Mengenal Lebih Dekat Nyai Agung Madiya
| Astah Syekh Ali Akbar Pasongsongan Kabupaten Sumenep |
SUMENEP, apoymadura.com - Pada abad XVII Kerajaan Aceh
meminta bala bantuan pasukan kepada Raja Sumenep untuk mengusir penjajah
Belanda. Saat itu Kerajaan Sumenep dipimpin Raja Bindara Saod (berkuasa 1750 –
1762). Hubungan bilateral antara dua kerajaan Islam ini sudah terjalin lama.
Karena sama-sama merasa senasib, Raja Bindara Saod menyanggupi permohonan
Kerajaan Aceh.
Raja Bindara Saod lalu berkunjung
ke Pasongsongan, pada kediaman Syekh Ali
Akbar untuk meminta petunjuk sekaligus bantuan, terutama bantuan doa. Sebab
dalam sejarahnya, doa-doa Syekh Ali Akbar mudah diijabah Allah SWT, mudah
terkabul segala bentuk permohonannya. Sebagai rakyat yang baik dan mengagungkan
pemimpinnya, Syekh Ali Akbar tidak menolaknya. Adalah putri kesayangannya
bernama Nyai Agung Madiya yang ditugas untuk berangkat ke bumi Aceh.
Kenapa seorang perempuan? Syekh
Ali Akbar tentu sudah tahu akan kemampuan putri tercintanya. Nyai Agung Madiya
walau seorang perempuan mempunyai bakat bertempur luar biasa ketimbang keenam
putra-putrinya. Dia adalah sosok perempuan satu-satunya dari Kerajaan Sumenep
yang maju ke medan perang.
Oleh Raja Bindara Saod yang
ditunjuk sebagai panglima perang ke Aceh adalah Nyai Agung Madiya. Sedangkan
pasukan Kerajaan Sumenep yang ikut berperang tidak begitu banyak karena memang
dipilih yang benar-benar mumpuni dalam hal bertempur. Kuat dan tangguh serta
mahir dalam menggunakan senjata tajam.
Singkat cerita, dalam pertempuran
dengan tentara kolonial Belanda bersenjatakan modern, Nyai Agung Madiya dan
pasukannya sukses meluluh-lantakkan musuhnya. Tentara Belanda hengkang dari
bumi Aceh dan mengakui kekalahannya. Kerajaan Aceh sangat mengapresiasi
keberhasilan itu. Nyai Agung Madiya dan anak buahnya dijamu suka-cita dengan
rakyat Kerajaan Aceh. Mereka menetap untuk beberapa hari lamanya, berjaga-jaga
takut tentara kolonial Belanda menyerang lagi.
Pulang dari Aceh, Nyai Agung
Madiya beserta pasukan diterima langsung oleh Raja Sumenep. Nyai Agung Madiya
yang selamat dari maut mendapat penghargaan (hadiah) tanah sangat luas di Dusun
Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan. Bukti valid dan tak terbantahkan tentang
itu semua tertuang dalam surat tanah yang dibubuhi stempel Kerajaan Sumenep
lengkap dengan tanda tangannya.
Jalinan persahabatan antara
Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Sumenep memang sudah sejak lama ada. Sebab
orang-orang Aceh dan Sulawesi banyak menimba ilmu agama Islam di pondok
pesantren di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsonga Kabupaten Sumenep. Disinyalir
pondok pesantrren yang ada di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan itu
merupakan pondok pesantren tertua di Sumenep.
Komunitas orang dari negeri Arab
sudah masuk ke Pasongsongan sekitar abad XI seiring penyebaran agama Islam
secara sembunyi-sembunyi. Hal itu dimotori Syekh Al-Arif Abu Said (wafat 1292 M)
dan Syekh Abu Suhri (wafat 1281 M) karena mereka tidak ingin terusir dari
lingkungan masyarakat yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.
Jalinan persabatan ini berlanjut
sampai pada era Syekh Ali Akbar. Kerajaan Aceh menganggap kalau Syekh Ali Akbar
sebagai saudara sesama muslim yang mendapatkan tempat spesial di hati mereka.
Syekh Ali Akbar juga tercatat pernah ke Aceh dan ke Sulawesi dalam mempererat
dan bertukar pikiran tentang kemajuan dunia Islam ke depan. Selama ini tidak
ada pakar sejarah yang mengungkap hal ini.(Yant Kaiy)