Harus
hati-hati bagi pengemudi kendaraan bermotor ketika melintas di jalan Lapangan
Sawungggaling Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Persoalannya ada
kabel listrik PLN lepas dari tiangnya hampir menyentuh tanah. Selasa
(23/11/2021).
Pukul
06.00 WIB ketika saya berangkat kerja, melintas di jalan itu, kabel listrik
berisolasi untuk rumah tangga oleh masyarakat sekitar diberi rambu lalu lintas
berupa plastik bungkus pupuk dan tong plastik. Saat pulang kerja (pukul 11. 00
WIB), saya melintas di jalan itu lagi, ternyata kabel PLN masih belum
dinaikkan.
Banyak
pihak berharap kepada PLN supaya dimusim hujan ini lebih tanggap terhadap
laporan masyarakat. Sigap beraction demi keselamatan jiwa manusia.[]
Masyarakat
petani disebagian besar Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep sedang
menjerit kecewa kepada pemerintah. Disaat musim tanam 2021 kali ini mereka
kesulitan mendapatkan pupuk anorganik. Seperti pupuk jenis Urea dan ZA.
Para
petani berupaya keras mencari kebeberapa kios pupuk. Tapi stock tidak ada. Mereka
pun membeli ke daerah lain dengan harga meroket; diatas Harga Eceran Tertinggi
(HET). Sungguh sangat menyedihkan.
Kisah
pilu ini selalu terulang setiap tahun pada musim tanam. Solusi brilian dinas
pemangku kebijakan hanya di atas laporan tertulis. Tidak sesuai fakta di
lapangan.
Semua
orang tahu kalau petani merupakan garda terdepan dari ketahanan pangan suatu
bangsa. Tapi penguasa negeri ini seolah tidak punya atensi terhadap persoalan
pupuk. Atau mereka pura-pura lupa.
Masyarakat
dibanyak pelosok desa berharap pemerintah lebih fokus pada persoalan pupuk. Supaya
kisah sedih tidak terulang lagi di tahun depan. Barangkali jalan keluarnya
dengan membentuk Menteri Pupuk Indonesia.[]
Diatas
kertas dan siaran pers di berbagai media, kebijakan pemerintah selalu pro
rakyat. Pesan moral penguasa terdengar merdu menyejukkan kalbu. Namun
realitanya jauh panggang dari api. Impian tak seindah kenyataan. Ini fakta yang
membuat luka seluruh lapisan masyarakat.
Sikap
pembenaran diri penguasa dengan meng-caunter protes warga acapkali terjadi. Mereka
bermanis-manis muka dengan busana perlente di depan publik. Sikap tidak
bersalah, melindungi kelompoknya, berpihak pada yang berkantong tebal seringkali
mengiringi pengambilan keputusan krusial.
Setiap
pergantian pemimpin baru, penduduk negeri ini mengimpikan suatu perubahan lebih
baik. Mahfum, bumi nusantara yang kita diami kaya akan sumber daya alam. Tapi
masyarakatnya miskin alias tidak sejahtera. Ini jelas menjadi preseden buruk.
Mengikis kepercayaan rakyat terhadap penguasa.
Bukankah
di negeri gemah ripah loh jinawi ini
dihuni banyak negarawan kaliber international: Pakar Ilmu tata negara. Tidak
bisakah mereka membuat pernik-pernik perubahan demi bangsa dan negara yang
sedang “sakit” ini.[]
Selalu,
aku dilibatkan dalam urusan keluarganya. Dari persoalan paling terkecil hingga
permasalahan Istrinya. Aku acapkali tidak enak hati mendengarnya. Memang aku
menjadi pendengar yang baik tatkala dia bercerita. Aku tak pernah mengguruinya.
Bagiku curahan isi hatinya tidak penting karena dia sendiri plintat-plintut.
Disore
berawan dia pamit. Di sedannya penuh kardus, berisi barang-barang pribadinya.
Aku mencegah dia hengkang dari anak-istrinya. Kali ini dia serius, mau pisah.
Kalimatku tak digubrisnya.
Tiga
bulan lebih dia resmi bercerai. Segala kebutuhan anaknya tetap jadi
tanggungannya. Aku yang selalu mengantarkan pemberian dia. Entah kenapa
istrinya juga bercerita apa saja tentang dia. Lagi-lagi aku jadi pendengar setia.
Sampai suatu waktu aku tidur di rumahnya karena dia sakit. Janda muda itu
memintaku untuk merawatnya.[]