Jejak Ju’ Keng: Saudagar Tibet di Pesisir Pasongsongan dan Pusaranya di Kompleks Sunan Ampel
![]() |
| Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis. [sh] |
Desa
Pasongsongan di Kabupaten Sumenep tidak hanya dikenal dengan hasil lautnya yang
melimpah, tapi juga menyimpan narasi sejarah tentang asimilasi budaya dan
kejayaan ekonomi.
Salah satu
tokoh kunci yang jadi akar silsilah masyarakat setempat adalah Ju’ Keng,
seorang leluhur peranakan Tionghoa yang membawa pengaruh besar sejak abad
ke-17.
Kedatangan
Sang Saudagar dari Tibet
Menurut
penuturan Kiai Ersyad, salah seorang keturunan Ju’ Keng yang kini telah sepuh
di Pasongsongan, Ju’ Keng bukanlah pendatang biasa.
Ia diyakini
berasal dari wilayah Tiongkok Tibet. Ju’ Keng diperkirakan menginjakkan kaki di
bumi Sumenep melalui pelabuhan pesisir Pasongsongan pada sekitar abad ke-17
Masehi.
Pada
masa itu, Pasongsongan merupakan titik strategis bagi perdagangan maritim.
Kedatangan
Ju’ Keng menandai awal mula geliat ekonomi yang signifikan di wilayah tersebut.
Ia tidak hanya membawa komoditas dagangan, tapi juga visi bisnis yang melampaui
zamannya.
Perjalanan
Spiritual dan Akhir Hayat di Surabaya
Meski
berasal dari etnis Tionghoa, sejarah mencatat sisi spiritual Ju’ Keng yang
mendalam sebagai seorang Muslim.
Kiai Ersyad
mengisahkan bahwa di masa tuanya, Ju’ Keng berangkat menunaikan ibadah haji ke
Tanah Suci.
Sepulangnya
dari ibadah haji, Ju’ Keng menghembuskan napas terakhirnya di Surabaya.
Sebagai
bentuk penghormatan atas ketaatan dan kedudukannya, ia dimakamkan di tempat
yang sangat mulia: Kompleks Pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.
Keberadaan
makamnya di sana mengisyaratkan bahwa Ju’ Keng adalah sosok yang dihormati di
kalangan tokoh agama dan masyarakat pada masanya.
Penyokong
Kebutuhan Hidup: Warisan Ekonomi yang Tak Terputus
Wafatnya
Ju’ Keng tidak memutus pengaruhnya di Pasongsongan. Pasca meninggalnya sang
leluhur, para keturunannya tetap melanjutkan kerajaan bisnis Ju’ Keng.
Hingga tahun
80-an, jejak bisnis keluarga Ju’ Keng masih merajai perekonomian lokal.
Uniknya,
lini bisnis yang dijalankan para keturunannya sangat menyentuh akar rumput.
Mereka dikenal sebagai penyedia utama segala kebutuhan hidup masyarakat di
Pasongsongan.
Mulai dari
kebutuhan pokok hingga barang dagangan lainnya, usaha keluarga ini telah jadi
urat nadi yang memastikan denyut ekonomi di desa tersebut tetap hidup.
Keluarga
Ju’ Keng bukan sekadar berbisnis untuk mencari keuntungan, melainkan telah jadi
penyedia hajat hidup orang banyak di Pasongsongan selama berabad-abad. [sh]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.