Selasa, 05 Agustus 2025

SDN Panaongan 3 Terima Bantuan Buku Yasin dan Tahlil dari Pemerhati Pendidikan Asal Sumenep

Sd negeri panaongan 3
Dari kiri: Agus Sugianto dan Suriyanto Hasyim. [Foto: sh]

SUMENEP – SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, mendapatkan perhatian dari seorang pemerhati pendidikan asal Sumenep yang kini menetap di Jakarta, Ustadz Aji Lahaji. 

Bantuan kali ini berupa 41 eksemplar buku Surat Yasin dan Tahlil yang disalurkan melalui media online lokal, apoymadura.com. Rabu (6/8/2025). 

Suriyanto Hasyim, Pimpinan Redaksi apoymadura.com, mengatakan bahwa pihaknya dipercaya Ustadz Aji Lahaji untuk menyalurkan bantuan tersebut. 

Ia pun memilih SDN Panaongan 3 sebagai penerima manfaat karena sekolah ini dinilai paling aktif dalam pemberitaan dan publikasi kegiatan melalui berbagai platform media sosial.

"SDN Panaongan 3 sangat aktif menyebarkan informasi dan kegiatan positif mereka. Ini bentuk apresiasi terhadap semangat mereka dalam membangun citra pendidikan yang terbuka dan inspiratif," terang Suriyanto. 

Sedangkan Kepala SDN Panaongan 3, Agus Sugianto membenarkan bahwa lembaga yang ia pimpin memang konsisten mempublikasikan seluruh kegiatan sekolah. 

“Setiap hari kami memposting berbagai aktivitas siswa dan guru di media sosial, sebagai bentuk keterbukaan informasi dan motivasi bagi sekolah lain,” ungkapnya.

Bantuan buku ini diharapkan bisa mendukung kegiatan keagamaan rutin sekolah, terutama pembacaan Surat Yasin bersama setiap Jumat pagi. 

Sekaligus, ini menjadi bukti nyata bahwa eksistensi digital sekolah juga bisa membawa manfaat nyata. [sh]

Pemerhati Pendidikan Asal Sumenep, Ustadz Aji Lahaji, Kembali Salurkan Bantuan untuk Dunia Pendidikan

Pemerhati pendidikan SUMENEP
Ustadz Aji Lahaji. [Foto: sh]

SUMENEP – Pemerhati pendidikan asal Kota Keris Sumenep, Ustadz Aji Lahaji, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan di kampung halamannya. Rabu (6/8/2025). 

Walau kini menetap di Jakarta, setiap kali pulang ke Sumenep, ia senantiasa menyempatkan diri memberikan bantuan untuk mendukung pendidikan anak-anak.

“Kali ini kami memberikan bantuan buku Surat Yasin dan Tahlil untuk tiga lembaga pendidikan. Dua lembaga pendidikan non formal yang ada di kawasan Kota Sumenep dan satu lagi SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan,” ujar Ustadz Aji Lahaji. 

Bantuan tersebut disalurkan melalui media online lokal apoymadura.com, yang kemudian meneruskan bantuan itu kepada pihak-pihak penerima. 

Total sebanyak 41 eksemplar buku Surat Yasin dan Tahlil dibagikan sebagai sarana penunjang kegiatan keagamaan di lingkungan lembaga pendidikan.

Kepedulian Ustadz Aji Lahaji tidak hanya bersifat material, tapi juga menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk ikut berkontribusi dalam memajukan pendidikan. 

Langkah nyata seperti ini diharapkan bisa mempererat ikatan emosional para perantau dengan tanah kelahiran mereka, serta menumbuhkan kesadaran kolektif dalam mendukung kemajuan pendidikan. [sh]

Pimred apoymadura.com Serahkan 41 Buku Yasin dan Tahlil ke SDN Panaongan 3

Sdn Panaongan 3 kecamatan Pasongsongan
Dari kiri: Agus Sugianto dan Suriyanto Hasyim. [Foto: sh]

SUMENEP – Pimpinan Redaksi (Pimred) apoymadura.com, Suriyanto Hasyim, menyerahkan bantuan buku Surat Yasin dan Tahlil sebanyak 41 eksemplar kepada SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan. Selasa (6/8/2025).

"Bantuan buku Surat Yasin dan Tahlil ini dari Ustadz Aji Lahaji, Sumenep. Beliau menyerahkan kepada kami untuk diteruskan kepada SDN Panaongan 3," ujar Suriyanto saat penyerahan bantuan.

Sementara itu, Kepala SDN Panaongan 3, Agus Sugianto, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian yang diberikan. 

"Setiap Jumat pagi, peserta didik kami menyelenggarakan pembacaan Surat Yasin bersama. Buku-buku ini tentu sangat bermanfaat," ungkapnya.

Penyerahan bantuan ini diharapkan bisa mendukung kegiatan keagamaan rutin di sekolah dan membentuk karakter religius peserta didik sejak dini. [sh]

Fenomena Bendera One Piece: Isyarat Kekecewaan Rakyat?

Bendera indonesia

Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-80, fenomena pengibaran bendera One Piece—bendera bajak laut dari serial anime Jepang—muncul di berbagai daerah. 

Ini bukan sekadar ekspresi budaya pop, melainkan sebuah pesan simbolik yang perlu dicermati lebih dalam, terutama oleh pemerintah yang tengah berkuasa.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan, mengapa justru bendera bajak laut yang dikibarkan? 

Fenomena ini tak bisa dianggap sepele. Bisa jadi, ini adalah wujud ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara dalam menyelesaikan berbagai kasus besar yang tak kunjung tuntas. 

Korupsi, ketidakadilan hukum, hingga krisis ekonomi berkepanjangan telah menumpuk dalam benak rakyat.

Bendera bajak laut, yang selama ini identik dengan perlawanan dan kebebasan dari penindasan, kini menjadi simbol baru. 

Sebuah peringatan diam bahwa rakyat mulai mencari harapan dari luar sistem. 

Ini seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan hanya dilihat sebagai bentuk iseng atau euforia budaya asing.

Pemerintah perlu menyadari bahwa makna kemerdekaan sejati bukan hanya soal upacara dan seremoni. 

Ketika simbol-simbol perlawanan mulai dikibarkan di halaman rumah rakyat, itu tandanya ada keresahan yang nyata dan mendalam. [sh]

Minggu, 03 Agustus 2025

Tiga Murid SDN Soddara 2 Raih Prestasi di Lomba Lari Menengah HUT RI ke-80

Hut ri Kemerdekaan ke-80
Bambang Sutrisno (paling kanan) bersama guru dan muridnya. [sh]

SUMENEP — Tiga murid SDN Soddara 2, Kecamatan Pasongsongan, berhasil menorehkan prestasi gemilang dalam lomba lari menengah tingkat kecamatan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80. Senin (4/8/2025). 

Dua siswi sekolah tersebut menyabet juara 1 dan 2 untuk kategori putri, sementara satu siswa lainnya meraih juara 5 untuk kategori putra.

Hut Kemerdekaan ri
Ketua Paguyuban olah raga (Paruga) Kecamatan Pasongsongan menyerahkan hadiah. [Foto: sh]

"Kita semua maklum, untuk meraih prestasi dibutuhkan latihan yang terprogram dan berkesinambungan," ujar Bambang Sutrisno, Kepala SDN Soddara 2, dengan bangga.

Menurutnya, keberhasilan ini juga tak lepas dari peran semua guru, terutama guru olah raga. 

Hut ri ke+80

Prestasi ini menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan juga tumbuh dalam dunia pendidikan, khususnya dalam bidang olahraga yang terus dikembangkan dibeberapa sekolah. [sh]

Bendera Bajak Laut: Simbol Perlawanan atau Cermin Keputusasaan?

Bendera one piece

Di jagat media sosial, kini ramai diperbincangkan sebuah simbol yang tidak biasa: Bendera dengan lambang bajak laut. 

Sekilas tampak jenaka, bahkan nyaris dianggap lelucon. 

Tapi dibalik ikon tengkorak dan tulang bersilang itu, tersembunyi sebuah pesan yang tajam: Rakyat muak!

Beberapa konten kreator menyebut bendera bajak laut ini sebagai lambang solidaritas dan perlawanan tanpa kekerasan. 

Ia muncul bukan untuk menantang negara, tapi sebagai alarm keras bagi penguasa.

Ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, rakyat kehilangan kepercayaan. 

Maka lahirlah simbol alternatif—bukan merah putih, tapi bendera bajak laut—sebagai bentuk satire dan kritik keras.

Lucunya, alih-alih merenung, sebagian elite justru menepisnya sebagai bentuk "kekonyolan" anak muda. 

Padahal, inilah ekspresi paling jujur dari generasi yang kecewa tapi masih punya harapan. 

Dan pesan itu jelas: Indonesia harus berubah!

Bendera bajak laut bukan bendera pemberontakan, tapi simbol bahwa rakyat masih peduli.

Kalau pemerintah bijak, mereka akan mendengar. Kalau tidak, jangan salahkan rakyat jika ke depan, bukan hanya simbol yang dikibarkan—tapi perlawanan yang lebih nyata. [sh]

Sabtu, 02 Agustus 2025

Pengumuman Pemenang Lomba Seni HUT RI ke-80 Kecamatan Pasongsongan Berlangsung Meriah

Hut ri ke-80
Agus Sugianto (paling kanan) beserta pemenang lomba. [Foto: sh]

SUMENEP — Kegiatan lomba seni dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80 tingkat Kecamatan Pasongsongan yang digelar di LP Ma’arif, Desa Pasongsongan, resmi ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah yang dilakukan langsung setelah perlombaan usai. Ahad (3/8/2025). 

Penyerahan hadiah dilakukan di lokasi lomba dengan disaksikan oleh peserta dan guru pendamping masing-masing.

Hut ri kemerdekaan

Agus Sugianto, selaku Koordinator Bidang Seni, menyampaikan apresiasi atas antusiasme seluruh peserta dan peran aktif para guru pendamping. 

Kemerdekasm ri

“Saya ucapkan terima kasih atas partisipasi seluruh peserta dan dewan guru yang telah mengantarkan para peserta didiknya hingga sukses mengikuti perlombaan ini,” ungkapnya.

Kemerdekaan ri ke-80

Kegiatan ini diharapkan bisa terus memupuk semangat berkesenian di kalangan pelajar serta menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air melalui kreativitas dan ekspresi seni. [sh]

Lomba Seni HUT RI ke-80 di LP Ma’arif Pasongsongan Berjalan Lancar dan Tertib

Hut ri ke-80
Bambang Sutrisno sedang mengawasi salah satu peserta melukis tingkat SD/MI. [Foto: sh]

SUMENEP — Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Panitia Lomba Seni HUT RI ke-80 Kecamatan Pasongsongan,  menggelar lomba seni yang meliputi kategori melukis, mewarnai, dan kolase. Ahad (3/8/2025). 

Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat RA/TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA.

Bambang Sutrisno, S.Pd., selaku Panitia Pelaksana Lomba Seni, mengapresiasi kelancaran dan ketertiban selama jalannya kegiatan. "Keseluruhan lomba dilaksanakan mulai pukul 07.30 WIB dan berlangsung dengan tertib," ujar Bambang, yang juga menjabat sebagai Kepala SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan.

Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara peringatan HUT RI yang bertujuan untuk menggali dan menyalurkan bakat seni para siswa serta menanamkan semangat nasionalisme sejak dini. 

Dukungan dari berbagai lembaga pendidikan turut menjadikan kegiatan ini meriah dan penuh antusiasme. [sh]

Lomba Melukis, Mewarnai, dan Kolase Meriahkan HUT RI ke-80 di LP Ma’arif Pasongsongan

Hut ri ke-80
Dari kiri: Syamsi dan Akhmad Jasimul Ahyak. [Foto: sh]

SUMENEP — Suasana semarak tampak mewarnai pelaksanaan lomba seni dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-80 yang digelar di lingkungan LP Ma’arif Kecamatan Pasongsongan. 

Kegiatan lomba yang meliputi melukis, mewarnai, dan kolase ini diikuti oleh peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari RA/TK, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA. Ahad (3/8/2025). 

MI Annajah menjadi tuan rumah kegiatan lomba tahun ini. 

Kepala MI Annajah, Syamsi, S.Pd.I, menyampaikan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan. 

“MI Annajah merupakan lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif yang senantiasa memberikan ruang bagi semua kegiatan dalam rangka peringatan HUT RI,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Lomba Seni, Akhmad Jasimul Ahyak,S.Pd.I, mengucapkan terima kasih atas izin dan fasilitas yang diberikan. 

“Kami sangat mengapresiasi dukungan dari MI Annajah. Semoga kegiatan ini menjadi sarana untuk menggali potensi seni anak-anak didik kita,” tuturnya.

Lomba ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tapi juga memperkuat rasa nasionalisme generasi muda dalam bingkai seni dan budaya. [sh]

Jumat, 01 Agustus 2025

Cerpen: Garis yang Dilanggar

Cerita pendek

Oleh: Suriyanto Hasyim

Debur, seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar negeri di pesisir. 

Usianya 51 tahun, tubuhnya kurus dan rambutnya mulai memutih. 

Meski hidup sederhana, Debur dikenal ramah dan sabar. Ia kerap membantu siapa pun yang ingin belajar, termasuk Tona, seorang mahasiswi dari perguruan tinggi swasta yang sedang kesulitan dalam pelajaran bahasa Inggris.

Pertemuan mereka bermula di sebuah perpustakaan kecil milik desa. 

Tona, masih berusia dua puluhan, datang meminta bantuan Debur untuk mengasah kemampuan bahasa asingnya. 

Debur, yang melihat semangat belajar Tona, dengan senang hati mengajarinya. 

Hari demi hari, mereka makin sering bertemu. Debur menganggap Tona seperti anaknya sendiri.

Tapi, suatu sore, ketika pelajaran hampir usai, Tona tiba-tiba memeluk Debur erat dan mengecup pipinya. 

Debur terkejut, tubuhnya menegang, dan seketika ia menjauh.

"Aku ini sudah seperti ayahmu, Ton," kata Debur. 

Tona menatapnya tajam, menolak mundur. "Aku tidak peduli. Aku ingin ini. Aku ingin Bapak."

Debur terdiam lama. Di benaknya berkecamuk rasa iba, tanggung jawab, dan sebuah garis tipis antara kasih sayang dan nafsu. 

Tapi ia tahu, sekali garis itu dilanggar, tak akan ada jalan kembali.

Dengan napas berat, Debur berdiri, mengambil jarak. 

"Kau masih muda, dan ini salah. Jangan biarkan perasaan sesaat menghancurkan masa depanmu!."

Bahwa kasih sayang, seberapa pun tulusnya, harus tahu batas. Dan ia bersyukur, kali ini, ia memilih jadi dewasa. ©

Cerpen: Memilih Jalan Lain

Cerita pendek

Oleh: Suriyanto Hasyim

Setelah dua tahun memeras keringat sebagai kuli bangunan di Malaysia, Debur akhirnya pulang ke kampung halaman dengan harapan sederhana: memeluk istri dan anak yang ia rindukan tiap waktu. 

Tapi, begitu ia menginjakkan kaki di depan rumah, suasana hening yang menyambut membuat dadanya terasa kosong. 

Rumah itu tak lagi hangat. Tak ada istrinya, Tona. Tak ada suara tawa anaknya.

Bagai tersambar petir, ketika Debur mendengar kabar dari tetangga, Tona pergi bersama lelaki lain.

Dan lebih menyakitkan lagi, kini tengah mengandung anak dari pria itu. 

Sedangkan anak mereka yang masih kecil pun dibawa serta.

Saudara-saudaranya murka. Mereka mendesak agar Debur membalas. 

"Biar kami yang urus! Atau kau sendiri, Bur! Harga dirimu diinjak!" kata salah satu dari mereka. Tapi Debur hanya diam.

Di sudut kamarnya, Debur duduk sendirian. Ia bukan tak marah, tapi hidup telah mengajarinya banyak hal. 

Ia tahu, membalas dendam bisa berarti menukar luka dengan kehancuran. 

"Kalau aku duel, bisa kalah bisa menang," gumamnya. "Kalau kalah, aku masuk kuburan. Kalau menang, aku masuk penjara."

Akhirnya, Debur mengambil keputusan mengejutkan semua orang, ia memilih menikah lagi. 

Bukan karena ingin melupakan luka begitu saja, tapi karena ia ingin memulai hidup baru tanpa kebencian, tanpa dendam membara.©

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...