Menjaga Bahasa Ibu Lewat Dongeng Perang Udara Joko Tole
Di tengah derasnya arus informasi digital, tradisi berdiskusi jadi ruang yang kian berharga.
Ketika masyarakat lebih akrab dengan tayangan singkat di media sosial.
Ada suasana tersendiri saat menghadiri diskusi rutin mingguan di Gedung MWC NU Pasongsongan, Sumenep.
Selasa malam, 21 Juli 2026, jadi momen yang amat berkesan bagi saya.
Bukan sekadar jadi bagian dari lingkaran diskusi yang selalu hangat, malam itu saya mendapat kehormatan untuk berdiri di depan kawan-kawan sebagai narasumber.
Membawa sebuah karya sastra fabel dan tutur berbahasa Madura: dongeng Joko Tole Aperrang Kalaban Dempo Abang.
Diskusi pekanan di MWC NU Pasongsongan, selama ini selalu jadi ruang yang hidup untuk menukar gagasan, merawat ingatan kolektif, dan membumikan isu-isu keumatan serta kebudayaan.
Tapi, mengangkat sastra tutur Madura dalam majelis tersebut memberikan nuansa unik—sebuah perjumpaan antara tradisi lokal, nilai spiritual, dan imajinasi kolektif kita sebagai warga Madura.
Imajinasi di Balik Pertarungan Udara Joko Tole
Dongeng Joko Tole Aperrang Kalaban Dempo Abang secara khusus membedah salah satu fragmen paling ikonik dalam mitologi Madura, yaitu kisah ketangguhan Sang Pahlawan, Joko Tole.
Dalam dongeng ini, cerita berfokus pada pertempuran sengit di angkasa antara Joko Tole dan musuhnya, Dempo Abang.
Imajinasi visual dalam kisah ini sangat kaya: Dempo Abang mengendarai perahu ajaib yang mampu membumbung dan melaju cepat di atas awan.
Joko Tole menunggangi kuda terbang legendarisnya, Mega Remmeng, membelah langit untuk mempertahankan harga diri dan tanah kelahirannya.
Pertempuran udara ini bukan sekadar aksi fantasi atau hiburan pengantar tidur.
Dalam diskusi malam itu, kami bedah bersama bahwa pertarungan di atas udara melambangkan pertarungan gagasan, martabat, dan keteguhan prinsip.
Joko Tole yang menunggangi Mega Remmeng—yang secara harfiah merujuk pada 'awan gelap/mendung'—menjadi simbol kerendahan hati namun menyimpan kekuatan besar saat menahan ancaman.
Mengapa Harus Berbahasa Madura?
Pertanyaan menarik muncul dalam diskusi: mengapa sastra dongeng seperti ini penting terus ditulis dan dituturkan dalam bahasa Madura?
Jawabannya sederhana namun mendasar, bahwa bahasa daerah adalah rumah bagi identitas kita.
Di tengah gempuran arus digitalisasi yang masif, cerita-cerita rakyat dan dongeng berbahasa ibu mulai kehilangan tempat di hati generasi muda.
Ketika kita menuturkan Joko Tole Kalaban Dempo Abang dalam bahasa Madura, kita tidak hanya menyelamatkan cerita Joko Tole dari kepunahan, tapi juga merawat kosa kata, intonasi, dan rasa bahasa (rasa bhasa) yang tidak bisa digantikan bahasa lain.
Ruang seperti MWC NU Pasongsongan memegang peranan krusial di sini.
Lembaga keagamaan dan kemasyarakatan tidak hanya bertugas membimbing spiritualitas umat, tapi juga jadi benteng kebudayaan.
Tradisi diskusi Selasa malam ini membuktikan bahwa NU dan kebudayaan lokal adalah dua hal yang tak terpisahkan—saling menguatkan dan saling menghidupi.
Menjaga Api Literasi Lokal
Malam itu, di bawah temaram lampu Gedung MWC NU Pasongsongan, saya melihat optimisme.
Antusiasme peserta yang hadir—baik dari kalangan muda hingga tokoh senior—dalam membedah karakter Joko Tole dan simbolisme di balik pertarungannya memberikan pesan kuat: literasi lokal kita masih bernapas lega.
Dongeng bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan cermin untuk masa kini dan pijakan menuju masa depan.
Semoga kisah keberanian Joko Tole di atas Mega Remmeng terus menginspirasi kita untuk tidak ragu terbang tinggi menjaga warisan leluhur dan merawat bahasa ibu di tanah Madura. [Kaiy]
