Ruang Warna dan Bait yang Hilang: Refleksi Panitia HUT RI ke-81 di Pasongsongan
Kembali dipercaya oleh Panitia Induk Perayaan HUT Kemerdekaan RI Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, tentu hal ini jadi sebuah kehormatan tersendiri bagi saya.
Pada peringatan HUT RI ke-81 tahun ini, saya mengemban amanat untuk mengawal jalannya lomba mewarnai dan kolase untuk tingkat TK/RA, serta lomba melukis bagi siswa SD/MI dan SMP/MTs se-Kecamatan Pasongsongan.
Dijadwalkan lomba tersebut akan diselenggarakan pada Jumat (7/8/2026) yang akan ditempatkan di MI Annajah, Desa/Kecamatan Pasongsongan.
Menerima tugas ini menghadirkan antusiasme yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya: melihat anak-anak mengekspresikan imajinasi dan jiwa patriotisme mereka di atas kertas dan kanvas.
Tapi, di balik semangat menyambut barisan garis dan warna tersebut, ada ganjalan tersirat di dalam dada.
Ingatan saya melayang pada perayaan tahun lalu, saat saya berkesempatan jadi juri Lomba Baca Puisi antar-pelajar dari tingkat TK/RA hingga SMA/MA, yang di tempatkan di Kantor Kecamatan Pasongsongan.
Kala itu, panggung perayaan terasa sangat hidup. Meriah dan berkesan.
Suara lantang anak-anak sekolah yang mendeklamasikan bait-bait perjuangan memompa kembali getaran sejarah, membakar semangat patriotisme, dan menyentuh emosi para penonton yang hadir.
Sayangnya, riak gelora itu tidak akan kita temukan tahun ini.
Lomba baca puisi resmi ditiadakan. Alasan yang mengemuka beragam, salah satunya adalah terbatasnya waktu dalam pembentukan panitia lomba.
Sebagai bagian dari kepanitiaan, saya sangat memahami dinamika dan kendala teknis di lapangan. Menyiapkan deretan agenda dalam waktu yang singkat bukanlah perkara mudah.
Kendati demikian, menurut hemat saya, ada hal mendasar yang terlewat ketika festival puisi ini dihapuskan.
Tidak lengkap rasanya merayakan kemerdekaan tanpa kehadiran puisi.
Kemerdekaan bangsa ini tidak hanya diraih dengan peluru dan strategi perang, tapi juga dibakar oleh bait-bait sastra, pidato bertuah, dan seruan puitis para pendiri bangsa.
Puisi adalah media katarsis yang paling jujur untuk mengajarkan generasi muda tentang kedalaman makna rasa nasionalisme, kepekaan bahasa, serta keberanian bersuara.
Lomba mewarnai, kolase, dan melukis yang kita adakan tahun ini tentu sangat krusial dalam mengasah kreativitas visual serta motorik anak-anak Pasongsongan.
Namun, seni rupa dan seni tutur sejatinya adalah dua sayap yang saling melengkapi dalam mengasah kecerdasan emosional generasi penerus.
Ketika seni tutur seperti baca puisi dihilangkan, ada ruang ekspresi literasi yang mendadak kosong dalam perayaan kemerdekaan kita.
Catatan kecil ini tidak ditulis untuk mengecilkan kerja keras panitia yang sudah mengabdi, melainkan sebagai bentuk perenungan bersama.
Semoga di masa mendatang, sesingkat apa pun waktu persiapan yang dimiliki, seni baca puisi tetap mendapatkan porsi dan tempat terhormat dalam setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI di Kecamatan Pasongsongan.
Lantaran dari bait-bait puisilah, gema merdeka itu terus terdengar nyaring di jiwa anak-anak bangsa. [Kaiy]
