Belajar Filosofi 'Lilin Kecil' dari Blangkon Agus Sugianto: Mengapa Kolaborasi Harus Menumbangkan Kompetisi Egois di Sekolah Kita
Di era modern ini, dunia pendidikan seringkali terjebak dalam arus kompetisi yang melelahkan.
Sekolah-sekolah berlomba-lomba memoles citra, memperebutkan calon peserta didik baru, dan saling sikut demi status "sekolah favorit".
Keberhasilan pendidikan telanjur diukur secara egois: seberapa megah infrastruktur lembaga sendiri dan seberapa mentereng prestasi internalnya.
Tapi, di tengah riuh-rendah kompetisi yang sarat ego sektoral itu, sosok Agus Sugianto hadir membawa perspektif yang sepenuhnya berbeda.
Kepala SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep ini belakangan mencuri perhatian publik.
Bukan sekadar karena blangkon khas yang selalu melekat di kepalanya—yang kerap dianggap sebagai sekadar gaya nyentrik—melainkan karena isi kepala dan pola pikirnya yang mendobrak pakem arus utama.
Dalam sebuah diskusi pemikiran yang tajam bersama redaksi apoymadura.com, sebuah gugatan yang sangat realistis dilayangkan kepada Agus.
Mengapa ia, sebagai kepala sekolah, justru begitu aktif membantu membranding dan mempublikasikan kegiatan sekolah-sekolah lain di sekitar Kecamatan Pasongsongan lewat media online?
Bukankah tindakan itu, di atas kertas persaingan tak sehat hari ini, justru merugikan dan mengancam posisi SDN Panaongan 3 yang ia pimpin sendiri?
Pertanyaan itu logis dalam kacamata kapitalisme pendidikan modern.
Mengapa repot-repot membesarkan halaman orang lain sementara rumah sendiri masih butuh perhatian?
Tapi, respons yang diberikan sang pemerhati budaya ini justru menampar kesadaran kita semua.
Dengan ketenangan seorang pendidik sejati, ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan suatu daerah tidak boleh egois.
Sukses pendidikan tidak dihitung dari satu sekolah yang maju sendirian, sementara sekolah di sekelilingnya sekarat dan tertinggal.
Keberhasilan yang hakiki adalah ketika terjadi kolaborasi, transfer ilmu, serta pemerataan kualitas manajerial dan administrasi.
Melalui argumennya, Agus menghidupkan kembali pemikiran Mohammad Hatta yang kian luntur:
“Indonesia tidak akan bercahaya karena satu obor besar di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena jutaan lilin-lilin kecil di desa.”
Pernyataan ini adalah sebuah otokritik yang sangat keras bagi sistem pendidikan kita hari ini.
Kita terlalu sering mengagumi "obor besar"—sekolah-sekolah rujukan di kota besar yang gemerlap—sembari membiarkan "lilin-lilin kecil" di pinggiran daerah redup dan mati kesepian karena kekurangan murid, minim publikasi, dan terisolasi dari apresiasi.
Pilihan etis Agus Sugianto untuk tetap merangkul sekolah-sekolah kecil dan terpencil, bahkan yang berstatus swasta sekalipun, memetakan ulang apa arti sebenarnya dari kata "pengabdian".
Ketika banyak kepala sekolah terjebak dalam sindrom "menjaga gengsi lembaga", Agus justru melompati sekat-sekat birokrasi itu demi asas keadilan pendidikan bagi seluruh anak bangsa, khususnya di wilayah Pasongsongan.
Langkah konkretnya memanfaatkan jejaring media untuk menyuarakan eksistensi sekolah pinggiran terbukti membuka mata publik.
Sekolah yang tadinya tak kasat mata di peta pendidikan daerah, kini mulai mendapatkan panggung dan apresiasi yang layak.
Pada akhirnya, kita sadar bahwa blangkon di kepala Agus Sugianto bukanlah sekadar pemanis penampilan atau simbol pelestarian budaya ragawi semata.
Blangkon itu adalah lambang dari kerendahan hati, sebuah identitas kultural yang membumi, dan sebuah manifestasi filosofi kepemimpinan yang mengakar.
Agus Sugianto telah memberikan teladan berharga: bahwa sejatinya guru dan pemimpin pendidikan tidak boleh silau oleh benderangnya cahaya obor yang dipegang sendiri.
Nilai tertinggi dari seorang pendidik adalah seberapa banyak tangan sekolah lain yang mampu ia gandeng untuk menyalakan lilin-lilin harapan secara bersama-sama.
Sudah saatnya ekosistem pendidikan kita berhenti saling menjatuhkan dalam kompetisi, dan mulai saling menghidupkan dalam kolaborasi. [Kaiy]
