Senin, 09 Agustus 2021

Teknik Memetik Daun Tembakau Madura

Teknik memetik daun tembakau cepat. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Bulan Agustus 2021 kali ini adalah masa panen tembakau besar-besaran di sebagian wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Walau tanaman bahan pokok untuk rokok saat ini seharga Rp 20.000,- sampai Rp 30.000,- per kilogram. Petani tetap semangat. Mau bagaimana lagi, daun tembakau sudah menua.

 

Ada dua teknik memetik daun tembakau. Pertama dipetik satu demi satu. Cara seperti ini biasanya diterapkan kalau daun tembakau dipanen bagian bawahnya saja.

 

Sedangkan cara kedua yaitu tidak dengan dipetik. Melainkan kedua tangan diletakkan di puncak daun tembakau dan didorongnya kebawah. Otomatis lebih cepat selesai. Teknik seperti ini diterapkan kalau tanaman tembakau mau dipanen keseluruhan.

 

Umumnya panen tembakau dilakukan pada pagi hari setelah embun mengering. Kalau ada embun yang menempel di daun tembakau, maka daun itu akan membusuk. Sebab daun berharga ini harus didiamkan satu malam atau lebih sebelum dirajang.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Sabtu, 07 Agustus 2021

Tahap Penjemuran Tembakau Sumenep Madura

Proses penjemuran tembakau Sumenep-Madura. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Ditahap penjemuran tembakau yang habis dirajang bergantung panas matahari. Pada tahapan ini tergolong krusial. Biarpun sebelum dipetik daun tembakau terlihat super berkualitas, tapi kalau tembakau rajang tidak kering sehari, otomatis harganya akan anjlok. Aroma tembakau tidak standar dan warnanya jadi coklat kehitam-hitaman.

 

Tidak berhenti di situ penanganannya, tembakau rajang yang telah kering sebelum dibungkus tikar daun lontar harus dilemaskan. Proses pelemasan tembakau menanti embun. Ditahapan ini juga butuh penanganan ekstra hati-hati. Maka tak ayal kadang pembungkusan tembakau rajang sampai pukul 21.00 WIB.

 

Begitulah dua rangkaian terakhir dari tembakau rajang. Semuanya membutuhkan keahlian dari seorang petani tembakau. Kejelian itu tentu berdasar pada pengalaman sebelumnya.

 

Semoga kidung petani tembakau Sumenep Madura 2021, tidak terdengar menyayat hati lagi.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com 





Kamis, 05 Agustus 2021

Kemarau dan Pembakaran Rumput di Desa Pasongsongan

Lahan rumput pakan ternak masyarakat yang dilalap si jago merah. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Sudah menjadi langganan tiap tahun, di Dusun Sempong Barat dan Timur selalu ada pembakaran rumput. Tangan-tangan jahil itu menyebabkan kian gundul tanah kering yang rata-rata berbatu disitu. Bahkan pepohonan banyak mati dilalap si jago merah.

 

Ulah tak terpuji dari oknum tak bertanggung jawab menyebabkan keprihatinan banyak pihak. Terspecial bagi pemilik lahan. Sejatinya lahan tandus itu ditanami pohon supaya  tanah tidak gersang kala kemarau menerjang.

 

Masyarakat pemilik ternak sapi dan kambing tentu kesulitan mencari pakan saat ini. Mereka pasrah dan penuh harap. Semoga tahun depan tidak terulang lagi.

 

Tadi pagi, Kamis (5/8/2021), saya menyempatkan diri mengambil gambar dilokasi. Bekas rumput dan pohon kecil terbakar masih terlihat jelas.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Tambang Batu Bata Putih di Pasongsongan

Lokasi bekas penambangan batu bata putih di Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Di Dusun Sempong Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep ada bekas penambangan batu bata putih. Penambangan bawah tanah ini membentuk jurang sangat dalam, kurang lebih 50 meter. Di sisi barat berjarak  7 meter dari jurang ada jalan beraspal. Ada beberapa pohon tumbuh sebagai pengaman bagi kendaraan melintas.

 

Dihentikannya penambangan batu bata putih itu karena sang pemilik lahan menjual kepada salah seorang pengusaha. Kabarnya akan dijadikan tempat wisata.

 

Sedangkan penambangan batu bata putih lainnya yang masih produktif ada di sebelah timurnya. Biasanya pada malam hari mereka bekerja. Menggunakan mesin diesel untuk menjalankan alat-alat kerjanya.

 

Menurut seorang pekerja yang saya temui, permintaan batu bata putih mulai 2020 terus menurun. Batu bata ringan yang beredar di toko-toko bahan bangunan sebagai penyebabnya. Lantaran bata ringan hanya membutuhkan lem sebagai perekat. Tentu dalam pengerjaan bangunan lebih praktis.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

 

Baca juga: Pasir di Pesisir Pantai Pasongsongan Habis



Rabu, 04 Agustus 2021

Arti Tembang Artate di Macapat Sumenep



Catatan: Yant Kaiy

Dari sekian banyak tembang Macapat, ada satu tembang yang sering dikidungkan pada pagelaran Macapat di Sumenep, yakni Artate (Dandanggula). Menurut Kiai Haji Ismail Tembang Pamungkas, bahwa tembang Artate bermakna: Arte’e sampe’ ngarte (artikan sampai paham betul).

 

Kiai Haji Ismail merupakan seorang pakar Macapat Madura sekaligus da’i kondang berasal dari Kota Keris Sumenep. Ia menambahkan kalau yang menciptakan tembang Artate adalah Sunan Kalijaga.

 

Kita tahu kalau syair-syair yang terdapat dalam Macapat banyak mengajarkan kebajikan dalam hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam sekitar, dan bakti manusia kepada Sang Khalik.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

 

Baca juga: “Rokat Pandhebeh” Macapat Sumenep



Harga Tembakau Madura 2021



Catatan: Yant Kaiy

Tidak ada pemangku kebijakan ambil peduli terhadap nasib hidup petani tembakau di Sumenep. Petani tetap merugi karena harga tembakau tahun ini tetap sama seperti tahun kemarin.

 

Memang gudang besar pabrikan rokok masih belum buka. Jadi yang membeli tembakau petani adalah pedagang. Sedangkan pedagang tak ingin berspekulasi membeli tembakau dengan harga tinggi. Tentu dirinya tak mau merugi.

 

Kita tahu, proses mulai  menanam tembakau hingga panen amatlah panjang. Tidak sedikit biaya yang mereka keluarkan. Kalau dikalkulasi, biaya pengeluaran lebih besar ketimbang pendapatan. Plus tenaga petani dan keluarganya yang tidak dihitung selama bekerja.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang www.apoymadura.com



Senin, 02 Agustus 2021

Orang Tua Merantau, Anak Ditinggal



Catatan: Yant Kaiy

Faktor ekonomi yang menyebabkan orang tua merantau.  Mencari sesuap nasi. Di tanah kelahirannya tak menjanjikan hidup layak. Walau bekerja membanting tulang, tetap saja miskin. Terpaksa tinggalkan anak-anak mereka, cucurkan air mata. Kidung kerinduan pun tak terbendung. Sangat menyedihkan terdengar.

 

Bertahan mereka akan tergilas oleh kebutuhan: Sandang, pangan, melayat orang meninggal dunia, menghadiri undangan pernikahan, membesuk orang sakit, datang kerumah tetangga yang melahirkan. Semua itu memerlukan uang. Karena kita datang wajib hukumnya membawa buah tangan.

 

Belum lagi keperluan pulsa, token listrik, bahan bakar minyak sepeda motor, LPG untuk dapur. Semua tak bisa dihindari. Plus rumah yang mungkin segera diperbaiki karena usianya tua.

 

Itulah kondisi riil masyarakat disebagian besar wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Diantara para orang tua itu ada yang jadi penjaga toko di Jakarta, membuat batu bata di Kalimantan, tukang ojek di Bali, kuli bangunan di Malaysia, pembantu rumah tangga dan sopir di Timur tengah.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



“Rokat Pandhebeh” Macapat Sumenep

Pagelaran "Rokat Pandhebeh" Macapat Sumenep Madura. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Macapat merupakan seni tradisi warisan nenek moyang orang Madura. Warisan budaya ini kadang masih tetap terdengar mengalun lewat loudspeaker. Tapi tidak seperti ketika saya masih kecil. Ya, tidak seperti diera 1980-an.

 

Kemarin malam di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep (Senin, 2/8/2021), suara tembang macapat terdengar hingga menjelang subuh. Masyarakat luas tahu kalau hal itu acara “rokat pandhebeh”.

 

Pagelaran “rokat pandhebeh” biasanya dilaksanakan setelah acara perkawinan. Kadang pula terselenggara diacara penting lainnya. Misalnya seperti “petik laut”. Sebagian diantara warga masyarakat masih ada yang percaya, bahwa “rokat pandhebeh” sebagai media menatalkan barokah.

 

Wujud cinta terhadap macapat Madura sebagai bagian sikap bijak, bahwa kita masih menjunjung nilai-nilai budaya warisan para leluhur.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Minggu, 01 Agustus 2021

Pasir di Pesisir Pantai Pasongsongan Habis

Kondisi pantai Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy)


Catatan: Yant Kaiy

Ketika 1990-an bukit pasir sepanjang pesisir pantai Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep masih terlihat menjulang. Seseorang yang berkendara mobil atau sepeda motor yang melintas disepanjang pesisir Pasongsongan tidak akan melihat laut. Pandangan mereka terhalang bukit pasir.

 

Tapi kini bukit pasir itu telah habis. Abrasi pun tak bisa dihindari. Air laut tak terbendung mengikis tanah di sepanjang pesisir pantai Pasongsongan. Maka tatkala air laut lagi surut, batu karang tampak menghampar luas.

 

Bertahun-tahun masyarakat pemilik lahan pesisir menjual pasir. Truk-truk pengangkut pasir saban malam berseliweran di jalan raya Kecamatan Pasongsongan. Seolah tidak ada yang ambil peduli. Padahal perbuatan tersebut melanggar hukum; baik hukum agama maupun hukum negara.

 

Semoga kedepan kita tidak  tergolong sebagai orang-orang perusak alam ciptaan Tuhan. Sebagai manusia beradab, kita tentu tidak ingin mewariskan bencana kepada anak-cucu.[]

 

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com



Jumat, 30 Juli 2021

Tenggelam



Pentigraf: Yant Kaiy

Aku telah melewati batasan-batasan harga diri sebagai seorang perempuan. Walau dunia pendidikanku lebih tinggi dari orang-orang baru disekitar. Empat belas tahun aku ikut suami bekerja sebagai karyawan di pabrik makanan ringan. Dia orang terpelajar juga. Tapi nasib berbicara lain. Impian tak sesuai kenyataan.

 

Menikmati hidup bersama tiga orang putra banyak tantangan. Butuh kesabaran dalam suasana serba kekurangan uang belanja. Namun kami tak mau menyerah, pasrah pada himpitan cobaan. Kami terus bergerak menggapai apa yang kami bisa. Tak kenal lelah, tak mudah menyerah.

 

Kami terus tenggelam dalam baris-baris doa sepanjang malam sunyi. Sebab syukur tidak hanya lewat ucapan.[]

 

Pasongsongan, 30/7/2021



Rabu, 28 Juli 2021

Mencekam



Pentigraf: Yant Kaiy

Tonah segera menyulut sebatang rokok. Hatinya tiba-tiba ciut ketika mendengar kabar suaminya ditangkap pihak kepolisian. Kasus korupsi anggaran di kantor suaminya bekerja terbongkar. Banyak pegawai lainnya terlibat. Kejahatan berjamaah.

 

Pikirannya menerawang jauh. Tonah mencari celah. Bagaimanapun caranya, ia harus menyelamatkan suaminya. Bukankah selama ini ia menikmati hasil tindak kejahatannya. Hati nurani tidak mungkin bisa dibohongi.

 

Lalu Tonah menghubungi para istri yang suaminya ditangkap lewat handphone. Ada kesepakatan kalau mereka akan membayar pengacara mahal.[]

 

Pasongsongan, 29/7/2021



# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...