Menelusuri Jejak Ju’ Keng: Leluhur Peranakan Tionghoa di Pesisir Pasongsongan

Peranakan Tionghoa di Pesisir Pasongsongan
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh]

Desa/Kecamatan Pasongsongan di Kabupaten Sumenep dikenal sebagai salah satu wilayah pesisir dengan sejarah maritim yang kuat.

Tempo dulu, pelabuhan pesisir Pasongsongan merupakan tempat para Raja Sumenep ketika hendak bepergian ke pulau lain.

Tapi, di balik deburan ombaknya, tersimpan sebuah kisah silsilah yang unik mengenai sosok Ju’ Keng, sosok leluhur peranakan Tionghoa yang jadi bagian penting dari sejarah komunitas lokal di sana.

Kedatangan dari Tibet di Abad ke-17

Berdasarkan penuturan Kiai Ersyad, salah satu keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng diperkirakan tiba di Sumenep pada abad ke-17 Masehi. Beliau disebut berasal dari wilayah Tiongkok bagian Tibet.

Kedatangan Ju’ Keng ke Madura tidak melalui jalur darat, melainkan masuk melalui gerbang maritim utama di masa itu, yakni pelabuhan pesisir Pasongsongan.

Kehadirannya di abad ke-17 ini bertepatan dengan masa dimana perdagangan Nusantara sedang tumbuh pesat, dan Madura jadi salah satu titik singgah penting bagi para pengembara dan pedagang dari Tiongkok dan Arab.

Identitas dan Perjalanan Spiritual

Salah satu fakta menarik yang diungkapkan Kiai Ersyad adalah identitas spiritual Ju’ Keng. Kendati berasal dari etnis Tionghoa, Ju’ Keng adalah seorang Muslim yang taat.

Hal ini dibuktikan dengan catatan perjalanan hidupnya yang menyebutkan bahwa beliau sempat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.

Naas, perjalanan pulang dari ibadah haji tersebut jadi perjalanan terakhirnya. Ju’ Keng wafat di Surabaya sesaat setelah kembali dari tanah suci.

Karena penghormatan terhadap kedudukan spiritualnya, Ju’ Keng dimakamkan di tempat sangat mulia, yakni di komplek pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.

Keberadaan makamnya di sana menunjukkan bahwa beliau bukan sosok sembarangan dan memiliki kedekatan dengan lingkaran ulama atau komunitas Muslim di Surabaya pada masa itu.

Warisan yang Dibawa ke Pasongsongan

Setelah Ju’ Keng wafat, para keturunannya membawa harta peninggalan beliau kembali ke Pasongsongan.

Peninggalan ini bukan sekadar benda material, melainkan juga simbol eksistensi dan keberhasilan Ju’ Keng selama hidupnya.

Kiai Ersyad memaparkan bahwa peninggalan-peninggalan tersebut jadi bukti sejarah bagi anak cucunya yang kini menetap di Pasongsongan, mempertegas garis keturunan peranakan Tionghoa yang telah membaur sepenuhnya dengan budaya Madura dan nilai-nilai keislaman.

Pentingnya Pelestarian Sejarah Lisan

Kisah Ju’ Keng adalah potret nyata dari keberagaman Nusantara. Cerita yang disampaikan Kiai Ersyad jadi jembatan informasi yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar sejarahnya yang berasal dari daratan jauh namun bersemi di bumi Sumenep.

Melalui sejarah ini, kita bisa belajar banyak bahwa Pasongsongan bukan hanya sekadar desa nelayan, melainkan sebuah simpul sejarah dimana etnis, agama, dan budaya bertemu sejak berabad-abad yang lalu. [sh]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Soal-soal Bahasa Madura Kelas IV SD

Hairus Samad Kenang Sosok Ustadz Patmo: Ulama Muda Berpandangan Jauh ke Depan

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura PAS Kelas IV SD

Cabang Therapy Banyu Urip Pasuruan Layani Pasien Setiap Hari, Sediakan Pengobatan Gratis di Hari Ahad

Perjalanan Cinta Akhmad Faruk Mirip Sinetron, Berujung di Pelaminan untuk Kedua Kalinya

Jurnal Pembelajaran Mendalam dan Asesmen 2.0 (Umum) dengan Topik Pendekatan Understanding by Design dalam Perencanaan Pembelajaran

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura Kelas 3 SD di Sumenep

Mitos Uang Bernomer 999

Sempat Direvitalisasi, Kondisi Sumber Agung Pasongsongan Kembali Memprihatinkan