Luna
Cerpen: Yant Kaiy
Banyak pemuda mengagumi kecantikannya. Rambutnya panjang
tergerai. Matanya berkilat bagai bintang kejora. Alisnya seperti semut
berjajar. Hidungnya mancung. Bibirnya semerah darah. Leher jenjang sesuai
dengan postur tubuhnya yang langsing. Sikapnya dalam bergaul dengan siapa saja
begitu supel. Seutas senyum senantiasa menghias jika bertegur-sapa.
Luna adalah gadis dari kalangan keluarga biasa-biasa saja.
Ayahnya seorang guru PNS. Ibunya berasal dari Pulau Masalembu, sebuah pulau yang
termasuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep Madura.
Sekarang Luna sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi
swasta terkemuka. Setiap pergi kuliah ia menaiki sepeda motor seorang diri. Tak
jarang pula Luna dibonceng Debur karena mereka satu perguruan tinggi berbeda
fakultas. Kedua orang tua mereka tahu kalau Debur sudah ditunangkan dengan
Sofia.
Demikian pula Luna yang sebentar lagi akan menikah dengan lelaki
tambatan hatinya, Gunawan.
Suatu ketika Luna mengalami kecelakaan tabrak lari yang
membuatnya harus masuk rumah sakit. Tangannya patah. Lebih parah lagi, wajahnya
luka berat dan gigi depannya tanggal semua karena dibenturkan ke aspal jalan.
Saat itu Luna sedang pergi kuliah naik sepeda motor seorang diri.
“Gimana kabarmu, Luna? Sudah lebih baik dari kemarin tentu!”
sapa Debur pada Luna yang masih tetap berbaring.
“Ya,” sahutnya lirih demi menahan sakit akibat luka di mulut
dan wajahnya. Wajah Luna sedang diperban.
“Semoga lekas sembuh, ya!” ujar Debur penuh perhatian.
Mata Luna tampak menangis.
“Sabar. Semua ini ujian Tuhan!”
Ibu Luna keluar dari ruang rawat inap rumah sakit karena
tidak tega melihat anak gadisnya menangis memendam sakit hati.
“Aku sudah mendengar semuanya, tentang Gunawan yang memutuskan
sebelah pihak pertunanganmu,” ujar Debur ikut prihatin. “Tuhan Maha Bijaksana,
Gunawan bukan lelaki baik buatmu. Dia mencintaimu karena kecantikan wajah saja,
bukan kecantikan hati.”
Luna masih menangis dan sesegukan.
“Ijinkan aku memegang tanganmu!”
Debur memegang tangannya yang kanan, sebab tangan kirinya
yang patah sedang di gift.
“Aku ingin melamarmu.”
Sejurus kemudian cincin emas melingkar di jari manis Luna.
“So… Sofia?”
“Jangan pikirkan dia! Setelah kau sembuh, aku akan
menikahimu.”
Pasongsongan, 14/2/2020