Senin, 31 Maret 2025

Khotbah Shalat Idul Fitri 1446 H di Masjid Al-Istikmal: Peningkatan Iman dan Takwa

Ponpes al-istikmal

SUMENEP -  Shalat Idul Fitri 1446 H sudah dilaksanakan dengan khidmat di Masjid Al-Istikmal, Dusun Pakotan, Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Selasa (1/4/2025). 

Khotbah shalat Idul Fitri disampaikan KH Kholilurrahman, salah satu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Istikmal.

Dalam khotbahnya, KH Kholilurrahman menekankan pentingnya peningkatan iman dan takwa terhadap Allah SWT. 

Menurutnya, dul Fitri adalah momentum untuk memperbarui komitmen kita sebagai hamba Allah SWT.

"Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi kita. Tapi kemenangan sebenarnya adalah saat kita bisa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT," ucap KH Kholilurrahman.

Beliau juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dan memperkuat hubungan sosial dengan sesama. 

"Idul Fitri merupakan momentum untuk memperkuat hubungan kita dengan sesama. Memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan," tambahnya.

Masjid Al-Istikmal adalah satu-kesatuan dengan Ponpes Al-Istikmal, dan telah menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan di wilayah Pasongsongan. 

Shalat Idul Fitri di masjid ini dihadiri oleh ratusan jemaah dari berbagai wilayah di Pasongsongan

Karena Ponpes Al-Istikmal telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada sebagian di luar negeri. [Surya]

Harmoni Indah Lusyana Jelita & Umar Dhany Kawesa dalam "Untung Masih Ada Ramadhan"

Artis Sumenep madura
Dari kiri: Umar Dhany Kawesa dan Lusyana Jelita. [Foto: Surya]

SUMENEP - Ramadhan selalu menjadi momen spesial yang dinantikan umat muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Sumenep. Selasa (1/4/2025). 

Tahun ini, dua penyanyi berbakat asal Sumenep - Lusyana Jelita dan Umar Dhany Kawesa - menghadirkan sebuah lagu religi penuh makna berjudul "Untung Masih Ada Ramadhan". 

Kolaborasi ini sukses menyentuh hati pendengar dengan lirik yang dalam dan harmonisasi vokal yang memukau.

Profil Singkat Penyanyi

1. Lusyana Jelita: Bintang Dangdut Muda yang Bersinar

Lusyana Jelita, yang akrab disapa Lusy, lahir di Sumenep, Madura. 

Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat di dunia tarik suara, meski awalnya tidak menyukai dangdut. 

Tapi, pengaruh ibunya yang sering menyanyikan lagu dangdut akhirnya membuat ia jatuh cinta pada genre musik ini. 

Kariernya kian bersinar sejak bergabung dengan grup musik OM Adella, salah satu orkes dangdut ternama di Jawa Timur. 

2. Umar Dhany Kawesa: Musisi Multigenre Berpengalaman

Berbeda dengan Lusyana yang lebih dikenal di dunia dangdut, Umar Dhany Kawesa adalah musisi yang telah lama malang melintang di industri rekaman Jakarta. 

Ia dikenal sebagai penyanyi yang menguasai berbagai genre, mulai dari pop-rock, lagu Madura, hingga religi. 

Pengalamannya di dunia musik membuat kolaborasi ini makin istimewa, karena ia membawa nuansa berbeda ke dalam lagu religi kali ini.

Makna Lagu "Untung Masih Ada Ramadhan"

"Lagu ini menggambarkan rasa syukur atas datangnya bulan suci Ramadhan, dimana umat muslim diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan berbagi kebaikan," ucap Umar. 

Ia menambahkan kalau lagu yang dinyanyikan tersebut adalah hasil ciptaannya. 

Liriknya yang sederhana namun penuh makna membuat pendengar teringat akan keindahan Ramadhan.

Kolaborasi vokal Lusyana Jelita yang merdu dengan sentuhan emosional Umar Dhany Kawesa menciptakan harmoni cukup sempurna, membuat lagu ini makin manis.

Sebuah Kolaborasi yang Memikat

"Untung Masih Ada Ramadhan" bukan sekadar lagu, melainkan sebuah doa dan ungkapan syukur. 

Kolaborasi antara Lusyana Jelita dan Umar Dhany Kawesa membuktikan bahwa musik religi bisa menyatukan berbagai genre dan generasi. 

Dengan suara yang memukau dan pesan yang dalam, lagu ini layak menjadi soundtrack Ramadhan yang bermakna.[Surya]

Minggu, 30 Maret 2025

"Sultan Madura" dan Kepedulian yang Semu: Ketika THR Lebaran Tak Cukup untuk Mengentaskan Kemiskinan

Hari raya Idul Fitri 2025

Dimana-mana takbir berkumandang lewat sudut-sudut masjid dan mushola. 

Suasana meriah menghias di setiap desa dan kampung. Suara petasan menambah hingar-bingar Hari Raya Idul Fitri 1446 H. 

Di media sosial, kita sering melihat fenomena para hartawan Madura - yang kerap dijuluki "Sultan Madura" - dengan bangga membagikan angpao, sembako, atau bingkisan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada masyarakat kurang mampu. 

Aksi mereka viral, dipuji, dan dianggap sebagai bukti kedermawanan. 

Tapi, setelah Lebaran 2025 usai, apa yang terjadi? Si miskin tetap sengsara, sementara para miliarder kembali hidup dalam kemewahan.

THR dan Bantuan Sesaat: Hanya Pencitraan?

Tak bisa dipungkiri, bantuan langsung seperti uang atau sembako memang meringankan beban sesaat. Hanya Instan. 

Tapi, apakah ini solusi jangka panjang? Atau justru hanya bentuk "kepedulian semu" yang lebih berfungsi sebagai pencitraan di media sosial?

Faktanya, kemiskinan tidak bisa diatasi sekadar dengan bagi-bagi uang saat Lebaran. 

Yang dibutuhkan adalah pemberdayaan ekonomi, bukan sekadar sedekah yang membuat masyarakat terus bergantung.

Mengapa Tidak Menciptakan Lapangan Kerja?

Para "Sultan Madura" sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk mengubah nasib orang-orang di sekitarnya. 

Daripada hanya memberi THR sekali setahun, mengapa tidak:

1. Membuka lowongan kerja bagi warga sekitar, baik di bisnis properti, perdagangan, atau usaha lainnya.

2. Memberikan pelatihan keterampilan agar masyarakat bisa mandiri secara ekonomi.

3. Membangun usaha kolektif seperti koperasi atau UMKM berbasis lokal.

Dengan cara ini, kesejahteraan tidak hanya dinikmati segelintir orang, tapi bisa dirasakan secara lebih merata.

Keadilan Sosial vs. Kemewahan yang Menyolok

Ironisnya, sementara para hartawan Madura memamerkan kekayaan melalui mobil mewah dan rumah megah, banyak tetangga mereka masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. 

Jika benar mereka peduli, sejatinya ada upaya nyata untuk "mengangkat derajat" orang-orang di sekitarnya, bukan sekadar memberi bantuan yang habis dalam hitungan hari.

Dari Sedekah ke Pemberdayaan

Memberi THR atau bantuan sesaat memang baik, tapi itu bukan solusi. 

Jika para "Sultan Madura" benar-benar ingin dikenang sebagai dermawan sejati, mereka harus beralih dari "kepedulian semu" ke pemberdayaan berkelanjutan.

Kekayaan sejati bukanlah ketika seseorang bisa membagikan uang, tapi ketika ia bisa membuat orang lain mandiri dan sejahtera. [Surya]

Jumat, 28 Maret 2025

Parade Musik Tongtong Gema Ramadhan 2024: 12 Grup Tampil hingga Dini Hari

Musik tongtong, Pelabuhan Pasongsongan, Forpimka Pasongsongan
Panitia dan pimpinan grup musik tongtong menerima penghargaan. [Foto: Surya]

Sumenep - Parade musik tongtong "Gema Ramadhan" di Pasongsongan bukan sekadar hiburan, tapi juga upaya melestarikan budaya lokal. 

Dengan semangat kebersamaan, acara ini jadi bukti, bahwa tradisi musik tetap hidup di tengah modernisasi. Jumat (28/3/2025). 

Pelabuhan Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, jadi pusat perhatian pada malam spesial di akhir bulan Ramadhan. 

Parade musik tongtong, dengan tajuk "Gema Ramadhan", berhasil menghibur ratusan penonton yang memadati area pelabuhan. 

Ada sebanyak 12 grup musik tongtong unggulan tampil memukau, menciptakan atmosfer semarak yang menggetarkan hati.

"Tiap grup musik tongtong tampil dengan durasi terbatas 15 menit. Masing-masing kelompok memberikan penampilan terbaik," ucap Alimurrahman, salah seorang panitia. 

Inilah grup musik tongtong yang berpartisipasi: Dewa Amor, Angin Ribut, Puser Angin, Bintang Kejora, Bagaspati, Lanceng Sarkaju, Poetra Djennengan, Telaga Biru, Pangeran Girpapas, Peccot Ngamox, Gelora Pesisir, dan Nawasena. 

Meski waktu tampil singkat, tiap grup sukses memukau penonton dengan irama khas tongtong, perpaduan beberapa alat musik perkusi yang energik. 

Acara selesai hingga pukul 01.25 WIB, membuktikan antusiasme tinggi baik dari penampil maupun penonton. 

"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang mendukung. Semoga acara yang sama tahun depan bisa lebih meriah!" harap Alimurrahman. [Surya]

Makna Mendalam di Balik Bingkisan Lebaran 2025: Dari Momen Memaafkan hingga Menguatkan Ukhuwah

Hari raya idul fitri 2025

Lebaran Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti - saat kebahagiaan, maaf, dan kebersamaan bersatu dalam sukacita. 

Tapi, di tengah kesibukan menguras waktu dan jarak memisahkan, tak jarang hubungan persahabatan atau persaudaraan menjadi renggang. 

Bahkan, terkadang perselisihan kecil mengkristal jadi jarak yang terasa sulit dijembatani. 

Di sinilah bingkisan Lebaran 2025 bisa jadi "senjata" melawan lupa, pengingat kasih sayang yang sempat tertunda, dan pemutus kebekuan hubungan mendalam.

Bingkisan Lebaran: Pengusir Rindu di Tengah Kesibukan

Hidup serba cepat acapkali membuat kita lupa menyapa teman lama, saudara, atau kerabat yang dulu dekat. 

Kesibukan kerja, urusan keluarga, atau jarak geografis perlahan mengikis kehangatan hubungan.

Kue Lebaran buatan tangan atau oleh-oleh khas daerah bisa jadi pengingat kenangan manis masa silam: "Aku masih ingat dikau."

Surat atau kartu ucapan tulisan tangan yang berisi ungkapan rindu dan permohonan maaf lebih personal daripada sekadar pesan singkat di aplikasi sosial media. 

Bingkisan sebagai Pemutus Rantai Perseteruan

Kadangkala perselisihan terjadi bukan karena kebencian, tapi karena ego tak tercurahkan lewat mimbar pertemuan. 

Bingkisan Lebaran bisa jadi jalan damai tanpa perlu kata-kata yang rumit. Tanpa butuh kalimat puitis. 

Kue kering atau kurma bisa menjadi simbol permohonan maaf - misalnya tradisi halal bihalal, dimana makanan menjadi pemersatu.

Kalimat tulus seperti "Maafkan jika ada salah, mari kita sambung lagi silaturahmi yang terputus" bisa mencairkan kebekuan.

Lebaran adalah Momentum Memperbaiki yang Retak

Di era digital, kehangatan sentuhan fisik dan hadiah nyata seringkali tergantikan oleh chat dan emoji. 

Namun, bingkisan Lebaran tetap memiliki kekuatan magis - menggugah ingatan, melebur dendam, dan mengikat kembali tali yang hampir terlepas.

Lantaran sejatinya, Idul Fitri bukan hanya tentang busana baru, tapi juga memperbarui hubungan yang sempat terlupakan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H, semoga silaturahmi kita terus terjaga!

[Pimred apoymadura.com]

Kamis, 27 Maret 2025

Pengobatan Pengerutan Otak dengan Ramuan Banyu Urip: Tutorial dari MS Arifin

Therapy Banyu Urip
MS Arifin (kiri) saat memberikan tutorial pengobatan Pengerutan otak. [Foto: Surya]

YOGYAKARTA - Pengerutan otak atau atrofi otak adalah kondisi dimana jaringan otak mengalami pengecilan atau pengerutan. Jumat (28/3/2025). 

"Biasanya penyakit ini menyebabkan berbagai gejala seperti kelemahan otot, kesulitan berbicara, dan gangguan kognitif," terang MS Arifin, pimpinan Therapy Banyu Urip di kantornya, kawasan Jalan Selokan Mataram, Sleman, Yogyakarta. 

Pengobatan untuk kondisi ini umumnya melibatkan penggunaan obat-obatan dan terapi.

Tapi beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pengobatan dengan ramuan tradisional bisa menjadi alternatif yang efektif.

Salah satu contoh pengobatan tradisional yang bisa digunakan untuk mengobati pengerutan otak adalah Ramuan Banyu Urip. 

MS Arifin memberikan tutorial tentang cara menyembuhkan pasien pengidap penyakit pengerutan otak dengan Ramuan Banyu Urip.

Menurut MS Arifin, pengobatan dengan Ramuan Banyu Urip bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Pertama, kapas kecil diolesi dengan Ramuan Banyu Urip dan dimasukkan ke telinga kanan-kiri pasien. 

Selanjutnya, kompres kepala, dada, perut, dan punggung pasien juga diolesi dengan Ramuan Banyu Urip.

Setelah itu, pasien diminta untuk minum 2 sendok Ramuan Banyu Urip dan menggurahnya di bawah lidah selama 25 menit. 

Dengan cara ini, Ramuan Banyu Urip bisa bekerja efektif untuk mengobati pengerutan otak.

"Ramuan Banyu Urip telah terbukti efektif dalam mengobati berbagai penyakit, termasuk pengerutan otak," tegas eks Polisi Militer ini meniscaya. 

Ramuan ini bekerja dengan cara memperbaiki fungsi otak dan meningkatkan kesehatan sel-sel otak.

Pengobatan dengan Ramuan Banyu Urip bisa jadi alternatif yang efektif untuk mengobati pengerutan otak. [Surya]

Surat Terbuka untuk Haji Her (H Khairul Umam): Ajakan untuk Membangun Kesejahteraan Bersama

Haji her pamekasan madura
H. Khairul Umam (Haji Her)

Kepada Yth. H. Khairul Umam (Haji Her), Pengusaha Tembakau, Ketua P4TM, dan "Sultan Madura" yang Dermawan,

Salam sejahtera untuk Bapak. Perkenankan saya menyampaikan surat ini sebagai bentuk apresiasi sekaligus harapan dari masyarakat yang mengagumi perjalanan hidup dan kesuksesan Bapak.

Bapak dikenal sebagai sosok pengusaha tembakau yang sukses, pemimpin Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Madura (P4TM), dan figur yang dijuluki "Sultan Madura" karena kemewahan rumah, koleksi mobil mewah, serta kedermawanan Bapak yang sering membantu masyarakat. 

Tidak bisa dipungkiri, Bapak adalah inspirasi bagi banyak orang, terutama warga Madura, yang melihat kesuksesan Bapak sebagai bukti bahwa kerja keras bisa mengubah nasib.

Namun, di balik kekayaan yang Bapak miliki, ada harapan besar dari masyarakat. 

Banyak yang berandai-andai: "Bagaimana jika Haji Her mendirikan perusahaan besar yang bisa menampung ribuan tenaga kerja?" atau "Andai kekayaan beliau bisa lebih berdampak luas untuk mengurangi pengangguran di Madura."

Potensi Menciptakan Lapangan Kerja

Madura memiliki banyak pemuda usia produktif yang butuh kesempatan. 

Dengan sumber daya yang Bapak miliki - jaringan bisnis, modal, dan pengalaman - Bapak bisa menjadi pelopor pembukaan lapangan kerja baru, tidak hanya di sektor tembakau tetapi juga di bidang lain seperti pertanian modern, industri pengolahan, atau bahkan pariwisata.

Bayangkan jika Bapak mendirikan pabrik atau usaha skala besar yang melibatkan ribuan karyawan. 

Dampaknya tidak hanya mengurangi pengangguran, tetapi juga mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Kekayaan Bapak akan lebih bermakna ketika bisa mengangkat harkat hidup banyak keluarga.

Kedermawanan yang Berkelanjutan

Bapak sudah terbukti dermawan, tetapi bantuan yang bersifat charity (seperti santunan atau sumbangan) kadang hanya bersifat sementara. 

Masyarakat justru lebih membutuhkan kesempatan untuk mandiri melalui pekerjaan yang stabil. 

Dengan menciptakan lapangan kerja, Bapak tidak hanya memberi ikan, tetapi juga kail untuk mencari ikan.

Warisan yang Abadi

Jika Bapak berkenan mewujudkan hal ini, nama Bapak tidak hanya akan dikenang sebagai pengusaha kaya dan dermawan, tetapi juga sebagai pahlawan pembangunan Madura yang mengubah nasib ribuan keluarga. 

Kekayaan Bapak akan menjadi berkah yang terus mengalir untuk generasi mendatang.

Semoga surat ini sampai ke hati Bapak. Kami yakin, dengan niat baik dan kemampuan yang Bapak miliki, Madura bisa menjadi lebih sejahtera.

Hormat kami,

[Pimred apoymadura.com/Atas Nama Masyarakat Pasongsongan]

Rabu, 26 Maret 2025

Kemacetan Jalan Raya Pasar Waru Pamekasan, Biang Keroknya adalah Pedagang di Trotoar

Pasar waru Kabupaten Pamekasan
Suasana Pasar Waru Kabupaten Pamekasan. [Foto: Surya]

PAMEKASAN - Kemacetan jalan raya Pasar Waru Kabupaten Pamekasan, khususnya tiap Kamis dan Ahad, telah menjadi fenomena yang tak bisa dihindarkan. Kamis (27/3/2025). 

Karena pada kedua hari tersebut merupakan hari pasaran. 

Banyaknya pedagang sayur, ikan, dan penganan yang menempati trotoar jadi biang utama terjadinya kemacetan ini.

Menjelang Lebaran yang tinggal 2 hari lagi, banyak masyarakat yang berbondong-bondong untuk berbelanja kebutuhan Lebaran. Hal ini membuat kemacetan arus lalulintas semakin parah. 

Petugas lalulintas pun kewalahan untuk mengatur arus lalulintas.

Kemacetan arus lalulintas di Pasar Waru Pamekasan dimulai sejak pukul 05.00 WIB. 

Banyaknya kendaraan yang melintas di jalan raya membuat kemacetan semakin parah. 

Pedagang yang menempati trotoar juga membuat jalan raya semakin sempit.

"Pemerintah setempat dan petugas lalulintas sejatinya harus segera mengambil tindakan guna mengatasi kemacetan ini," kritik salah seorang pengunjung Pasar Waru. 

Salah satu solusi yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan mengatur pedagang yang menempati trotoar dan membuat jalan raya lebih luas.

Dengan demikian, kemacetan arus lalulintas di Pasar Waru Pamekasan bisa diminimalkan dan masyarakat bisa berbelanja dengan lebih nyaman. [Surya]

MS Arifin Jalin Kerjasama untuk Meningkatkan Kualitas Pengobatan Therapy Banyu Urip

Therapy Banyu Urip
MS Arifin, owner Therapy Banyu Urip.[Foto: Surya]

YOGYAKARTA - MS Arifin, owner Therapy Banyu Urip, adalah sosok yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Kamis (27/3/2025). 

Ia senantiasa menjalin kerjasama dengan banyak pihak untuk meningkatkan kualitas pengobatan yang ditawarkan. 

Salah satu contoh kerjasama yang telah dijalin MS Arifin adalah dengan rumah sakit dan dokter. 

Kerjasama ini bertujuan guna meningkatkan kualitas pengobatan yang ditawarkan Therapy Banyu Urip, serta untuk memastikan bahwa pengobatan yang dilakukan sesuai standar medis.

Selain itu, MS Arifin juga menjalin kerjasama dengan owner dari beberapa pengobatan alternatif lain. 

Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengobatan alternatif, serta untuk mempromosikan Therapy Banyu Urip sebagai salah satu pilihan pengobatan alternatif yang efektif dan aman.

Therapy Banyu Urip sendiri adalah metode pengobatan tradisional yang dikemas modern. 

"Metode pengobatan kami menggunakan ramuan alami yang  diolah dengan cara tepat untuk mengobati berbagai macam penyakit," terang eks Polisi Militer ini bersahaja. 

Dengan kerjasama yang telah dijalin oleh MS Arifin, Therapy Banyu Urip telah menjadi salah satu pilihan pengobatan alternatif yang paling populer di Indonesia. 

"Sudah banyak orang yang telah merasakan manfaat dari pengobatan kami. Mereka juga sudah memberikan testimonial yang positif tentang Therapy Banyu Urip," tambah MS Arifin. 

MS Arifin dan Therapy Banyu Urip terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pengobatan yang ditawarkan.

"Kami senantiasa mempromosikan pengobatan alternatif sebagai salah satu pilihan pengobatan yang efektif dan aman," pungkasnya. [Surya]

Tantangan dalam Membangun Kepercayaan Masyarakat terhadap Ramuan Tradisional

Therapy Banyu Urip
MS Arifin (paling kanan) bersama para mitra kerja. [Foto: Surya]

YOGYAKARTA - Meskipun memiliki banyak manfaat, ramuan tradisional masih sering dianggap kuno, tidak ilmiah, atau kurang efektif dibanding obat kimia. Kamis (37/3/2025). 

Ketika MS Arifin diwawancarai apoymadura.com di tempat praktiknya, kawasan Jalan Selokan Mataram, ia mengatakan bahwa alam telah menyediakan segala yang dibutuhkan umat manusia untuk sehat. 

"Ramuan tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan solusi kesehatan yang berkelanjutan," cetusnya. 

MS Arifin mengingatkan kembali, dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat secara terus menerus, maka akan terbangun kesadaran mereka. 

"Kita pasti bisa membangun mindset bahwa pengobatan alami adalah jalan terbaik untuk hidup sehat tanpa ketergantungan pada bahan kimia," ucapnya. 

Hingga saat ini, MS Arifin terus mengampanyekannya lewat bakti sosial (baksos), menyeru untuk kembali pada alam sekitar. 

"Jika kita mau belajar dari nenek moyang dan menggabungkannya dengan pengetahuan modern, ramuan tradisional akan menjadi kekuatan besar dalam dunia kesehatan Indonesia," ucapnya. 

MS Arifin dengan Ramuan Banyu Urip hadir sebagai bukti bahwa pengobatan tradisional tetap relevan di era modern. [Surya]

Membangun Mindset Masyarakat Indonesia tentang Keampuhan Ramuan Tradisional

Therapy Banyu Urip
MS Arifin (3 dari kiri) bersama mitra kerja. [Foto: Surya]

YOGYAKARTA - Di tengah pesatnya perkembangan dunia medis modern, ramuan tradisional Indonesia tetap menjadi warisan berharga yang tidak boleh dilupakan. Kamis (27/3/2025). 

Tidak bijak rasanya kalau warisan pengobatan tradisional dilupakan begitu saja. 

MS Arifin, owner Ramuan Banyu Urip, dengan tegas menyatakan:

"Alam telah menyediakan segalanya. Nenek moyang kita dulu mengobati penyakit dengan ramuan dari alam sekitar, dan itu terbukti efektif."

Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah, dengan ribuan jenis tanaman obat yang telah digunakan turun-temurun. 

Namun, seiring modernisasi, kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional mulai luntur. 

"Penting membangun kembali mindset, bahwa ramuan tradisional bukan sekadar alternatif, melainkan solusi alami yang ampuh dan minim efek samping," tambah MS Arifin ketika dijumpai di kantor Pusat Therapy Banyu Urip Ykgyakarta. 

Sejak zaman dahulu, masyarakat Indonesia telah memanfaatkan bahan-bahan alami.

Seperti jahe, kunyit, temulawak, sambiloto, dan kencur untuk mengobati berbagai macam penyakit. 

Ramuan tersebut tidak hanya bersifat kuratif (menyembuhkan), tapi juga preventif (mencegah).

"Kunyit sebagai antiinflamasi dan penambah imunitas. Daun sirih untuk antiseptik alami. Temulawak untuk meningkatkan nafsu makan dan kesehatan liver," terangnya. 

MS Arifin menegaskan, bahwa banyak penyakit modern sebenarnya bisa dicegah dan diatasi dengan ramuan tradisional jika digunakan secara tepat. [Surya]

# Featured

Buka Puasa Hari ini dalam Ironi

​Menu buka puasa sore ini sungguh luar biasa lezat. Sambal terasi terasa lebih nendang seiring dengan melambungnya harga cabai yang tak ters...