Rabu, 06 Agustus 2025

Cerpen: Mengabdi Tanpa Henti, Pensiun dengan Harga Diri

Cerpen terbaik apoymadura.com

By: Suriyanto Hasyim

Debur adalah seorang guru honorer yang telah mengabdi lebih dari 24 tahun di SD Negeri di desanya. 

Setiap pagi, ia datang lebih awal dari siapa pun, menyiapkan materi pelajaran, dan menyambut murid-murid dengan senyum hangat. 

Di balik dedikasinya yang luar biasa, Debur menyimpan harapan sederhana: Diangkat jadi ASN melalui jalur PPPK. 

Tapi, harapan itu tak pernah jadi kenyataan. 

Berkali-kali ia ikut seleksi, dan berkali-kali pula namanya tak pernah muncul dalam pengumuman kelulusan.

Kini, di usia 61 tahun, Debur memutuskan pensiun dari tugasnya sebagai guru. 

Ia pamit dengan mata berkaca-kaca, di hadapan murid-murid dan rekan sejawat yang mengenalnya sebagai sosok sabar dan tekun. 

Meski negara belum sempat menghargai pengabdiannya secara layak, Debur pergi dengan hati lapang dan kepala tegak. 

Dalam senyap masa tua, Debur tak sendiri. Ia ditemani istri setia mendampingi dari awal perjuangannya sebagai guru, serta tiga anak yang tumbuh menyaksikan keteguhan hati ayah mereka. 

Mereka adalah sumber kekuatan yang menjaga semangat Debur tetap menyala, bahkan di hari-hari yang penuh kekecewaan. 

Ia mungkin tak berhasil meraih status, tapi ia telah menang dalam kesetiaan, ketulusan, dan pengabdian. [sh]

Cerpen: Sayur Harapan

Cerpen: Sayur Harapan

By: Suriyanto Hasyim

Tona, seorang perempuan tangguh berusia enam puluhan.

Ttiap pagi menyusuri jalan tanah menuju pasar di desanya. 

Walau tubuhnya mulai renta, ia tetap setia membawa bakul berisi sayuran segar hasil kebun kecilnya. 

Di rumah, suaminya, Debur, hanya bisa terbaring sejak terserang stroke lima tahun lalu. 

Tona merawatnya seorang diri, menyuapi, membersihkan, dan menjaga dengan penuh kasih sayang, tanpa keluh.

Berjualan sayur bukan sekadar mata pencaharian bagi Tona, melainkan bentuk cintanya yang paling tulus. 

Hasil jualan itulah ia membeli obat untuk suaminya dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. 

Meski beberapa tetangga menawarkan bantuan, Tona menolaknya dengan lembut. 

“Selama tangan ini masih bisa bekerja, biar saya usaha sendiri,” tekadnya. 

Tiap siang, Tona pulang membawa hasil seadanya, duduk di samping suaminya, dan bercerita tentang hari itu. 

Debur hanya bisa menatapnya, sesekali menggenggam tangannya, lembut.

Di rumah kecil sederhana, cinta tumbuh dalam kesunyian, dibungkus keteguhan dan pengorbanan seorang istri yang tak pernah menyerah pada hidup.[]

Mengejar Badai": Potret Guru Honorer yang Terlupakan

"Mengejar Badai": Potret Guru Honorer yang Terlupakan

Kalimat "mengejar badai" barangkali terdengar puitis, bahkan heroik. 

Tapi bagi sebagian besar guru honorer Kabupaten Sumenep, istilah ini adalah kenyataan pahit yang dijalani seumur hidup. 

Terutama bagi mereka yang telah mengabdi lebih dari 20 tahun, termasuk dalam kategori R4—guru honorer yang telah bekerja sejak lama tapi terpinggirkan oleh regulasi yang tidak berpihak pada pengalaman dan usia.

Bayangkan seseorang yang mendedikasikan separuh hidupnya untuk mencerdaskan generasi bangsa, tapi akhirnya harus pensiun dalam senyap, tanpa pengakuan, tanpa penghargaan yang layak. 

Usianya telah mencapai 60 tahun, dan satu-satunya yang menjadi saksi dari perjuangannya adalah air mata yang jatuh diam-diam, menetes bukan karena lelah, tapi karena kecewa.

Regulasi demi regulasi datang dan pergi, tak satu pun benar-benar memberikan "jatah" keadilan bagi mereka yang menua dalam pengabdian. 

Masa kerja yang panjang tidak menjadi jaminan. 

Usia yang kian senja justru jadi penghalang. 

Padahal mereka bukan mengejar fasilitas, mereka hanya ingin diakui.

Mengejar badai bukan hanya tentang bertahan di tengah ketidakpastian, tapi juga tentang harapan yang terus dikejar meski tahu ujungnya bisa menghancurkan. 

Dan itulah yang dialami para guru honorer Kabupaten Sumenep—berlari menuju sistem yang terus berubah, berharap diakui, namun akhirnya harus berhenti tanpa pernah sampai.

Sudah waktunya negara melihat lebih dalam, bahwa loyalitas bukan sekadar angka dalam SK, tapi jejak panjang perjuangan yang mestinya tak dilupakan. [sh]

Selasa, 05 Agustus 2025

SDN Panaongan 3 Terima Bantuan Buku Yasin dan Tahlil dari Pemerhati Pendidikan Asal Sumenep

Sd negeri panaongan 3
Dari kiri: Agus Sugianto dan Suriyanto Hasyim. [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, mendapatkan perhatian dari seorang pemerhati pendidikan asal Sumenep yang kini menetap di Jakarta, Ustadz Aji Lahaji. 

Bantuan kali ini berupa 41 eksemplar buku Surat Yasin dan Tahlil yang disalurkan melalui media online lokal, apoymadura.com. Rabu (6/8/2025). 

Suriyanto Hasyim, Pimpinan Redaksi apoymadura.com, mengatakan bahwa pihaknya dipercaya Ustadz Aji Lahaji untuk menyalurkan bantuan tersebut. 

Ia pun memilih SDN Panaongan 3 sebagai penerima manfaat karena sekolah ini dinilai paling aktif dalam pemberitaan dan publikasi kegiatan melalui berbagai platform media sosial.

"SDN Panaongan 3 sangat aktif menyebarkan informasi dan kegiatan positif mereka. Ini bentuk apresiasi terhadap semangat mereka dalam membangun citra pendidikan yang terbuka dan inspiratif," terang Suriyanto. 

Sedangkan Kepala SDN Panaongan 3, Agus Sugianto membenarkan bahwa lembaga yang ia pimpin memang konsisten mempublikasikan seluruh kegiatan sekolah. 

“Setiap hari kami memposting berbagai aktivitas siswa dan guru di media sosial, sebagai bentuk keterbukaan informasi dan motivasi bagi sekolah lain,” ungkapnya.

Bantuan buku ini diharapkan bisa mendukung kegiatan keagamaan rutin sekolah, terutama pembacaan Surat Yasin bersama setiap Jumat pagi. 

Sekaligus, ini menjadi bukti nyata bahwa eksistensi digital sekolah juga bisa membawa manfaat nyata. [sh]

Pemerhati Pendidikan Asal Sumenep, Ustadz Aji Lahaji, Kembali Salurkan Bantuan untuk Dunia Pendidikan

Pemerhati pendidikan SUMENEP
Ustadz Aji Lahaji. [Foto: sh]

SUMENEP – Pemerhati pendidikan asal Kota Keris Sumenep, Ustadz Aji Lahaji, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan di kampung halamannya. Rabu (6/8/2025). 

Walau kini menetap di Jakarta, setiap kali pulang ke Sumenep, ia senantiasa menyempatkan diri memberikan bantuan untuk mendukung pendidikan anak-anak.

“Kali ini kami memberikan bantuan buku Surat Yasin dan Tahlil untuk tiga lembaga pendidikan. Dua lembaga pendidikan non formal yang ada di kawasan Kota Sumenep dan satu lagi SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan,” ujar Ustadz Aji Lahaji. 

Bantuan tersebut disalurkan melalui media online lokal apoymadura.com, yang kemudian meneruskan bantuan itu kepada pihak-pihak penerima. 

Total sebanyak 41 eksemplar buku Surat Yasin dan Tahlil dibagikan sebagai sarana penunjang kegiatan keagamaan di lingkungan lembaga pendidikan.

Kepedulian Ustadz Aji Lahaji tidak hanya bersifat material, tapi juga menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk ikut berkontribusi dalam memajukan pendidikan. 

Langkah nyata seperti ini diharapkan bisa mempererat ikatan emosional para perantau dengan tanah kelahiran mereka, serta menumbuhkan kesadaran kolektif dalam mendukung kemajuan pendidikan. [sh]

Pimred apoymadura.com Serahkan 41 Buku Yasin dan Tahlil ke SDN Panaongan 3

Sdn Panaongan 3 kecamatan Pasongsongan
Dari kiri: Agus Sugianto dan Suriyanto Hasyim. [Foto: sh]

SUMENEP – Pimpinan Redaksi (Pimred) apoymadura.com, Suriyanto Hasyim, menyerahkan bantuan buku Surat Yasin dan Tahlil sebanyak 41 eksemplar kepada SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan. Selasa (6/8/2025).

"Bantuan buku Surat Yasin dan Tahlil ini dari Ustadz Aji Lahaji, Sumenep. Beliau menyerahkan kepada kami untuk diteruskan kepada SDN Panaongan 3," ujar Suriyanto saat penyerahan bantuan.

Sementara itu, Kepala SDN Panaongan 3, Agus Sugianto, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian yang diberikan. 

"Setiap Jumat pagi, peserta didik kami menyelenggarakan pembacaan Surat Yasin bersama. Buku-buku ini tentu sangat bermanfaat," ungkapnya.

Penyerahan bantuan ini diharapkan bisa mendukung kegiatan keagamaan rutin di sekolah dan membentuk karakter religius peserta didik sejak dini. [sh]

Fenomena Bendera One Piece: Isyarat Kekecewaan Rakyat?

Bendera indonesia

Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80, fenomena pengibaran bendera One Piece—bendera bajak laut dari serial anime Jepang—muncul di berbagai daerah. 

Ini bukan sekadar ekspresi budaya pop, melainkan sebuah pesan simbolik yang perlu dicermati lebih dalam, terutama oleh pemerintah yang tengah berkuasa.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan, mengapa justru bendera bajak laut yang dikibarkan? 

Fenomena ini tak bisa dianggap sepele. Bisa jadi, ini adalah wujud ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara dalam menyelesaikan berbagai kasus besar yang tak kunjung tuntas. 

Korupsi, ketidakadilan hukum, hingga krisis ekonomi berkepanjangan telah menumpuk dalam benak rakyat.

Bendera bajak laut, yang selama ini identik dengan perlawanan dan kebebasan dari penindasan, kini menjadi simbol baru. 

Sebuah peringatan diam bahwa rakyat mulai mencari harapan dari luar sistem. 

Ini seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan hanya dilihat sebagai bentuk iseng atau euforia budaya asing.

Pemerintah perlu menyadari bahwa makna kemerdekaan sejati bukan hanya soal upacara dan seremoni. 

Ketika simbol-simbol perlawanan mulai dikibarkan di halaman rumah rakyat, itu tandanya ada keresahan yang nyata dan mendalam. [sh]

Minggu, 03 Agustus 2025

Tiga Murid SDN Soddara 2 Raih Prestasi di Lomba Lari Menengah HUT RI ke-80

Hut ri Kemerdekaan ke-80
Bambang Sutrisno (paling kanan) bersama guru dan muridnya. [sh]

SUMENEP — Tiga murid SDN Soddara 2, Kecamatan Pasongsongan, berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam lomba lari menengah tingkat kecamatan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80. Senin (4/8/2025). 

Dua siswi sekolah tersebut menyabet juara 1 dan 2 untuk kategori putri, sementara satu siswa lainnya meraih juara 5 untuk kategori putra.

Hut Kemerdekaan ri
Ketua Paguyuban olah raga (Paruga) Kecamatan Pasongsongan menyerahkan hadiah. [Foto: sh]

"Kita semua maklum, untuk meraih prestasi dibutuhkan latihan yang terprogram dan berkesinambungan," ujar Bambang Sutrisno, Kepala SDN Soddara 2, dengan bangga.

Menurutnya, keberhasilan ini juga tak lepas dari peran semua guru, terutama guru olah raga. 

Hut ri ke+80

Prestasi ini menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan juga tumbuh dalam dunia pendidikan, khususnya dalam bidang olahraga yang terus dikembangkan dibeberapa sekolah. [sh]

Bendera Bajak Laut: Simbol Perlawanan atau Cermin Keputusasaan?

Bendera one piece

Di jagat media sosial, kini ramai diperbincangkan sebuah simbol yang tidak biasa: Bendera dengan lambang bajak laut. 

Sekilas tampak jenaka, bahkan nyaris dianggap lelucon. 

Tapi dibalik ikon tengkorak dan tulang bersilang itu, tersembunyi sebuah pesan yang tajam: Rakyat muak!

Beberapa konten kreator menyebut bendera bajak laut ini sebagai lambang solidaritas dan perlawanan tanpa kekerasan. 

Ia muncul bukan untuk menantang negara, tapi sebagai alarm keras bagi penguasa.

Ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, rakyat kehilangan kepercayaan. 

Maka lahirlah simbol alternatif—bukan merah putih, tapi bendera bajak laut—sebagai bentuk satire dan kritik keras.

Lucunya, alih-alih merenung, sebagian elite justru menepisnya sebagai bentuk "kekonyolan" anak muda. 

Padahal, inilah ekspresi paling jujur dari generasi yang kecewa tapi masih punya harapan. 

Dan pesan itu jelas: Indonesia harus berubah!

Bendera bajak laut bukan bendera pemberontakan, tapi simbol bahwa rakyat masih peduli.

Kalau pemerintah bijak, mereka akan mendengar. Kalau tidak, jangan salahkan rakyat jika ke depan, bukan hanya simbol yang dikibarkan—tapi perlawanan yang lebih nyata. [sh]

Sabtu, 02 Agustus 2025

Pengumuman Pemenang Lomba Seni HUT RI ke-80 Kecamatan Pasongsongan Berlangsung Meriah

Hut ri ke-80
Agus Sugianto (paling kanan) beserta pemenang lomba. [Foto: sh]

SUMENEP — Kegiatan lomba seni dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80 tingkat Kecamatan Pasongsongan yang digelar di LP Ma’arif, Desa Pasongsongan, resmi ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah yang dilakukan langsung setelah perlombaan usai. Ahad (3/8/2025). 

Penyerahan hadiah dilakukan di lokasi lomba dengan disaksikan oleh peserta dan guru pendamping masing-masing.

Hut ri kemerdekaan

Agus Sugianto, selaku Koordinator Bidang Seni, menyampaikan apresiasi atas antusiasme seluruh peserta dan peran aktif para guru pendamping. 

Kemerdekasm ri

“Saya ucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan dewan guru yang telah mengantarkan para peserta didiknya hingga sukses mengikuti perlombaan ini,” ungkapnya.

Kemerdekaan ri ke-80

Kegiatan ini diharapkan bisa terus memupuk semangat berkesenian di kalangan pelajar serta menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air melalui kreativitas dan ekspresi seni. [sh]

Lomba Seni HUT RI ke-80 di LP Ma’arif Pasongsongan Berjalan Lancar dan Tertib

Hut ri ke-80
Bambang Sutrisno sedang mengawasi salah satu peserta melukis tingkat SD/MI. [Foto: sh]

SUMENEP — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Panitia Lomba Seni HUT RI ke-80 Kecamatan Pasongsongan,  menggelar lomba seni yang meliputi kategori melukis, mewarnai, dan kolase. Ahad (3/8/2025). 

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat RA/TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA.

Bambang Sutrisno, S.Pd., selaku Panitia Pelaksana Lomba Seni, mengapresiasi kelancaran dan ketertiban selama jalannya kegiatan. "Keseluruhan lomba dilaksanakan mulai pukul 07.30 WIB dan berlangsung dengan tertib," ujar Bambang, yang juga menjabat sebagai Kepala SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan.

Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara peringatan HUT RI yang bertujuan untuk menggali dan menyalurkan bakat seni para siswa serta menanamkan semangat nasionalisme sejak dini. 

Dukungan dari berbagai lembaga pendidikan turut menjadikan kegiatan ini meriah dan penuh antusiasme. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...