Ketulusan Anak-Anak Pasongsongan di Tengah Riuhnya Negeri

Bikin Haru! Potret Semangat Lomba Mewarnai & Melukis di Pasongsongan


Suasana di MI Annajah, Desa Pasongsongan, pada Jumat (7/8/2026) terasa agak berbeda dari tahun sebelumnya. 

Deretan bangku dan lantai yang biasanya dipenuhi riuh tawa dan sesak peserta lomba HUT Kemerdekaan RI, hari itu tampak lebih renggang. 

Tahun ini, dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81 se-Kecamatan Pasongsongan, jangkauan perlombaan digelar cukup beragam: lomba kolase dan mewarnai untuk tingkat TK/RA, serta lomba melukis untuk siswa SD/MI hingga SMP/MTs. 

Namun secara kasat mata, jumlah pendaftar mengalami penurunan yang cukup terasa jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Saya sebagai salah satu bagian dari dewan juri yang mengamati langsung dari dekat, ada rasa getir sekaligus haru yang membuncah. 

Di satu sisi, penurunan partisipasi ini tentu menjadi catatan dan bahan evaluasi bersama bagi para penyelenggara maupun penggiat pendidikan di wilayah Pasongsongan. 

Salah satu faktor yang membuat antusiasme sekolah berkurang mengirimkan utusannya karena terlalu pendek waktu yang tersedia, sehingga pengumuman lomba tidak menyebar luas. 

Namun di sisi lain, tatkala mata ini menatap satu per satu jemari kecil yang sibuk menempelkan kertas kolase, menggoreskan krayon, dan memadukan warna di atas kertas gambar, rasa prihatin itu seketika luluh. 

Jumlah peserta boleh saja menyusut, tapi kadar semangat dan ketulusan yang terpancar dari wajah-wajah mungil itu sama sekali tidak berkurang.

Melihat cara mereka berjuang menyelesaikan karya hingga goresan terakhir sungguh menyentuh hati. 

Ada ketekunan yang jujur, ada kepolosan yang murni, dan yang paling utama: ada rasa cinta tanah air yang diwujudkan tanpa banyak retorika. 

Mereka tidak peduli bahwa hadiah yang diperebutkan mungkin nilainya sangat sederhana, sekadar simbolis yang kalau dihitung secara materi mungkin seharga "kacang goreng". 

Bagi mereka, panggung kecil di MI Annajah hari itu adalah tempat terbaik untuk mempersembahkan karya bagi republik.

Pemandangan ini terasa kian kontras jika kita menarik garis ke skala yang lebih luas. 

Di luar sana, kita disuguhkan oleh dinamika dan situasi politik nasional yang sedang tidak baik-baik saja. 

Berita penuh dengan kalkulasi kepentingan, perebutan kekuasaan, dan kegaduhan para elite yang kerap menguras energi bangsa.

Tapi di sudut Kecamatan Pasongsongan, anak-anak TK hingga SMP ini memberikan kita pelajaran berharga tentang arti nasionalisme yang sebenarnya. 

Cinta negeri bagi mereka bukanlah soal kalkulasi untung-rugi atau seberapa besar piala dan hadiah yang dibawa pulang. 

Cinta negeri adalah hadir dengan penuh sukacita, mewarnai gambar bendera dengan warna merah-putih yang paling menyala, dan bangga jadi bagian dari Indonesia.

Lomba di MI Annajah mungkin telah usai dan piala telah dibagikan. 

Tapi, senyum tulus serta kesungguhan para peserta hari itu meninggalkan pesan mendalam bagi kita yang dewasa: bahwa di tengah riuhnya politik dan ketidakpastian zaman, harapan bangsa ini sejatinya masih menyala terang pada ketulusan anak-anak kita di daerah. 

Tugas kitalah untuk menjaga agar nyala itu tidak padam. [Kaiy]

Postingan populer dari blog ini

SDN Dungkek I Kembali Pertahankan Juara Umum, Borong 21 Piala di Semarak HUT ke-81 RI

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Pisang Sebagai Pakan Ayam: Manfaat dan Cara Pengolahannya