Memutar Ulang Waktu di Pasongsongan: Secangkir Kopi Nostalgia Bersama Aji Lahaji
Pada medio Maret 2026 yang lalu membawa angin yang berbeda di kediaman saya di Pasongsongan, Sumenep.
Di pertengahan bulan itu, sebuah ketukan di pintu menjelma jadi mesin waktu yang melemparkan ingatan saya jauh ke belakang, tepatnya 28 tahun yang lalu.
Tamu yang datang bukanlah orang asing, melainkan Aji Lahaji—seorang kawan lama, musisi, dan kini seorang pendakwah—yang datang beranjangsana bersama seorang rekannya.
Melihat sosoknya yang kini lebih sering menghabiskan waktu di Jakarta, ingatan saya langsung melayang ke tahun 1998.
Sebuah tahun yang riuh, penuh gejolak, dan menjadi saksi awal mula persahabatan kami di sebuah sudut ibu kota: Gang Siaga, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Gang Siaga 1998: Ruang Mimpi Anak Muda
Pada tahun 1998, Gang Siaga adalah saksi bisu dari pergulatan hidup kami sebagai anak muda yang sedang menjemput takdir.
Saat itu, Aji adalah seorang pemuda kelahiran Sumenep yang sedang berjuang meniti karier sebagai biduan spesialis dangdut.
Suaranya yang khas dan cengkoknya yang matang adalah modal utamanya menembus kerasnya industri musik ibu kota.
Sementara Aji bergulat dengan mikrofon dan panggung, saya sendiri sedang tertatih-tatih meniti karier di dunia literasi, merajut imajinasi melalui penulisan novel dan cerita anak.
Kami sama-sama perantau yang merawat mimpi di tengah situasi politik Indonesia yang sedang berada di titik nadir.
Tapi, takdir seni Aji Lahaji ternyata harus berbenturan keras dengan realitas politik zaman itu.
Sebagai seniman yang lahir dan besar dari bumi Madura—yang terkenal lugas dan berani—Aji tidak sekadar menyanyi. Ia merekam suara gelisah zamannya.
Dapur Rekaman yang "Dibungkam"
Banyak yang mungkin lupa, atau bahkan tidak tahu, bahwa Aji pernah mencicipi dinginnya dinding dapur rekaman.
Sesuatu yang jadi impian tiap penyanyi kala itu. Namun, keberaniannya menyelipkan kritik terhadap pemerintah yang berkuasa saat itu, Presiden Suharto, harus dibayar mahal.
Lagunya dinilai terlalu "vokal" dan menyinggung penguasa. Akibatnya, album atau lagu tersebut dilarang beredar oleh rezim.
Sebuah sensor sepihak yang lazim terjadi di era Orde Baru, di mana seni harus tunduk pada stabilitas politik.
Rekaman itu terkunci, tapi integritas Aji sebagai seniman yang menyuarakan kebenaran justru abadi dalam ingatan mereka yang mengenalnya.
Dari Panggung Dangdut ke Mimbar Dakwah
Waktu terus bergulir, dan hidup menuntun kita ke jalan yang sering kali tak terduga.
Pertemuan kami di Pasongsongan kemarin mengonfirmasi metamorfosis spiritual seorang Aji Lahaji.
Pria yang dulu saya kenal akrab dengan cengkok dangdutnya di Jakarta, kini telah memilih jalan baru yang lebih teduh: sebagai seorang pendakwah.
Meski kini ia lebih banyak beraktivitas di Jakarta untuk menyebarkan syiar, ia tidak
pernah melupakan akar asalnya.
Sifatnya yang ramah, hangat, dan bersahaja khas orang Sumenep tidak pernah luntur, meski jubah yang dipakainya kini telah berganti dari biduan jadi dai.
Epilog: Merawat Silaturahmi
Pertemuan medio Maret itu tidak hanya menjadi ajang melepas rindu, tapi juga sebuah refleksi mendalam tentang perjalanan hidup.
Kami berbicara tentang masa lalu yang dinamis, masa kini yang penuh berkah, dan bagaimana takdir membawa kami kembali ke titik ini.
Dari Gang Siaga Jakarta hingga ke teras rumah di Pasongsongan, perjalanan 28 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Aji Lahaji telah membuktikan bahwa ke mana pun angin kehidupan membawanya—dari panggung musik yang disensor hingga ke mimbar dakwah yang mencerahkan—ia tetaplah seorang putra Sumenep yang merawat ketulusan dalam setiap langkahnya.
Terima kasih atas kunjungannya, tretan! Sampai jumpa di pelataran waktu berikutnya. [Kaiy]
