Postingan

BPNT Desa Pasongsongan Cair Tiga Bulan

Gambar
Hanira, pemilik Agen Salera di Dusun Morasen Desa/Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. (Foto: Yant Kaiy) Sumenep – Tidak hanya masyarakat penerima manfaat BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai), aparatur Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep juga sangat gembira demi mengetahui kalau BPNT kali ini cair tiga bulan.   “Sebagai pemilik Agen Salera,   saya juga merasa pantas bersyukur. Karena masyarakat Desa Pasongsongan yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan, saat ini masih belum musim ikan. Jadi mereka benar-benar dalam kondisi serba kekurangan. Ditambah lagi pekan depan warga masyarakat akan merayakan Lebaran Idul Adha,” ujar Hanira di tengah-tengah melayani warga masyarakat penerima manfaat BPNT. Ahad (11/7/2021).   Wanita berkacamata ini menambahkan, dimasa pandemi Covid-19 kali ini dirinya juga sangat bangga terhadap mereka yang taat Prokes (Protokol Kesehatan).   “Dalam mencegah kerumunan, kami tetap menjadwal waktu penerima manfaat sedemikian...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (36)

Gambar
Karya: Yant Kaiy Meroko k dalam S unyi halimun acapkali mengembarakan ilusi mengurung asa di bilik bambu sempit me mbawa gairah hidup lebih jauh terkulai, tumpah emosi meniti wajah malam ke s unyian mendera tanpa i ba pada gelap kusulut sebatang r o kok di pengembaraan jiwa   berkobarlah insp i rasi mene n tang dingin s uasana kutak b erkutik diantara gersang puisi terbakar bulu - bulu jati diri di lumpur tak bertepi memandang sekitar menelanjangi susut amarah bintang pun be rkidung menyusuri tebing jiwa menara kebebasanku gemakan nuraní cucurkan luka begitu lamban jalan menuju puncak sukses   kubuang jauh segala nista kendati meronta diantara tangis melebar m alam dala m gengga m an mimpi asap nikotin terus menembus resah kuberanjak me mahat lorong gulita mengaburkan tatapan semua mata insan tak peduli hati atas derita mendera tiap detak jantung mengalir ai r mata tak darah polusi diri mencengkeram benak tak t...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (35)

Gambar
Karya: Yant Kaiy Elegi P erjuangan ikhtiar s elamanya harus ada di muka bumi fana in i berlo mba menggunduli keserakahan m embacok hati deraslah impian me nelanjangi segalanya dendangkan kemarahan meletup sekuat ot ot m eletus kebencian melanda hidup tak sejahtera penderitaan mendera tanpa sisa lagi   s atu demi satu menghembuskan napasnya ke matian akibat kecongkakan kekuasaan suas ana mengena s kan dari kaum pinggiran sketsa hidup nyata di pelosok kampung   seolah percuma memohon doa l inangkan air mata jatuh berceceran disepanjang jalan tak beraspal, berdebu… keinsyafannya jauh terbang tanpa nakhoda di riak matanya hanya ada makan -minum dan seteru s nya harus kenyang   m ulutnya seperti harimau s ikapnya malu - malu kucing berteriak - teriak di persi m pangan jalan bahwa dirinyalah paling bijaksana diantara seluruh pemimpin alam semesta k emudian meletakkan poster - poster besar tentang kemurahan hatinya...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (34)

Gambar
Karya: Yant Kaiy Setetes Kebencian di Gunung Keresahan h ati mulai tak peduli ikhtiarku bukan lagi bermakna perjuangan pengorbanan begitu panjang tertulis bergunun g prasangka diakhir cerita deras, membanjiri ladang k u kutakkuasa bertahan di muara adab menentang beragam keserakahan menyiksa raga tanpa iba   keresahan pekat warnanya kuterdep a k menyesali ulah angkara murka yang melekat di batok kepala batunya hanyalah penyesalan menggantung di dada punah kesabaran mengeram tererosi benci   semua emosi tercurah terbelenggu petir kekuasaan kubasuh peluh dengan sapu tangan berkolam - kolam ai r mata senantiasa berkobar api kebencian terjungkal tubuh tak berdosa di lembah lu m pur duka tak berpantai   adalah kenistaan menyiksa sesama walau T uhan pasti mendengar segala keresahan umat manusia hanya keimanan melumuri hati orang-orang mulia   aku percaya T uhan me lihat semua tindak - tanduk ins...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (33)

Gambar
Karya: Yant Kaiy Naluri Seorang Senima n t ak jera meski beribu hinaan mengancam r a ga berpeluh perjuang a n mati - matian membela h mega berarak terna tal suatu harapan dan impian m enangki s fitnah dan cemooh men yimbol kan kehinaan mengalirkan sampah busuk di tiap sudut hati   kotor kata - kata nya melemparkan a ku ke jurang nista sebuah dunia begi tu a s ing di tanah kelahiran ti nggallah kesend iri an bertemankan kesunyian meng guli ta kutegarkan sejuta goncangan m enanti kepastian naluriku sahih menyusun beraneka tamparan yang hadir terpotret oleh bola mata segumpal rahasia bebatuan terjebak kebencian, kulukis lewat ber aneka himpitan melantunkan nyanyian diri tentang penyiksaan bergema naluri ke pelosok hutan menghijau g ugur jua dedaunan itu, terkulai tanpa makna sekerat pun hanyalah nasib menggantung yang k i an labil saja menggelinding kemiskinanku menguasai jilatan mata api hancur - leburlah kebulatan as a dari sekia...

Realita Covid-19

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Vaksin Covid-19 menjadi momok sebagian besar masyarakat di pedesaan. Selentingan kisah sedih tanpa data mencuat seiring realita di tingkat akar rumput. Tidak heran kalau akhirnya beberapa individu mencari penangkalnya supaya vaksin tidak bereaksi. Sebut saja air kelapa dan susu kaleng yang laris manis di pasaran.   Dari banyak cerita pilu itu terpublikasi via sosial media, sebagian terdapat fragmen janggal; bertolak belakang dengan data dan fakta. Rakyat pun hanya bisa bersuara di dunia maya. Aspirasi mereka bagai berada di ruang hampa.   Dari kalangan medis dan lembaga pemerintah selama ini tetap bergeming melihat realita tersebut. Mereka tetap melaksanakan tugas sesuai aturan yang berlaku. Tak ada nilai tawar lagi.   Bagi pemerintah, Protokol Kesehatan (Prokes) yang dilanjutkan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) menjadi solusi efektif menanggulangi kian melonjaknya angka kematian akibat Covid-19.   Pro-kontra p...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (32)

Gambar
Karya: Yant Kaiy M enyapu Pagi pag i berkabut adalah aku m enyapu halaman penuh keasrian sinarkan kepastian dari kebi m bangan rindang menyejukkan jiwa terluka   pagi berkabut adalah aku yang menetaskan gairah hidup m enuntun halusinasi berkaribkan suara - suara ala m kurenggangkan kebencian menyala tiada henti sebait kidung tentang elegi hati me rawat gamang langkah tuju sukses tersusun dalam pikiran seonggok masalah mengombang - ambing jiwa merana karena cinta sepenuhnya berserah diri setelah ikhtiar ku lawan segala bentuk keserakahan mereka mungkin tidurku yang bertemankan mi m pi itu?   terhalang jaring - jaring penghasut m enjerumus kan diri ke lembah nista mengundang aubade sengketa dan petaka dunia memang pagi tak berhenti mengalirkan keceriaan kadang memuai harapan untuk berubah k utenangkan jalan darah membasahi rump ut halaman terciptalah nuansa harapan jelang masa depan membasuh peluh-peluh bumiku nan ...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (31)

Gambar
Karya: Yant Kaiy Diam Bukan Berarti Kalah merenun g bagian kebebasanku menyele s aikan problem a adalah kebodohan merend a hkan martabat se seorang k utentang beragam kesombongan menampar w ajah l umuri debu-debu kepedihan pada kedia m anku s eribu kegulauan menyik s a alam pikiran k ususun lukisan dir i m enanti arti kekalahan yang menghilan g dalam g eng g a m an minggu lalu   ganjal an hidup selalu menyertai langkah kaki sandiwara di ala m fana berselimut kemunafikan kugali wajah senja m erona bermega riang terpatri menyembul dari gunung ilusi terdiam merajut mi m pi merajuk diantara genting ke bebasan diri sekali lagi kutu m pahkan bait-bait penyesalan terus mengalirkan halusinasi, lepaslah diamku saat itu mengundang kesunyian menusuk angan mengembara tak tentu rimba kudapat menemukan pula kehangatan tempat saunaku menelanjangi kegamangan m enggempur jiwa tanpa ampun   kuimla jejak terlewati atas langkah kepa s tian ter...

Hari-hari Kematian di Pasongsongan

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Awal Juni 2021 saat ini, di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep setiap hari selalu ada orang meninggal dunia. Pengeras suara dibeberapa masjid acapkali menyiarkan pengumuman kematian. Diawali kalimat “innalillahi wainnailaihi rojiun” yang diteruskan penyebutan nama dan tempat tinggalnya.   Masyarakat pun terus berdamai menghadiri acara pemakaman dan tahlil di rumah duka. Tradisi Islami tersebut begitu terawat baik. Mereka meluangkan waktu sebagai tanda penghormatan terakhir bagi si mayat.   Beberapa tokoh berpengaruh setempat menilai, bahwa hari-hari kematian di wilayah Pasongsongan dilatarbelakangi oleh perubahan ekstrem suhu udara. Memang di daerah penghasil ‘petis pancitan’ ini dan sekitarnya seringkali turun hujan. Jika siang kadang panas menyengat dan pada malam hari suasana amat dingin. Otomatis kondisi tubuh seseorang yang tidak prima mudah terserang penyakit.   Plus mental masyarakat belakangan ini rawan down, ketar-ke...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (30)

Gambar
Karya: Yant Kaiy L autan Pui s i tiap detak jantung mengalir pui s i menu m puk diantara kian tersik s anya raga keberada a n diri s erba pas - pasan berbunga duka se kerat derita bermandikan air mata darah   sampanku diombang-ambingkan puisi menghalau tenggelam kosa kata s epotong rembulan menghias langit mengkristal di lautan angan layar pun mengumpulkan angin dingin mendorong bahtera riak mimpi memainkan bendera di atas tiang ikan - ikanku adalah lukisan nelayan ulung entah akan menepi dimana diri ini nanti atau esok masih belum pasti ?   aku terus terbuai angin melelapkan impian b e rbantalkan keteguhan, ketabahan, kesabaran … dan entah apa lagi bintang bertaburan merupakan kisah seniman tertelan mega - mega penghabus panorama ket id akmengertianku lahir dar i hak i kat ikhtiar berteriak tanpa suara, jauh dari kebisingan   di sinikah aku akan menyele s aikan , bidang penderitaan selamanya? hi dup terasing, ...

Antologi Puisi Fragmen Nasib (29)

Gambar
Karya: Yant Kaiy Senja Teduh keperkasaan senja ditunjukkannya padaku di ufuk barat menjingga nasibku seorang diri menggantung tanpa selera, resahlah… berbaring tanpa kemampuan menantang kodrat membuiku serentang kebebasan bernyanyi riang   keramahan senja serta kelembutannya mengingatkanku pada masa kanak-kanak yang dipikirkan makan setelah bermain tak pernah terbayangkan masa depan gemilang lepas bebas melayang dengan satu arah   mengembara sesuka raga diantara tawa sampai senja merebahkan tubuhku bergelimangkan keletihan menggempur segala penjuru nostalgia masa lalu menggeliat di perjalananku merenda mimpi jadi kaya, damba tiap insan apa memang begitu semua hidup manusia kini?   kududukkan segala perkara merawat keping senja di bumiku kepasrahan menggalau seketika itu mencambuki amarah lepas dari kandangnya langkah tertatih kuteruskan juga acapkali membeku kepastianku   ada bias-bias kebanggaan ternatal me...