"Sultan Madura" dan Kepedulian yang Semu: Ketika THR Lebaran Tak Cukup untuk Mengentaskan Kemiskinan

Hari raya Idul Fitri 2025

Dimana-mana takbir berkumandang lewat sudut-sudut masjid dan mushola. 

Suasana meriah menghias di setiap desa dan kampung. Suara petasan menambah hingar-bingar Hari Raya Idul Fitri 1446 H. 

Di media sosial, kita sering melihat fenomena para hartawan Madura - yang kerap dijuluki "Sultan Madura" - dengan bangga membagikan angpao, sembako, atau bingkisan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada masyarakat kurang mampu. 

Aksi mereka viral, dipuji, dan dianggap sebagai bukti kedermawanan. 

Tapi, setelah Lebaran 2025 usai, apa yang terjadi? Si miskin tetap sengsara, sementara para miliarder kembali hidup dalam kemewahan.

THR dan Bantuan Sesaat: Hanya Pencitraan?

Tak bisa dipungkiri, bantuan langsung seperti uang atau sembako memang meringankan beban sesaat. Hanya Instan. 

Tapi, apakah ini solusi jangka panjang? Atau justru hanya bentuk "kepedulian semu" yang lebih berfungsi sebagai pencitraan di media sosial?

Faktanya, kemiskinan tidak bisa diatasi sekadar dengan bagi-bagi uang saat Lebaran. 

Yang dibutuhkan adalah pemberdayaan ekonomi, bukan sekadar sedekah yang membuat masyarakat terus bergantung.

Mengapa Tidak Menciptakan Lapangan Kerja?

Para "Sultan Madura" sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk mengubah nasib orang-orang di sekitarnya. 

Daripada hanya memberi THR sekali setahun, mengapa tidak:

1. Membuka lowongan kerja bagi warga sekitar, baik di bisnis properti, perdagangan, atau usaha lainnya.

2. Memberikan pelatihan keterampilan agar masyarakat bisa mandiri secara ekonomi.

3. Membangun usaha kolektif seperti koperasi atau UMKM berbasis lokal.

Dengan cara ini, kesejahteraan tidak hanya dinikmati segelintir orang, tapi bisa dirasakan secara lebih merata.

Keadilan Sosial vs. Kemewahan yang Menyolok

Ironisnya, sementara para hartawan Madura memamerkan kekayaan melalui mobil mewah dan rumah megah, banyak tetangga mereka masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. 

Jika benar mereka peduli, sejatinya ada upaya nyata untuk "mengangkat derajat" orang-orang di sekitarnya, bukan sekadar memberi bantuan yang habis dalam hitungan hari.

Dari Sedekah ke Pemberdayaan

Memberi THR atau bantuan sesaat memang baik, tapi itu bukan solusi. 

Jika para "Sultan Madura" benar-benar ingin dikenang sebagai dermawan sejati, mereka harus beralih dari "kepedulian semu" ke pemberdayaan berkelanjutan.

Kekayaan sejati bukanlah ketika seseorang bisa membagikan uang, tapi ketika ia bisa membuat orang lain mandiri dan sejahtera. [Surya]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cabang Therapy Banyu Urip Pasuruan Layani Pasien Setiap Hari, Sediakan Pengobatan Gratis di Hari Ahad

Sempat Direvitalisasi, Kondisi Sumber Agung Pasongsongan Kembali Memprihatinkan

Hairus Samad Kenang Sosok Ustadz Patmo: Ulama Muda Berpandangan Jauh ke Depan

Lawan Perundungan, Mahasiswa KKN Unija Gelar Sosialisasi Kesehatan Mental di SDN Padangdangan 2

Perjalanan Cinta Akhmad Faruk Mirip Sinetron, Berujung di Pelaminan untuk Kedua Kalinya

Usai Libur Panjang, SDN Padangdangan 2 Giatkan Kembali Program ‘Bersase’

Tantangan Pasca-Revitalisasi: Sampah Musim Hujan Masuk ke Sumber Agung, Kades Pasongsongan Siap Beri Dukungan Lanjutan

Mitos Uang Bernomer 999

Contoh Pidato Singkat untuk Santri: Melukis Hakikat Rindu di Balik Ilmu🎤

Peduli Warisan Desa, Pemuda Pakotan Inisiasi KP3L untuk Revitalisasi Sumber Agung