Jejak Sejarah Pasongsongan & Simfoni Toleransi Yamaro Sitompul

Musik seringkali jadi mesin waktu yang paling jujur di antara beragam kesenian. 

Lewat kolaborasi saya bersama musisi berdarah Batak, Yamaro Sitompul, lahir sebuah karya berjudul "Pelabuhan Pasongsongan". 

Lagu ini bukan sekadar deretan nada, melainkan sebuah upaya untuk memotret kembali kejayaan sebuah bandar tua di pesisir utara Madura yang telah jadi saksi bisu pertukaran peradaban sejak berabad-abad silam.

Pasongsongan dalam Lintasan Sejarah
Jauh sebelum kita mengenal batas-batas modern, Pasongsongan sudah jadi magnet bagi dunia internasional. 

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-14 Masehi, pelabuhan ini telah menjelma jadi titik temu yang sangat sibuk bagi para saudagar dari Arab dan Cina. 

Di sinilah transaksi perdagangan global terjadi, berdampingan dengan misi mulia penyebaran agama Islam di nusantara.

Pada masa itu, Pasongsongan bukanlah wilayah tak bertuan. Sistem pemerintahan yang tertata sudah berdiri kokoh di bawah kekuasaan seorang Adipati. 

Hal ini membuktikan bahwa wilayah ini merupakan pusat ekonomi dan politik yang signifikan di Madura pada masanya. 

Romantisme sejarah inilah yang ingin kami abadikan dalam sebuah karya musik.

Kolaborasi Lintas Batas: Batak, Madura, dan Nafas Islami
Lahirnya lagu "Pelabuhan Pasongsongan" sendiri merupakan wujud dari toleransi yang nyata. 

Saya sebagai seorang putra Madura yang beragama Islam, bersahabat akrab dengan Yamaro Sitompul, seorang penyanyi gereja yang telah melahirkan ratusan lagu. 

Kedekatan kami bahkan membawa saya tinggal selama tiga bulan di kediamannya di Perumahan Taman Wisma Asri, Bekasi, pada 1999 silam.

Yamaro adalah pribadi yang sangat terbuka. Ia tidak hanya membantu saya menggubah lagu tentang kejayaan Pasongsongan, tapi juga menunjukkan keterbukaan spiritual yang luar biasa. 

Selain lagu "Tuhan Kita" dan "Syukur", ia bahkan menciptakan lagu bernafaskan Islami berjudul "Salam Silaturohmi" yang bekerja sama dengan sebuah pondok pesantren. 

Menariknya, menurut pengakuan Yamaro, inspirasi lagu tersebut ia dapatkan saat berada di Makam Soekarno, Blitar.

Menghidupkan Kembali Marwah Pasongsongan
Melalui kolaborasi ini, kami ingin menyampaikan bahwa sejarah besar Pasongsongan harus terus digaungkan.

Jika dahulu para saudagar Arab dan Cina bisa bersinggungan secara damai di pelabuhan tersebut, maka persahabatan saya yang berdarah Madura dengan Yamaro yang berdarah Batak adalah kelanjutan dari semangat "pertemuan budaya" tersebut.

Lagu "Pelabuhan Pasongsongan" adalah sebuah undangan bagi generasi muda untuk menengok kembali ke belakang. 

Bahwa di pesisir utara ini, pernah ada sistem pemerintahan yang kuat dan perdagangan yang maju. 

Dengan merawat ingatan sejarah melalui musik, kita tidak hanya menghargai leluhur, tetapi juga memperkokoh fondasi kebangsaan yang berdiri di atas keberagaman dan toleransi yang tulus. [Kaiy]

Postingan populer dari blog ini

Peringatan Hardiknas 2026 di SDN Panaongan 3: Apresiasi Tulus untuk Guru Ngaji

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura PAS Kelas IV SD