Perjalanan Perupa A.Jasimul Ahyak

Hidup menjadi seorang seniman di
Indonesia umumnya menderita dari sisi ekonomi. Hidup terlunta-lunta tak tentu
rimbanya. Mulai dijauhi pergaulan dengan penampilan eksentrik. Kadang
performance terkesan kumuh. Itulah sedikit ilustrasi seorang seniman
kebanyakan.
Sebenarnya orang awam boleh-boleh
saja menilai demikian karena itu adalah kenyataannya. Tapi juga harus diakui,
banyak dari mereka yang ternyata sukses dalam segi materi setelah namanya
masyhur. Tapi ada juga yang gagal meraup duit dari profesi yang digelutinya.
“Seniman kebanyakan tidak
memikirkan apa itu performance. Ia akan lebih percaya diri dengan penampilan
apa adanya. Waktunya dimanfaatkan untuk terus berkarya. Ia bekerja full time
kalau sedang mood,” terang Akhmad Jasimul Akhyak, perupa asli kelahiran Desa
Pasongsongan Kabupaten Sumenep kepada apoymadura di kediamannya di Dusun
Lebak, Selasa (12/11/2019).
Jasimul, demikian panggilan
akrabnya, ketika masih remaja ia menekuni seni lukis sampai berumah tangga.
Sudah banyak hasil karya lukisannya terjual lewat pameran yang sering ia ikuti,
baik tingkat Madura dan Jawa.
“Tapi karena tuntutan ekonomi,
setelah saya berumah tangga, intensitas berkesenian terpaksa dikurangi dengan
mencari income real, yakni menjadi guru di Madrasah Aliyah Itmamunnajah.
Alhamdulillah, di lembaga pendidikan saya masih bisa menyalurkan bakat yang saya miliki,” ujar lelaki beranak satu
ini.
Lelaki berkacamata ini bersyukur
ke hadirat Allah SWT karena karier melukislah yang mendongkrak namanya menjadi
public figure di Pasongsongan. Ia sering dipercaya menjadi ketua panitia dalam
beberapa event kesenian di daerahnya. Kepercayaan masyarakat kepadanya sungguh
luar biasa. Amanah yang dibebankan kepadanya benar-benar dikerjaka oleh Jasimul
tanpa pamrih.
Tak pernah terlintas di benaknya
untuk mendapatkan untung besar. Yang penting baginya bisa berkreasi lewat karya
seni.
“Saya tidak peduli karya saya bisa
diterima masyarakat atau tidak. Totalitas dalam menuangkan inspirasi yang saya
kedepankan. Kalau saya terbebani dengan apa kata pasar, barangkali saya tidak
leluasa lagi dalam menuangkan ide-ide itu,” jelasnya bersahaja.
Lebih jauh Jasimul bercerita
tentang anaknya yang juga pandai melukis. Alfi Yasmin Muntiati, anak perempuan
satu-satunya itu sering mengikuti lomba lukis tingkat sekolah. Beberapakali
meraih predikat juara.
“Mungkin darah seni saya mengalir
kepadanya,” pintas Jasimul sedikit bangga terhadap prestasi buah hatinya itu.
Pasongsongan di Mata Jasimul
Sebagai seorang tokoh muda di
Desa Pasongsongan, Jasimul dalam pesta demokrasi Pilkades Pasongsongan 7
Nopember 2019 kemarin, dirinya direkrut sebagai tim sukses oleh Cakades Hairus
Samad. Tapi sayang, Hairus Samad berada di peringkat ketiga pada Pilkades.
Sebenarnya Jasimul punya ide
briliant yang akan dikerjakan dalam memajukan desanya. Salah satunya adalah
pemekaran.
Menurutnya, ada dua dusun yang
mendesak untuk dimekarkan di Desa Pasongsongan. Yaitu Dusun Morasen dan Dusun
Lebak. Dusun Morasen sangat luas wilayahnya dengan jumlah penduduk banyak.
Demikian pula Dusun Lebak yang jumlah penduduknya terbesar diantara keenam
dusun.
Dirinya berharap
kepada Kepala Desa terpilih di Pasongsongan agar ide ini bisa diwujudkan.
Paling tidak bisa diperjuangkan. (Yant Kaiy)