Selamat Tinggal Kasir Dingin, Selamat Datang Rapat Anggota Tahunan!
Akhirnya, angin segar berembus dari Jakarta. Pemerintah baru saja memberikan kode keras: raksasa ritel modern yang selama ini "menjajah" setiap tikungan gang kita akan segera dipensiunkan.
Ucapkan selamat tinggal pada Indomaret dan Alfamart, dan sambutlah sang juru selamat baru: Koperasi Merah Putih.
Bayangkan sebuah dunia tanpa bunyi "Selamat datang di Indomaret, selamat belanja!" yang robotik itu.
Sebagai gantinya, saat masuk ke toko, Anda mungkin akan disambut dengan jabat tangan erat pengurus koperasi dan pertanyaan hangat, "Sudah bayar simpanan wajib bulan ini, Pak?"
Efisiensi adalah Musuh Gotong Royong
Selama ini kita terlalu dimanjakan oleh kapitalisme. Masuk toko, ambil barang, bayar, keluar. Sangat mekanis dan tidak manusiawi.
Koperasi Merah Putih hadir untuk mengembalikan jati diri bangsa: antre yang sangat panjang dan birokrasi yang penuh kekeluargaan.
Jika dulu kita kesal karena parkir ditarik dua ribu perak oleh tukang parkir liar, nanti kita akan membayar iuran anggota dengan ikhlas demi kemaslahatan bersama.
Toh, apa gunanya kecepatan pelayanan jika kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam mendiskusikan sisa hasil usaha (SHU) di depan rak minyak goreng?
Hancurkan Dulu, Pikir Belakangan
Rencananya sangat brilian dan sama sekali tidak terdengar seperti janji kampanye yang dipoles.
Pemerintah mengisyaratkan akan menghentikan operasional ritel modern jika ekosistem koperasi sudah siap.
Ini adalah logika yang sangat aman. Kata "siap" dalam kamus birokrasi kita itu fleksibel—bisa besok, bisa saat cucu kita sudah mulai belajar kolonisasi di Mars.
Mari kita bedah kemungkinan masa depan yang cerah ini:
1. Logistik yang Ajaib: Menggantikan jaringan distribusi raksasa yang sudah menggurita selama puluhan tahun tentu semudah membalikkan telapak tangan. Kita hanya butuh semangat Merah Putih, bukan gudang canggih atau manajemen rantai pasok yang rumit.
2. Harga Saudara: Di koperasi, tidak ada itu namanya persaingan harga. Yang ada adalah "harga kesepakatan" yang biasanya sedikit lebih mahal dari toko sebelah, tapi hey, itu semua demi kesejahteraan pengurus... maksud saya, anggota.
3. Inovasi Produk: Mungkin nanti tidak ada lagi cokelat impor. Rak-rak akan dipenuhi keripik singkong buatan UMKM binaan yang kemasannya sulit dibuka tapi memiliki nilai patriotisme tinggi.
Bahasa Politik?
Apakah ini hanya bahasa politik untuk membuai rakyat yang sudah lelah dengan harga sembako? Tentu tidak. Meragukan rencana ini berarti Anda kurang nasionalis.
Kita harus percaya bahwa memindahkan pengelolaan ribuan gerai dari korporasi profesional ke tangan birokrasi koperasi adalah langkah yang sangat logis dan tidak akan berakhir dengan kekacauan stok barang.
Mungkin nanti, Indomaret dan Alfamart akan berubah jadi museum. Tempat kita membawa anak cucu untuk melihat betapa "gelapnya" masa lalu saat kita bisa membeli kopi kalengan dengan praktis tanpa harus menunjukkan kartu anggota koperasi yang sudah dilegalisir.
Oalah... Tenang saja, transisi ini pasti berjalan mulus. Semulus jalan raya yang baru dibangun lalu dibongkar lagi minggu depannya untuk pasang kabel telepon. [kay]

