Wajah Pendidikan Indonesia Sangat Buruk?
Opini: Yant Kaiy
Seperti dilansir dari berbagai
media online. Berdasar hasil penilaian Survei Program for International Student
Assessment (PISA), bahwa pendidikan di tanah air masuk sepuluh besar terbawah.
Artinya wajah pendidikan RI sangat buruk.
Sebegitu burukkah wajah
pendidikan kita? Sehingga Mendikbud Nadiem Makarim berapi-api mau mengevaluasi
dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sangat meniscaya. Asa
terhampar diantara korupsi merajalela pejabat negara. Bukan pesimistis, tapi
bersih-bersih kecoa dan tikus kantor juga penting agar tidak mudah terjangkit
penyakit.
Jangan lupa pula, selama ini
penyakit pendidikan Indonesia juga berasal dari kepentingan politik dari
pemangku kebijakan itu sendiri. Dari luar tampak regulasi itu akan bisa
mengobati penyakit, tapi pada akhirnya cuma sebuah mega proyek yang
mengenyangkan golongannya. Sungguh memalukan. Sudah wajah pendidikan buruk
masih mau telanjang-bulat pula. Najis.
Sebagian besar guru honorer
sangat mengapresiasi pernyataan Mendikbud. Lebih-lebih guru PN di pelosok
daerah. Mereka ingin kepastian regulasi apa yang bisa menyembuhkan borok bernanah di tubuh pendidikan Indonesia. Harus
ada pil pahit sebagai penawarnya.
Gonjang-ganjing kurikulum yang
akan diubah. Ujian Nasional akan ditiadakan dan semacamnya, telah menjadi isu
hangat di kalangan para guru. Pada akhirnya para pendidik pun ikut angkat
bicara di beberapa ruang di mana mereka bisa menyalurkan aspirasinya. Wajar,
mereka merupakan pemain. Mereka akan tetap mengikuti skenario dan arahan
sutradara.
Menurut Ketum PP Muhammadiyah,
Haedar Nashir, bahwa penghapusan Ujian Nasional (UN) memerlukan pengkajian
secara komprehensif. Supaya tidak ada kesan bahwa ganti menteri ganti
kebijakan.
Kebijakan apa pun memang penuh
risiko, penuh tantangan. Seorang menteri negara tentu akan mampu memilih dan
memilah serta menimbang satu kebijakan. Ia tidak berdiri sendiri. Banyak tangan
dan kaki yang bisa digerakkannya. Tinggal ucapan keputusan dari bibirnya. Akhirnya
diambillah satu kebijakan. Tidak boleh mencla-mencle.
Tapi perlu juga diingat, bahwa
para guru, terutama guru honorer, telah bersusah-payah membangun dunia
pendidikan. Paradigma kalau guru honorer berfungsi ganda selama ini perlu dapat
catatan. Guru honorer kebanyakan sebagai guru plus operator itu benar adanya.
Mereka menghandle dua posisi urgen di sekolah. Bahkan ada guru honorer
merangkap jadi penjaga sekolah. Namun apa lacur, kerja kerasnya bagai embun
pagi hari saja. Tak dapat apresiasi dari siapa pun.
Kini ada Mendikbud baru
ramai-ramai membicarakan perubahan di dunia pendidikan. Sejatinya kita bijak,
yang berkarya dan berprestasi siapa selama ini. Mari kita lebih berkontemplasi!