Postingan

Memanfaatkan Lapangan Sawunggaling untuk BUMDes Pasongsongan

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Dulu Lapangan Sawunggaling Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep dijadikan tempat penyelenggaraan karapan sapi dan bermain sepak bola. Tapi sekarang lapangan sepak bola sudah dibangun menempati sisi selatan. Sedangkan sisi utara dibiarkan begitu saja.   Ternatal pemikiran dari beberapa individu yang menamakan dirinya sebagai pemerhati kebijakan publik, sejatinya Lapangan Sawunggaling dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh Kepala Desa Pasongsongan untuk mendatangkan pundi-pundi keuntungan. Misalnya dibangun sebuah pasar tradisional.   Sebagian besar dari mereka mempunyai perspektif logis lantaran diantara mereka dari kalangan terpelajar. Ada dua keuntungan bagi Desa Pasongsongan kalau di eks-lapangan karapan sapi dibangun pasar tradisional.   Pertama, BUMDes Pasongsongan akan kecipratan dana segar dari karcis pasar dan sewa lokasi. Secara otomatis pembangunan sarana dan prasarana di bumi Syekh Ali Akbar ini akan lebih baik lagi. Ka...

Melirik Pasar Tradisional Desa Pasongsongan

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Setiap Selasa dan Sabtu merupakan hari pasaran di Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Orang-orang dari segala penjuru desa datang melakukan transaksi jual-beli di desa ujung barat-utara Kota Keris.   Perlu diketahui, pasar di Pasongsongan ada empat titik, yakni Pasar Pasongsongan yang terletak di Desa Panaongan, pasar tumpah berada di depan Kantor Kecamatan Pasongsongan, pasar ikan (Pasar Pao) berlokasi di simpang tiga Jalan Kiai Abubakar Sidik, dan pasar tumpah di areal Kampung Peranakan China.   Ditelisik dari ramainya hari pasaran di Pasongsongan, kiranya perlu pihak-pihak terkait atau mereka yang cinta akan daerah penghasil ikan terbesar di Madura ini, melakukan ikhtiar pengembangan pasar lagi. Kita tahu, ketiga pasar tradisional (selain Pasar Pasongsongan) menempati pinggir jalan raya, sehingga berpotensi terjadinya kemacetan dan kecelakaan lalu lintas (Lakalantas).   Ada beberapa tokoh masyarakat Desa Pasong...

Keberadaan Pantai Desa Panaongan Kini

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Tepat di sebelah utara jalan SMPN 1 Pasongsongan dulu terdapat bukit pasir. Bahkan di sisi barat jembatan Panaongan pasir meluber sampai di pinggir jalan raya. Bukit pasir Panaongan memanjang dari jembatan ke arah barat hingga Astah Buju’ Panaongan. Sementara jarak dari jalan raya ke pantai sekitar 500 meter.   Ketika 1980-an, saya sering ke tempat tersebut mengambil pakan kambing. Karena di situ ada tumbuhan mirip mie keriting menjalar ke semak berduri. Kambing saya suka makan tumbuhan tersebut.   Acapkali pula saya bersama teman bermain ke bukit pasir Panaongan sembari berlari pagi di pantai. Atau setiap tahun pada tanggal 15 Sya’ban saya ramai-ramai ke tempat itu. Salah satu diantara kami ada yang membawa makanan. Menikmati suasana alam malam hari dibawah terpaan sinar bulan purnama.   Semua kenangan manis itu kini tinggal cerita. Bukit pasir sudah tidak ada. Di bibir pantai Panaongan hanya ada batu karang menghampar luas. Air laut pu...

Belenggu Protokol Kesehatan di Madura

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Ada filosofi orang Sumenep berbunyi: Je’ nobi’an oreng mon ethobi’ sake’. Terjemahan bebasnya begini: Jangan suka mencubit orang lain, jika dirinya merasa sakit kalau dicubit.   Filosofi ini memberikan pendidikan moral cukup dalam kendati terdengar sederhana. Acapkali perilaku kita alpa, terbuai sukses dunia. Menanggalkan perilaku luhur sebagai manusia seutuhnya. Sehingga yang tersisa bahasa pintar namun gombal. Kalimat puitis mengelabui banyak umat.   Protokol Kesehatan (Prokes) yang katanya untuk menekan kian melebarnya pandemi Covid-19 di tanah air, ternyata membuat sebagian besar rakyat kian sengsara. Suka tidak suka, realita itu terjadi di sudut-sudut desa. Sistem penyekatan di beberapa wilayah Pulau Garam Madura (Juni 2021) semakin memperburuk penderitaan warga masyarakat.   Memang tujuan pemerintah baik. Menyelamatkan warganya dari paparan Covid-19. Tapi itu argumen sepihak dari pemerintah. Mass media berjamaah menyuarakan aspiras...

Mendesak: Pasongsongan Butuh Pengolahan Ikan

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Sistem upah bagi hasil antara nelayan dan juragan perahu tidak tegak lurus dengan ikhtiar kerja mereka. Ketimpangan sosial itu tetap tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Para nelayan di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep tak berkutik terhadap aturan usang itu. Mereka membutuhkan kerja kendati nyawa jadi taruhannya.   Harga jual ikan yang tak stabil di Pelabuhan Pasongsongan juga kian memperparah kehidupan para nelayan. Semua bergantung situasi. Tatkala hasil tangkap ikan melimpah,   biasanya harga ikan murah. Begitu pula sebaliknya.   Saya mencoba melempar pokok gagasan kepada beberapa teman nelayan Pasongsongan di sebuah warung kopi Pasar Pao. Rabu malam (16/6/2021). Mereka pun saling melontarkan argumennya.   Sebagian besar dari mereka ternyata sependapat akan ide pemikiran saya. Bahwa di Desa Pasongsongan sangat membutuhkan pabrik pengolahan ikan. Otomatis harga ikan berlaku adil.   Salah satu syaratnya, pabri...

Mencari Dewa Penyelamat Nelayan Pasongsongan

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Stabilitas harga ikan di Pelabuhan Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep merupakan dambaan para nelayan. Hal ini erat kaitannya dengan persoalan kesejahteraan. Karena nelayan pendapatannya tidak menentu.   Sistem upah bagi hasil dan permainan harga ikan oleh pedagang menjadi faktor signifikan tersudutnya nelayan ke lembah ketidakadilan.   Satu contoh upah bagi hasil yang berlaku di Pasongsongan. Bila perahu memperoleh hasil satu juta rupiah. Separuh untuk juragan dan separuhnya lagi dibagi pada para nelayan. Letak tidak adilnya, hasil bagi dua buat nelayan itu masih dipotong bahan bakar perahu dan keperluan lainnya dalam melaut. Plus perahu, mesin dan alat tangkap ikan juga memperoleh bagian dari uang para nelayan.   Menurut para tokoh masyarakat nelayan Desa Pasongsongan, sistem bagi hasil ini sudah sejak dulu berlaku. Sepertinya sulit untuk dirubah.   Sedangkan permainan harga ikan, yakni dilakukan oleh juragan...

Menelanjangi Harga Ikan di Pasongsongan

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep menjadi tulang punggung penghasil ikan melimpah di wilayah Madura. Ikan hasil tangkap nelayan acapkali dijual ke daerah lain ketika terjadi lonjakan produksi. Ketimpangan persoalan harga murah di Pelabuhan Pasongsongan menjadikan juragan perahu melemparnya ke Pulau Jawa.   Kebanyakan di Pasongsongan juragan perahu merangkap jadi pedagang ikan. Mereka semaunya menetapkan harga. Karena pedagang ikan bisa menebak berat satu keranjang ikan. Sedang harga jenis ikan tertentu per satu kilogram di pabrik mereka mengantongi datanya.   Sudah barang tentu mereka akan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dengan menjual hasil ikan ke pabrik atau pasar diluar Pasongsongan.   Selama ini tidak ada proteksi bagi para nelayan tentang persoalan harga. Ini jelas tidak adil. Nelayan berada di garda terdepan bertaruh nyawa di tengah laut, namun yang menikmati keuntungan sebesar-besarnya pemilik perahu.   ...

Melirik Pasar Pasongsongan Saat Ini

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Pasar Pasongsongan berada di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep. Kira-kira dua ratus meter ke timur dari Sungai Angsana.   Di era 1980-an pasar ini cukup ramai dengan para pembeli. Mereka datang dari desa-desa sisi selatan wilayah Kecamatan Pasongsongan. Biasanya para pedagang pulang sampai sore hari. Jadi ada durasi waktu lebih panjang terjadi transaksi jual-beli. Peluang barang dagangan laku tentu lebih banyak.   Dulu diawal berdiri, pedagang ternak (sapi, kambing dan ayam) di pasar ini sempat ada. Tapi saat ini, mayoritas pedagang di Pasar Pasongsongan berjualan barang sandang. Sedang pedagang ternak ada diluar pasar, itu pun hanya ayam.   Seiring perkembangan era digital, adanya jual-beli online, omzet pedagang di Pasar Pasongsongan pun turun drastis. Mereka banyak mengeluh. Karena pendapatan tidak tegak-lurus dengan kerja bongkar-muat barang dagangan.   Kedepan diharapkan para pedagang pasar tradisional mulai ber...

Menelisik Pemberhentian Perangkat Desa

Gambar
Catatan: Yant Kaiy Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) serentak Sumenep 2021 direncanakan pada Juli ini. Ketar-ketir mewarnai sebagian besar para aparatur desa. Lantaran keputusan dirinya tetap menjabat atau tidak bergantung dari kepala desa terpilih. Mujur kalau calon kepala desa incumbent menang, kalau tidak, bisa jadi dirinya terdepak.   Pertaruhan ini menjadi garis utama langkah politik bagi seorang aparatur desa. Suka tidak suka, ia tidak bisa lagi bersikap seperti bunglon. Kalau tidak dirinya akan terelimniasi dari bursa perangkat desa.   Kalau petahana kembali menang dalam kompetisi Pilkades, aparatur desa mungkin tidak akan berganti pada orang lain. Asal dirinya mendukung penuh pra putaran Pilkades. Sebaliknya, kalau cakades (calon kepala desa) pendatang baru yang menang. Tentu dirinya tidak bisa lagi hadir di Kantor Desa.   Ada desas-desus berhembus, bahwa seorang kepala desa tidak bisa seenak perutnya main pecat perangkat desa sebelumnya. Tapi seora...

Mengenal Therapy Gondo Topo Bondowoso

Gambar
Tampak Supriyadi menangangi pasien anak kecil dari luar kota. (Foto: Yant Kaiy) Bondowoso – Selain mengobati berbagai macam penyakit berat dan ringan untuk pasien dewasa, Therapy Gondo Topo juga menerima pasien anak kecil. Setiap hari Therapy Gondo Topo yang berlokasi di Desa Mengok RT.04/RW.01 Pujer-Bondowoso ini ramai dengan pasien.   “Ditempat kami anak kecil mendapat perlakuan khusus. Selain pijat syaraf dengan menggunakan ramuan yang dioleskan ke tubuh, pasien anak kecil juga saya berikan seduhan jamu. Ini berkhasiat untuk semakin menyembuhkan penyakitnya,” terang Supriyadi pemilik Therapy Gondo Topo. Ahad (13/6/2021).   Lelaki asli Bondowoso ini menambahkan, awalnya pasien anak kecil datang dari daerah sekitar tempat tinggalnya. Tapi sekarang mulai banyak yang dari luar kota.   “Bagi pasien dari luar kota, kami mempersilakan mereka untuk mengaso dulu sebelum diterapi. Ini berguna meningkatkan daya kesembuhan bagi pasien lebih baik lagi,” ujarnya. (Ya...

Ajakan Ketua Lesbumi MWC NU Pasongsongan

Gambar
Akhmad Jasimul Ahyak (kiri) sedang menyampaikan harapannya. (Foto: Yant Kaiy) Sumenep – Ketua Lesbumi Pasongsongan, Akhmad Jasimul Ahyak dalam kata sambutannya di forum Membangun Literasi IPNU dan IPPNU, mengajak kepada semua pihak untuk bisa memanfaatkan website milik NU sebaik mungkin.   “Mengasah kemampuan menulis apa saja   di website kami merupakan satu langkah maju dalam berproses kreatif. Kami sangat berharap kelak akan lahir penulis-penulis handal sekaliber Abdul Hadi WM. Saya percaya kalau suatu saat nanti akan lahir lebih banyak lagi penulis pemula di Pasongsongan,” terang Akhmad Jasimul Ahyak pada apoymadura.com. Jumat (11/62021).   Bertempat di Kantor MWC NU Pasongsongan, forum menyepakati kalau   masing-masing personal dari IPNU dan IPPNU setengah diwajibkan mengirimkan satu karyanya. Tujuannya supaya ada nuansa perubahan dalam hal berkarya, kian hari bertambah lebih baik. (Yant Kaiy)