Jurnal Modul 1 PPG 2025 Pembelajaran Sosial Emosional dengan Topik Experiential Learning
JURNAL PEMBELAJARAN
Modul
1: Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
Topik:
Experiential Learning dalam Penguatan Keterampilan Sosial Emosional
1. Uraian Materi
Modul ini membahas penerapan Experiential
Learning atau pembelajaran berbasis pengalaman sebagai pendekatan yang
sangat efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial emosional peserta didik.
Experiential Learning, yang digagas oleh David Kolb, menekankan bahwa
pembelajaran yang bermakna terjadi melalui pengalaman nyata yang diproses
melalui refleksi, analisis, dan penerapan ulang.
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
sangat cocok dikembangkan melalui pendekatan ini karena keterampilan sosial
emosional tidak hanya dipahami secara teori, tetapi membutuhkan latihan
langsung. Murid perlu mengalami, bukan sekadar mendengar. Proses
Experiential Learning terdiri dari empat tahap utama:
- Concrete Experience (Pengalaman Nyata)
Murid terlibat langsung dalam aktivitas, seperti permainan kelompok, simulasi, observasi, atau interaksi sosial. - Reflective Observation (Refleksi)
Murid diajak memikirkan kembali apa yang mereka alami, apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka pelajari dari pengalaman tersebut. - Abstract Conceptualization (Pembentukan Konsep)
Murid menghubungkan pengalaman dengan teori, nilai, atau prinsip baru—termasuk konsep PSE seperti empati, kerja sama, manajemen emosi, dan komunikasi. - Active Experimentation (Penerapan Baru)
Murid kemudian mencoba menerapkan pemahaman tersebut dalam aktivitas selanjutnya atau dalam kehidupan sehari-hari.
Modul ini menegaskan bahwa
Experiential Learning memberikan ruang aman bagi murid untuk mengeksplorasi
emosi, mengembangkan keterampilan berelasi, menyelesaikan konflik, dan belajar
mengambil keputusan. Pengalaman langsung menjadikan pembelajaran lebih konkret,
relevan, dan melekat.
Guru berperan sebagai fasilitator,
bukan pemberi ceramah. Guru menciptakan situasi belajar yang memungkinkan murid
mengalami proses sosial emosional secara alami: bermain peran, diskusi
kelompok, proyek kolaboratif, simulasi masalah, hingga refleksi harian. Modul
ini mengajak guru membangun pembelajaran yang lebih hidup, kontekstual, dan
memanusiakan hubungan.
2. Rancangan Aksi Nyata
Judul
Aksi Nyata:
Penerapan Model Experiential
Learning untuk Meningkatkan Kesadaran Emosi, Empati, dan Kerja Sama Murid
A.
Latar Belakang
Banyak murid mengalami tantangan
dalam mengelola emosi, berkomunikasi efektif, dan berkolaborasi. Modul 1
menunjukkan bahwa PSE akan lebih mudah dipahami jika murid dapat mengalami
langsung situasi yang menantang aspek sosial emosional mereka. Experiential
Learning menjadi pendekatan yang tepat untuk menghadirkan pengalaman nyata yang
dapat diolah menjadi pembelajaran bermakna.
B.
Tujuan Aksi Nyata
- Menguatkan PSE melalui pengalaman langsung yang
relevan.
- Melatih murid mengenali dan mengelola emosi dalam
situasi nyata.
- Menumbuhkan empati dan keterampilan kerja sama.
- Melatih murid refleksi untuk membangun kesadaran diri
yang lebih dalam.
- Menciptakan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan
menyenangkan.
C.
Bentuk Kegiatan Aksi Nyata (Mengikuti Siklus Kolb)
1.
Tahap 1 – Concrete Experience
Kegiatan berupa simulasi
“Jembatan Kerja Sama”. Murid dibagi kelompok dan harus memindahkan bola
menggunakan tali yang dipegang bersama. Tantangannya: tidak boleh ada tali yang
terlepas, dan mereka harus berpikir bersama. Selama proses, muncul berbagai
emosi: bingung, panik, senang, dan bangga.
2.
Tahap 2 – Reflective Observation
Setelah simulasi, murid duduk
melingkar untuk melakukan refleksi panduan. Pertanyaan yang digunakan:
- Apa yang kamu rasakan selama kegiatan?
- Bagian mana yang paling sulit?
- Bagaimana kerja sama kelompokmu?
- Bagaimana kamu menyelesaikan masalah ketika terjadi
konflik?
Murid menuliskan refleksi singkat di
buku jurnal.
3.
Tahap 3 – Abstract Conceptualization
Guru menjelaskan hubungan pengalaman
tersebut dengan konsep PSE: pengelolaan emosi, strategi komunikasi, empati, dan
kolaborasi. Guru juga memberi contoh kalimat asertif yang dapat digunakan
murid.
4.
Tahap 4 – Active Experimentation
Murid diberi kesempatan menerapkan
pemahaman baru dalam kegiatan “Mini Project Aksi Baik”, misalnya
membantu teman yang kesulitan tugas, membuat area kelas yang lebih rapi, atau
memberi dukungan pada teman yang sedang sedih. Murid merencanakan,
melaksanakan, dan melaporkan hasilnya.
D.
Langkah Pelaksanaan
- Menyiapkan alat dan ruang kegiatan simulasi.
- Menyusun pertanyaan refleksi yang memandu murid
menganalisis pengalaman.
- Menyediakan waktu khusus untuk refleksi tertulis dan
diskusi kelompok.
- Menghubungkan pengalaman dengan kompetensi CASEL secara
eksplisit.
- Memberikan tugas penerapan nyata melalui Mini Project
Aksi Baik.
- Melakukan pemantauan perkembangan murid selama kegiatan
berlangsung.
E.
Indikator Keberhasilan
- Murid dapat mengidentifikasi emosi yang muncul selama
kegiatan.
- Murid mampu bekerja sama lebih baik dalam kelompok.
- Murid mulai menunjukkan empati dan sikap saling
mendukung.
- Murid dapat mengekspresikan pendapat secara lebih
terbuka dan sopan.
- Murid melaksanakan Mini Project dengan komitmen dan
antusias.
3. Dokumentasi Kegiatan
(Silakan mengganti dengan foto asli.
Berikut deskripsi yang bisa ditempel.)
Dokumentasi kegiatan mencakup:
- Foto murid melakukan simulasi “Jembatan Kerja Sama”.
- Foto murid melakukan refleksi kelompok dengan format
duduk melingkar.
- Hasil tulisan refleksi murid di buku jurnal.
- Foto presentasi Mini Project Aksi Baik.
- Foto guru memberikan umpan balik di sesi refleksi
akhir.
Dokumentasi menggambarkan proses
Experiential Learning dari tahap pengalaman nyata hingga penerapan kembali
perilaku sosial emosional.
4. Umpan Balik dari Aksi Nyata
Guru
1 (Ibu Sumayyah, S.Pd)
Aksi nyata ini sangat menarik karena
murid benar-benar mengalami sendiri tantangan emosi dan kerja sama. Simulasi
“Jembatan Kerja Sama” membuat mereka belajar saling mendukung. Saya melihat
beberapa murid yang biasanya pasif menjadi lebih aktif dan percaya diri.
Pendekatan Experiential Learning ini terasa sangat efektif karena murid belajar
melalui pengalaman yang mengesankan.
Guru
2 (Bapak Madun, S.Pd)
Menurut saya, kegiatan ini membantu
murid membangun kesadaran diri yang lebih kuat. Refleksi setelah kegiatan
membuat mereka lebih memahami perasaan dan tindakan mereka. Mini Project Aksi
Baik juga memberi kesempatan kepada murid untuk menerapkan nilai empati dalam
kehidupan sehari-hari. Kegiatan seperti ini sangat layak diterapkan di kelas
lainnya.
5. Refleksi
Pelaksanaan aksi nyata berbasis
Experiential Learning memberikan pengalaman yang sangat bermakna bagi saya
sebagai guru maupun bagi murid. Sebelumnya, saya sering memberikan penjelasan
tentang empati, kerja sama, dan pengelolaan emosi, tetapi saya menyadari bahwa
murid lebih mudah memahami konsep tersebut ketika mereka mengalami langsung
situasinya. Melalui simulasi dan proyek kecil yang mereka jalankan, murid dapat
melihat bagaimana emosi bekerja, bagaimana komunikasi memengaruhi keberhasilan
kelompok, dan bagaimana tindakan kecil dapat memberikan dampak positif.
Kegiatan simulasi “Jembatan Kerja
Sama” membuka banyak pelajaran. Saya melihat murid bereaksi dengan berbagai
cara: ada yang panik, ada yang langsung memimpin, ada yang merasa bingung,
tetapi pada akhirnya mereka belajar mendengarkan satu sama lain. Saat refleksi,
beberapa murid mengatakan bahwa mereka baru menyadari pentingnya komunikasi
yang jelas. Ada juga yang mengaku awalnya marah, tetapi kemudian belajar
menenangkan diri agar kelompoknya bisa berhasil. Momen-momen ini menunjukkan
bahwa pengalaman langsung adalah guru terbaik.
Proses refleksi menjadi bagian yang
paling penting. Murid belajar memikirkan kembali tindakan dan perasaan mereka.
Dalam sesi ini, saya menyadari bahwa beberapa murid yang biasanya diam ternyata
memiliki banyak hal yang ingin disampaikan. Refleksi membantu mereka lebih
berani mengungkapkan pengalaman internalnya. Saya melihat perkembangan dalam
cara mereka memahami diri sendiri, dan ini sangat mendukung perkembangan PSE
mereka.
Mini Project Aksi Baik juga
memberikan dampak positif. Murid merasa senang karena mereka dapat melakukan
sesuatu yang nyata untuk orang lain. Mereka belajar bahwa tindakan kecil
seperti membantu teman membersihkan meja atau mendengarkan teman yang sedang
sedih merupakan bentuk nyata empati. Dari sini saya menyadari bahwa
Experiential Learning tidak hanya menghidupkan pembelajaran, tetapi juga
mengikat nilai PSE dengan konteks kehidupan murid.
Bagi saya sendiri, kegiatan ini
mengingatkan bahwa peran guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi
fasilitator pengalaman belajar. Saya perlu lebih sering menciptakan momen
belajar yang membuat murid aktif, merasakan, dan merenung. Pengalaman ini
memperkaya pemahaman saya bahwa pembelajaran sosial emosional tidak dapat
dipaksakan, tetapi harus dibangun dari pengalaman nyata yang diproses dengan
refleksi dan penerapan.
Ke depan, saya berkomitmen untuk
terus menerapkan Experiential Learning dalam pembelajaran PSE maupun mata
pelajaran lain. Saya ingin kelas menjadi ruang yang aman bagi murid untuk
bereksplorasi, membuat kesalahan, memperbaiki diri, dan bertumbuh secara sosial
emosional. Pengalaman ini membuktikan bahwa ketika murid mengalami, mereka
belajar lebih dalam dan lebih bermakna.[]

