Selamat Tinggal, Tina!
Pentigraf: Yant Kaiy
Dalam situasi kacau aku masih bisa mencintainya.
Perselisihan antara keluarga kami dengan mereka telah membuat aktivitas
sehari-hari stagnan. Pikiranku merasa terganggu dengan sikap mereka yang mau
menangnya sendiri. Dari sisi keuangan mereka lebih dari rata-rata hidup di desa
kami. Seenak perutnya mereka menyudutkan persoalan pada kami sebagai pelaku
walau hanya “katanya” saja. Tapi anehnya pemangku kebijakan berpihak pada
mereka. Buset.
Aku baru menyadari betapa kuat pengaruh uang untuk sebuah
keadilan di Indonesia yang katanya negeri kaya banyak hasil buminya. Tapi
rakyatnya sengsara dan menderita. Luar biasa. Hanya sebagai semboyan belaka
pemanis kata-kata, mengelabui kaum jelata yang jadi korban selamanya. Tina
akhirnya kutinggalkan. Karena feelingku mengatakan kalau aku harus mengalah.
Menjauh dari mereka dan Tina demi keselamatan , keutuhan keluarga kami.
Sudah lebih 22 tahun peristiwa yang mengancam jiwa kami.
Kini aku kembali pada tanah yang melahirkanku. Aku bisa bernapas lega karena
masih bisa minum air dari mata air yang pernah Ibu mandikan padaku. Namun Ayah
dan Ibu tidak menyaksikan lagi kalau aku masih sanggup kembali dari pelarian
sebagai orang tersalah di dunia. Semuanya telah berubah. Tapi ingatanku takkan
berubah, kendati barangkali sikap Tina yang hanya berubah. Wallahu a’lam
bish-shawab…
Pasongsongan, 22/2/2020