Keren! SDN Panaongan 3 Lestarikan Bahasa Madura Lewat Pengeras Suara

Kisah Kepsek Berblangkon di SDN Panaongan 3: Sukses Hidupkan Bahasa Ibu


PASONGSONGAN -- SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, kembali mencuri perhatian publik lewat inovasi unik dan penuh makna budaya yang digagas kepala sekolahnya, Agus Sugianto. Kamis (21/5/2026). 

Sosok yang dikenal ikonik dengan blangkon khasnya itu kembali menghadirkan gebrakan baru setelah sukses menjalankan program "Ba’cateng" (Ngamba’ Kanca Dateng), yakni kegiatan penyambutan siswa di gerbang sekolah oleh guru dan murid piket setiap pagi.

Kini, sebelum kegiatan Apel Kelas dimulai, suasana pagi di SDN Panaongan 3 terasa semakin berbeda. 

Dari pengeras suara sekolah terdengar lantunan pengumuman menggunakan bahasa Madura halus yang disampaikan langsung oleh salah satu siswa.

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Ngatore pangaoningan. Kaatora dha’ sadaja mored dhari kelas 1 sampe kelas 6, eyatore kaangguy anggun eyadha’na kelas bang-sebanga, karana badhi epasamaktaagi sareng se nyeppowe kelas. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.”

Pengumuman tersebut berarti:

"Pengumuman. Kepada semua murid dari kelas 1 sampai kelas 6, dimohon untuk berada di depan kelas masing-masing karena akan disiapkan oleh ketua kelas.”

Tradisi sederhana itu kini jadi pemandangan khas setiap pagi di SDN Panaongan 3. 

Setelah disambut hangat di gerbang sekolah melalui program Ba’cateng, seluruh siswa langsung bergerak menuju depan kelas masing-masing untuk bersiap mengikuti apel kelas yang dipandu ketua kelas.

Bagi sebagian orang, mungkin hal itu tampak sederhana. Namun di tangan Agus Sugianto, langkah kecil itu berubah jadi gerakan besar dalam menjaga identitas budaya daerah.

Saat ditanya mengenai ide kreatif tersebut, Agus Sugianto menjelaskan bahwa dirinya ingin membumikan kembali bahasa Madura halus di lingkungan sekolah.

“Saya melihat anak-anak sekarang mulai jarang menggunakan bahasa Madura halus dalam kehidupan sehari-hari. Saya khawatir suatu saat mereka justru lupa terhadap bahasa ibunya sendiri yaitu Bahasa Madura,” ujarnya serius. 

Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat belajar mata pelajaran, tapi juga ruang menjaga budaya, karakter, dan jati diri anak-anak.

“Ini memang langkah kecil, tapi saya ingin sekolah jadi tempat pelestarian budaya. Kalau bukan kita yang mulai mengenalkan dan membiasakan bahasa Madura kepada anak-anak, lalu siapa lagi,” imbuhnya.

Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari banyak pihak karena dianggap mampu menggabungkan pendidikan karakter, kedisiplinan, dan pelestarian budaya lokal dalam satu gerakan sederhana tapi bermakna.

SDN Panaongan 3 sendiri belakangan memang dikenal aktif menghadirkan program-program kreatif, unik dan humanis. Mulai dari budaya penyambutan siswa, pembiasaan karakter, hingga penguatan identitas lokal terus digelorakan di bawah kepemimpinan Agus Sugianto yang dikenal dekat dengan siswa serta kaya ide segar.

Blangkon yang selalu melekat di kepalanya kini bukan sekadar penampilan khas, melainkan simbol semangat menjaga akar budaya di tengah dunia pendidikan modern. [AS/Kaiy]