Sekolah Mati Suri dan Jeritan Guru PPPK Paruh Waktu

Menakar Empati: Ironi Sekolah Mati Suri dan Nasib Guru Kita


Tahun ajaran baru tidak selalu membawa keceriaan. Bagi sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru, momentum ini adalah lonceng kematian. 

Sekolah yang kosong bukan sekadar statistik, melainkan tragedi "mati suri" yang berujung pada ancaman penutupan.

Di balik bangku-bangku kosong itu, ada kecemasan mendalam dari para gurunya. 

Bayangkan jika mereka adalah saudara, famili, atau sahabat kita sendiri. 

Di era sekarang, tidak sedikit dari mereka yang berstatus sebagai guru PPPK Paruh Waktu dengan gaji pokok hanya Rp 400.000 per bulan. 

Satu-satunya harapan agar dapur tetap mengepul adalah Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) atau sertifikasi.

Lalu, apa yang terjadi jika sekolah mereka terpaksa ditutup?

Regulasi akan memindahkan mereka ke SDN lain. 

Tapi realitasnya, sekolah yang dituju biasanya sudah padat. 

Akibatnya, guru pindahan ini tidak mendapatkan jam mengajar yang cukup. 

Padahal, pemenuhan jam mengajar adalah syarat mutlak agar TPP bisa cair. 

Tanpa TPP dan hanya mengandalkan gaji paruh waktu, bagaimana mereka bisa bertahan hidup?

Di sinilah letak ironi terbesar yang menampar dunia pendidikan kita.

Setiap hari di dalam kelas, kita mengajarkan anak-anak tentang empati dan indahnya berbagi. 

Tapi pada pelaksanaannya, sistem dan kebijakan kita justru terasa sangat jauh dari rasa empati kepada nasib para pendidik. 

Tatkala rekan sejawat terhimpit regulasi, mereka seolah dibiarkan berjuang sendirian. Inikah keteladanan yang ingin kita tunjukkan?

Menyelamatkan sekolah dari kekurangan murid memang perkara pelik. 

Namun, menyelamatkan nasib guru di dalamnya adalah kewajiban moral yang tidak bisa ditawar. 

Pemerintah tidak boleh hanya melihat masalah ini dari kacamata efisiensi anggaran. 

Perlu ada kebijakan afirmasi atau formula khusus agar hak sertifikasi guru yang sekolahnya terdampak tidak hangus begitu saja.

Sebelum kita kembali berdiri di depan kelas untuk mengajarkan teori empati kepada murid-murid, mari kita tengok dulu nasib para guru yang sedang mengemas barangnya dengan mata berkaca-kaca. 

Lantaran keteladanan sejati tidak lahir dari lembar kurikulum, melainkan dari bagaimana kita memanusiakan manusia. [Kaiy]

Postingan populer dari blog ini

Kemeriahan Parade Karnaval YPI Imaduddin Pasongsongan, Hidupkan Suasana Dusun Sumbermanis

Cetak Generasi Qurani, Yayasan Imaduddin Pasongsongan Sukses Gelar Wisuda Purna Siswa

Duh, "Niserra" Guru PPPK PW: Sekolah Sepi Murid, Tunjangan Terancam Hangus?