madura. 

Melalui Rokat Pandhaba, masyarakat tidak hanya menjalankan ritual adat, tapi juga meneguhkan hubungan spiritual mereka dengan Tuhan dan sesama.

Nilai Spiritual

Dalam pelaksanaannya, Rokat Pandhaba diiringi dengan pagelaran macopat, sebuah bentuk kesenian tradisional berupa tembang atau syair berbahasa Madura klasik. 

Disinilah elemen spiritual dan kultural berpadu dengan indah. Masyarakat meyakini bahwa melalui ritual ini, mereka bisa memohon keselamatan, kesejahteraan, serta perlindungan dari Tuhan. 

Doa-doa yang diucapkan dalam Rokat Pandhaba menyimbolkan pengharapan akan kehidupan yang tenteram dan dijauhkan dari mara bahaya, baik secara lahir maupun batin.

Lebih dari sekadar ritual, syair-syair macopat  yang dibawakan dalam Rokat Pandhaba mengandung ajaran moral dan etika kehidupan. 

Mengenal Tuhan

Nilai-nilai seperti rasa syukur, kesabaran, keikhlasan, dan penghormatan terhadap leluhur disampaikan secara lembut melalui bait-bait tembang. 

Macopat jadi media edukasi yang efektif karena bahasanya puitis, mudah diingat, dan sarat makna filosofis.

Menurut Salehodin Khoir, pakar Macopat Madura berasal dari Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, bahwa Rokat Pandhaba bukan hanya peristiwa ritual, tapi juga ruang spiritual tempat masyarakat belajar mengenal dirinya dan Tuhannya. 

Setiap bait macopat mengandung pesan etika dan kearifan hidup yang membentuk karakter masyarakat Madura yang religius dan tangguh.

Kutipan tersebut menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam pagelaran macopat tidak berhenti pada keindahan estetika, melainkan berfungsi sebagai pembentuk kesadaran moral dan spiritual masyarakat. 

Setiap syair yang dilantunkan memiliki kekuatan untuk menyentuh batin pendengarnya. 

Pesan tentang pentingnya bersyukur dalam keterbatasan, bersabar dalam ujian, serta ikhlas dalam setiap takdir, jadi refleksi kehidupan masyarakat Madura yang dikenal ulet dan berpegang teguh pada nilai keagamaan.

Oleh karena itu, Rokat Pandhaba bukanlah sekadar warisan budaya yang dipertahankan demi tradisi semata. 

Ia adalah sarana pembelajaran spiritual dan moral yang menyatukan masyarakat dalam kebersamaan, doa, dan perenungan. 

Penutup

Di tengah arus modernisasi yang kian kuat, tradisi seperti ini memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan kedalaman batiniah.

Menjaga dan melestarikan Rokat Pandhaba berarti menjaga jiwa kebudayaan Madura itu sendiri. 

Sebab di dalamnya terkandung pesan universal: bahwa manusia tidak hanya hidup untuk dunia, tapi juga untuk menumbuhkan kesadaran spiritual yang memuliakan kehidupan. [sh]

Menyingkap Manipulasi Nasab: Pandangan Kritis Kiai Said Aqil Siradj dan Kesadaran Ulama Nusantara

Islam Nusantara

Perbincangan super menarik muncul dari kanal YouTube Mahfud MD Official ketika Kiai Said Aqil Siradj, salah satu ulama besar Nahdlatul Ulama, menyampaikan pandangan tajam tapi elegan terkait asal-usul kaum habib.

Dalam perbincangan tersebut, Kiai Said menegaskan bahwa habib bukan keturunan Nabi Muhammad SAW, melainkan hasil klaim sejarah yang tidak tersambung secara valid kepada Rasulullah.

Pernyataan ini, meskipun terkesan berani, tidaklah bertentangan dengan pandangan para ulama besar Nusantara. 

Sejak masa lalu, banyak kiai dan ahli sejarah Islam di Indonesia sudah menaruh kecurigaan terhadap keabsahan silsilah yang diklaim kalangan habib bangsa Yaman. 

Para ulama terdahulu memahami bahwa kemuliaan sejati tidak lahir dari darah keturunan, melainkan dari ilmu, akhlak, dan kontribusi terhadap umat.

Kiai Said menegaskan bahwa dasar pandangannya bersumber dari catatan sejarah. Ia menyebut nama Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir, sosok yang selama ini diyakini sebagai leluhur para habib keturunan Yaman di Indonesia. 

Silsilah

Menurut penelusuran historis, silsilah Ubaidillah tidak bersambung kepada Rasulullah SAW. Bahkan disebutkan, Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir merupakan seorang gubernur Irak yang memiliki peran dalam peristiwa tragis pembunuhan Sayyidina Husein di Karbala. 

Pandangan ini memperkuat keyakinan sejumlah ulama Nusantara bahwa klaim keturunan Nabi yang dilakukan sebagian kelompok habib sesungguhnya adalah bentuk manipulasi sejarah. 

Manipulasi ini bukan sekadar soal identitas, melainkan terkait upaya sebagian pihak mencari kehormatan sosial dan posisi sejahtera melalui legitimasi spiritual. 

Dengan mengaku sebagai keturunan Rasulullah, mereka lebih mudah mendapatkan tempat istimewa di tengah masyarakat muslim yang sangat menghormati keluarga Nabi.

Kemulian

Tapi, ulama-ulama besar di Nusantara, termasuk Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Bisri Syansuri, hingga Kiai Ahmad Dahlan, tidak pernah menempatkan nasab sebagai ukuran kemuliaan seseorang. 

Bagi mereka, Islam mengajarkan prinsip kesetaraan. Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa “yang paling mulia di sisi Allah hanyalah yang paling bertakwa.”

Dalam konteks itu, pandangan Kiai Said Aqil justru selaras dengan semangat keislaman yang diajarkan para ulama tanah air — Islam yang rasional, egaliter, dan menolak segala bentuk privilese berbasis keturunan. 

Kritiknya terhadap manipulasi nasab bukanlah serangan terhadap individu, melainkan panggilan untuk membersihkan sejarah Islam dari distorsi yang bisa menyesatkan umat.

Di tengah masyarakat yang mudah terkagum pada gelar habib, Kiai Said mengingatkan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh garis keturunan, akan tetapi oleh akhlak, ilmu, dan amalnya. 

Kesetaraan

Islam menolak sistem kasta dan menegakkan kesetaraan sosial tanpa membedakan darah atau asal-usul.

Oleh karena itu, pernyataan Kiai Said seharusnya dipahami bukan sebagai kontroversi, tapi sebagai upaya meluruskan sejarah dan mengembalikan makna kemuliaan dalam Islam kepada tempatnya yang benar. 

Ia berdiri dalam garis panjang tradisi ulama Nusantara yang berani berpikir kritis dan menjaga integritas keilmuan dari pengaruh feodalisme spiritual.

Pada akhirnya, pesan Kiai Said Aqil Siradj menegaskan kembali jati diri Islam Indonesia: agama yang menghormati ilmu, menjunjung kebenaran, dan menolak segala bentuk manipulasi yang mengatasnamakan Nabi Muhammad SAW. [sh]

Selasa, 07 Oktober 2025

Kiai Said Aqil Siradj dan Jalan Lembut dalam Menyikapi Isu Keumatan

Suriyanto Hasyim

Dalam beberapa waktu terakhir, sosok Kiai Haji Said Aqil Siradj kembali menjadi sorotan publik melalui berbagai podcast di sejumlah kanal YouTube. 

Dalam forum-forum tersebut, Kiai Said kerap menyampaikan pandangan yang lembut dan meneduhkan terhadap isu-isu keagamaan yang sedang hangat, termasuk kontroversi seputar klan Baalawi di Indonesia. 

Berbeda dengan beberapa ulama lain seperti Kiai Imaduddin atau Kiai Marzuki Mustamar yang berbicara dengan gaya lebih tegas dan frontal, Kiai Said memilih pendekatan dialogis dan penuh kedamaian.

Sikap ini bukan tanpa alasan. Sebagai seorang ulama besar yang telah lama berkecimpung dalam dunia keilmuan Islam, Kiai Said memahami bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang benar dan salah, tapi juga tentang cara menyampaikan kebenaran dengan penuh hikmah. 

Pendekatan beliau mencerminkan semangat wasathiyah—jalan tengah—yang selalu diusung Nahdlatul Ulama (NU). 

Dengan gaya tutur yang santun, Kiai Said seolah ingin menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam Islam seharusnya tidak menimbulkan permusuhan, melainkan jadi ruang untuk saling memahami.

Eks PBNU

Kiai Said bukan sosok baru di jagat keulamaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) selama dua periode sebelum kepemimpinan Gus Yahya Cholil Staquf. 

Latar belakang keilmuannya amat kuat, khususnya dalam bidang teologi Islam (ilmu kalam), tasawuf, dan filsafat. 

Kecerdasan dan keluasan wawasannya terlihat dari setiap ceramah dan tulisannya yang tidak sekadar menyentuh aspek lahiriah agama, tapi juga menggali makna batiniah yang mendalam.

Di tengah maraknya perdebatan publik yang sering kali dibumbui dengan ujaran keras dan polarisasi pandangan, kehadiran Kiai Said jadi semacam oase kesejukan. 

Beliau tidak sibuk menghakimi, melainkan mengajak umat untuk berpikir jernih dan meneguhkan kembali nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang. 

Dalam pandangan Kiai Said, tugas ulama bukanlah memperuncing perbedaan, melainkan merawat persaudaraan di tengah keberagaman.

Akan Hadir di Sumenep

Menariknya, pada Rabu, 29 Oktober 2025 mendatang, pukul 19.30 WIB, Kiai Said Aqil Siradj dijadwalkan akan hadir dalam pengajian umum di Lapangan Sawunggaling, Desa/Kecamatan Pasongsongan. 

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Hari Santri Nasional.

Kehadiran beliau tentu jadi momentum penting bagi masyarakat Pasongsongan dan sekitarnya untuk menyimak langsung petuah dan pemikiran sang ulama besar.

Lebih dari sekadar ceramah, kehadiran Kiai Said diharapkan mampu memperkuat semangat kebangsaan dan keislaman masyarakat. 

Sebab, melalui pandangan-pandangan lembut dan mendalamnya, beliau selalu mengingatkan bahwa Islam sejatinya adalah agama rahmah—yang membawa kedamaian, bukan perpecahan.

Kesimpulan

Dengan demikian, sosok Kiai Said Aqil Siradj menjadi simbol penting bagi umat Islam Indonesia yang merindukan kesejukan dalam keberagamaan. 

Ia bukan hanya ulama yang cerdas, tapi juga figur yang mengajarkan bagaimana kebijaksanaan dan kelembutan bisa jadi jalan terbaik dalam menghadapi perbedaan di tengah umat. [sh]

Senin, 06 Oktober 2025

Kiai Said Aqil Siradj dan Kejernihan Berpikir dalam Menyikapi Isu Baalawi

Suriyanto hasyim

Dalam beberapa hari terakhir, publik dikejutkan pernyataan Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj dalam podcast di kanal YouTube Akbar Faisal Uncensored. 

Dalam tayangan yang ramai diperbincangkan tersebut, Kiai Said menyinggung soal kontroversi isu klan Baalawi di Indonesia—sebuah topik sensitif yang berkaitan dengan asal-usul, pengaruh, dan dinamika sosial-keagamaan kelompok tertentu. 

Tapi ketika saya cermati dengan pikiran jernih, tema utama dalam podcast itu tidak semata-mata menyoal isu Baalawi. 

Lebih dari itu, perbincangan tersebut membuka cakrawala luas tentang gerakan Islam radikal, relasi Nahdlatul Ulama dengan pemerintah, serta pandangan teologis yang mendalam mengenai keislaman di Indonesia.

Keilmuan yang Mumpuni

Sebagai eks Ketua Umum PBNU dua periode sebelum Gus Yahya Cholil Staquf, Kiai Said dikenal sebagai ulama yang memiliki kedalaman ilmu di bidang teologi Islam, tasawuf, dan filsafat. 

Pemikirannya tidak hanya tajam secara intelektual, tapi juga menukik ke dimensi spiritualitas dan kemanusiaan. 

Ceramah-ceramahnya selama ini menunjukkan keutuhan pandangan Islam yang moderat, terbuka, dan berpijak pada semangat kebangsaan.

Pernyataan Kiai Said tentang isu Baalawi sesungguhnya bisa dipahami sebagai ajakan untuk berpikir kritis dan proporsional. 

Dalam konteks masyarakat majemuk seperti Indonesia, penyikapan terhadap perbedaan nasab, asal-usul, dan tradisi keagamaan tidak boleh mengarah pada fanatisme sempit. 

Islam, sebagaimana sering beliau tekankan, adalah agama yang mengajarkan tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang). 

Dengan demikian, setiap klaim kebenaran atau keistimewaan kelompok hendaknya ditempatkan dalam kerangka ukhuwah—baik ukhuwah Islamiyah, wathaniyah, maupun insaniyah.

Islam bukan Alat Politik

Podcast bersama Akbar Faisal juga memperlihatkan bagaimana Kiai Said tetap konsisten menyuarakan perlawanan terhadap ekstremisme dan radikalisme agama. 

Ia menegaskan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara ulama, umat, dan pemerintah dalam membangun peradaban Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin. 

Pandangan ini memperkuat pesan bahwa Islam bukanlah alat politik, melainkan pedoman moral dan spiritual yang harus membimbing kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akan Hadir di Sumenep

Menariknya, dalam waktu dekat, Rabu, 29 Oktober 2025 pukul 19.30 WIB, Kiai Said dijadwalkan akan hadir dalam pengajian umum di Lapangan Sawunggaling, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan Hari Santri Nasional. 

Kehadiran beliau tentu dinantikan banyak kalangan, bukan hanya karena statusnya sebagai tokoh besar, tapi karena kehadirannya selalu membawa pencerahan dan kedamaian bagi umat.

Dari berbagai pandangannya, kita bisa belajar bahwa agama bukan sekadar identitas, melainkan jalan menuju kemanusiaan yang utuh. 

Isu-isu kontroversial seperti Baalawi, jika disikapi dengan kebijaksanaan ala Kiai Said, justru bisa jadi cermin bagi umat Islam untuk lebih dewasa dalam berpikir, lebih arif dalam menilai, dan lebih lembut dalam berdakwah. 

Penutup

Pada akhirnya, yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah perdebatan yang memecah, melainkan dialog mencerdaskan. 

Dan dalam hal itu, Kiai Said Aqil Siradj telah memberi teladan—bahwa berpikir jernih adalah bagian dari ibadah, dan menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang adalah bentuk tertinggi dari dakwah. [sh]

Kepala SDN Padangdangan 2 Ingatkan Siswa Pentingnya Disiplin Lewat Upacara Bendera

Sdn padangdangan 2 kecamatan Pasongsongan
Upacara bendera SDN Padangdanngan 2 Kecamatan Pasongsongan. [Foto: sh]

SUMENEP — Kepala SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan, Madun, S.Pd,SD, mengingatkan para siswa agar selalu menanamkan sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Senin (6/10/2025). 

Hal itu disampaikan dalam amanat upacara bendera yang rutin digelar setiap hari Senin di halaman sekolah.

“Upacara bendera rutin yang kita laksanakan mengajarkan kalian sebagai murid untuk terus disiplin,” ujar Madun dalam amanatnya.

Ia menambahkan, kegiatan upacara bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada bendera merah putih, tapi juga sebagai sarana membangun karakter siswa agar lebih tertib, tanggung jawab, dan menghargai waktu.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan seluruh peserta didik SDN Padangdangan 2 mampu menerapkan nilai kedisiplinan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah masing-masing. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...