Rabu, 07 Januari 2026

Hari Kedua Jama’ah Tabligh di Pasongsongan: Pesan Keikhlasan dari Manado Gairahkan Suasana

SUMENEP Suasana di Masjid Al-Hikmah yang berlokasi di Dusun Sempong Barat, Desa Pasongsongan, tampak lebih hidup pada hari kedua kegiatan Jama’ah Tabligh (JT).

Kegiatan yang mempertemukan jamaah dari berbagai daerah ini berlangsung lebih semarak dibandingkan hari sebelumnya. Rabu (07/01).

Setalah menunaikan ibadah sholat Maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan sesi siraman rohani yang jadi inti dari pertemuan tersebut.

Kali ini, tausiyah disampaikan oleh salah seorang anggota Jama’ah Tabligh yang jauh-jauh datang dari Manado, Sulawesi Utara.

Dalam ceramahnya, pemateri menekankan pentingnya menjaga kualitas keimanan di tengah tantangan zaman.

Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa mengedepankan sikap ikhlas dalam beramal, baik dalam ibadah ritual maupun dalam interaksi sosial sehari-hari.

"Keikhlasan adalah kunci diterimanya amal. Tanpa itu, apa yang kita kerjakan hanya akan menjadi lelah yang sia-sia," ujar sang penceramah di hadapan puluhan jamaah yang hadir.

Pertemuan kali ini terasa istimewa karena dihadiri oleh perwakilan jamaah dari berbagai titik, di antaranya: Manado (Sulawesi Utara), Trenggalek (Jawa Timur), Pamekasan (Madura), dan warga sekitar.

Kehadiran jamaah dari luar daerah ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tapi juga memberikan semangat baru bagi warga lokal di Dusun Sempong Barat untuk memakmurkan masjid.

Kegiatan ini diharapkan bisa terus memberikan dampak positif bagi spiritualitas masyarakat setempat hingga hari terakhir pelaksanaan. [k4y]

Selasa, 06 Januari 2026

Lawan Perundungan, Mahasiswa KKN Unija Gelar Sosialisasi Kesehatan Mental di SDN Padangdangan 2

Lawan Perundungan, Mahasiswa KKN Unija Gelar Sosialisasi Kesehatan Mental di SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan
SUMENEP – Sebanyak 18 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep sukses melaksanakan program kerja sosialisasi di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan. 

Kegiatan ini difokuskan pada upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah guna menjaga kesejahteraan psikologis para siswa. Rabu (7/1/2026).
sdn padangdangan 2
Dalam kegiatan tersebut, para mahasiswa mengusung tema spesifik: "Sosialisasi Bullying dengan Tema: Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Siswa di Lingkungan Sekolah."

Hendra, selaku Humas KKN Unija, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini didasari oleh kekhawatiran terhadap maraknya kasus perundungan yang bisa menghambat perkembangan mental anak.
sekolah hebat, sdn padangdangan 2
"Kami ingin memberikan pemahaman kepada adik-adik bahwa tindakan bullying bukan sekadar candaan, melainkan memiliki dampak serius pada kesehatan mental korbannya. Kami berharap sekolah jadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapa pun," ujar Hendra.

Inisiatif para mahasiswa ini mendapatkan apresiasi tinggi dari pihak sekolah. Kepala SDN Padangdangan 2, Madun, S.Pd, SD, menyatakan dukungannya terhadap kehadiran mahasiswa KKN Unija yang membawa misi edukatif tersebut.
"Kami menyambut sangat baik kegiatan KKN Unija kali ini. Sosialisasi ini sangat penting agar siswa kami memahami batasan dalam berinteraksi dan saling menghargai satu sama lain," ungkap Madun.

Kegiatan yang diikuti dengan antusias oleh para siswa ini diharapkan bisa meminimalisir angka perundungan dan menciptakan budaya sekolah yang lebih positif dan inklusif di wilayah Kecamatan Pasongsongan. [k4y]

Cegah Bullying, Mahasiswa KKN Unija Gelar Sosialisasi Stop Perundungan di SDN Padangdangan 2

Sdn padangdangan 2 pasongsongan

SUMENEP – Sebanyak 18 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep melaksanakan salah satu program kerja (proker) unggulan mereka di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan. Rabu (7/1/2026). 

Kehadiran para mahasiswa ini membawa misi penting, yakni mengedukasi siswa mengenai bahaya perundungan melalui sosialisasi bertajuk "Stop Perundungan Anak".

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini bertujuan untuk memberikan pemahaman sejak dini kepada para siswa tentang dampak negatif bullying, baik secara fisik maupun verbal, di lingkungan sekolah.

Dalam sosialisasi tersebut, 18 mahasiswa KKN Unija secara bergantian memberikan materi dengan cara yang menyenangkan agar mudah diterima oleh anak-anak. 

Mereka menjelaskan berbagai bentuk perundungan, cara menghindarinya, serta pentingnya menumbuhkan rasa empati dan saling menghargai antar sesama teman.

"Pemilihan tema ini didasari oleh pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi pertumbuhan mental anak," ungkap Hendra, Humas KKN Unija. [k4y]

Kehadiran Jama’ah Tabligh di Masjid Al-Hikmah Sempong Barat Hidupkan Suasana Ibadah Warga

masjid alhikmah kehadiran jama'ah tabligh
Insan Kamil beri tausiah.

SUMENEP   Suasana religius di Dusun Sempong Barat, Desa/Kecamatan Pasongsongan, terasa lebih semarak dalam beberapa hari terakhir. Senin (5/1/2026).

Hal ini seiring dengan kedatangan rombongan Jama’ah Tabligh (JT) yang berpusat di Masjid Al-Hikmah. Kehadiran mereka membawa warna baru dalam aktivitas ibadah dan silaturahmi di lingkungan warga setempat.

Rombongan yang hadir kali ini menunjukkan keberagaman yang unik, dimana para anggotanya berasal dari berbagai daerah, mulai dari Manado (Sulawesi Utara), Trenggalek, hingga Pamekasan. 

Perbedaan latar belakang daerah tersebut tidak jadi penghalang bagi mereka untuk berbaur akrab dengan masyarakat Dusun Sempong Barat.

Dalam salah satu kesempatan tausiahnya, Insan Kamil, yang merupakan bagian dari rombongan JT, menekankan pentingnya menjaga ibadah sholat. 

Ia mengajak warga untuk senantiasa mengutamakan sholat berjamaah di masjid sebagai bekal utama menghadapi akhirat.

"Sholat berjamaah bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi akhirat dengan pahala yang sungguh luar biasa. Ini adalah cara kita memperkuat iman dan hubungan antar sesama muslim," ungkap Insan Kamil dalam pesan dakwahnya selesai sholat berjamaah magrib.

Kehadiran rombongan ini diharapkan bisa terus memotivasi warga sekitar untuk memakmurkan masjid dan meningkatkan kualitas ibadah dalam kehidupan sehari-hari. [k4y]

Perkuat Tenaga Pengajar, SDN Padangdangan 2 Sambut Guru PPPK Paruh Waktu Baru

upacara bendera sdn padangdangan 2 kecamatan pasongsongan kabupaten sumenep

SUMENEP – Memasuki semester genap tahun ajaran 2025/2026, SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, mendapatkan amunisi baru dalam jajaran tenaga pendidik.

Sekolah ini resmi kedatangan tiga tambahan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu yang mulai bertugas untuk memperkuat kualitas pembelajaran di kelas. Senin (5/1/2026).

Kehadiran tenaga pendidik baru ini disambut positif oleh pihak sekolah. Dalam amanatnya pada upacara rutin Senin pagi, Kepala SDN Padangdangan 2, Madun, S.Pd.SD, menyampaikan bahwa tambahan personel ini merupakan dukungan penting bagi sekolah dalam memberikan layanan pendidikan yang lebih maksimal kepada seluruh siswa.

Dengan bertambahnya guru, Madun berharap tidak ada lagi alasan bagi siswa untuk bermalas-malasan. Ia memotivasi para peserta didik untuk meningkatkan semangat juang dalam menuntut ilmu.

"Saya berharap kepada seluruh siswa-siswi untuk lebih rajin dan giat belajar. Manfaatkan kehadiran ketiga guru dengan sebaik-baiknya untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin," tegas Madun di hadapan peserta upacara. [k4y]

Tekad Kuat Lesbumi MWC NU Pasongsongan Lestarikan Macopat Lewat Pentas Bergilir

macopat lesbumi pasongsongan sumenep
Akhmad Jasimul Ahyak (2 dari kiri).

SUMENEP  -- Para pengurus dan anggota perkumpulan Macopat Lesbumi MWC NU Pasongsongan menyatakan kebulatan tekad untuk terus melestarikan kesenian tradisional Madura melalui sistem pentas bergilir dari rumah ke rumah. Sabtu (3/1/2026).

Tradisi anjangsana ini tetap dipertahankan bukan hanya sebagai ruang ekspresi seni, tapi juga sebagai sarana mempererat silaturahmi antarwarga dan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap bait macopat.

Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan, Akhmad Jasimul Ahyak, S.Pd.I, menegaskan bahwa dirinya mengakomodir keinginan penuh dari seluruh pengurus dan anggota untuk menjaga warisan leluhur ini agar tidak punah ditelan zaman.

“Kami menghidupkan kembali macopat di tengah masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan identitas budaya Madura tetap eksis di tengah gempuran modernisasi,” ucap Jasimul.

Melalui komitmen ini, Lesbumi MWC NU Pasongsongan berharap kegiatan rutin tersebut bisa jadi benteng pertahanan budaya yang kokoh.

“Dengan terus memutar jadwal pertemuan, kami berupaya memastikan bahwa napas kesenian macopat akan terus terdengar dan diwariskan kepada generasi berikutnya di wilayah Pasongsongan,”  tegas Jasimul.  [k4y]

Senin, 05 Januari 2026

Persiapan TKA, Siswa SDN Padangdangan 2 Diminta Tingkatkan Jam Belajar

Sdn Padangdangan 2 kecamatan Pasongsongam

SUMENEP – Pelaksanaan upacara bendera rutin hari Senin di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, berlangsung dengan penuh khidmat dan lancar. Senin (5/1/2026). 

Bertindak sebagai pembina upacara adalah Kepala Sekolah, Madun, S.Pd, SD. 

Ia memberikan arahan khusus dalam amanat singkatnya. Ia juga menekankan pentingnya disiplin akademik mengingat agenda besar yang akan segera dihadapi oleh para siswa.

Fokus Menghadapi TKA

Dalam pidatonya, Madun mengingatkan para siswa untuk mulai mengatur waktu dengan lebih baik. 

Hal ini berkaitan dengan rencana pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dijadwalkan akan berlangsung pada periode Maret hingga April mendatang.

"Saya minta anak-anak sekalian untuk senantiasa meningkatkan jam belajarnya, baik saat berada di sekolah maupun di rumah. Persiapkan diri kalian dengan maksimal untuk menghadapi TKA," tegas Madun di hadapan peserta upacara.

Membangun Kedisiplinan

Selain aspek akademik, upacara ini juga jadi sarana bagi pihak sekolah untuk terus memupuk jiwa nasionalisme dan kedisiplinan siswa sejak dini. 

Kelancaran jalannya upacara kali ini menunjukkan komitmen SDN Padangdangan 2 dalam menjaga tradisi positif setiap awal pekan.

Mengenai jadwal TKA, pihak sekolah berharap orang tua siswa juga dapat turut serta mengawasi jam belajar anak di rumah agar hasil yang dicapai nantinya memuaskan. [sh]

Sabtu, 03 Januari 2026

Jejak Ju’ Keng: Saudagar Tibet di Pesisir Pasongsongan dan Pusaranya di Komplek Sunan Ampel

Ju' Keng berasal dari Tiongkok Tibet yang merajai bisnis di Pasongsongan Sumenep
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis.  [sh]

Desa Pasongsongan di Kabupaten Sumenep tidak hanya dikenal dengan pesona lautnya, tapi juga menyimpan narasi sejarah yang kuat tentang asimilasi budaya dan kejayaan ekonomi.

Salah satu tokoh kunci yang jadi akar silsilah masyarakat setempat adalah Ju’ Keng, seorang leluhur berasal dari Tionghoa yang membawa pengaruh besar sejak abad ke-17.

Kedatangan Sang Saudagar dari Tibet

Menurut penuturan Kiai Ersyad, salah seorang keturunan Ju’ Keng yang kini usianya telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng bukanlah pendatang biasa.

Ia diyakini berasal dari wilayah Tiongkok Tibet. Ju’ Keng diperkirakan menginjakkan kaki di bumi Sumenep melalui pelabuhan pesisir Pasongsongan pada sekitar abad ke-17 Masehi.

Pada masa itu, Pasongsongan merupakan titik strategis bagi perdagangan maritim, lantaran para Raja Sumenep jika hendak melakukan perjalanan laut melalui pelabuhan ini.

Kedatangan Ju’ Keng menandai awal mula geliat ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut.

Ia tidak hanya membawa barang dagangan, tapi juga etos kerja dan strategi bisnis yang kuat.

Perjalanan Spiritual dan Akhir Hayat di Surabaya

Meski berasal dari etnis Tionghoa, sejarah mencatat sisi spiritual Ju’ Keng yang mendalam sebagai seorang Muslim. Kiai Ersyad mengisahkan bahwa di masa tuanya, Ju’ Keng berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Sepulangnya dari ibadah haji, Ju’ Keng menghembuskan napas terakhirnya di Surabaya.

Karena penghormatan terhadap kedudukan dan ketaatannya, ia dimakamkan di tempat yang sangat istimewa: Kompleks Pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.

Hal ini mengisyaratkan bahwa Ju’ Keng bukan sekadar pedagang, melainkan sosok yang memiliki kedekatan dengan kalangan ulama dan tokoh agama pada masanya.

Warisan Harta dan Kejayaan Ekonomi

Wafatnya Ju’ Keng tidak memutus pengaruhnya di Pasongsongan. Hingga tahun 80-an, jejak bisnis keluarga Ju’ Keng masih terasa. 

Keturunannya dikenal terus melanjutkan tradisi berniaga dan tetap merajai sektor perekonomian di wilayah Pasongsongan. 

Keberadaan mereka jadi bukti nyata bagaimana peranakan Tionghoa-Muslim telah menyatu dan jadi tulang punggung kemajuan masyarakat lokal di Madura.

Ju’ Keng adalah simbol pertemuan budaya. Dari Tibet ke pesisir Sumenep, hingga beristirahat di samping para wali. Warisannya bukan hanya harta, tapi juga semangat pembangunan ekonomi di Pasongsongan. [sh]

Usai Libur Panjang, SDN Padangdangan 2 Giatkan Kembali Program ‘Bersase’

Sdn padangdangan 2
Giat Bersase SDN Padangdangan 2. [sh]

SUMENEP – Mengawali kegiatan di awal masuk sekolah, SDN Padangdangan 2 Kecamatan Pasongsongan kembali menghidupkan rutinitas positif melalui program Bersase (Bersih Sampah Sekolah). Sabtu (3/1/2026). 

Kegiatan yang dilaksanakan tiap hari Sabtu ini jadi momentum bagi seluruh warga sekolah untuk menjaga kebersihan lingkungan belajar.

Kegiatan Bersase kali ini terasa berbeda karena merupakan aksi perdana setelah para siswa dan guru menjalani masa libur panjang. 

Kondisi halaman sekolah yang dipenuhi dedaunan kering berserakan jadi target utama dalam aksi bersih-bersih tersebut.

Semangat Baru dengan Kehadiran Guru Tambahan

Salah seorang guru honorer SDN Padangdangan 2, Zainudin, S.Pd, menjelaskan bahwa program Bersase bukan sekadar rutinitas membersihkan lingkungan, melainkan upaya membentuk karakter peduli lingkungan bagi para siswa.

"Bersase kali ini adalah yang perdana dilaksanakan setelah masa libur panjang. Otomatis sampah dedaunan banyak berserakan di mana-mana. Tapi semangat anak-anak dan para guru tetap luar biasa untuk mengembalikan keasrian sekolah," ujar Zainudin.

Ada pemandangan menarik dalam giat Bersase kali ini. 

Kehadiran tiga orang guru baru di SDN Padangdangan 2 menambah energi positif dalam kegiatan tersebut. 

Tidak butuh waktu lama bagi para tenaga pendidik baru ini untuk beradaptasi; mereka langsung terjun ke lapangan dan "melebur" bersama siswa serta guru lainnya memungut sampah.

Budaya Sabtu Bersih

Program Bersase sendiri telah jadi identitas SDN Padangdangan 2 dalam mewujudkan sekolah sehat dan nyaman. 

Dengan keterlibatan langsung seluruh elemen sekolah, diharapkan tercipta rasa memiliki terhadap fasilitas pendidikan yang ada.

Dengan lingkungan yang kembali bersih pasca-libur panjang, diharapkan proses belajar mengajar di SDN Padangdangan 2 bisa berjalan lebih maksimal dan menyenangkan bagi seluruh siswa. [sh]

Jumat, 02 Januari 2026

Jejak Ju’ Keng: Saudagar Tibet di Pesisir Pasongsongan dan Pusaranya di Kompleks Sunan Ampel

Ju' Keng Pasongsongan dimakamkan di Komplek Pemakaman Sunan Ampel Surabaya
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh]

Desa Pasongsongan di Kabupaten Sumenep tidak hanya dikenal dengan hasil lautnya yang melimpah, tapi juga menyimpan narasi sejarah tentang asimilasi budaya dan kejayaan ekonomi.

Salah satu tokoh kunci yang jadi akar silsilah masyarakat setempat adalah Ju’ Keng, seorang leluhur peranakan Tionghoa yang membawa pengaruh besar sejak abad ke-17.

Kedatangan Sang Saudagar dari Tibet

Menurut penuturan Kiai Ersyad, salah seorang keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng bukanlah pendatang biasa.

Ia diyakini berasal dari wilayah Tiongkok Tibet. Ju’ Keng diperkirakan menginjakkan kaki di bumi Sumenep melalui pelabuhan pesisir Pasongsongan pada sekitar abad ke-17 Masehi.

Pada masa itu, Pasongsongan merupakan titik strategis bagi perdagangan maritim.

Kedatangan Ju’ Keng menandai awal mula geliat ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut. Ia tidak hanya membawa komoditas dagangan, tapi juga visi bisnis yang melampaui zamannya.

Perjalanan Spiritual dan Akhir Hayat di Surabaya

Meski berasal dari etnis Tionghoa, sejarah mencatat sisi spiritual Ju’ Keng yang mendalam sebagai seorang Muslim.

Kiai Ersyad mengisahkan bahwa di masa tuanya, Ju’ Keng berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Sepulangnya dari ibadah haji, Ju’ Keng menghembuskan napas terakhirnya di Surabaya.

Sebagai bentuk penghormatan atas ketaatan dan kedudukannya, ia dimakamkan di tempat yang sangat mulia: Kompleks Pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.

Keberadaan makamnya di sana mengisyaratkan bahwa Ju’ Keng adalah sosok yang dihormati di kalangan tokoh agama dan masyarakat pada masanya.

Penyokong Kebutuhan Hidup: Warisan Ekonomi yang Tak Terputus

Wafatnya Ju’ Keng tidak memutus pengaruhnya di Pasongsongan. Pasca meninggalnya sang leluhur, para keturunannya tetap melanjutkan kerajaan bisnis Ju’ Keng.

Hingga tahun 80-an, jejak bisnis keluarga Ju’ Keng masih merajai perekonomian lokal.

Uniknya, lini bisnis yang dijalankan para keturunannya sangat menyentuh akar rumput. Mereka dikenal sebagai penyedia utama segala kebutuhan hidup masyarakat di Pasongsongan.

Mulai dari kebutuhan pokok hingga barang dagangan lainnya, usaha keluarga ini telah jadi urat nadi yang memastikan denyut ekonomi di desa tersebut tetap hidup.

Keluarga Ju’ Keng bukan sekadar berbisnis untuk mencari keuntungan, melainkan telah jadi penyedia hajat hidup orang banyak di Pasongsongan selama berabad-abad. [sh]

Menelusuri Jejak Ju’ Keng: Leluhur Peranakan Tionghoa di Pesisir Pasongsongan

Peranakan Tionghoa di Pesisir Pasongsongan
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh]

Desa/Kecamatan Pasongsongan di Kabupaten Sumenep dikenal sebagai salah satu wilayah pesisir dengan sejarah maritim yang kuat.

Tempo dulu, pelabuhan pesisir Pasongsongan merupakan tempat para Raja Sumenep ketika hendak bepergian ke pulau lain.

Tapi, di balik deburan ombaknya, tersimpan sebuah kisah silsilah yang unik mengenai sosok Ju’ Keng, sosok leluhur peranakan Tionghoa yang jadi bagian penting dari sejarah komunitas lokal di sana.

Kedatangan dari Tibet di Abad ke-17

Berdasarkan penuturan Kiai Ersyad, salah satu keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng diperkirakan tiba di Sumenep pada abad ke-17 Masehi. Beliau disebut berasal dari wilayah Tiongkok bagian Tibet.

Kedatangan Ju’ Keng ke Madura tidak melalui jalur darat, melainkan masuk melalui gerbang maritim utama di masa itu, yakni pelabuhan pesisir Pasongsongan.

Kehadirannya di abad ke-17 ini bertepatan dengan masa dimana perdagangan Nusantara sedang tumbuh pesat, dan Madura jadi salah satu titik singgah penting bagi para pengembara dan pedagang dari Tiongkok dan Arab.

Identitas dan Perjalanan Spiritual

Salah satu fakta menarik yang diungkapkan Kiai Ersyad adalah identitas spiritual Ju’ Keng. Kendati berasal dari etnis Tionghoa, Ju’ Keng adalah seorang Muslim yang taat.

Hal ini dibuktikan dengan catatan perjalanan hidupnya yang menyebutkan bahwa beliau sempat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.

Naas, perjalanan pulang dari ibadah haji tersebut jadi perjalanan terakhirnya. Ju’ Keng wafat di Surabaya sesaat setelah kembali dari tanah suci.

Karena penghormatan terhadap kedudukan spiritualnya, Ju’ Keng dimakamkan di tempat sangat mulia, yakni di komplek pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.

Keberadaan makamnya di sana menunjukkan bahwa beliau bukan sosok sembarangan dan memiliki kedekatan dengan lingkaran ulama atau komunitas Muslim di Surabaya pada masa itu.

Warisan yang Dibawa ke Pasongsongan

Setelah Ju’ Keng wafat, para keturunannya membawa harta peninggalan beliau kembali ke Pasongsongan.

Peninggalan ini bukan sekadar benda material, melainkan juga simbol eksistensi dan keberhasilan Ju’ Keng selama hidupnya.

Kiai Ersyad memaparkan bahwa peninggalan-peninggalan tersebut jadi bukti sejarah bagi anak cucunya yang kini menetap di Pasongsongan, mempertegas garis keturunan peranakan Tionghoa yang telah membaur sepenuhnya dengan budaya Madura dan nilai-nilai keislaman.

Pentingnya Pelestarian Sejarah Lisan

Kisah Ju’ Keng adalah potret nyata dari keberagaman Nusantara. Cerita yang disampaikan Kiai Ersyad jadi jembatan informasi yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar sejarahnya yang berasal dari daratan jauh namun bersemi di bumi Sumenep.

Melalui sejarah ini, kita bisa belajar banyak bahwa Pasongsongan bukan hanya sekadar desa nelayan, melainkan sebuah simpul sejarah dimana etnis, agama, dan budaya bertemu sejak berabad-abad yang lalu. [sh]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...